ITIK BURUK RUPA PLUS
Asal usul ide : Saya pernah secara gak sengaja membaca diary adik saya. Ternyata di dalam diary itu, adik saya menulis kalo dia kagum sama saya. Katanya saya ini supel dan disukai teman-teman. Waduuh, padahal saya justru kagum sama dia yang punya otak genius banget. Saking geniusnya, dia selalu juara umum ketika masih SMP dan selama 3 tahun di SMP dapat bea siswa. Sementara saya…cuma kebagian ranking 3 melulu. Saya juga gak secantik dia lho. Tapi..itulah manusia. Gak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Selalu melihat rumput tetangga lebih hijau ya. Tapi…tentu aja saya gak pernah iri sama adik saya. Malah bangga punya adik yang cantik dan pintar.
Pernah dimuat di Majalah MEDIA KAWASAN edisi Desember 2007
Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Rambut lurus sebahu dengan tekstur kasar binti kaku persis ijuk. Mata bulat besar cenderung melotot yang dibingkai kacamata minus sejak aku duduk di kelas enam SD. Bibir tebal bin dower. Hidung mancung ke dalam dengan cuping melebar. Kulit sawo matang mengarah ke hitam kelam. Bodi kurus menjurus ceking. Bonsai pula! Bener-bener sosok yang menyedihkan dan menyebalkan. Anak siapa siiih aku ini? Kok, enggak ada cakep-cakepnya? Seuprit aja deh! Enggak usah banyak-banyak!
Padahal papa dan mama enggak jelek-jelek amat. Kulit papa emang hitam tapi hidungnya mancung (ke luar lho bukan ke dalam!). Tubuhnya juga tinggi tegap. Emang sih bibir papa rada tebal dan dower. Rambutnya juga tebal kaku. Sedangkan mama....hmmm, menurutku dia adalah wanita tercantik di dunia. Kulitnya kuning langsat. Matanya bulat dengan bulu mata yang lentik. Bibirnya yang tipis selalu tampak tersenyum manis. Walaupun hidung mama enggak semancung papa dan tubuhnya mungil tapi semua itu tidak mengurangi kecantikan mama.
Terus, kenapa aku, puteri bungsunya enggak kecipratan sedikitpun kecantikan mama, ya? Atau…minimal hidung mancung papa deh! Warisan yang kuterima dari mereka yang jelek-jelek semua! Beda banget sama kakakku, Tiara. Semua yang bagus dari papa dan mama jatuh ke dirinya. Enggak heran, kalo kak Tia pernah jadi model iklan pasta gigi. Soalnya, kak Tia itu cuantiiik kayak bidadari dari kahyangan (mungkin lho, sebab aku nggak pernah liat bidadari sih).
Makanya, aku suka minder berat kalo jalan bareng kak Tia. Abis, kayak Beauty and The Beast! Kakak adik tapi enggak ada mirip-miripnya. Bagai bumi dan langit! Kak Tia langit, aku bumi! Bagai tuan puteri dan inang pengasuhnya. Kak Tia tuan puteri, aku sang inang. Ugh! kalo aja ada malaikat turun dari langit dan bersedia mengabulkan satu permintaan yang paling kuinginkan, pasti aku minta dilahirkan kembali tapiiii… dalam sebuah keluarga yang mulai dari kakek sampai ke cicit-cicitnya semuanya bertampang ngepas. Biar aku enggak usah dilanda tsunami minder dan badai malu!
Jujur aja, dulu aku enggak pernah peduli sama tampangku yang dibawah standard ini. Biarpun kenalan-kenalan ortuku (dengan mimik heran) sering bilang begini : Lho, ini adiknya Tiara? Kok, beda yaaa…?”
Atau para tanteku yang setiap kali ketemu aku suka ngasih saran :
“Mbok ya…. pake soft lens aja. Biar keliatan lebih cantik.”
“Kamu harus sering-sering luluran supaya kulitmu lebih putih dan bersih. Gak kusam kayak gini.”
“Rambutmu yang kaku dan kasar perlu perawatan telaten biar lebih lembut dan halus.”
Bah! Semuanya cuma masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Enggak kupedulikan! Yang penting, aku sehat walafiat. Anggota tubuhku lengkap
kap kap….and bisa berfungsi dengan baik! Seluruh panca inderaku normal. Enggak buta, enggak tuli, enggak bisu. Itu udah cukup bikin aku hepi.
Kalo kak Tia dikaruniai kecantikan yang luar dari biasa, itu ‘kan bonus dari Tuhan. Enggak usah jealous sama kakak sendiri. Enggak usah pula sok rajin merawat rambut and body cuma buat tampil lebih cantik supaya gak kalah dari kak Tia. Cause dirawat dengan perawatan ala puteri raja sekalipun tetep aja aku enggak bisa secantik kak Tia. Lagian, ribet amat sih! Aktivitasku aja udah seabrek. Mana sempet lagi ngerawat diri kayak gitu? Paling juga kalo rambutku udah kepanjangan, aku ke salon murah meriah dekat rumah buat potong rambut.
Tapi, ituuu….long time ago. Dulu banget sebelum aku naksir Redy, kakak kelasku yang keren abiz! Tepatnya lagi, sebelum Redy nitip surat cinta buat kak Tia yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Redy.
Bodoh! Tolol! Bego! Stupid! Aku pun memaki-maki diriku. Kenapa sih aku harus suka sama Redy? Kenapa enggak naksir Aditia yang bertampang biasa aja? Atau…jatuh cinta sama si culun Boby? Tampang minus begini kok berani-beraninya suka sama salah satu cowok keren yang diincar para cewek di sekolah. Enggak matching, tau! Enggak pantes! Liat aja tuh, dia malah naksir kak Tia. Makanya, lain kali ngaca dulu, mikir dulu sejuta kali kalo mau naksir cowok. Cowok cakep kayak Redy mana mau sama cewek cupu? Mimpi kali yee!
Sejak saat itu, badai kecewa, sedih, marah, minder dan malu menggoncang kalbu dan menghalau kedamaian plus kebahagiaanku selama ini. Rasa iri terhadap kak Tia pun menggelegak bagai lahar panas yang sewaktu-waktu siap dimuntahkan. Aku juga mulai merasa nggak nyaman jalan berdampingan dengan kak Tia. Aku merasa seperti seekor itik buruk rupa di samping seekor angsa putih yang anggun. Rasanya, semua mata memandangku dengan tatapan mencemooh.
Akibatnya, aku kerap kali menghindari acara hang out bareng kak Tia.
Even, di sekolahpun aku ogah jalan deket-deket kak Tia. Kalo kak Tia mulai menjejeri langkahku, aku segera mengatur langkahku supaya gak sejajar dengan langkah kak Tia. Lebih cepat atau lebih lambat. Di depan atau di belakang kak Tia. Aku enggak ingin teman-temanku - terutama Redy - ngeliat perbedaan kami berdua yang sangat mencolok. Rasa malu dan minder benar-benar telah memenjarakanku.
Tentu aja, kak Tia heran ngeliat perubahan sikapku tapi setiap kali dia menanyakan sebabnya, aku selalu menjawab : Gak ada apa-apa. Aku cuma lagi nggak mood aja. Akhirnya, kak Tia cape sendiri dan enggak pernah nanya apa-apa lagi. Hubungan kami jadi kian renggang. Kak Tia yang dulu perhatiin aku jadi cuek banget. Mungkin dia kesal lantaran sikapku yang dingin.
Terus terang, aku sedih banget dicuekin sama kak Tia. Biar gimana juga, dia satu-satunya saudara kandungku. Kami memang hanya berdua. Maklum, orang tuaku penganut program KB yang taat. Namun bila ingat betapa Redy sangat memuja kak Tia, rasa sedih itu terhalau oleh rasa cemburu yang menggelora. Padahal aku tahu, surat cinta Redy enggak pernah dibalas kak Tia. Malah yang aku tahu, kak Tia lagi naksir Ilyas, anak baru di kelasnya.
Yah, sebenarnya aku boleh merasa lega ngeliat kak Tia menolak Redy tapi…sikap Redy yang pantang mundur dan terus nyari perhatian kak Tia bikin dadaku sesak dan cemburu setengah mati. Aku takut suatu hari nanti kak Tia akan goyah oleh serangan cinta Redy. Terkadang, rasa takut dan cemburu itu begitu kuat hingga aku ngerasa sangat membenci kak Tia. Aku juga mulai gak suka kalo ada orang yang memuji-muji kecantikan kak Tia. Apalagi sampai ngebandingin aku dengan kak Tia. Aku bakal jutek banget dan kalo udah gak tahan, aku suka marah-marah sendiri. Enggak heran, kalo aku jadi sering ditegur papa dan dipelototin mama.
Uuuhh, aku benci sekali dengan kehidupanku sekarang ini! Aku muak menjadi itik buruk rupa! Aku bosan menjadi cewek yang enggak menarik! Aku ingin bisa secantik kak Tia. Tapi enggak bisa! Walaupun kini aku lebih rajin merawat tubuh dan rambutku dan lebih merhatiin penampilanku, tetap aja kak Tia more beautiful than me. Hidung pesek, bibir dower, rambut kaku, body bonsai masih setia melekat padaku. Gimana aku gak frustrasi, coba?
***
Dear diary,
Hari ini Tere nunjukin bakatnya yang lain. Menulis novel teenlit. Tadinya, kupikir Tere cuma ikut-ikutan teman-temannya yang kerajingan nulis novel. Sekarang ‘kan banyak ABG jadi novelis dadakan. Eh, enggak sangka….naskahnya Tere yang dikirim ke penerbit Intan Pusaka dua bulan lalu, bakal diterbitin dalam waktu dekat ini. Adik semata wayangku itu emang pinter banget, ya? Sejak SD sampe sekarang selalu dapet ranking pertama. Udah gitu, bakat seninya segudang bo! Main piano, melukis, menari, pantomim, baca puisi dan sekarang….menulis novel! Ck..ck..ck…aku kagum sekali sama Tere!
Hah? Kak Tia kagum sama aku? Enggak terbalik tuh? Aku tercenung sesaat sebelum membalik halaman diary milik kak Tia yang - enggak sengaja - kutemukan di laci mejanya waktu aku mencari stabiloku yang dipinjam kak Tia kemarin. Semula, aku sempat ragu mau baca apa enggak. Soalnya, diary itu
‘kan sifatnya privacy banget. Enggak etis rasanya baca diary orang lain tanpa seijin pemiliknya meskipun orang itu kakak sendiri. Namun, rasa penasaranku yang sangat besar telah mengalahkan keraguanku.
Oke, lupakan dulu soal etika. Mari kita liat halaman yang diberi garis warna merah ini. Kenapa digarisin, ya? Pake warna merah pula. Padahal halaman lainnya enggak digarisin. Hmm…pasti kak Tia lagi bete. Apa sih yang bikin dia bete?
Dear diary,
Tadi siang, Tere ditelpon sama penerbitnya. Katanya, ada produser yang mau bikin sinetron berdasarkan kisah cinta dalam novel Tere. Itu berarti Tere bakal dapat rejeki lagi. Duh, makin lama Tere makin hebat! Aku jadi iriiiii sekali sama Tere. Teman-teman di sekolah ngerumpiin kehebatannya. Papa, mama, para tante dan oom, opa, oma dan para sepupu gak abis-abisnya muji Tere. AKU JADI NGERASA KECIL DAN GAK BERARTI! Aku malu sama diriku yang enggak sehebat Tere!
Akh, yang beneeer? Aku mengucek-ngucek mata, membaca sekali lagi kalimat yang ditulis dengan huruf besar semua. Bener! Aku gak salah baca kok. Tiara yang secantik bidadari merasa dirinya kecil dan gak berarti? What a big surprise! Mestinya yang bilang gitu tuh aku, si itik buruk rupa. Umm…aku jadi makin penasaran nih! Dengan tergesa, aku membalik halaman berikutnya.
Dear diary,
Kalo Tuhan mengijinkan, aku mau menukar kecantikanku dengan kejeniusan Tere. Apa artinya muka cakep kalo otaknya tulalit? Enggak pernah juara kelas. Biarpun udah mati-matian belajar. Naik kelas aja udah syukur banget. Enggak bisa nari, enggak becus main piano, enggak pinter melukis, enggak mahir berpantomim, enggak pinter baca puisi apalagi nulis novel. Bisanya cuma bergaya di depan kamera. Nyebelin sekaliii!
Udah gitu, akhir-akhir ini Tere dingin banget sama aku. Enggak tahu kenapa. Setiap kali ditanya, jawabnya gak ada apa-apa. Mungkin, dia malu punya kakak yang botol (bodoh dan tolol) ! Makanya, dia suka nolak diajak hang out bareng and gak mau deket-deket aku lagi.
Aduuuh, kak Tia…..kok negative thinking gitu sih? Mana mungkin aku malu punya kakak secantik bidadari? Sebersit sesal dan iba menyelusup di relung hatiku. Kasihan kak Tia. Enggak seharusnya aku ngejauhin dia cuma gara-gara seorang Redy.
***
Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Enggak ada yang berubah! Hidung pesek, bibir dower, rambut ijuk dan body bonsai masih jadi ciri-ciri seorang Tere Alika Pertiwi. Tapi…..aku merasa beruntung dan bersyukur banget karena diberikan berbagai talenta sama Tuhan. Aku tau, sampai kapanpun aku gak bisa secantik Tiara Alika Pertiwi. But, aku enggak mau iri dan minder lagi. Semua perasaan itu cuma bikin aku menderita. Aku sadar, setiap orang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tinggal gimana kita manfaatin kelebihan yang kita miliki and mengisi kekurangan diri sendiri.
Otomatis - dengan pola pikirku yang berubah positif - hubunganku dengan kak Tia berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Aku enggak malu lagi jalan bareng kak Tia. Aku juga pengen membangkitkan rasa percaya diri kak Tia. Aku gak mau liat kak Tia dilanda perasaan minder terus menerus. Enggak enak banget sih punya perasaan kayak gitu. Aku ‘kan udah ngerasain sendiri.
Dan….aku juga enggak peduli bila suatu hari kak Tia menerima cinta Redy yang sampai hari ini masih ngejar-ngejar kak Tia. Cowok keren gak hanya Redy
seorang, ‘kan? Aku yakin, someday akan ada seorang pangeran ganteng yang mencintaiku dengan tulus tanpa memedulikan tampangku yang minus. Lagian, aku ‘kan bukan itik buruk rupa yang biasa-biasa aja. Aku adalah ITIK BURUK RUPA PLUS! PLUS PINTER! PLUS BERBAKAT! Pe-de amat siih! Biarin! Mendingan pe-de daripada minder, ‘kan?
Komentar
yess nyepamm dulu baru komen...
baca dulu ahh....
Aku batalin ah, ntar sia2 lagi, kan yg nanya uda nemu jawabannya.
Ayo gimana ni Yank... tanggung jawab donk...
Salam kenal Mbak Cerpenis.
Kutunggu kunjungan baliknya.
inetku lolaaa...
btw pasti ge er kali yahh klo tau ada orang yg mengagumi kit wlpn adek kita.
n mbak ati2 ntar si itik tersinggung loh,hahahaha....
Tuhan emang adil, selalu ada berkah yang DIA titipkan buat kita...
Itik ngga buruk rupa koq...btw itik itu apa ya?
Ane juga dulu pernah ngerasain minder kayak gitu. Padahal harusnya manusia itu bersyukur. Dengan begitu dia bisa mencintai dirinya. Karena kalo kita sendiri benci sama diri kita, gimana orang mau suka. Ya kan. Ya kan.
Btw2, template baru nihh..
Sesungguhnya setiap orang punya "daya tarik" yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, apapun yang ada diri kita adalah karunia yang harus disyukuri
tampilannya keren banget....
Meski juara 3 kan tetep juara, gak seperti saya dulu :D
Semoga tambah sukses aja ;) eh salam juga buat adiknya ;)
ah, aku kelebihan imajinasi kali ya, jadi yg kebayang malah peri bulan bersayap cerah yang terbang saat bulan purnama, lalu hinggap di daun dan dimakan oleh kadal sebagai awal gerhana bulan.
eh,belum koment cerpennya. akan sangat menyentuh jika dibaca oleh orang yg minder. hiii
coz kan intinya "NO body perfect in The Worlds"
hehehehh
kalau rambutnya kayak injuk bukan itik lho mba tapi LANDAK wkwkwkkwkwkwk
setuju mbak,, tiap orang emang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2,, disyukuri aja deh,, Tuhan tau kok yang terbaik untuk kita...
walaupun saya sejenis landak buruk rupa, siapa tau saya punya kekutan tersembunyi, heuheuheu
Kirain Si Itik Bali.......
Manusia adalah makhluk yang tiada bandingannya, makanya jangan dibanding-bandingkan.
Terkutuklah org2 yg suka membanding-bandingkan org lain. Karena tanpa sadar, seorang anak sering akan membentuk mental minder dan tertutup gara2 omongan asal-asalan itu. Kita harus mulai melihat kelebihan yg ada pada tiap org.
Aku paling benci kalo ada yg ngomong: Si artis A yg ganteng itu kok milih istri yg gendut n ga cakep sama sekali ya? Mereka ga pernah mikir bhw manusia itu bukan hanya apa yg kita lihat saja.
Eh..aku kok jadi marah2 disini ya??
Dua aku sangat suka cerita ini yang menurutku sangat inspiring karena pesan moralnya sangat jelas bahwa setiap manusia itu adalah machluk yang unique dengan ragam kelebihan yang berbeda-beda dari sang maha.
Jadi jangan sedih apa lagi membenci diri sendiri kalau hanya sekedar tak cantik dan tak ganteng.
begitu kan maksudnya sang cerpenis ?.
Blog ini tambah keyennnnnnnnnnnn aja deh.
pinter nulis, karis bagus...wah kurang apa coba?
Ko dah dua kali kebetulan yah mbak? hehehe...
ANyway, mo baca cerpennya dulu. Abis ini, no koment deh hehehe
Nah kalau saya, datar2 aja...