TEMANKU, MISS RING RING
Prakata : Tulisan ini saya buat ketika saya sedang bete dengan seorang teman yang hobi banget mengusik saya dengan dering telponnya yang tiada henti.
Kadang, saya suka merasa heran dengan hobi yang dimiliki seorang teman yaitu NGOBROL DI TELPON BERJAM-JAM. Kalau dia sudah menelpon, hmm….dijamin tangan pegal (kelamaan pegang wireless) dan kuping merah bin panas (ditempeli wireless) plus bosan setengah mati lantaran mendengarkan ocehannya yang - biasanya - berisi curhat (tentang pekerjaannya, pacarnya, familynya dll), omelan, makian (pada orang yang ia benci) dan…GOSIP! Belum lagi, kalau wireless di rumah sedang rusak dan belum sempat diperbaiki atau diganti, wah, ‘penderitaan’ saya bertambah karena tak bisa meladeni telponnya sambil jalan ke sana kemari. Saya harus duduk di kursi dekat meja telpon untuk waktu yang tak bisa ditentukan, tergantung dari lamanya dia berbicara.
Ingin memutuskan obrolan, saya tak enak hati. Apalagi, Miss Ring Ring ini (sst…jangan bilang-bilang, itu julukan buat teman saya) ‘lihai’ benar meneruskan obrolan meski saya sudah mengucapkan kalimat-kalimat terselubung untuk menyudahi percakapan. Dia juga tak peduli kalau nada suara saya sudah ‘tidak antusias’ dan lebih banyak bilang : Oh .ya? Oh, begitu? Masa sih? Mmm….ya…mmm.... he eh…iya….hoammm…hoammm.
Bayangin, saya menguap pun dia tak peduli. TEUTEUP saja ngoceh. Saya pun jadi ‘TAKUUUT” sekali kalau dia sudah menelpon. Akhirnya, saya jadi suka mengajarkan ‘ilmu bohong’ pada orang-orang di rumah.
“Eh, kalau si anu telpon …bilang saya lagi pergi.” Ujar saya suatu hari kepada adik laki-laki saya.
“Tati, kalau ada telpon, tanya dulu dari siapa. Kalau dari si anu, bilang aja saya sudah tidur. “ Pesan saya pada Tati, bedinde setia saya.
BOHONG! Lagi-lagi bohong. Nambahin dosa saja. Hati kecil saya jadi sering merasa bersalah. Mau tak mau saya - terpaksa - menerima telpon dari Miss Ring Ring. Sesibuk apapun saya selalu melayani panggilan telponnya meski dalam hati..Ugh! OGAH BANGET!
Sebenarnya, saya tidak keberatan menerima telpon darinya karena itu berarti dia masih menganggap saya teman baiknya. Saya juga dengan senang hati mendengarkan curhat-curhatnya. Tetapi, bila untuk masalah sepele, dia harus telpon saya dan cerita panjang lebar - nyaris hampir tiap hari dan bisa 3 kali dalam sehari seperti makan obat saja - siapa yang tidak sebal. Mana jam telponnya tak kenal waktu. Bisa pagi-pagi saat saya baru bangun tidur, siang-siang bolong waktu mulut saya sibuk mengunyah nasi padang, malam-malam gelap ketika mata saya sudah seperti lampu 5 watt. Mengganggu sekali deh! Apakah karena dia sudah menganggap saya sebagai Teman Karibnya? Sampai tak peduli lagi jam telpon yang sopan. Ugh! Kadang, saya menyesal jadi temannya. Tapi, saya tidak tega memutuskan ‘tali persahabatan’ kami. Bagaimanapun juga, dia termasuk teman yang care dan suka menolong saat saya sedang dalam kesulitan.
Alhasil, saya pun selalu ‘menyabarkan’ diri dalam menghadapi serangan telponnya. Tetapi, hari ini, lumbung kesabaran saya terpaksa digasak habis. Betapa tidak! Saya sedang menerima telpon di lantai bawah ketika Miss Ring Ring menghubungi hape saya yang terletak di ruang baca di lantai atas. Tentu saja, saya tak mendengar ‘panggilan’ hape saya. Tak lama, terdengar nada sela berkali-kali di telpon tetapi - karena pembicaraan yang saya lakukan cukup penting - saya abaikan saja. Ketika akhirnya, saya menutup telpon, Tati datang memberitahukan kalau hape saya berbunyi. Saya pun bergegas ke lantai atas. Begitu kaki saya menjejak di lantai atas, hape berhenti bernyanyi. Diganti dengan bunyi SMS masuk.
Susah bener sih hubungi kamu. Calling ke telpon nggak diangkat. Kontak ke HP dicuekin. Jadi nggak nitip beli novel? Saya sudah mau naik taxi nih!
Alamak! Saya pikir ada apa. Tangan saya pun segera memencet tuts-tuts hape, mau balas SMS nya. Tapi, baru satu kalimat diketik, telpon di bawah berdering nyaring. Tak lama, Tati berteriak memberitahukan ada telpon dari MISS RING RING! Saya pun urung membalas SMS nya. Sebaliknya, kaki saya dengan lincah menuruni anak tangga (karena wireless saya sedang rusak, maka Tati tak bisa membawakan wireless ke lantai atas).
“Saya hubungin kamu berkali-kali ke telpon rumah dan hape, kok nggak
diangkat sih?! Mau nitip beli novel nggak?! Saya lagi di taxi nih. Sedang on the way ke Bazar Buku Murah! ” Baru bilang Halo, suara judesnya menyerang telinga saya. Darah saya seketika mendidih. Kekesalan yang selama ini terpendam, tumpah ruah bak lahar panas. Dengan ketus, saya menjawab :
“SABAR SEDIKIT DONG JADI ORANG!! Tadi, saya lagi terima telpon! Dari nada sela saya tahu memang ada telpon masuk tapi saya nggak bisa stop pembicaraan karena urusannya penting! Hape saya ada di lantai atas. Nggak kedengaran bunyinya. Saya juga baru mau balas SMS mu, eh…kamu udah telpon. Iya, jadi titip beli novel!”
Sepertinya Miss Ring Ring tahu saya marah, tanpa banyak celoteh (seperti yang selalu ia lakukan setiap kali menelpon) dia mengatakan akan membelikan titipan saya itu. Saya menaruh gagang telpon sambil menghela nafas. Duh, rasanya, saya ingin ‘makan orang’. Bete banget! Masih di dalam taxi sudah seheboh itu. Belum juga sampai di tempat tujuan. Lagipula, sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah pesan padanya. Mau nitip beli beberapa novel kalau dia pergi ke Bazar Buku Murah yang diadakan sebuah penerbit.
So, kenapa dia harus berkali-kali telpon saya hanya untuk memastikan jadi tidaknya saya nitip beli novel. Kayak mau beli berlian berharga jutaan dolar saja. Pakai acara jutek pula. Tapi, begitulah tabiat Miss Ring Ring. Kalau belum berhasil ‘bicara’ dengan saya, dia pasti akan teruuuus menelpon sampai saya ‘menyerah’.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Miss Ring Ring berhenti ‘meneror’ saya dengan dering telponnya. Mungkin, dia masih kesal sama saya. Wah, kebetulan! Saya jadi merasa legaaaa bukan main! Meskipun di sanubari timbul rasa ‘tak enak hati’ tapi saya berusaha cuek. Yang penting, saya bebas merdeka dari serangan telponnya
***
“Mbaaakkk! Telpooon! ” Teriak Tati dari lantai bawah. Saya yang sedang
asyik mengetik cerpen di lantai atas, bergegas turun sambil bertanya - dengan mata - dari siapa? Tati hanya senyam-senyum penuh arti. Oh, Noooo! Hati saya menjerit. Jangan-jangan dari …..Miss Ring Ring. Dia memang tak pernah lama kalau marah. Selalu dia yang mulai menghubungi saya, saat kami berselisih. Hhhh, dengan enggan, saya menerima gagang telpon yang diulurkan Tati.
“Halo, Fan….. saya mau… ”
Blabla blabla..abla ..abla.. Saya mendengarkan tapi tak tahu apa yang ia katakan. Masuk ke telinga kiri keluar dari telinga kanan. Sementara pikiran saya melayang ke cerpen yang belum selesai saya ketik.
Jakarta, 2007
Kadang, saya suka merasa heran dengan hobi yang dimiliki seorang teman yaitu NGOBROL DI TELPON BERJAM-JAM. Kalau dia sudah menelpon, hmm….dijamin tangan pegal (kelamaan pegang wireless) dan kuping merah bin panas (ditempeli wireless) plus bosan setengah mati lantaran mendengarkan ocehannya yang - biasanya - berisi curhat (tentang pekerjaannya, pacarnya, familynya dll), omelan, makian (pada orang yang ia benci) dan…GOSIP! Belum lagi, kalau wireless di rumah sedang rusak dan belum sempat diperbaiki atau diganti, wah, ‘penderitaan’ saya bertambah karena tak bisa meladeni telponnya sambil jalan ke sana kemari. Saya harus duduk di kursi dekat meja telpon untuk waktu yang tak bisa ditentukan, tergantung dari lamanya dia berbicara.
Ingin memutuskan obrolan, saya tak enak hati. Apalagi, Miss Ring Ring ini (sst…jangan bilang-bilang, itu julukan buat teman saya) ‘lihai’ benar meneruskan obrolan meski saya sudah mengucapkan kalimat-kalimat terselubung untuk menyudahi percakapan. Dia juga tak peduli kalau nada suara saya sudah ‘tidak antusias’ dan lebih banyak bilang : Oh .ya? Oh, begitu? Masa sih? Mmm….ya…mmm.... he eh…iya….hoammm…hoammm.
Bayangin, saya menguap pun dia tak peduli. TEUTEUP saja ngoceh. Saya pun jadi ‘TAKUUUT” sekali kalau dia sudah menelpon. Akhirnya, saya jadi suka mengajarkan ‘ilmu bohong’ pada orang-orang di rumah.
“Eh, kalau si anu telpon …bilang saya lagi pergi.” Ujar saya suatu hari kepada adik laki-laki saya.
“Tati, kalau ada telpon, tanya dulu dari siapa. Kalau dari si anu, bilang aja saya sudah tidur. “ Pesan saya pada Tati, bedinde setia saya.
BOHONG! Lagi-lagi bohong. Nambahin dosa saja. Hati kecil saya jadi sering merasa bersalah. Mau tak mau saya - terpaksa - menerima telpon dari Miss Ring Ring. Sesibuk apapun saya selalu melayani panggilan telponnya meski dalam hati..Ugh! OGAH BANGET!
Sebenarnya, saya tidak keberatan menerima telpon darinya karena itu berarti dia masih menganggap saya teman baiknya. Saya juga dengan senang hati mendengarkan curhat-curhatnya. Tetapi, bila untuk masalah sepele, dia harus telpon saya dan cerita panjang lebar - nyaris hampir tiap hari dan bisa 3 kali dalam sehari seperti makan obat saja - siapa yang tidak sebal. Mana jam telponnya tak kenal waktu. Bisa pagi-pagi saat saya baru bangun tidur, siang-siang bolong waktu mulut saya sibuk mengunyah nasi padang, malam-malam gelap ketika mata saya sudah seperti lampu 5 watt. Mengganggu sekali deh! Apakah karena dia sudah menganggap saya sebagai Teman Karibnya? Sampai tak peduli lagi jam telpon yang sopan. Ugh! Kadang, saya menyesal jadi temannya. Tapi, saya tidak tega memutuskan ‘tali persahabatan’ kami. Bagaimanapun juga, dia termasuk teman yang care dan suka menolong saat saya sedang dalam kesulitan.
Alhasil, saya pun selalu ‘menyabarkan’ diri dalam menghadapi serangan telponnya. Tetapi, hari ini, lumbung kesabaran saya terpaksa digasak habis. Betapa tidak! Saya sedang menerima telpon di lantai bawah ketika Miss Ring Ring menghubungi hape saya yang terletak di ruang baca di lantai atas. Tentu saja, saya tak mendengar ‘panggilan’ hape saya. Tak lama, terdengar nada sela berkali-kali di telpon tetapi - karena pembicaraan yang saya lakukan cukup penting - saya abaikan saja. Ketika akhirnya, saya menutup telpon, Tati datang memberitahukan kalau hape saya berbunyi. Saya pun bergegas ke lantai atas. Begitu kaki saya menjejak di lantai atas, hape berhenti bernyanyi. Diganti dengan bunyi SMS masuk.
Susah bener sih hubungi kamu. Calling ke telpon nggak diangkat. Kontak ke HP dicuekin. Jadi nggak nitip beli novel? Saya sudah mau naik taxi nih!
Alamak! Saya pikir ada apa. Tangan saya pun segera memencet tuts-tuts hape, mau balas SMS nya. Tapi, baru satu kalimat diketik, telpon di bawah berdering nyaring. Tak lama, Tati berteriak memberitahukan ada telpon dari MISS RING RING! Saya pun urung membalas SMS nya. Sebaliknya, kaki saya dengan lincah menuruni anak tangga (karena wireless saya sedang rusak, maka Tati tak bisa membawakan wireless ke lantai atas).
“Saya hubungin kamu berkali-kali ke telpon rumah dan hape, kok nggak
diangkat sih?! Mau nitip beli novel nggak?! Saya lagi di taxi nih. Sedang on the way ke Bazar Buku Murah! ” Baru bilang Halo, suara judesnya menyerang telinga saya. Darah saya seketika mendidih. Kekesalan yang selama ini terpendam, tumpah ruah bak lahar panas. Dengan ketus, saya menjawab :
“SABAR SEDIKIT DONG JADI ORANG!! Tadi, saya lagi terima telpon! Dari nada sela saya tahu memang ada telpon masuk tapi saya nggak bisa stop pembicaraan karena urusannya penting! Hape saya ada di lantai atas. Nggak kedengaran bunyinya. Saya juga baru mau balas SMS mu, eh…kamu udah telpon. Iya, jadi titip beli novel!”
Sepertinya Miss Ring Ring tahu saya marah, tanpa banyak celoteh (seperti yang selalu ia lakukan setiap kali menelpon) dia mengatakan akan membelikan titipan saya itu. Saya menaruh gagang telpon sambil menghela nafas. Duh, rasanya, saya ingin ‘makan orang’. Bete banget! Masih di dalam taxi sudah seheboh itu. Belum juga sampai di tempat tujuan. Lagipula, sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah pesan padanya. Mau nitip beli beberapa novel kalau dia pergi ke Bazar Buku Murah yang diadakan sebuah penerbit.
So, kenapa dia harus berkali-kali telpon saya hanya untuk memastikan jadi tidaknya saya nitip beli novel. Kayak mau beli berlian berharga jutaan dolar saja. Pakai acara jutek pula. Tapi, begitulah tabiat Miss Ring Ring. Kalau belum berhasil ‘bicara’ dengan saya, dia pasti akan teruuuus menelpon sampai saya ‘menyerah’.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Miss Ring Ring berhenti ‘meneror’ saya dengan dering telponnya. Mungkin, dia masih kesal sama saya. Wah, kebetulan! Saya jadi merasa legaaaa bukan main! Meskipun di sanubari timbul rasa ‘tak enak hati’ tapi saya berusaha cuek. Yang penting, saya bebas merdeka dari serangan telponnya
***
“Mbaaakkk! Telpooon! ” Teriak Tati dari lantai bawah. Saya yang sedang
asyik mengetik cerpen di lantai atas, bergegas turun sambil bertanya - dengan mata - dari siapa? Tati hanya senyam-senyum penuh arti. Oh, Noooo! Hati saya menjerit. Jangan-jangan dari …..Miss Ring Ring. Dia memang tak pernah lama kalau marah. Selalu dia yang mulai menghubungi saya, saat kami berselisih. Hhhh, dengan enggan, saya menerima gagang telpon yang diulurkan Tati.
“Halo, Fan….. saya mau… ”
Blabla blabla..abla ..abla.. Saya mendengarkan tapi tak tahu apa yang ia katakan. Masuk ke telinga kiri keluar dari telinga kanan. Sementara pikiran saya melayang ke cerpen yang belum selesai saya ketik.
Jakarta, 2007
Komentar
Knapa ?. soalnya aku juga pernah dan masih saja tersiksa dengan seorang teman yang karakternya persis seperti karakter miss ring-ring yang kamu gambarkan.
pokoknya kalau terima telepon dari dia pasti lebih sengsara dari azab kubur deh ( wakakakakakakakakaka).
Salam Sayang
nyepam dulu yak
untunglah gk ada temen yg spt itu, adanya temen yg slalu dpt telp berjam2 sampe yg dengerin di sblh aja bete...krn pegang tlp mulu di segala kesempatan...huuuh
ring-ring..
sebutan henny dulu tuh, waktu masih SMA
menurut ela nih....mending diomongin baik2 mbak....ungkapan secara terus terang keberatan m'fanny akan perilaku dia...jadi dia bisa perbaiki diri.....itukan gunanya teman...^_^
huehehehe
mending dibilangin aja baik2 mbak,, kalo ga yah kita sendiri yg repot dan merasa dirugiin kan?!
eh eh eh ganti baju dia, kenapa ga nyari yg berwarna warni mbakKKK??
Mbak Fanny cukup sabar juga yah...??? salut saya.
kalu aku malah kebalikanx,aku lah pelakunya. Entah brp org yg sdh jd korbn. Xixiwi
Kamu copy kode2 itu dan simpan sebagai template posting. Caranya buka Dashboard pengaturan, format dan SIMPAN kode2 itu sebagai template posting kamu.
Temen, meski sebawel dan se-menjengkelkan apapun, tetep menumbuhkan kernduan ketika lama tak bersua seperti biasa....
karena teman adalah aset yang tak pernah terdepresiasi...
solusinya?? pasang aplikasi divert number di hp mu. beres....
ini kulitmu kok makin halus sajah...kapan nih gantinya?
Awalnya aku maklum, karena dia memang tak punya siapa-2 di Jakarta.
Tapi lama-2 aku terganggu juga. Makanya seringkali waktu dia telpon tak kuangkat. SMS sesekali aja aku balas.
Kalaupun akhirnya aku angkat hanya karena aku gak enak hati dg dia, tapi itupun aku gak dengerin apa yang dia katakan...
Huuu... dosa gak ya aku ?
Ups... sorry, kok malah curhat ?
kalau lagi jaman2nya banyak maling, simpen aja HP nya di depan rumah heuheuheu, suruh miss ringring ngoceh sampe pagi gituh :D