SEINDAH MIMPI MUSIM BUNGA (Bagian II)
Kisah sebelumnya :
Ratu sangat tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya yang tidak menarik. Dia selalu menyendiri, tidak mau bergaul dengan siapapun. Ketika liburan kenaikan kelas tiba, dia lebih memilih berlibur ke rumah neneknya ketimbang ikut ke Bali dengan
Ratna, kakaknya. Pengalaman apakah yang akan didapat Ratu ketika berlibur di
rumah neneknya?
Dimuat di majalah MITRA No. 48

Setelah membayar ongkos becak, Ratu membuka pintu pagar di hadapannya. Harum melati menyambutnya saat dia menapakkan kaki ke halaman yang luas itu. Diedarkannya pandang ke sekeliling halaman. Pohon belimbing di sudut kanan masih seperti dulu, dengan buahnya yang lebat mengundang selera. Beberapa yang masak jatuh berserakan di tanah. Di sebelah kiri halaman, bunga melati yang mungil tumbuh subur bergerombol menis. Warnanya yang putih bersih memancarkan kedamaian.
Sambil menjinjing koper kecil di tangan kanan dan tas mungil tersandang di bahu kiri, Ratu menaiki anak tangga teras.
“Nek! Nenek!” serunya sambil meletakkan koper kecil di ubin teras.
Terdengar suara langkah mendekati pintu.
“Eh… non Ratu,” seraut wajah bundar nongol dari balik pintu.
“Hallo bik! Apa kabar?” Ratu tersenyum pada wanita bertubuh gemuk itu.
“Baik. Eh, ayo…. masuk non..” terbata si bibik sambil membuka pintu lebar-lebar.
“Nenek mana, bik?” Ratu mengangkat kopernya.
“Ada di teras belakang,” Bibik mengambil koper Ratu.
Berjingkat-jingkat, Ratu menghampiri neneknya yang sedang santai di kursi goyang.
“Nek,” panggilnya. Maksudnya ingin mengejutkan nenek, batal. Takut, wanita tua itu terkejut.
“Siapa?” Nenek menoleh. Tangan kurusnya membetulkan letak kaca matanya.
“Saya nek, Ratu,” jawab Ratu seraya mengecup pipi nenek.
“Oalah .. Ratu, cucuku yang ayu,” Nenek bangkit dari duduknya, memeluk Ratu penuh kerinduan.
Ayu? Ratu mendegut ludah. Dari dulu nenek selalu bilang begitu. Apakah semua nenek selalu menganggap cucunya ayu? Meski kenyataannya tidak.
“Naik apa kemari?” Nenek bertanya sambil mengajak Ratu ke ruang tengah.
“Kereta api, terus dari stasiun naik becak kemari.”
“Ratna mana?” Nenek melongokkan kepalanya ke ruang tengah.
“Dia sedang ke Bali.”
Nenek mengangguk-angguk. Ditatapnya Ratu lekat-lekat. Ratu menunduk.
“Kamu sekarang jadi pendiam,” katanya sambil membelai rambut Ratu.
“Dulu, kalau kamu kemari selalu ribut. Baru tiba saja, sudah cerita macam-macam.”
“Ah masa…” Ratu tertawa. Namun dalam hati dia memuji ketajaman mata nenek. Tentu saja nenekku sayang, batinnya. Aku memang telah berubah. Semua orang juga tahu, tapi tak seorang pun boleh tahu sebabnya.
“Iya,” celetuk Bibik yang tiba-tiba muncul dengan sepiring pisang goreng. “Waktu terakhir kali non kemari, bibik dikerjain habis-habisan. Baru datang non sudah bikin kaget dengan ular-ularan karet.” Disodorkannya piring berisi pisang goreng itu pada Ratu,” masih ingat kan non?”
“O, tentu saja,” Ratu tersenyum. Diambilnya sepotong pisang goreng.
“Tapi, kan lebih enak kalau saya alim begini. Atau.. bibik mau saya bawakan cecak karet?”
“Ah, jangan non. Bibik lebih senang non alim seperti sekarang.” si Bibik duduk di sisi nenek. “Ya kan, Nya?” dia meminta pendapat nenek yang di panggil ’Nya’ singkatan dari nyonya.
Nenek cuma mengangguk.
**
Pagi yang indah. Rumput di halaman bertahtakan embun. Matahari mengintip malu-malu di ufuk timur. Cahayanya mengusir sang embun satu per satu. Harum melati dan bau rerumputan seolah berlomba menyemarakkan suasana. Di sudut halaman, Ratu melakukan gerakan senam pagi berulang kali hingga tubuhnya berpeluh.
“Halo!” sebuah suara merdu menghentikan gerakannya.
Ratu mencari-cari si pemilik suara itu.
“Aku di sini,” suara itu terdengar lagi dari balik tembok yang memisahkan rumah nenek dengan rumah sebelah.
Ratu menoleh ke arah tembok. Rupanya tembok itu berlubang. Cukup besar untuk melihat apa yang ada di rumah sebelah. Agak membungkuk, Ratu mendekatkan wajahnya ke lubang itu. Sepasang mata indah sedang menatapnya. Ratu terpekik keget. Suara merdu itu tertawa geli.
“Siapa kamu?” tanya Ratu was-was
“Aku Titie, Kamu siapa?”
“Rat.. eh Rara.”
“Kamu cucu nek Am,ya?” tanya Titie.
“Iya,eh, kamu sudah lama ngintip aku ya?”
“Kenapa? Nggak boleh?” Titie tertawa, “Enak ya bisa senam pagi,” katanya lagi.
“Apanya yang enak, semua orang juga bisa melakukannya.” Ratu menatap mata indah itu, heran.
“Betul, tapi aku tidak bisa,” suara Titie berubah sedih.
Alis Ratu bertaut tak mengerti makna ucapan itu.
“Kok tidak bisa, memangnya kamu kena…”
“Datanglah ke rumahku,” potong Titie,” kamu akan tahu jawabannya.”
“Oke, tapi aku mandi dulu ya.” Ratu menyibak poninya.
“Jangan lama-lama,” pesan Titie. Ratu mengiyakan lalu melesat masuk rumah.
Di depan pintu pagar warna coklat, Ratu tertegun menatap sosok tubuh Titie. Lumpuh. Inikah jawabannya? Kasihan, padahal wajah itu begitu cantik. Bibirnya mungil, matanya pun indah. Hidungnya apa lagi. Benar-benar sempurna laksana bidadari dalam dongeng. Kalau saja kaki itu tidak…
“He, kok bengong?” suara merdu Titie menyibak kediaman Ratu. “Kenapa? Kaget ya?” tanyanya sambil senyum. Oi, senyum itu sangat .. manis. Ratu terpesona bebarapa jenak.
Vivi dan Sita saja kalah.
“Ayo masuk,” tangan Titie menggerakkan roda kursinya menuju pintu pagar dan membukanya.
“Kamu cantik sekali, Tie,” puji Ratu sambil melangkah masuk ke halaman yang ditata asri itu. Dipandangnya Titie dengan sejuta rasa kagum.
Titie tersipu, “Yuk, kita ke teras,” katanya.
“Rumahmu sepi,” ujar Ratu setelah mereka duduk di teras.
“Kalau pagi memang, tapi siang hari ...wow…. rame,” Titie berkata riang. “Kawan-kawanku selalu mengunjungiku di hari libur begini. Mungkin hari ini kami akan mengadakan pesta rujak. Kamu ikutan ya?” tanyanya penuh harap.
“Nanti aku kenalin deh sama mereka,” lanjutnya lagi. Ratu memperhatikan gaya Titie berbicara. Aneh, dia tampak riang dan tak peduli dengan cacatnya. Senyumnya yang menawan tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Rasanya sulit membayangkan gadis seperti dia bisa seceria ini.
“Aduh, kamu suka melamun ya?” Titie menatap Ratu geli.
“Aku..” Ratu tergagap, “eh.. aku tidak bisa hadir di pesta rujakmu.”
“O, tidak bisa. Kamu mesti datang!” Titie menegaskan suaranya.
Ratu terdiam. Perasaan itu timbul lagi. Bagaimana kalau kawan-kawan Titie mentertawai wajahku? Tapi.. akh, tidak! Mereka pasti anak-anak baik. Mereka mau berteman dengan Titie yang cacat. Tentu mereka juga mau berteman denganku.
“Oke, aku akan datang,” akhirnya Ratu mengangguk.
“Nah, gitu dong!” Titie tertawa senang.
**
Seminggu lebih bergaul dengan Titie, Ratu seolah menemukan kembali dunianya yang ceria. Apalagi, kawan-kawan Titie menyambutnya dengan mesra bagai seorang sahabat lama. Ratu sendiri merasa heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Titie? Sejak pertama kali melihat gadis itu, dia sudah tertarik dan ingin mengenal lebih dekat. Mungkin karena Titie lumpuh, sehingga dia merasa senasib. Merasa sama-sama memiliki kekurangan.
Diantara kawan-kawan Titie yang ia kenal, ada seorang yang telah mengusik relung kalbunya. Yang menghadirkan mimpi-mimpi indah dalam tidurnya. Troy. Wajah cowok itu selalu menari-nari di pelupuk matanya. Seraut wajah tampan berahang kukuh dengan mata selembut sutra, ya mata itu selalu menyiratkan kelembutan apabila menatapnya.
Dan, Ratu selalu merasa ada yang bergetar manis di kisi-kisi hatinya bila Troy ada di dekatnya. Aneh memang. Perasaan apa itu? Ratu sungguh tidak tahu. Baru pertama kali dia mempunyai perasaan itu. Mungkinkah itu yang disebut cin…
“Halo, putri murung!”
Troy. Ratu menatap wajah tampan itu dengan hati tak menentu. Kaget. Senang. Dan… hei, getar-getar manis itu muncul lagi.
“Melamun teruuuus…” Troy berjongkok di hadapan Ratu. “Apa sih yang dipikirkan?” tanyanya dengan mata menatap Ratu lekat-lekat.
Ratu menunduk. Tak kuasa beradu tatap seperti itu.
“Hm, aku tahu,” kata Troy sambil berdiri.” Kamu pasti lagi mikirin aku.”
“Huh, sok tauuu!!” Ratu mencibir, tapi tak urung pipinya memerah.
“Ah… ngaku aja!” Troy meletakkan pantatnya duduk di samping Ratu. “Jangan pura-pura,” katanya, ”aku juga suka mikirin kamu.”
“Mikirin aku?” Ratu memandang Troy tak percaya. “Kenapa?” suaranya bergetar saat mengucapkan perkataan itu.
“Karena .. aku suka, sayang dan..” Troy tidak meneruskan kalimatnya. Diraihnya jemari Ratu,” kamu mengerti ‘kan maksudku?”
O, mama…. Ratu merasa dirinya melambung tinggi ke angkasa. Bahagia, dan sejuta rasa lainnya mengaduk-aduk hatinya. Lama, dia terayun dalam buai kebahagiaan. Lalu… tiba-tiba dia terhempas. Jatuh dalam lubang gelap, manakala dia sadar akan keadaan dirinya.
Perlahan, dia meraba bibirnya, hidungnya dan seluruh wajahnya. Kemudian matanya tertumbuk pada sepasang kaki, kaki miliknya.
“Tidak!” Ratu menggeleng lalu berlari ke dalam rumah.
Di teras, Troy termangu tak mengerti. Kejadian itu begitu cepat. Dan, dia tak tahu apa kesalahannya, hingga Ratu meninggalkannya. Dia berusaha mencari jawabnya tapi hanya
jalan buntu yang dijumpainya. Ah!
**
“Selamat sore nek.” Sapa Titie pada nenek yang tengah menikmati sirih.
“Oh, nak Titie,” Nenek meletakkan sirih. “Ayo masuk,” katanya ramah.” Ratu ada di dalam. Sebentar ya, nenek panggilkan.” Nenek beranjak masuk ke dalam rumah.
“Hai, Tie!” Tak berapa lama Ratu muncul.
Titie tersenyum, “Kok tadi siang tidak ke rumah?” tanyanya langsung. “Gara-gara Troy, ya?”
“Apa saja yang diceritakannya?” desis Ratu, tersentak kaget.
“Banyak.” Titie tertawa.”Sudahlah, kamu jangan pura-pura. Kamu menyukai Troy kan?”
“Siapa bilang..?”
“Matamu, sikapmu bila berhadapan dengan Troy,” tukas Titie.” Seminggu lebih kita berkumpul, dan bercanda. Apakah itu belum cukup lama untuk mengetahui ada apa di balik kegugupanmu setiap berbicara dengan Troy?”
“Aku…” Ratu menunduk. Lidahnya terasa kelu. Tuhan, bagaimana aku harus mengatakan hal yang sebenarnya?
“Jangan membohongi perasaanmu, Ra.” Lembut suara Titie. “Kamu akan tersiksa nanti.”
Ratu diam. Angin sore mempermainkan rambut ikalnya.
“Apalagi yang kamu pikirkan, Ra?” Titie menyentuh tangan Ratu. “Kalian toh sama-sama mencintai.”
“Tapi…. ah, coba katakan dengan jujur, Tie,” ujar Ratu pelan. “Aku… aku tidak cantik kan?”
“Jadi itu sebabnya?” Titie menatap Ratu.
Ratu mengangguk. “Aku tidak pantas jadi kekasihnya. Kami seperti bumi dan langit.”
“Ra, itu pulakah sebabnya, mengapa kamu selalu menyendiri? Duduk di bangku kayu di sudut halaman.” Tukas Titie.
“Darimana kamu tahu?” Ratu melengak terkejut.
“Anna. Dia saudara sepupuku,” jawab Titie. “Dia sering bercerita tentang kawannya yang bernama Ratu, yang selalu berteman dengan sepi.”
“Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah menduga kamulah gadis pemurung itu. Segala yang ada padamu mirip yang diceritakan Anna.”
Ratu diam. Titie juga. Hening menyergap.
“Ra, seharusnya kamu bersyukur. Diciptakan Tuhan sebagai manusia normal,” kata Titie menepis hening. “Dibanding aku, kamu lebih beruntung. Tapi, aku tidak menyesali keadaanku ini. Apalagi sampai mengunci diri dari pergaulan. Wah, apa enaknya sih?”
Ratu tetap diam. Dipandangnya Titie. Kamu benar, Tie…Aku saja yang berpikiran sempit. Tapi, rasanya sulit bagiku untuk menerima Troy.
“Ra, Troy menanti jawabanmu.” Titie berkata lagi. “Percayalah, bukan kecantikan wajah yang selalu didambakan oleh kaum pria. Masih ada yang lebih berharga, yakni hati kita, budi kita. Dan..Troy cenderung memilih kecantikan hati.”
Ratu masih diam. Dia mencoba mempercayai kata-kata Titie. Benarkah Troy lebih menyukai kecantikan budi? Atau…itu hanya cerita bohong Titie agar dia dan Troy bisa bersatu?
“Aku pulang dulu, Ra.” Pamit Titie ketika melihat Ratu diam saja. Ratu mengangguk samar. Hatinya masih galau.
**
Taman itu begitu indah. Aneka macam bunga tumbuh di sekelilingnya. Kupu dan kumbang beterbangan kian kemari. Hinggap dari kuntum yang satu ke kuntum yang lain. Kicau murai dan cicit burung gereja turut menyemarakkan. Ceria. Sepertinya musim bunga sedang berlangsung. Ratu memandang kagum pada bunga-bunga yang merekah cantik. O, betapa indahnya….
“Ra,” Seorang pemuda tampan tersenyum padanya. Troy! Pekik Ratu tanpa kata. Wajah tampan itu kini berdiri di hadapannya. Mengulurkan kedua lengannya. Aneh, seperti didorong suatu kekuatan gaib, Ratu menyambut uluran tangan Troy.
Lalu mereka berjalan bergandengan tangan. Bercanda ria mengelilingi taman, menikmati indahnya musim bunga. Oi, bahagianya! Ratu merasa dirinya melayang tinggi bersama Troy. Menari-nari di antara bunga-bunga cantik. Tapi….tiba-tiba secercah cahaya terang munucl. Ratu menutup matanya. Taman bunga itu lenyap.
Ratu menggeliat. Matanya berkedip-kedip menahan silau. Sinar mentari mengusik tidurnya, membuyarkan mimpi indahnya. Sambil mengucek mata, dia bangkit dari peraduan. Melangkah menuju meja hias. Duduk termangu memikirkan mimpinya. Kata-kata Titie kemarin mengiang di telinganya. Ah….Ratu mendesah. Aku tidak mungkin membohongi diri lagi. Aku rindu kamu, Troy….
Sehabis mandi pagi, Ratu merasakan kerinduan itu kian menggigitnya. Tanpa sarapan lebih dulu, dia menuju ke teras. Duduk termenung menatap pintu pagar. Berharap, Troy tiba-tiba muncul.
Satu jam lebih Ratu menanti. Tapi..Troy belum muncul juga. Resah mulai menyergapnya. Akh, baru sekarang….Ratu merasakan betapa rindunya ia pada pemuda itu. Troy yang tampan, yang menaruh perhatian….datanglah…aku menantimu! Jeritnya dalam diam.
“Hallo, puteri murung!”
Uf! Ratu menatap kaget pada sosok tubuh itu. Gema kerinduan kian bertalu. Dia ingin berlari, menghambur ke pelukan Troy, tapi…kakinya tak mampu digerakkan. Dia terpaku di kursinya. Dia terlalu bahagia dengan kedatangan Troy.
“Ra,” Troy membuka pintu pagar yang tak dikunci. Berjalan ke arahnya dan mengulurkan kedua tangannya, persis seperti mimpi Ratu tadi malam. Perlahan,Ratu menyambut uluran tangan itu. Oh, betapa hangat genggaman tangan Troy. Betapa manis debar-debar di dadanya. Indah…. Seindah mimpi musim bunganya.
TAMAT
Ratu sangat tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya yang tidak menarik. Dia selalu menyendiri, tidak mau bergaul dengan siapapun. Ketika liburan kenaikan kelas tiba, dia lebih memilih berlibur ke rumah neneknya ketimbang ikut ke Bali dengan
Ratna, kakaknya. Pengalaman apakah yang akan didapat Ratu ketika berlibur di
rumah neneknya?
Dimuat di majalah MITRA No. 48

Setelah membayar ongkos becak, Ratu membuka pintu pagar di hadapannya. Harum melati menyambutnya saat dia menapakkan kaki ke halaman yang luas itu. Diedarkannya pandang ke sekeliling halaman. Pohon belimbing di sudut kanan masih seperti dulu, dengan buahnya yang lebat mengundang selera. Beberapa yang masak jatuh berserakan di tanah. Di sebelah kiri halaman, bunga melati yang mungil tumbuh subur bergerombol menis. Warnanya yang putih bersih memancarkan kedamaian.
Sambil menjinjing koper kecil di tangan kanan dan tas mungil tersandang di bahu kiri, Ratu menaiki anak tangga teras.
“Nek! Nenek!” serunya sambil meletakkan koper kecil di ubin teras.
Terdengar suara langkah mendekati pintu.
“Eh… non Ratu,” seraut wajah bundar nongol dari balik pintu.
“Hallo bik! Apa kabar?” Ratu tersenyum pada wanita bertubuh gemuk itu.
“Baik. Eh, ayo…. masuk non..” terbata si bibik sambil membuka pintu lebar-lebar.
“Nenek mana, bik?” Ratu mengangkat kopernya.
“Ada di teras belakang,” Bibik mengambil koper Ratu.
Berjingkat-jingkat, Ratu menghampiri neneknya yang sedang santai di kursi goyang.
“Nek,” panggilnya. Maksudnya ingin mengejutkan nenek, batal. Takut, wanita tua itu terkejut.
“Siapa?” Nenek menoleh. Tangan kurusnya membetulkan letak kaca matanya.
“Saya nek, Ratu,” jawab Ratu seraya mengecup pipi nenek.
“Oalah .. Ratu, cucuku yang ayu,” Nenek bangkit dari duduknya, memeluk Ratu penuh kerinduan.
Ayu? Ratu mendegut ludah. Dari dulu nenek selalu bilang begitu. Apakah semua nenek selalu menganggap cucunya ayu? Meski kenyataannya tidak.
“Naik apa kemari?” Nenek bertanya sambil mengajak Ratu ke ruang tengah.
“Kereta api, terus dari stasiun naik becak kemari.”
“Ratna mana?” Nenek melongokkan kepalanya ke ruang tengah.
“Dia sedang ke Bali.”
Nenek mengangguk-angguk. Ditatapnya Ratu lekat-lekat. Ratu menunduk.
“Kamu sekarang jadi pendiam,” katanya sambil membelai rambut Ratu.
“Dulu, kalau kamu kemari selalu ribut. Baru tiba saja, sudah cerita macam-macam.”
“Ah masa…” Ratu tertawa. Namun dalam hati dia memuji ketajaman mata nenek. Tentu saja nenekku sayang, batinnya. Aku memang telah berubah. Semua orang juga tahu, tapi tak seorang pun boleh tahu sebabnya.
“Iya,” celetuk Bibik yang tiba-tiba muncul dengan sepiring pisang goreng. “Waktu terakhir kali non kemari, bibik dikerjain habis-habisan. Baru datang non sudah bikin kaget dengan ular-ularan karet.” Disodorkannya piring berisi pisang goreng itu pada Ratu,” masih ingat kan non?”
“O, tentu saja,” Ratu tersenyum. Diambilnya sepotong pisang goreng.
“Tapi, kan lebih enak kalau saya alim begini. Atau.. bibik mau saya bawakan cecak karet?”
“Ah, jangan non. Bibik lebih senang non alim seperti sekarang.” si Bibik duduk di sisi nenek. “Ya kan, Nya?” dia meminta pendapat nenek yang di panggil ’Nya’ singkatan dari nyonya.
Nenek cuma mengangguk.
**
Pagi yang indah. Rumput di halaman bertahtakan embun. Matahari mengintip malu-malu di ufuk timur. Cahayanya mengusir sang embun satu per satu. Harum melati dan bau rerumputan seolah berlomba menyemarakkan suasana. Di sudut halaman, Ratu melakukan gerakan senam pagi berulang kali hingga tubuhnya berpeluh.
“Halo!” sebuah suara merdu menghentikan gerakannya.
Ratu mencari-cari si pemilik suara itu.
“Aku di sini,” suara itu terdengar lagi dari balik tembok yang memisahkan rumah nenek dengan rumah sebelah.
Ratu menoleh ke arah tembok. Rupanya tembok itu berlubang. Cukup besar untuk melihat apa yang ada di rumah sebelah. Agak membungkuk, Ratu mendekatkan wajahnya ke lubang itu. Sepasang mata indah sedang menatapnya. Ratu terpekik keget. Suara merdu itu tertawa geli.
“Siapa kamu?” tanya Ratu was-was
“Aku Titie, Kamu siapa?”
“Rat.. eh Rara.”
“Kamu cucu nek Am,ya?” tanya Titie.
“Iya,eh, kamu sudah lama ngintip aku ya?”
“Kenapa? Nggak boleh?” Titie tertawa, “Enak ya bisa senam pagi,” katanya lagi.
“Apanya yang enak, semua orang juga bisa melakukannya.” Ratu menatap mata indah itu, heran.
“Betul, tapi aku tidak bisa,” suara Titie berubah sedih.
Alis Ratu bertaut tak mengerti makna ucapan itu.
“Kok tidak bisa, memangnya kamu kena…”
“Datanglah ke rumahku,” potong Titie,” kamu akan tahu jawabannya.”
“Oke, tapi aku mandi dulu ya.” Ratu menyibak poninya.
“Jangan lama-lama,” pesan Titie. Ratu mengiyakan lalu melesat masuk rumah.
Di depan pintu pagar warna coklat, Ratu tertegun menatap sosok tubuh Titie. Lumpuh. Inikah jawabannya? Kasihan, padahal wajah itu begitu cantik. Bibirnya mungil, matanya pun indah. Hidungnya apa lagi. Benar-benar sempurna laksana bidadari dalam dongeng. Kalau saja kaki itu tidak…
“He, kok bengong?” suara merdu Titie menyibak kediaman Ratu. “Kenapa? Kaget ya?” tanyanya sambil senyum. Oi, senyum itu sangat .. manis. Ratu terpesona bebarapa jenak.
Vivi dan Sita saja kalah.
“Ayo masuk,” tangan Titie menggerakkan roda kursinya menuju pintu pagar dan membukanya.
“Kamu cantik sekali, Tie,” puji Ratu sambil melangkah masuk ke halaman yang ditata asri itu. Dipandangnya Titie dengan sejuta rasa kagum.
Titie tersipu, “Yuk, kita ke teras,” katanya.
“Rumahmu sepi,” ujar Ratu setelah mereka duduk di teras.
“Kalau pagi memang, tapi siang hari ...wow…. rame,” Titie berkata riang. “Kawan-kawanku selalu mengunjungiku di hari libur begini. Mungkin hari ini kami akan mengadakan pesta rujak. Kamu ikutan ya?” tanyanya penuh harap.
“Nanti aku kenalin deh sama mereka,” lanjutnya lagi. Ratu memperhatikan gaya Titie berbicara. Aneh, dia tampak riang dan tak peduli dengan cacatnya. Senyumnya yang menawan tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Rasanya sulit membayangkan gadis seperti dia bisa seceria ini.
“Aduh, kamu suka melamun ya?” Titie menatap Ratu geli.
“Aku..” Ratu tergagap, “eh.. aku tidak bisa hadir di pesta rujakmu.”
“O, tidak bisa. Kamu mesti datang!” Titie menegaskan suaranya.
Ratu terdiam. Perasaan itu timbul lagi. Bagaimana kalau kawan-kawan Titie mentertawai wajahku? Tapi.. akh, tidak! Mereka pasti anak-anak baik. Mereka mau berteman dengan Titie yang cacat. Tentu mereka juga mau berteman denganku.
“Oke, aku akan datang,” akhirnya Ratu mengangguk.
“Nah, gitu dong!” Titie tertawa senang.
**
Seminggu lebih bergaul dengan Titie, Ratu seolah menemukan kembali dunianya yang ceria. Apalagi, kawan-kawan Titie menyambutnya dengan mesra bagai seorang sahabat lama. Ratu sendiri merasa heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Titie? Sejak pertama kali melihat gadis itu, dia sudah tertarik dan ingin mengenal lebih dekat. Mungkin karena Titie lumpuh, sehingga dia merasa senasib. Merasa sama-sama memiliki kekurangan.
Diantara kawan-kawan Titie yang ia kenal, ada seorang yang telah mengusik relung kalbunya. Yang menghadirkan mimpi-mimpi indah dalam tidurnya. Troy. Wajah cowok itu selalu menari-nari di pelupuk matanya. Seraut wajah tampan berahang kukuh dengan mata selembut sutra, ya mata itu selalu menyiratkan kelembutan apabila menatapnya.
Dan, Ratu selalu merasa ada yang bergetar manis di kisi-kisi hatinya bila Troy ada di dekatnya. Aneh memang. Perasaan apa itu? Ratu sungguh tidak tahu. Baru pertama kali dia mempunyai perasaan itu. Mungkinkah itu yang disebut cin…
“Halo, putri murung!”
Troy. Ratu menatap wajah tampan itu dengan hati tak menentu. Kaget. Senang. Dan… hei, getar-getar manis itu muncul lagi.
“Melamun teruuuus…” Troy berjongkok di hadapan Ratu. “Apa sih yang dipikirkan?” tanyanya dengan mata menatap Ratu lekat-lekat.
Ratu menunduk. Tak kuasa beradu tatap seperti itu.
“Hm, aku tahu,” kata Troy sambil berdiri.” Kamu pasti lagi mikirin aku.”
“Huh, sok tauuu!!” Ratu mencibir, tapi tak urung pipinya memerah.
“Ah… ngaku aja!” Troy meletakkan pantatnya duduk di samping Ratu. “Jangan pura-pura,” katanya, ”aku juga suka mikirin kamu.”
“Mikirin aku?” Ratu memandang Troy tak percaya. “Kenapa?” suaranya bergetar saat mengucapkan perkataan itu.
“Karena .. aku suka, sayang dan..” Troy tidak meneruskan kalimatnya. Diraihnya jemari Ratu,” kamu mengerti ‘kan maksudku?”
O, mama…. Ratu merasa dirinya melambung tinggi ke angkasa. Bahagia, dan sejuta rasa lainnya mengaduk-aduk hatinya. Lama, dia terayun dalam buai kebahagiaan. Lalu… tiba-tiba dia terhempas. Jatuh dalam lubang gelap, manakala dia sadar akan keadaan dirinya.
Perlahan, dia meraba bibirnya, hidungnya dan seluruh wajahnya. Kemudian matanya tertumbuk pada sepasang kaki, kaki miliknya.
“Tidak!” Ratu menggeleng lalu berlari ke dalam rumah.
Di teras, Troy termangu tak mengerti. Kejadian itu begitu cepat. Dan, dia tak tahu apa kesalahannya, hingga Ratu meninggalkannya. Dia berusaha mencari jawabnya tapi hanya
jalan buntu yang dijumpainya. Ah!
**
“Selamat sore nek.” Sapa Titie pada nenek yang tengah menikmati sirih.
“Oh, nak Titie,” Nenek meletakkan sirih. “Ayo masuk,” katanya ramah.” Ratu ada di dalam. Sebentar ya, nenek panggilkan.” Nenek beranjak masuk ke dalam rumah.
“Hai, Tie!” Tak berapa lama Ratu muncul.
Titie tersenyum, “Kok tadi siang tidak ke rumah?” tanyanya langsung. “Gara-gara Troy, ya?”
“Apa saja yang diceritakannya?” desis Ratu, tersentak kaget.
“Banyak.” Titie tertawa.”Sudahlah, kamu jangan pura-pura. Kamu menyukai Troy kan?”
“Siapa bilang..?”
“Matamu, sikapmu bila berhadapan dengan Troy,” tukas Titie.” Seminggu lebih kita berkumpul, dan bercanda. Apakah itu belum cukup lama untuk mengetahui ada apa di balik kegugupanmu setiap berbicara dengan Troy?”
“Aku…” Ratu menunduk. Lidahnya terasa kelu. Tuhan, bagaimana aku harus mengatakan hal yang sebenarnya?
“Jangan membohongi perasaanmu, Ra.” Lembut suara Titie. “Kamu akan tersiksa nanti.”
Ratu diam. Angin sore mempermainkan rambut ikalnya.
“Apalagi yang kamu pikirkan, Ra?” Titie menyentuh tangan Ratu. “Kalian toh sama-sama mencintai.”
“Tapi…. ah, coba katakan dengan jujur, Tie,” ujar Ratu pelan. “Aku… aku tidak cantik kan?”
“Jadi itu sebabnya?” Titie menatap Ratu.
Ratu mengangguk. “Aku tidak pantas jadi kekasihnya. Kami seperti bumi dan langit.”
“Ra, itu pulakah sebabnya, mengapa kamu selalu menyendiri? Duduk di bangku kayu di sudut halaman.” Tukas Titie.
“Darimana kamu tahu?” Ratu melengak terkejut.
“Anna. Dia saudara sepupuku,” jawab Titie. “Dia sering bercerita tentang kawannya yang bernama Ratu, yang selalu berteman dengan sepi.”
“Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah menduga kamulah gadis pemurung itu. Segala yang ada padamu mirip yang diceritakan Anna.”
Ratu diam. Titie juga. Hening menyergap.
“Ra, seharusnya kamu bersyukur. Diciptakan Tuhan sebagai manusia normal,” kata Titie menepis hening. “Dibanding aku, kamu lebih beruntung. Tapi, aku tidak menyesali keadaanku ini. Apalagi sampai mengunci diri dari pergaulan. Wah, apa enaknya sih?”
Ratu tetap diam. Dipandangnya Titie. Kamu benar, Tie…Aku saja yang berpikiran sempit. Tapi, rasanya sulit bagiku untuk menerima Troy.
“Ra, Troy menanti jawabanmu.” Titie berkata lagi. “Percayalah, bukan kecantikan wajah yang selalu didambakan oleh kaum pria. Masih ada yang lebih berharga, yakni hati kita, budi kita. Dan..Troy cenderung memilih kecantikan hati.”
Ratu masih diam. Dia mencoba mempercayai kata-kata Titie. Benarkah Troy lebih menyukai kecantikan budi? Atau…itu hanya cerita bohong Titie agar dia dan Troy bisa bersatu?
“Aku pulang dulu, Ra.” Pamit Titie ketika melihat Ratu diam saja. Ratu mengangguk samar. Hatinya masih galau.
**
Taman itu begitu indah. Aneka macam bunga tumbuh di sekelilingnya. Kupu dan kumbang beterbangan kian kemari. Hinggap dari kuntum yang satu ke kuntum yang lain. Kicau murai dan cicit burung gereja turut menyemarakkan. Ceria. Sepertinya musim bunga sedang berlangsung. Ratu memandang kagum pada bunga-bunga yang merekah cantik. O, betapa indahnya….
“Ra,” Seorang pemuda tampan tersenyum padanya. Troy! Pekik Ratu tanpa kata. Wajah tampan itu kini berdiri di hadapannya. Mengulurkan kedua lengannya. Aneh, seperti didorong suatu kekuatan gaib, Ratu menyambut uluran tangan Troy.
Lalu mereka berjalan bergandengan tangan. Bercanda ria mengelilingi taman, menikmati indahnya musim bunga. Oi, bahagianya! Ratu merasa dirinya melayang tinggi bersama Troy. Menari-nari di antara bunga-bunga cantik. Tapi….tiba-tiba secercah cahaya terang munucl. Ratu menutup matanya. Taman bunga itu lenyap.
Ratu menggeliat. Matanya berkedip-kedip menahan silau. Sinar mentari mengusik tidurnya, membuyarkan mimpi indahnya. Sambil mengucek mata, dia bangkit dari peraduan. Melangkah menuju meja hias. Duduk termangu memikirkan mimpinya. Kata-kata Titie kemarin mengiang di telinganya. Ah….Ratu mendesah. Aku tidak mungkin membohongi diri lagi. Aku rindu kamu, Troy….
Sehabis mandi pagi, Ratu merasakan kerinduan itu kian menggigitnya. Tanpa sarapan lebih dulu, dia menuju ke teras. Duduk termenung menatap pintu pagar. Berharap, Troy tiba-tiba muncul.
Satu jam lebih Ratu menanti. Tapi..Troy belum muncul juga. Resah mulai menyergapnya. Akh, baru sekarang….Ratu merasakan betapa rindunya ia pada pemuda itu. Troy yang tampan, yang menaruh perhatian….datanglah…aku menantimu! Jeritnya dalam diam.
“Hallo, puteri murung!”
Uf! Ratu menatap kaget pada sosok tubuh itu. Gema kerinduan kian bertalu. Dia ingin berlari, menghambur ke pelukan Troy, tapi…kakinya tak mampu digerakkan. Dia terpaku di kursinya. Dia terlalu bahagia dengan kedatangan Troy.
“Ra,” Troy membuka pintu pagar yang tak dikunci. Berjalan ke arahnya dan mengulurkan kedua tangannya, persis seperti mimpi Ratu tadi malam. Perlahan,Ratu menyambut uluran tangan itu. Oh, betapa hangat genggaman tangan Troy. Betapa manis debar-debar di dadanya. Indah…. Seindah mimpi musim bunganya.
TAMAT
Komentar
sukses selalu
Maaf ya mba.. baru sempat berknjung lagi di rumah biru ini...
btw, jgn lupa berknjung ke rumahku yang baru ya..??
klik di sini
saya bc yg pertama dulu
cz lum sempat baca, baru ol nih
hehehehe
Ternyata Anna tuh sepupunya Titie ya, pantesan aja dia tau smua ttng Ratu, karena sering diceritain ma Anna. Sayangnya si Anna nya gak datang ya di rumahnya Titie, bisa lebih seru lagi tuh.
Mantap mba Fanny, Kemampuan kmu merangkai kata pantas diacungi Jempol !!!
Jaman sekarang jarang ada cowo yang kaya gitu
biasanya pertama cuman memandang dari segi fisik aja ..
Ratu akhirnya dapet cowo yang terbaik..
coba kalo akhirnya sedih,,bisa ikutan emosi nih :p
emang pandai banget bikin cerita ya
:)