KETIKA KEBEBASAN BERPENDAPAT DIPASUNG
Saya sungguh tersentuh membaca kisah yang menimpa Ibu Prita Mulyasari.
Berita yang saya dengar dan baca, ibu Prita hanya curhat kepada teman-temannya by imel. Tapi..entah bagaimana isi imelnya itu menyebar di internet sehingga dia pun dituduh menyebarkan nama baik pihak tertentu.
Saya jadi bingung, mengapa dia yang dituduh mencemarkan nama baik? Wong, dia hanya curhat kok. Kalo toh imel tersebut meluas, kan bukan salah dia. Pasti ada someone yang telah mem forward imelnya. Someone inilah yang seharusnya digugat. Itupun harus diselidiki apa motivasinya. Mungkin ketika seseorang menyebarkan imel yang ia terima, tujuannya adalah untuk mengingatkan teman-temannya. Bukan untuk menjelekkan nama baik orang lain.
Sama saja dengan ketika kita mengingatkan teman kita untuk tidak belanja di supermarket A karena - misalnya - barang-barang yang dijual banyak sudah kedaluwarsa atau...memberitahukan teman kita untuk tidak makan di resto anu karena servicenya lemot.
Lha, kalau membicarakan hal-hal kayak gitu aja dikenakan pasal pencemaran nama baik...betapa sengsaranya hidup ini.
Jika kebebasan berpendapat dipasung sedemikian rupa, betapa terkekangnya orang-orang yang suka menulis di dunia maya. Ngeblog ngeri, ngefesbuk serem, ngeplurk was-was. Kuatir, tulisannya dianggap mencemarkan nama baik pihak tertentu. Seperti yang dikeluhkan Nietha, si pemilik blog Lumbung Hati.
Jadi takut ngeblog dan nge fesbuk nih, takut kalo ada yang menuntut. Kalo aku komen disini jangan dianggap pencemaran nama baik ya mbak..
Padahal UU Internet dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dibuat untuk mencegah cyber crime, bukan untuk membatasi kebebasan informasi dan mengkriminalkan orang.
Hmm...mungkin sudah saatnya UU ITE direvisi ulang. Dibuat sejelas dan selengkap mungkin definisi pencemaran nama baik. Otomatis, harus mengacu pada Kitab Undang Undang Hukum Pidana juga. Harus sinkron. Jangan sampai tumpang tindih dan malah bikin bingung para penegak hukum.
Alhasil, saya hanya bisa berharap dan berdoa : Tak ada lagi kasus Prita Mulyasari di negara ini. Cukup sekali saja.
Berita yang saya dengar dan baca, ibu Prita hanya curhat kepada teman-temannya by imel. Tapi..entah bagaimana isi imelnya itu menyebar di internet sehingga dia pun dituduh menyebarkan nama baik pihak tertentu.
Saya jadi bingung, mengapa dia yang dituduh mencemarkan nama baik? Wong, dia hanya curhat kok. Kalo toh imel tersebut meluas, kan bukan salah dia. Pasti ada someone yang telah mem forward imelnya. Someone inilah yang seharusnya digugat. Itupun harus diselidiki apa motivasinya. Mungkin ketika seseorang menyebarkan imel yang ia terima, tujuannya adalah untuk mengingatkan teman-temannya. Bukan untuk menjelekkan nama baik orang lain.
Sama saja dengan ketika kita mengingatkan teman kita untuk tidak belanja di supermarket A karena - misalnya - barang-barang yang dijual banyak sudah kedaluwarsa atau...memberitahukan teman kita untuk tidak makan di resto anu karena servicenya lemot.
Lha, kalau membicarakan hal-hal kayak gitu aja dikenakan pasal pencemaran nama baik...betapa sengsaranya hidup ini.
Jika kebebasan berpendapat dipasung sedemikian rupa, betapa terkekangnya orang-orang yang suka menulis di dunia maya. Ngeblog ngeri, ngefesbuk serem, ngeplurk was-was. Kuatir, tulisannya dianggap mencemarkan nama baik pihak tertentu. Seperti yang dikeluhkan Nietha, si pemilik blog Lumbung Hati.
Jadi takut ngeblog dan nge fesbuk nih, takut kalo ada yang menuntut. Kalo aku komen disini jangan dianggap pencemaran nama baik ya mbak..
Padahal UU Internet dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dibuat untuk mencegah cyber crime, bukan untuk membatasi kebebasan informasi dan mengkriminalkan orang.
Hmm...mungkin sudah saatnya UU ITE direvisi ulang. Dibuat sejelas dan selengkap mungkin definisi pencemaran nama baik. Otomatis, harus mengacu pada Kitab Undang Undang Hukum Pidana juga. Harus sinkron. Jangan sampai tumpang tindih dan malah bikin bingung para penegak hukum.
Alhasil, saya hanya bisa berharap dan berdoa : Tak ada lagi kasus Prita Mulyasari di negara ini. Cukup sekali saja.
Komentar
Padahal berkeluh kesah ketemen2 adalah hal biasa.
cukuplah ibu prita yang mengalami nasib spt ini..
but dari info yg mbak fanny tulis sepertinya ibu Prita kena masalah cuma gara2 curhat nya saja yah.
duh benr2 sengsara deh hidup kalo masalah seperti itu udah dianggap mencemarkan nama baik
Aku sendiri sempat takut kalau ingin menyampaikan uneg-2 yang menyangkut orang lain nih...
Dendannya gak tanggung-2 sih... 1 Milyar !!
katanya di Indonesia hak untuk berpendapat dijamin,, tp kok realisasinya kayak gini?!
mo ga ada lagi deh kasus yg kayak gini...
td nggak ngikuti smpe sgni banyak sih, tp stelah bca ni jd tau.. hehehe,,,
Bicara tak Boleh.
Jahit saja Mulutku.
Curhat di Email gak boleh.
Tutup saja Internetnya.
Lalu kau mau apa.
Tidur...
Baguslah.
Daripada Korup dimana-mana.
BEBASKAN IBU PRITA !!!
kadang emang persepsi sebuah undang undang beda beda bagi tiap tiap orang
dan kadang kala,kaum yang buta hukum, ga ngerti istilah hukum, bisa bisa seperti terjebak dalam ketidaktauannya
dan untuk kasus prita ini, saya juga ga habis pikir, kok bisa sampai nuntut menuntut dalam milyaran yaa,,,
bagi saya hal biasa seseorang sharing mengenai "apa yang dia alami" dengan oranglain
dan jika itu yang prita alami dan rasakan pelayanan RS tsb, hak azasi dia dung untuk bershare soal itu, asal bener "itu yang terjadi" bukan mengada ngada
saya siy dukung kebenaran dan keadilan, saatnya kebebasan berpendapat itu diakui,,,
salam kenal ya
kunjunganku kali ini menggalang dukungand ari sobat blogger setanah air
selamat malam yu kita sama sama dukung prita yang teraniaya oleh rumah sakit di tunggu dukungannya
buat pengusaha: berilah pelayanan yang memuaskan kepada konsumen anda, jangan pernah menyakiti hati konsumen anda karena anda tidak ada apa-apanya tanpa konsumen anda.
buat bu Prita: simpati dan dukungan bagi sebuah kebenaran akan selalu mengalir untuk ibu.
(ikatan Dokter Indonesia)
rs omni terlalu sombong seeeh plus matre
duh, kenapa kayak jaman dulu lagi sih?
Benar, klo kita lantas jadi takut mengeluarkan pendapat, itu artinya membuat pihak2 spt RS Omni International menjadi leluasa utk menggunakan kekuasaannya yg merugikan wong cilik. JANGAN TAKUT kalo kita memang benar!
wkwkwkwk
semoga keadilan ditegakan, betull
masa hanya krn gitu aja langsung dipenjara, gila kan..
gak bener bgt deh...
drtd udh bekoar2 ttg hal ini di blog yg lain...udh ilfil juga hahahha
ikut apa ya???
hehe