BINTANG HARAPAN DI LANGIT
sal usul ide :
Gimana rasanya ditolak cewek? Sakit! Pasti. Tapi…kalau saja kita tahu apa alasan dia menolak cinta kita, apakah kita masih berani menyimpan harapan?
Note : Judul cerpen yg saya posting di sini saya rubah sedikit. Semula BINTANG HARAPAN DI LANGIT BIRU.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 8 Desember 1995
Angga bilang, gadis itu nggak cantik tapi manis. Lucu. Apa sih bedanya cantik dan manis? Entahlah, aku nggak tahu. Tapi kata Angga, kalau cantik bosan dilihat, sedangkan manis nggak ngebosenin. Aneh! Tapi kenyataannya begitu. Buktinya gadis itu. Dia memang nggak cantik. Namun setiap aku melihatnya seolah mata dan bibirnya tersenyum padaku. Ah,mungkin karena aku tergila-gila padanya. Entahlah. Pendek kata, aku nggak jemu-jemu memandangnya.
Yah, Cindy, dara manis itu hampir tiap hari hadir dalam mimpiku. Tiap saat, tiap detik wajahnya singgah di benakku. Ah….ah…inikah cinta? Dan hari ini, sengaja aku datang lebih awal dari biasanya. Aku ingin menatap wajahnya lama-lama. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin….ugh! Aku tersentak kaget.
Gadis itu telah datang. Langkahnya oiii….betapa anggun. Matanya, bibirnya…duuh….! Begitu menawan. Aku benar-benar terpana. Cindy..Cindy….. betapa aku ingin memilikimu.
Kini Cindy duduk di bangkunya. Rapi dan sopan, lalu mengeluarkan buku dari tas merahnya yang bergambar Snoopy. Sedetik kemudian, dia asyik membaca catatannya. Aku terus memerhatikannya. Diam-diam, aku merasa beruntung menempati bangku yang paling belakang. Kalau tidak, aku tidak dapat memerhatikannya sepuas hati.
Ooops! Terkejutnya aku, malunya aku. Seolah tahu dirinya diperhatikan, Cindy menengok ke belakang. Ia menatapku dan tersenyum manis. Aih..aih! Betapa aku melayang-layang karenanya.
Gugup, kubalas senyumnya. Dan…entah darimana keberanian itu. Tiba-tiba saja aku telah duduk di sampingnya.
“Belajar apa?” tanyaku gugup.
“Sejarah.”
Ooo…..lembut nian suaranya.
“Mmm…murid baru, ya?” Aku semakin gugup. Dalam hati, aku memaki diriku. Pertanyaan apa ini? Sudah jelas, dia memang murid baru di kelasku,kok pake nanya sih?
“Iya. Kamu?” Dia balik nanya.
“Murid lama,” sahutku sambil berusaha menata denyut jantungku yang riuh kayak pasar malam sedang ada kebakaran.
“Namamu siapa?” Cindy memecah keheningan. Buseeet!. Masa sih, nggak tahu nama teman sekelas? Keterlaluan! Tapi…mungkin karena baru seminggu kami sekelas, makanya dia nggak tahu namaku. Apalagi, nama Alex di kelas ini ada 2 orang. Alexander Ginting yang gendut dan aku, Alexander ganteng (setidaknya aku lebih keren ketimbang Alexander Ginting. He he he ….)
“Alexander. Panggil aja, Alex.” Jawabku kemudian.
“Aku pernah dengar namamu waktu diabsen, tapi..nggak pernah tahu kalo itu namamu. Malah, kayaknya…aku nggak pernah ngeliat kamu deh.”
Astagaaaa!!! Dia nggak pernah ngeliat aku, teman sekelasnya? Mahluk keren begini? Aku terlongo, sedikit keki. Tapi…bibirku hanya tersenyum biar terlihat cool.
“Tentu aja. Aku duduk di belakang sih. Dan..kamu…kamu jarang sekali menengok ke belakang. Kamu selalu asyik dengan buku-buku itu.” Kataku.
Cindy tertawa kecil. Akh, tawanya begitu enak didengar. Merdu dan empuk.
“Yup! Aku memang terlalu sibuk dengan buku sehingga nggak merhatiin keadaan di sekelilingku.”
“Makanya, mulai hari ini jangan terlalu serius. Kamu belum kenal teman-teman yang lain ‘kan? Nanti, aku kenalin deh. Okey?” Aku menawari diri. Sok baik gitu lho!
Cindy menggangguk dan tersenyum. Uf! Lagi-lagi, aku terpana.
**
Sore ini segalanya nampak cerah dan indah. Secerah suasana hatiku. Betapa tidak! Tadi pagi, aku diijinkan Cindy duduk di sampingnya. Kebetulan, kawan sebangkunya pindah ke kelas sebelah. Ah..ah…senangnya! Hmm….untung tadi aku cepat-cepat minta ijinnya, kalau tidak pasti si Adri yang naga-naganya ada hati pada Cindy – sudah duduk di samping gadis itu.
Aku bersiul riang ketika memasuki ruang makan. Astrid, kakakku, sudah menanti di meja makan. Matanya melotot galak waktu aku membuka lemari es dan mengambil sebotol air dingin serta ingin meneguknya langsung.
“Pake gelas dong!” Tegurnya.
Aku tersenyum kecut. Duuh, aku lupa lagi nih. Kan peraturan di rumah ini, gak boleh minum air langsung dari botolnya. Jorok dan gak sopan. Akh, ini pasti karena aku terlalu sibuk mikirin Cindy.
Setelah menuangkan air es ke dalam gelas, aku langsung meneguk isinya sampai tandas. Lalu, tanganku dengan sigap mencomot perkedel buatan kak Astrid.
“Eits!” Kak Astrid menepuk punggung tanganku. “Cuci tangan dulu!” perintahnya galak.
“Uf! Maaf….lupa….,” Aku meringis sambil buru-buru ke wastafel.
“Heran! Kamu kenapa sih hari ini? Biasanya kamu paling bersih dan apik. Gak pernah lupa cuci tangan kalo mau makan. Gak pernah nenggak air es langsung dari botolnya.” Kak Astrid menatapku tajam ketika aku sudah duduk manis di meja makan dengan sepiring nasi di hadapanku.
“Diserang dehidrasi dan busung lapar. “ Sahutku cuek sambil mengambil sepotong perkedel.
“Alaa..jangan bohong! Kamu pasti sedang ada masalah.” Tebak kak Astrid setengah jitu. Apakah jatuh cinta pada seorang gadis merupakan sebuah masalah?
“Enggak kok, nggak ada masalah apa-apa.” Aku menggeleng sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutku.
“Lex…,” Kak Astrid menyentuh lenganku. Suaranya melembut. “Kalo ada masalah di sekolah, cerita ya….Jangan diam-diam aja. Siapa tahu kakak bisa bantu.” Ujarnya sembari tersenyum penuh sayang.
“Oke.” Jawabku dengan mulut penuh nasi. Duuh, kakakku yang satu ini. Baik sih baik tapi..matanya seperti elang. Tajam dan lihai. Nyinyirnya juga amit-amit. Sedikit aja aku berbuat yang aneh, sejuta omelan dan teguran meluncur dari mulutnya bagai petasan. Apalagi kalo dia tahu aku lagi dimabuk cinta. Wah, bisa tuli telingaku mendengar ocehannya. Lebih baik aku diam aja deh. Gak usah cerita-cerita soal Cindy.
Thanks God! Kak Astrid nggak banyak nanya lagi. So, sebelum kak Astrid kambuh penyakit bawelnya, aku cepat-cepat menghabiskan makan siangku.
**
Aku sedang menikmati gado-gado kesayanganku ketika Angga menepuk pundakku.
“Kayaknya wajahmu lebih berseri-seri deh sejak menjadi teman sebangku Cindy.” Angga membuka percakapan.
Aku menghentikan suapanku.
“Akh, masa?”
“Yup! Tapi…kamu jadi lebih pendiam.”
“Mungkin itu ciri-ciri orang yang jatuh cinta.” Kataku.
“Wauw! Sudah sejauh itukah perasaanmu padanya? Bukan sekedar naksir nih.” Angga menatapku tak percaya.
Aku tersenyum penuh arti.
“Lex, nasibmu gak akan beda dengan yang lainnya. Cindy susah direbut hatinya.” Angga berbisik di telingaku.
“Maksudmu?”
“Kamu kenal Dino? Dia salah seorang yang pernah menyatakan isi hatinya pada Cindy. Hasilnya? Cindy menolak.”
“Yah, barangkali Cindy memang gak suka sama dia.” Tukasku.
“Mungkin juga, tapi..masih ada 2 orang lagi yang ditolak. Luki dan David.”
Kali ini aku terperangah. Enggak mungkin! Angga pasti bergurau. Semua orang tahu siapa Luki. Ketua OSIS yang terkenal ganteng, dambaan setiap cewek di sekolahku. Sedangkan David, pelajar teladan yang genius otaknya plus sopan santunnya yang selalu membuat gemas para cewek. Masa iya, Cindy gak tertarik?
“Yang bener, Ga? Kamu bercanda, ya?” tanyaku.
“Aku serius, Lex. Mereka sendiri yang cerita sama aku.”
Aku termangu. Kalau benar apa yang dialami Dino,Luki dan David, haruskah aku mundur sebelum maju? Luki dan David yang punya keistimewaan aja ditolak, apalagi aku. Apa yang kupunya? Enggak ada, kecuali beberapa piala atas keberhasilanku dalam lomba melukis. Ah, aku harus optimis! Aku belum mencobanya. Siapa tahu tipe pelukis itu idaman Cindy.
“Lex…sebaiknya kamu lupakan Cindy. Aku nggak mau kamu mengalami nasib seperti yang lainnya.” Suara Angga membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum. “Trims atas peringatanmu, Ga. Tapi…aku gak mau kalah sebelum berperang. Itu bukan sifatku.”
“Terserah! Itu hakmu.” Angga mengangkat bahunya.
**
Cindy menerima catatan Ekonominya yang kemarin kupinjam tanpa curiga.
“Lho, cepet bener?” tanyanya.
“Aku gak menyalin dengan tangan kok, tapi ..dengan mesin fotocopy.” Sahutku berusaha menenangkan debar-debar di dada.
Memang sudah seminggu ini debar-debar di dadaku semakin meningkat frekuensinya. Kian hari aku kian menyukai Cindy. Dari wajah, penampilan dan kepribadian. Semua yang ada padanya membuatku resah gelisah bak air laut yang bergelora.
Kemarin malam, aku tak dapat lagi menahan gelora cinta yang berdebur indah di hati. Dengan gemetar, aku menulis : I love you, Cindy di sehelai kertas. Hanya itu yang dapat kutulis. Aku nggak bisa berpikir lagi untuk mencari kata-kata yang lebih romantis.
Sekarang kertas itu ada di halaman tengah catatan Ekonomi Cindy. Ah, semoga dia dapat melihatnya. Dan…semoga aku nggak bertepuk sebelah tangan.
Oops! Aku tersentak.
Kertas itu ditemui Cindy lebih cepat dari yang kuduga. Sewaktu ia mengipas tubuhnya yang gerah, kertas bandel itu nyelonong keluar dari persembunyiannya. Aku berusaha mengambilnya. Terlambat! Cindy lebih cepat.
Hanya sedetik Cindy membacanya lalu menatapku. Aku balas menatapnya. Aneh! Enggak ada rona merah yang menjalar di pipinya seperti yang seringkali kubaca di majalah-majalah tentang seorang cewek yang menerima kata cinta dari seorang cowok. Apakah karena ia enggak mencintaiku? O…o…o…semoga dugaanku meleset.
“Kamu..” Cindy berucap parau.
“Ya..aku mencin….,”
“Jangan diterusin.” Cindy memotong. Gadis itu menghela nafas. Dipandanginya langit-langit rumah, lalu memandangku sangat serius.
“Aku mau cerita sesuatu. Kamu mau dengerin ‘kan?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Aku ini yatim piatu, Lex. Kedua orang tuaku meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas ketika aku masih bayi. Sejak itu, aku diasuh dan dirawat oleh Oom Hary, adik papaku. Oom Hary dan isterinya sangat menyayangiku. Mereka mengirim aku ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Aku diberi tempat kost yang menyenangkan, diberikan semua yang kuperlukan. Begitu besarnya kasih dan perhatian mereka padaku sehingga aku berjanji untuk membalas semua kebaikan mereka. So…aku bertekad untuk belajar dengan tekun. Aku menolak semua cinta dari teman-teman cowok karena….aku nggak ingin sekolahku terganggu. Kuharap…kamu bisa ngerti ini, Lex.
”Tapi…apakah dalam hati kecilmu ..kamu men….”
“Alex, saat ini yang ada dalam benakku hanya satu. Menuntut ilmu setinggi mungkin. Aku gak ingin diganggu dengan pertanyaan seperti itu.” Cindy berkata tegas.
“Jawab yang jujur, Cin! Kamu jangan pura-pura nggak suka sama aku.” Aku mulai emosi. Entah darimana datangnya, aku merasa diremehkan oleh penolakannya. Aku merasa dadaku sesak menahan kecewa.
“Aku nggak lagi pura-pura. Dan..kamu jangan paksa aku untuk menerima cintamu.” Sentak Cindy.
Aku terdiam. Kesadaran menyentakku.
“Maafkan aku, Cin…Aku terlalu kasar tadi.” Serak suaraku.
“Enggak apa-apa.” Cindy tersenyum tipis. “Aku tahu, memang gak enak rasanya ditolak.” Katanya lembut.
Lalu, kami sama-sama terdiam.
“Cindy, apakah sama sekali gak ada harapan untukku? Aku sangat menyayangimu, Cin.” Kataku memecah kebisuan.
“Alex, kalau kamu mau bersabar. Mungkin nanti…bila saatnya tiba aku bisa memberi jawaban yang menyenangkan hatimu. Tapi…aku gak bisa berjanji. Karena saat ini, aku ingin konsentrasi penuh pada sekolahku. “
Aku termangu mendengarnya.
“Yah, akan kucoba Cindy. Aku akan sabar menantimu.” Batinku.
Langit biru tua kala malam itu aku meninggalkan rumah kost Cindy. Samar-samar ada satu dua bintang berkelip indah. Ah…di sanalah..di langit yang maha luas, ada bintang harapanku tentang sepotong hati yang entah kapan berhasil kuraih.
Komentar
btw..kira2 cindy suka nggak ya ma alex??
Artinya kita sudah bisa memprediksi kalau bakalan ditolak,... nggak usah maju deh.
sedihnya ditolaaakkk
Cindy yang hebat ...
nggak apa-apa..mungkin bukan jodoh.
tenang aja, jodoh ga bakal kemana-mana
mbak kayaknya yang plng,produktiv ya postingnya...
good job..
Tapi cantik juga gak kalah menarik dari Manis..
Lha masalahnya aku punya 22 nya
Manis dan cantik
jadi aku menarik...maksudnya menarik becak mbak..
he..he
aku menyapa dulu aja deh.. ya...
baca cerpennya ntar kulanjutkan lagi, belum selesai bacanya, dah keburu jam istirahatnya habis.
Wah.. strawberry nya bikin pingin makan nih... seger banget hehehehe
kalau saja aq cowok, pasti akan kutunggu dirimu sampe kamu mau menerima..... hwuakakakakakak :))
eh2 petramax kah?
Cindy yang teguh dalam cita-cita, menutup sementara hadirnya cinta...
Salam Sayang
ehm, cinta t kdg mag bth perjuangan.... Jd keinget apa gthu?
tpi klo cinta ditolak sekali mah jagang patah smangat ttp brusaha!! klo berkali2 ditolak berarti jawabanya tidak
Udah lama juga ya Mbak Fanny jadi cerpenis... Hmm, pantas aja tulisan-2nya keren-2 gitu... Udah punya jam terbang yg tinggi nih (^_^)
namun penuh pesan tersembunyi di sana sini.
two thumbs mbak
saat kita mencintai, kita maunya memiliki,,,
dan ketika kita tidak memiliki bawaannya kadnag senewen dan marah ga jelas
mmm,,tapi yakinlah, cinta itu harus diperjuangkan,terus mencoba tanpa memaksa tentunya
salam cinta semuanya
cinta itu anugrah maka berbahagialah
karena kita sengsara bila tak punya cinta...
hahahahaha.....
tak save dulu ya mbak ceritanya.. hehe.. bagus ;)
untuk cerita yg ini, gue ngerasa nyaman bgt pas bc dialog2 yg di awal cerita,,
tp kok semakin klimaks dan semakin menuju akhir cerita, terasa sedikit hambar ya..??
ini sih hanya pendapat pribadi aj, Mbak!
hehe
:)
anyway, it's nice!
:)