TUJUH PILAR PENYANGGA PERKAWINAN

Prakata : Dikirimin email nih mengenai Perkawinan. Nah, yang mau married kudu wajib baca ya.

Di masa pacaran, boleh jadi cinta memang sejuta rasanya. Namun ketika memasuki perkawinan, modal cinta saja tak cukup untuk mempertahankan kelangsungan sebuah keluarga.

Dalam mencari pasangan hidup, budaya Jawa mengenal sejumlah kriteria yang dikenal dengan istilah bobot, bibit, bebet. Namun pada kenyataannya, banyak orang beranggapan salah satunya saja sudah cukup memenuhi kriteria pasangan hidup. "Cari pasangan ya lihat pribadinya dong! Punya mobil pribadi, rumah pribadi, dan kalau perlu vila pribadi!" ujar seorang perempuan tanpa maksud bergurau. "Kalau menurut saya sih, yang penting harus punya tanggung jawab," sela seorang teman bicaranya. "Yang paling penting ya cinta dong!" yang lain menyergah tak kalah semangat.

Sebetulnya apa saja sih pilar penyangga yang kokoh bagi kelanggengan sebuah perkawinan? Benarkah cinta bisa diandalkan? Sepenuhnya ditentukan oleh kelimpahan materi? Bagaimana soal komitmen dan tanggung jawab? Seberapa penting aspek kepribadian kedua belah pihak? Bagaimana dengan hal-hal lain, bisakah diabaikan?

"Proses menimbang-nimbang memang seharusnya sudah dimulai sebelum suami-istri memasuki gerbang pernikahan," kata Titi P. Natalia, M.Psi. Meski ia tak menyangkal banyak pasangan yang tidak "sempat" melewati proses seleksi. Meminjam istilah anak zaman sekarang, ada tahapan yang mesti dilalui, yakni koleksi, seleksi, baru resepsi. Akan tetapi Titi mengingatkan agar kita tidak perlu lagi menoleh ke belakang hanya untuk mempertanyakan apakah tahapan-tahapan tersebut sudah dilalui atau belum. "Sebaiknya lihat saja ke depan. Komitmen dan kesungguhan suami istrilah yang paling dibutuhkan begitu janur kuning sudah dipasang melengkung," tandasnya.



"Ada 7 Pilar yang dibutuhkan demi kokohnya sebuah pernikahan. Jumlah yang memang tidak sedikit. Berikut di antaranya:

1. Latar belakang keluarga Tak bisa dipungkiri

Latar belakang keluarga kedua belah pihak pastilah memegang peran penting. Yang
termasuk di sini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri.

2. Kesetaraan
Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir dan keimanan.

3. Karakteristik individu
Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.

4. Cinta
Jangan anggap sepele kata yang satu ini. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta bisa dibilang ibarat sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman pada pasangan dan sebagainya.

5. Ada yang bilang, setelah sekian tahun menikah cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah? "Tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Apalagi menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta di dalamnya," ujar Titi. Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup bermodalkan cinta semata!

6. Kematangan dan motivasi
Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan.

7. Partnership
Pilar rumah tangga berikutnya adalah partnership alias semangat bekerja sama di antara suami dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu "persahabatan" yang bisa dirasakan keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apa pun yang menghadang senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.

Bila Terjadi Kepincangan

Idealnya, ucap Titi, semua pilar tersebut sama-sama ikut menyangga bangunan rumah tangga agar segala sesuatunya menjadi lebih kokoh dan kuat. Namun dalam realitas sering terdapat kepincangan di sana-sini, entah dalam hal motivasi, kesetaraan dan sebagainya. Kalau hal seperti ini yang terjadi, apa yang harus dilakukan?

"Semua terpulang pada tujuan pernikahan itu sendiri. Kalau memang tujuan mereka jelas dan motivasi suami maupun istri kuat, tentu akan ada ´usaha´ dari kedua belah pihak untuk menyelaraskan semuanya," jawab psikolog yang antara lain berpraktik di Empati Development Center. Keduanya akan bersedia menerima pasangannya, apa pun adanya. "Tapi ingat, menerima di sini bukan berarti pasrah begitu saja lo, melainkan harus ada penyesuaian di sana-sini yang bisa diterima bersama."

Mengarungi biduk perkawinan tanpa masalah memang mustahil karena friksi-friksi sangat mungkin muncul kapan saja dan mencakup aspek apa saja. "Namun sekali lagi kembali pada usaha suami dan istri untuk mempersepsikan perbedaan yang ada. Apakah perbedaan itu akan dibesar-besarkan atau dicarikan jalan keluarnya."

Saat menentukan pilihan mungkin saja calon suami/istri adalah yang terbaik. Namun dalam perjalanan hidup perkawinan mereka, di mata istri atau suami, ternyata pasangannya bukan lagi yang terbaik. Lo, kok bisa begitu? "Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu saja ada perubahan. Oleh karena itulah dibutuhkan kesadaran kedua belah pihak untuk terus-menerus menyesuaikan diri."

Singkatnya, walaupun semua pilar yang disebutkan itu ada dalam rumah tangga, tidak ada jaminan bahwa pernikahan ini akan mulus tanpa batu sandungan. Namun setidaknya dengan adanya pilar-pilar kokoh tadi, suami dan istri akan dipermudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Sumber dari Donald. F. R. Sendow


Komentar

Joddie mengatakan…
Waah.. makasih buat pilar-pilarnya... kayak'e aku harus belajar hidup lagi niih..
-3- mengatakan…
wahhh..perlu diterpakan nichh...
-3- mengatakan…
nice tips pan ...
-3- mengatakan…
*ralat* diterapkan ...
Unknown mengatakan…
Mudah-mudahan tulisan ini nggak menurunkan omzet para pengacara yang ngurusin kasus perceraian..
FATAMORGANA mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
FATAMORGANA mengatakan…
met pagimbak,... baru sempat ol.
bu melfa mengatakan…
buat belajar ntar kalo udh nikah,,hehhe
zujoe mengatakan…
wuiiihhh... beneran kayaknya tuhh... lama-lama teh fanny bisa nerbitin akta cinta juga kalo kek gini hihi....
zujoe mengatakan…
lupaa... met pagiiiii.......
Anonim mengatakan…
pengen nyoba pake profile kek bang iwan dan mas trie mau? ahh...
FATAMORGANA mengatakan…
katanya 6 pilar, koq jadi 7 sih mbak?
Dream Competition mengatakan…
met pagi sis...wah thanks sharingnya ya...perlu di pelajari dan di coba nich,untuk orang yang sudah berumah tangga seperti saya.
Yudhi mengatakan…
Makasih tipsnya, mantab.. tp emang susah ya?
Yudhi mengatakan…
Wilujeng enjing..
Anonim mengatakan…
what? pagi-pagi udah ngomongin tentang pernikahan. hehehe..insyaallah hny udah dapet yang masuk dalam semua kriteria tersebut mbak. terus mbak fanny kapan nih?
Kabasaran Soultan mengatakan…
Hm.... sepertinya tanda-tandanya dah deket nih.
wakakakakakaka.
Fanda mengatakan…
Ngakak baca komentarnya Vicky....

Pendek kata, perkawinan itu ibarat sebuah kapal dengan 2 nahkoda. Tantangannya: gimana supaya dalam perjalanan yg tak ada batasnya itu, kapal itu bisa tetap utuh dan jalannya tetap dalam rute yg dari awal sepakat mau ditempuh.
Tukang Komen mengatakan…
wah.. pilar yang menarik setiap orang perlu menerapkannya, bila cinta bisa hilang setelah bertahun-tahun jadi suami istri, berarti mereka menikah berdasar nafsu belaka.
mocca_chi mengatakan…
koleksi, seleksi, baru resepsi, aku mendengar kata kata itu semalam mbak,di acara take him out, eh kok disini nyambung juga. hiii
NOOR'S mengatakan…
Wekk..! sudah jadi notaris, pengarang, penulis, peragawati deelel..sekarang jadi konsultan perkawinan ck..ck..ck, untuk artikel pilar perkawinan...setuju !..betul..betul..betul..!
NOOR'S mengatakan…
Setuju dengan pak Kabasaran, dari pada keduluan.. saya ucapain selamat deh..
WONDEFULL UMROH - SUGENG mengatakan…
Teorinya sudah lengkap banget... dan tinggal nunggu pelaksaanaan dari teori.
Unknown mengatakan…
@setiawan : iya, mestinya 7 pilar. sudah dibenerin judulnya. tks ya, pak.
Awal Sholeh mengatakan…
sip2 lengkap siap paket buat nikah neh. ;) kesetaraan pengaruh bgt...

he3... ada yg bilang koleksi, seleksi dan resepsi. bener seh. tp menurut saya kita hanya bisa memilih dan berusaha dan allah yg menetukan jodoh kita. ;)
namaku wendy mengatakan…
huaaa neng fanny lagi buka lahan baru yah wat jadi konseling pernikahan hihihi
hayo perhatikan dan simak baik-baik yah infonya nih, bagus lo wat pegangan yg udah maupun baru mau akan berumah tangga;)
Anonim mengatakan…
siang mbak... mulai BW lagi nih
manusiahero mengatakan…
ehmm.. bersiap diri hee
Dinoe mengatakan…
Benar sekali point-pointnya mbak....keseimbangan , kecintaan, tanggung jawab bakal di uji ditengah2 masa perkawinan..yg paling penting siapkan mental disaat akan menikah..
berry devanda mengatakan…
bener banget, cinta aja nggak cukup.
kudu realistis menghadapi hidup...
sangat bermafaat...
salam...
MONOKROM mengatakan…
...mungkin yang juga penting lagi harus rela berbagi atau memberi...cinta harus memberi tidak meminta...terima apa-adanya, itu yang bakalan bikin ayem-tentrem he..he..he....
buwel mengatakan…
judul udah bener brarti tinggal yang ini mbak,..."Ada 6 Pilar yang dibutuhkan demi kokohnya sebuah pernikahan. Jumlah yang memang tidak sedikit. Berikut di antaranya:...
naaah kata 6 nya tuh....hiiihiii...
btw mantaabbb dah, buwel malah pusing melajarinnya....hehehehehhe *pentung2*
a-chen mengatakan…
semoga bisa di praktekin ya....^_^
nietha mengatakan…
pas banget buat nietha nih mbak..thanks for sharing
Unknown mengatakan…
@buwel : tks ya, wel atas koreksinya.
BrenciA KerenS mengatakan…
mestinya dibaca sebelum nikah nih.. tapi sutralah..

yang pasti dalam RT pasti akan selalu ada pertengkaran2, asal kuat iman aja itu malah akan jadi pengikat tali pernikahan.

*ya ampuun gw ceramah*
ceritatugu mengatakan…
cocok buat yang belum menikah untuk dipelajari,direnungkan dan dilaksanakan
J O N K mengatakan…
wah ternyata nikah itu tak semudah membalikan telapak tangan ya. ok deh mba, masih ada waktu untuk memperbaiki diriku hohohooh.

Terget paling awal : Mandi 2 kali sehari !! YEAHHH !!!

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR