DALAM GENGGAMAN TANGANNYA
Pada tahun 1942, Etty Hillesum, seorang wanita Yahudi tinggal di Amsterdam. Pada waktu itu, pasukan Nazi sedang gencar-gencarnya mengejar orang Yahudi untuk dimasukkan dalam kamp konsentrasi.
Selama menunggu penangkapan yang sulit dihindari itu, Etty merasa takut luar biasa. Di dalam ketakutan itu, Etty mulai membaca Kitab Injil. Hasilnya, dia pun menemukan keberanian dan keyakinan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.
Dalam diarynya, Etty menulis :
Segala hal yang merusakkan bergerak pelan-pelan menyentuh kami dan segera mungkin semua pintu tertutup sehingga tak ada yang sanggup menolong kami. Tetapi saya tidak merasa bahwa saya sedang berada di dalam genggaman siapapun. Saya merasa nyaman di tangan Tuhan.
Biasanya, ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan atau membayangkan kesulitan, dia merasa takut. Tak ada resep manjur untuk melenyapkan ketakutan kecuali ada kepastian akan adanya pertolongan. Melihat kehidupan saat ini, rasanya akan sering kita temui orang yang mengalami ketakutan. Bisa jadi kita termasuk di dalamnya.
Kemapanan pekerjaan dan usaha yang kita miliki bukan jaminan untuk kemapanan di bidang lain. Kemapanan itu belum tentu akan terus bertahan mengingat krisis ekonomi dunia yang terus bergejolak.
Dalam bidang keamanan pun sudah tak ada yang bisa menjamin. Even, kebebasan dalam menulis curhat di imel pun tak ada lagi. Ingat kasus Prita Mulyasari.
Tetapi sebagai orang beriman, jangan sekali-kali kita mempercayakan diri kepada hal-hal yang tidak tetap, seperti kekayaan, kepandaian, jabatan, dll. Kita harus tetap berlindung di balik tangan Tuhan yang kuat dan percaya kepadaNya. Hanya di situlah letak kekuatan dan keberanian kita.
Komentar
Tak ada satupun tempat bergantung yang paling aman selain dari tali_NYA
Eh, akhirnya Bu Hillesum ketangkep Nazi, nggak?
eh emotikonnya ga bisa??? mau tak bantu???
hanya dia kota bentengku.....
yg nyata tak bias,
yg terlihat dan jelas...
titik kesamaan nadzir,
yg tak terusik compang pikir,
yg tak terjajah tahrif dan taghyir...
@buwel dan dwina,
ringkas bermakna,
peka menyapa...
pdahal semua Tuhan yang mengatur.
, setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan ..
satu kesulitan itu diapit oleh dua kemudahan ... :)