GEMA HATI AMANDA
Asal usul ide : Aku punya seorang sahabat yang cantik, putih dan ramping tapi..pacarnya gak cakep. Gendut pula. Teman-temanku suka ngerumpiin mereka. Katanya, mereka berdua bagai Beauty and the beast. Tapi….mereka cuek aja terhadap omongan orang. Sekarang mereka sudah married dan punya 2 orang anak.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, Oktober 1994
Amanda membaringkan tubuhnya ke peraduan. Rasa letih setelah menempuh ujian berbaur dengan ucapan Bea, sahabatnya membuat kepalanya berdenyut-denyut.
“Kamu nggak salah, Man. Masa sih mau sama cowok endut kayak si Joy. Nggak serasi akh! Kamu cantik, tinggi dan ramping. Sedangkan si Joy..hm…..bukannya menghina ya, kalo kukatakan nilainya cuma 5. “ Kata Bea tadi siang ketika mereka makan di kantin.
“Tapi…dia baik, Bea. Dia gak suka macam-macam kayak cowok Sita yang playboy. Dia juga nggak cemburuan kayak cowokmu.” Bela Amanda.
“Betul. Tapi ..keserasian perlu juga lho. Kamu gak malu kalo jalan berdua dengannya?” tanya Bea, nyelekit. Dan..Amanda hanya menunduk, diam. Tak tahu harus berkata apa, sebab dalam relung hatinya kerap kali timbul rasa malu bila sedang berjalan berdua dengan Joy. Yah, dia sering merasa seolah-olah semua mata memandang mereka. Seolah semua bibir membicarakan ketidakserasian fisiknya dengan Joy. Tetapi perasaan itu dengan cepat dipupusnya. Toh, Joy mencintainya. Biar saja orang memandangnya dengan aneh. Yang pacaran ‘kan dia. Bukan mereka.
Namun sekarang…Bea menyentuh masalah itu. Membuat hatinya resah, bahkan ragu. Haruskah hubungannya dengan Joy diteruskan? Haruskah….Oh, tidak! Apa salah Joy? Dia begitu baik dan memerhatikannya. Mengapa harus melukai hati orang yang sudah demikian baik padanya?
Hhh…Amanda benar-benar pusing memikirkannya. Di satu sisi, dia masih mencintai Joy. Di lain sisi, dia merasa apa yang diucapkan Bea ada benarnya juga. Entah sudah berapa orang yang menertawakannya. Menertawakan si cantik dan si endut yang jalan berdampingan. Melecehkan perbedaan fisik mereka.
**
Film ‘Honey I shrunk the kids’ tengah ditayangkan. Penonton yang memenuhi gedung bioskop tergelak-gelak menyaksikan tingkah para pemain yang kocak. Joy yang duduk di samping Amanda tampak asyik menikmati film itu. Kadang-kadang cowok itu tertawa geli. Tetapi Amanda…jangankan ikut tertawa, jalan ceritanya pun dia tidak tahu pasti.
Batinnya resah memikirkan keputusan yang diambilnya kemarin malam. Sungguh, dia tidak tahu bagaimana mengatakannya. Dia tidak sanggup membayangkan seperti apa reaksi Joy nanti. Kecewakah? Marah? Atau….
“Manda..ada apa? Kok, gelisah amat.” Tanya Joy tiba-tiba. Ditatapnya wajah Amanda dalam keremangan gedung bioskop. Amanda menggeleng.
“Ah, nggak apa-apa.” Ujarnya gugup.
“Mau minum lagi, barangkali.” Tawar Joy sembari mengambil sebuah teh kotak dari dalam kantong plastik.
“Gak akh. Ntar pipis melulu.” Tolak Amanda sambil pura-pura asik memerhatikan layar.
“Atau…mau kacang lagi?” Joy mengulurkan sebungkus kacang mete.
“Aduh, ntar jerawatan.” Amanda tertawa kecil. Joy ikut tertawa sebelum kembali sibuk menyaksikan akting para bintang film.
**
‘Manda, kamu sakit ya?” Tanya Joy dalam perjalanan pulang dari Century. Amanda menggeleng.
“Bener?” Joy menoleh sejenak ke arah gadis itu.
“Bener. Kalo sakit, mana bisa pergi nonton.”
“Tapi….kamu pendiam banget hari ini. Ada apa sih?”
“Gak ada apa-apa kok.”
Hening. Joy tampak memusatkan perhatiannya ke jalanan yang cukup ramai malam di minggu itu.
“Manda..kalo kamu ada masalah,jangan ragu-ragu menceritakannya padaku. Yah, kali aja aku bisa membantumu.” Ucap Joy ketika mereka sudah tiba di rumah Amanda.
Amanda tidak menjawab. Tuhan, batinnya sedih. Dia begitu baik dan penuh perhatian. Haruskah aku menghancurkan hatinya? Oh…aku tak sanggup..Dia….
“Lho, kok diam?” Joy menyentuh lengan Amanda, lembut.
“Aku…nggak apa-apa kok, Joy…” Ujar Amanda pelan. Dibukanya pintu mobil. “Sudah malam, Joy. Kamu gak usah turun deh. “ Katanya lagi. Joy mengangguk. Ditatapnya Amanda lamat-lamat.
Oh, mata itu…kalo saja kamu tahu Joy…apa yang tengah berkecamuk di hatiku…Bisik hati Amanda.
“Apapun masalahmu, Manda. Aku siap membantu. Tapi..kalo kamu merasa belum siap untuk memberitahukan, it’s okey. Aku gak akan memaksamu.” Ujar Joy sambil membelai pipi Amanda, penuh kasih. Amanda mengangguk.
“Sampai besok, Joy.” Ujarnya seraya keluar dari mobil.
**
Malam yang dingin. Sinar rembulan menari di dedaunan. Angin yang bertiup lembut menggoyangkan bunga-bunga melati di sudut halaman. Semerbak bunga-bunga itu menyelusup masuk ke kamar Amanda. Gadis itu segera menutup jendela kamarnya ketika angin mulai menggigit kulitnya. Kemudian diambilnya diary mungilnya dan menulis.
Dear diary,
Aku tidak sampai hati memutuskan hubunganku dengan Joy. Dia terlalu baik. Selain itu aku sangat mencintainya. Aku tak peduli apa kata orang. Biar saja mereka menertawakan kami. Toh yang pacaran aku. Lagipula, keserasian fisik tidak selalu menjamin kebahagiaan. Yang penting adalah saling mengerti dan menyayangi. Dan..aku mencintai Joy sebagaimana dia adanya. Kalau dia bisa menerima kelebihan dan kekuranganku maka akupun harus bisa menerima dia apa adanya. Bukankah di dunia ini tak ada seorangpun yang sempurna?
Komentar
toh diri kita sendiri juga tidak sempurna. kecantikan, ketampanan atau kelebihan dari fisik bukanlah syarat penilaian kesempurnaan seseorang.
:p
Ternyata amanda lebih memilih kegantengan yang datangnya dari dalam dan memang kegantengan iilah yang lebih abadi dibanding dengan tampilan fisik yang satu saat tentu akan dimakan zaman.
Lagi-lagi sang cerpenis berhasil mengemas pesan moral melalu cerita pendeknya.
tabik
Mbak, The Ugly Duck belum berani saya post, sebab lum revisi. Coz, terlalu banyak dan kesalahan di sana sini.
Kalo orang cakep sama orang cakep juga, orang jelek mau jadi apa?
hmmm...
eh si nchi tuch seleranya kayak model2 kambing dech, hohohohoho
kadang kita pasti pengen yang sempurna. cakep dll.
tapi sebenernya lebih penting tanggung jawabnya, hatinya...ya nggak??
cinta tidaklah buta, karena bisa melihat kelebihan pasanagnya ketika orang lain tak melihatnya
@mocca chi : namanya juga cerpen. he hehe....kalo ada kelanjutannya cerber dong.
@anna : tul!
Udah berapa lama jadi penulis mbak ? Pantas aja kalo tulisan-2nya bagus... Jam terbangnya udah banyak sih hehehe..
saya jadi inget sebuah kalimat :
"Mengapa kamu ingin mendapatkan yang sempurna, sedangkan kamu tidak sempurna"
Amanda keren :D