KLIEN (Bagian V)
Kisah sebelumnya : Ariyanto Kusumo, si mahluk kece yang dimata Amanda begitu sempurna ternyata seorang gay. Tentu saja Amanda terkejut tapi….mereka tetap bersahabat. Anehnya, sejak pengakuannya itu, Ariyanto menghilang. Dia tak pernah datang menemui Amanda lagi. Amanda sudah mencoba menghubunginya, tetapi Ariyanto bagai ditelan bumi.
Dimuat sebagai cerber di AUSINDO MAGAZINE, edisi Agustus 2006
“Pagi, bu Not!”
“Pagi….eh…Ariiii??” Aku menoleh kaget. “Kemana aja sih? Telpon dan SMS-ku kok nggak diladenin? Sombong banget.” Kutinju bahunya.
“Sorry…sibuk berat akhir-akhir ini.” Ari tertawa. Dagunya yang dulu klimis kini ditumbuhi semak-semak hitam. Dibawah hidungnya, kumis tipis menghias manis. Makin keren dan macho aja nih cowok. Sayang……
“Sibuk apa lagi? Numbuhin kumis?” candaku.
“Ngurus pesta pernikahanku.”
“Oh ya? Kamu…jadi married dengan...,”
Ah, siapa nama pacarnya ya? Aku nggak pernah tahu dan nggak pernah menanyakannya.
“Dicky,” Jawab Ari tersenyum bahagia. “Tapi, marriednya nggak disini.” Lanjutnya. Aku mengernyitkan kening, penuh tanya.
“Aku sudah menemukan negara yang bisa mengesahkan perkawinan kami.” Ari duduk di sofa panjang ruang tamu kantorku. “Kami akan terbang ke sana minggu depan.”
“Kamu akan menetap selamanya di sana?” tukasku tiba-tiba merasa kehilangan.
“Entahlah, tapi kami sudah berhasil mendapatkan permanent residence.”
“So soon?” Aku duduk di sampingnya. Ari mengangguk.
“Aku ke sini mau pamit.” Diraihnya kedua telapak tanganku. “Thanks ya,bu Not.” Ujarnya lembut.
“Untuk?”
“Untuk enggak menjauhiku meskipun kamu tahu siapa aku sesungguhnya. Sementara, satu demi satu teman-teman wanitaku menghindariku ketika mereka tahu keadaanku. Tapi kamu enggak. Kamu tetap memerhatikan aku. Membalas SMS dan telponku. Kamu juga enggak memintaku untuk berubah. Kamu enggak pernah menghakimiku seperti yang lainnya. Pengertian dan persahabatan yang kamu berikan sungguh berarti bagiku, Manda.”
“Hhh…seandainya aku bisa seperti lelaki normal lainnya, mungkin…kamu sudah kupacari sejak dulu.”
“Eitt..jangan ngomong gitu ah! Aku jadi ge-er nih. Lagian, kalau Dicky tahu, aku bisa dibikin sate sama dia.” Guraku sambil melepaskan tangan Ari yang masih menggenggam tanganku. Ari tertawa.
“Sorry…akhir-akhir ini aku memang cengeng. Suka sedih tanpa alasan yang jelas. Kenapa ya?” Wajahnya tampak muram.
“Mungkin karena aku mau pergi jauh, ya?” lanjutnya sendu.
“Ah, seberapa jauh sih? Kamu ‘kan tetap bisa pulang ke sini setiap saat. Ini kan tanah kelahiranmu.” Aku merasakan mataku mulai panas. Aduh…kok, jadi ikutan sedih sih?
“Entahlah…aku hanya merasa...enggak akan kembali lagi. “ Ari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Mendongakkan kepala. Matanya menerawang menatap plafon. Aku terdiam memandangnya. What’s wrong with you, Ar? Sebersit perasaan tak enak menjalari hatiku.
**
Aku terduduk lemas. Kupandangi koran pagi dengan mata nanar dan tangan gemetar. Berita pesawat terbang yang jatuh dengan seluruh penumpang dan awak pesawat tewas bagai tikaman belati di ulu hatiku. Nama Ari dan Dicky tertera di sana sebagai korban.
Ari, kamu benar-benar tidak akan kembali lagi? Bagaimana mungkin? Ini pasti mimpi buruk. Berita ini pasti salah. Airmata mengalir deras di pipiku. Ari….sedang apa kamu disana? Apakah kamu sedang merenda mimpi-mimpimu bersama Dicky? Mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud saat kamu berada di sini. Mimpi-mimpi yang hanya bisa dipahami oleh segelintir orang.
Ari…klienku, sahabatku….selamat jalan…..Aku akan selalu merindukanmu…..
TAMAT
Komentar
[kok jd sentimentil gini...]
ahh.. ari.. kenapa kamu kok cakep2 gay seehh??? :((
makin sukses aja kayanya
bagi donk rahasianya,,,,,,,
saya mohon ijin masang link nya ni,,,,
ya di kasih ga dikasih udah terlanjur di pasang,,,
jadi terpaksa kayanya harus di ijinkan,,,
makasih,,,,,,atas ijinya
senoga sukses selalu............!!
bener juga kata pepatah yak...
"jangan liat buku dari sampulnya"
makain sukses ajah nie mbakyu
Nice story.
Duh, jadi tambah ngiri sama bu guru. Bisaan aja bikin ceritanya. idenya itu lho, kagak ade matinya
ternyata firasatnya muzarab ...
ah, henny ini..baca happy ending nangis, sad ending lebih lagi