SEHARUM MELATI SEINDAH MAWAR
Asal usul ide :
Ketika masih SMA, saya mempunya seorang teman yang ortunya kaya raya, tapi….dia tidak sombong dan mau bergaul dengan saya yang berasal dari keluarga sederhana. Walaupun dia bukan sahabat karib saya, tapi sifatnya yang low profile menimbulkan ide cerpen ini.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu
Sejak pertama kali melihat gadis itu, Nia sudah tertarik padanya. Senyumnya yang manis dan agak kemalu-maluan, ditambah penampilannya yang sederhana telah menimbulkan simpati di hati Nia.
Erlin, demikian nama gadis manis itu, kini menjadi warga kelas Nia. Dan betapa senangnya hati Nia, ketika Erlin memilih duduk di sebelahnya. Padahal masih banyak bangku kosong kawan-kawannya yang lain. Memang kelas Nia terkenal paling sedikit penghuninya. 
Sebulan yang lalu, Sammy dikeluarkan dari sekolah karena selalu berkelahi. Lalu Merry yang harus bersekolah di Jerman mengikuti papanya yang bertugas di sana. Setelah itu Danny yang berhenti sekolah karena tak ada biaya. Dan ada dua siswa lagi, yang terpaksa pindah sekolah dengan alasan yang bermacam-macam. Itulah sebabnya kehadiran Erlin disambut hangat oleh kawan-kawan Nia. Terutama Nia, ia kini mendapat pengganti Merry yang dulu duduk sebangku dengannya.
“Kenalkan namaku Nia.” Itulah kata-kata yang diucapkan Nia membuka perkenalan.
“Erlin,” sahut yang ditanya malu-malu.
“Erlin…ada ekornya,nggak?”
“Ekor? Saya nggak punya ekor,” jawab Erlin bingung.
“Ehmm….maksudku namanya Erlin saja atau ada embel-embelnya lagi.” Nia memberi penjelasan.
“Enggak ada. Nama saya Erlin saja.” Erlin menjawab lirih. Ia merasa amat malu dengan ketololannya.
Nia tersenyum ramah. Rasa geli yang dipendamnya telah lenyap. Ia merasa enggak enak hati melihat wajah Erlin yang bersemu dadu menahan malu. Sungguh, ia tak menduga kalau Erlin begitu pemalu. Diam-diam ia menyesal telah mengajukan pertanyaan iseng itu.
Awal perkenalan yang lucu itu telah membuahkan suatu persahabatan. Erlin yang pemalu, lembut dan pendiam bersahabat dengan Nia yang lincah, periang dan sedikit tomboy. Aneh memang, dua sifat yang bertolak belakang dapat bersatu dalam jalinan persahabatan.
“Bagai langit dengan bumi,” kata Anton.
“Seperti kuda dengan anak kucing.” Komentar lain yang keluar dari kawan-kawan mereka.
Baik Nia maupun Erlin menangapi komentar-komentar itu dengan senyum penuh arti.
Tentu saja mereka tidak tahu, Nia yang ceria merasa damai dan tentram di sisi Erlin. Bila emosinya mulai meledak karena sesuatu hal, Erlin yang menyiraminya dengan kesejukan kata-katanya. Pokoknya bagi Nia, Erlin adalah kusir yang dapat mengendalikan dirinya.
Sebaliknya, bila teman-teman cowok menggoda Erlin, Nia selalu pandai membals ejekan cowok-cowok usil yang mengganggunya. Pendek kata, Nia adalah perisai yang siap melindunginya.
Rasa saling membutuhkan seperti itu mempererat persahabatan mereka. Dimana ada Nia, disitu ada Erlin. Suka dan duka ditanggung bersama. Hari demi hari dilalui mereka dalam manisnya madu persahabatan.
Tiga bulan lamanya persahabatan nan indah itu berlangsung damai. Menginjak bulan ke empat, tiba-tiba saj Erlin seolah menghindari Nia. Ia tidak mau lagi pergi dan pulang sekolah bersama Nia. Setiap kali Nia menjemputnya, Erlin sudah berangkat. Pulang sekolahpun Erlin cepat-cepat meninggalkan kelas. Nia yang berusaha mencarinya selalu gagal menemukannya. Erlin telah lenyap begitu saja di antara siswa-siswa lainnya.
Di kelas, sewaktu istirahat, Erlin seakan bisu. Tak ada lagi cerita-ceritanya yang selalu didengar Nia dengan serius. Cerita-ceritan Erlin tentang masa kecilnya memang senantiasa membuat kagum Nia. Bagaimana dulu Erlin kecil mengasuh adik-adiknya ketika mamanya sibuk di dapur. Betapa Erlin kecil menangis tersedu-sedu tatkala sepatu kesayangannya dan hanya satu-satunya dicuri orang. Semua masa kecil Erlin yang pahit terasa kisah sedih yang amat menyentuh perasaan Nia.
Namun kisah-kisah itu tak terdengar lagi. Bibir mungil Erlin seakan tertutup rapat. Ia hanya mau bicara hal-hal yang perlu saja. Walau Nia memancingnya dengan aneka ragam cara. Erlin bagaikan patung hidup, tetap membisu. Apalagi bila didesak Nia, mengapa ia berubah sikapnya, Erlin hanya tersenyum kecil. Setelah itu wajahnya muram kembali. Bibirnya terkatup lagi.
**
Nia membuka matanya. Ia mengerjap sebentar, silau oleh sinar mentari pukul setengah tujuh. Bergegas ia bangkit dari peraduannya. Dirapikannya selimut. Diambilnya handuk lalu berlari ke kamar mandi. Di kamar mandi pikirannya terbang kepada Erlin.
“Sedang apakah dia?” Bisik hati Nia. Ah, betapa rindunya ia akan suara merdu Erlin. Betapa ingin Nia menjenguk dasar kalbu Erlin untuk mengetahui sebabnya sahabat yang dikasihinya itu selalu menghindar darinya.
Terbayang kembali di benaknya, masa-masa manis bersama Erlin. Teringat lagi ia akan mimpinya semalam. Ia dan Erlin berjalan bergandengan tangan di suatu taman indah. Lalu di hadapan mereka muncul sebuah istana. Ia mengajak Erlin masuk ke istana megah itu. Erlin tercengang menyaksikan betapa indahnya istana bergaya Spanyol itu. Dan..hei…istana itu adalah rumahnya sendiri, lalu ia melihat Erlin berlari. Ia memanggilnya, mengejarnya. Berhasil! Erlin dapat ditangkapnya. Ia gembira. Erlin bersamanya lagi dan mereka berjalan mengelilingi taman.
“Nia, cepetan! Sudah hampir jam tujuh nih.” Seru Monik, kakaknya menyentakkan Nia dari lamunannya.
“Huh! Sudah bangun kesiangan, mandi berjam-jam lagi. Aku tinggal, tahu rasa deh.” Monik menggerutu ketika Nia keluar dari kamar mandi.
Nia tidak menjawab. Hati dan pikirannya masih melekat pada arti mimpinya dan hubungannya dengan perubahan sikap Erlin. Dengan heran, Monik menatap adiknya yang biasanya nyinyir mendadak bisu.
“Hei, kok menatapku terus? Bedakku terlalu tebal, ya?” tanya Nia sambil meraba pipinya yang dihiasi jerawat satu dua. Ia memang sembrono dalam hal bersolek. Kadang terlalu tebal bedaknya. Kadang tak secuilpun bedak menempel di pipinya. Maklum, mahluk yang satu ini memang aneh. Selalu merasa enggan melihat wajahnya di depan kaca.
Malu…itu alasannya.
“Enggak kok. Dandananmu rapi hari in. Cuma tampangmu itu kayak kura-kura. Lagi mikirin rumus fisika atau….mikirin cowok nih?” Monik bertanya penasaran.
“Rahasia dong. Mau tau aja.” Nia tersenyum.
Monik hendak bertanya lagi ketika suara klakson mobil terdengar dari halaman. Tergesa-gesa disambarnya tas sekolahnya lalu pamit pada mama. Nia menirukan kelakuan kakaknya. Mama yang melihat ulahnya tertawa geli.
“Biasanya kamu tidak terburu-buru seperti itu. Sudah jera diskors ya? Atau..bosan dimarahi gurumu karena sering terlambat?” Mama menggoda.
“Akh, hari ini Nia enggak ingin diskors. Mau bikin surprise…” Nia berbisik manja di telinga mama.
Mama tersenyum. Puterinya yang satu ini memang selalu aneh tingkahnya.
**
Dalam perjalanan ke sekolah, Nia lebih banyak diam. Celotehnya yang riang tak terdengar. Monik kian tak mengerti dengan kelakuan adiknya itu. Ketika dilihatnya Nia termenung terus, ia tak tahan lagi. Ditegurnya si tomboy nakal itu.
“Pagi-pagi melamun nggak baik.”
“Siapa yang melamun?” Nia pura-pura bertanya.
“Kamu..”
“Aku bukan melamun tapi mikirin Erlin.”
“Erlin? Sahabatmu yang pemalu itu?”
“He eh…”
“Ada apa dengan dia?”
“Akhir-akhir ini dia seolah menghindariku.” Nia menyibakkan poni rambutnya.
“Mungkin kamu udah menyakiti hatinya. O ya,aku baru ingat..rasanya tiga minggu yang lalu aku melihat dia berdiri di depan pintu gerbang rumah kita.” Berkata begitu, Monik menepuk jidatnya.
“Masa? Kakak enggak salah lihat, ‘kan? Siapa tahu bukan dia. Erlin enggak pernah ke rumah kok. Mana mungkin dia tau jalannya.” Nada suara Nia tidak percaya.
“Barangkali memang bukan dia, tapi..mata redupnya itu persis seperti foto Erlin yang pernah kamu perlihatkan padaku.”
“Tapi..kalau dia memang Erlin, kenapa berdiri saja di depan pintu?” Nia bertanya pada dirinya sendiri.
“Mungkin dia takut salah alamat. Tololnya, waktu itu aku enggak negur dia. Aku juga ragu. Siapa tahu gadis itu bukan Erlin. Aku toh hanya melihat fotonya, belum pernah melihat wajahnya dengan jelas.” Monik menyesali dirinya.
“Ah, sudah akh…Lebih baik kutanyakan saja padanya nanti.” Tukas Nia.
**
Bel istirahat terdengar nyaring. Nia bergegas memasukkan buku-bukunya ke laci. Disusulnya Erlin yang tengah berjalan ke arah halaman sekolah.
“Erlin,” panggil Nia seraya menarik lengan sahabatnya itu.
Erlin tidak menjawab. Kakinya melangkah ke sebuah kursi panjang lalu duduk di situ. Nia ikut duduk di sampingnya.
“Er….kapan kamu berhenti menghindariku? Aku sudah jemu melihat sikapmu. Aku nggak tahan lagi dengan kebisuanmu. Aku sudah cukup sabar menanti perubahan sikapmu, tapi…kamu tetap tak berubah.” Ujar Nia, sedih.
“Katakan..Er…apa salahku? Jangan siksa aku dengan sikapmu yang acuh itu. Kalau kamu ingin persahabatan kita terhenti sampai di sini saja, aku tak keberatan. Tapi..aku harus tahu kesalahanku. Aku harus tahu sebabnya. “ Lanjut Nia.
Erlin menggigit bibirnya keras-keras. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Nia. Iapun tidak tahan dengan suasana dingin yang telah diciptakannya. Namun bila mengingat rumah Nia yang bagai istana, ditambah nama seorang pejabat tinggi yang tercantum di depan pintu gerbang rumah Nia, ia merasa tidak layak, tidak berarti. Dan…semua itu membuatnya nekad untuk menghindari Nia.
“Maafkan aku, Nia…Aku rasa…aku nggak pantas menjadi sahabatmu.” Erlin berkata lirih.
“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba saja kamu ngomong begitu, Er?” Nia bertanya tak mengerti.
“Aku hanya seorang anak rakyat jelata. Sedangkan kamu..anak seorang pejabat tinggi. Rumahmu indah dan megah. Papamu kaya raya, berkedudukan pula. Aku enggak pantas menjadi temanmu.”
“Cukup Erlin. Jangan teruskan ucapanmu. Yang pejabat papaku, bukan aku. Kamu toh enggak bersahabat dengan papaku. Kamu bersahabat denganku. Mengapa soal sepele itu kamu pikirkan? Dan..hei…darimana kamu tahu rumahku megah? Kamu pernah ke rumahku?”
“Ya…waktu itu aku baru saja mengantarkan kue tar ke rumah tante Mia. Kebetulan alamat rumah tante Mia sama dengan alamat rumahmu, hanya beda beberapa rumah. Saat itulah timbul niatku untuk mengunjungimu. Kamu tahu sendiri bukan aku selalu sibuk dengan tugas-tugas di rumah, jadi aku pikir kalau tidak sekarang, kapan lagi aku mempunyai waktu bermain ke rumahmu. Tetapi, setelah melihat rumahmu yang laksana istana itu, aku jadi ragu. Apalagi ketika membaca nama yang tertera di dekat pintu gerbang. Tiba-tiba saja aku merasa diriku kecil sekali. Aku malu, Nia. Aku….”
Erlin tidak melanjutkan ucapannya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Disentuhnya lengan Nia, lemah.
“Kamu mengerti bukan, betapa rasa minder itu menghantuiku sejak aku mengetahui siapa papamu.”
“Er…jangan membuat jurang pemisah. Aku tetap sahabatmu, tak peduli dengan perbedaan kedudukan orang tua kita. Kamu bersedia ‘kan menjadi sahabatku lagi?” Nia memohon.
Erlin terdiam sesaat, sebelum mengangguk perlahan.
“Kamu memang berbeda, Nia. “ Ujarnya kemudian. “Kamu enggak sombong seperti anak-anak pejabat lain. Tentu saja, aku bersedia menjadi sahabatmu. Selamanya Nia, sampai maut memisahkannya.”
Nia tak mampu berkata-kata. Sebutir air mata menetes di pipinya. Air mata kebahagiaan.
Airmata persahabatan nan tulus.
**
Dua orang gadis manis di taman mungil itu tampak riang gembira. Tawa ria mereka turut menyemarakkan suasana pagi itu. Kicau murai yang bersahutan seolah berlomba dengan gelak mereka.
“Nia…lihat melati itu. Kuharap, persahabatan kita seharum melati ini.”Erlin berkata seraya memetik sekuntum melati.
“Dan…kamu lihat mawar ini. Seindah itulah persahabatan kita.” Ujar Nia tak mau kalah sambil membelai sekuntum mawar merah yang tengah mekar.
“Yah…seharum melati, seindah mawar.” Bisik Erlin.
Komentar
Yups, jangan minder sodara-sodara. Biarpun saya jelek, saya gak minder jadi temannya mba fani, heueheuehuehe
:D
mati n ngga berwarna. ak pernah ngerasain itu soalny .. :)
cerpen mbak bagus de! hhehe
oya, ak da link belum mbak?
Dalam persahabatan tidak mengenal perbedaan, karena perbedaan yang ada justru menguatkan ikatan persahabatan itu sendiri.
Cerita yg bagus mbak.... Salut !!
persahabatannya manis semanis jus strawberry hmmm seddepppp
Senang mengenal seorang teman dengan hobi yang sama.
emang kaya kepompong, bukan kaya kedondong..
he..he
cerita.gravis-design.com
:)