SEINDAH MIMPI MUSIM BUNGA (Bagian I)

Asal usul ide :
Waktu oma gw masih hidup, dia suka mendesak gw biar cepat-cepat punya doski. Padahal, gw belum kepengen pacaran. Gw mau dapat gelar sarjana dulu. Gw suka bilang sama oma : akh, tampang ngepas begini mana ada yg mau. Of course, dgn nada guyon. Tapi, oma gw nanggapin dg serius : “Hush! Siapa bilang kamu jelek. Kamu cantik kok,” begitu katanya. Hmm, mungkin yg dimaksud oma adalah kecantikan batin. Jadi muncul ide nih. Kita yg punya face jelek tapi anggota tubuhnya komplit mestinya lebih bersyukur dan nggak minder ketimbang mereka yg cacat.

O ya, cerpen ini adalah salah satu cerpen favorit gw yang dibuat waktu masih SMA.
Dan...karena cukup panjang, saya membaginya menjadi 2 bagian.

Dimuat di majalah MITRA No. 48


Lonceng tanda istirahat berdentang, Ratu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu beranjak dari duduknya, melangkah menuju halaman sekolah. Di bangku kayu, di sudut halaman, dia duduk menyendiri. Matanya yang sayu menatap bebungaan yang mekar. Alangkah cantiknya bunga-bunga itu, gumamnya tanpa kata. Andai aku menjelma menjadi salah satu dari mereka. O, betapa senangnya. Ratu tersenyum membayangkan hal itu.

Tapi itu tidak mungkin, gumamnya lagi sedih. Ratu tetap Ratu. Dia tidak mungkin menjadi bunga. Itu hanya mimpi anak-anak kecil yang percaya dongeng. Dan, seandainya aku sekuntum bunga, apakah mungkin seindah bunga-bunga itu? Apakah aku dapat memukau mata mereka yang memandangku? Atau sebaliknya….aku hanya bunga sampah yang menjijikkan. Kurasa kemungkinan terakhir itulah yang lebih tepat untukku. Ratu memejamkan mata menahan pedih hatinya. Dalam bentuk apapun, aku takkan pernah menjadi lebih cantik.

Perlahan, Ratu membuka matanya, melayangkan pandang ke arah kantin yang ramai dengan tubuh-tubuh berseragam putih abu-abu. Dua gadis manis yang asik bersenda gurau menarik perhatiannya. Betapa senangnya menjadi mereka. Vivi dan Sita, pikirnya dengan wajah murung. Cantik, menarik…ah, Ratu mendesah. Rasanya terlalu muluk berangan seperti mereka, primadona sekolah.

Bibir yang ala Mick Jagger ini,mana mungkin menjadi mungil seperti milik Sita. Hidung yang pesek ini, juga tidak akan menjadi runcing seperti kepunyaan Vivi. Lalu, tubuh yang mirip papan ini dengan sepasang kaki yang kurus panjang….

Ugh! Ratu menggeleng. Seharusnya namaku bukan Ratu. Tidak cocok. Seorang Ratu biasanya cantik jelita, sedang aku….Sekali lagi Ratu menggeleng, pedih. Tuginem, Iyem atau Wa Ima, kurasa lebih cocok menjadi namaku.

“Ratu!”
Ratu menoleh. Anna si kutu buku menghampirinya.
“Kamu melamun Ratu,” kata Anna pelan sambil duduk di sampingnya.
“Rara, bukan Ratu.”
“O, iya….maaf…Rara. Aku lupa lagi.” Nada suara Anna menyesal.

Ratu mendengus kecil. Si kutu buku ini, ujarnya tanpa kata. Selalu memanggilku Ratu. Apa dia tidak bisa merasakan, betapa lucunya nama itu untuk orang seperti aku? Atau …dia pura-pura tidak tahu? Hhh, kamu hanya ingin mengejekku, Anna. Kamu sengaja memanggilku Ratu, padahal kamu tahu aku tidak suka dengan nama itu.

“Ratu…eh, Rara,” Tegur Anna menyibak kediaman Ratu. “Kamu melamun lagi. Ada apa sih?”

“Tidak ada apa-apa.”
“Tapi, kenapa kamu selalu tampak murung dan sedih?”

Ratu diam. Dia sudah bosan dengan pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali Anna menanyakannya. Tapi tidak pernah dijawabnya. Anna memang lain dengan kawan-kawan sekelasnya. Gadis itu selalu berusaha mendekatinya dan mencoba menjadi sahabatnya. Dia tidak pernah marah meski Ratu selalu menghindarinya.

“Ra,” panggil Anna lembut. “Kapan kamu berhenti melamun? Setiap istirahat tiba, kerjamu selalu duduk termenung.”

Ratu tetap diam. Apa pedulimu, An? Batinnya. Aku mau melamun sepanjang hari kek, itu bukan urusanmu.

“Kamu harus banyak bergaul, Ra.” Lanjut Anna. “Jangan menyendiri terus. Hampir satu tahun kamu menjadi warga kelas II F2, tapi kamu tidak pernah bergabung dengan kawan-kawan. Kamu tahu apa julukan yang diberikan mereka untukmu?” tanya Anna kemudian.

Ratu menggeleng.
“Mereka bilang, kamu Ratu salju yang dingin dan angkuh.”
“Julukan yang tepat.” Ratu tersenyum tipis, sementara dadanya bergemuruh kencang menahan pedih.

Anna menggigit bibir. Ratu, Ratu….kamu seperti boneka hidup. Apa kamu tidak merasa sedih dengan julukan itu? Bahkan, kamu bilang julukan yang tepat. Ah, belum pernah kujumpai gadis seperti kamu. Gadis aneh!

Teng…Teng….Teng…Lonceng tanda istirahat telah selesai berdentang.

“Ra….kamu harus merubah sikapmu kalau tidak ingin dijauhi mereka.” Anna berkata seraya bangkit dari duduknya. Lalu berlari masuk ke kelas.

**

Pelajaran Fisika yang sedang berlangsung sesudah istirahat terasa bagai angin yang numpang lewat di telinga Ratu. Tak satupun rumus-rumus yang diterangkan Pak Mardi dapat dimengertinya. Semua seperti angka-angka tanpa makna. Kata-kata Anna sebelum masuk kelas mengiang di telinganya, ‘kamu harus merubah sikapmu kalau tidak ingin dibenci mereka’.

Ah, Ratu mengedarkan pandang ke sekeliling kelas, menatap sekilas wajah kawan-kawannya. Oh, dia merasa dirinya begitu kecil. Aku, Ratu yang dingin dan angkuh. Ratu salju yang buruk rupa, pikirnya sendu.

Dan, tanpa sadar ingatannya mengembara ke masa setahun yang lalu.

“Tin, kalau kau kenal Ratu nggak?” tanya seorang gadis. Waktu itu sedang jam istirahat. Ratu berada di salah satu bilik toilet sekolah untuk menukar baju seragamnya dengan kaus olahraga. Pelajaran olahraga akan berlangsung setelah jam istirahat.

“Tidak, memangnya kenapa?” sahut orang yang dipanggil ‘Tin’ itu.

“Nggak kenapa-napa. Cuma itu, orangnya lucu deh,” ujar gadis yang pertama, “Sudah kurus kayak papan, bibir dower lagi. Aku nggak bisa nahan geli setiap kali melihat tampangnya,” terdengar suara cekikikan.

Seperti ditikam belati, Ratu merasa hatinya perih mendengar semua kalimat itu. Cepat-cepat dia keluar dari toilet. Dia tidak mau lagi mendengar suara gadis itu. Sakit. Dia merasa sakit amat sangat di relung kalbunya, bahkan di sekujur tubuhnya.

Dia memang tidak pernah mencari tahu, siapa nama gadis yang lancang mulut itu, yang telah mengoyak perasaannya menjadi serpih-serpih duka. Tapi kejadian itu telah menghantam jiwanya. Memutar balikkan perilakunya.

Dia yang tidak pernah peduli dengan wajah dan bentuk tubuhnya yang kurang beruntung. menjadi sangat peka dalam hal yang satu itu. Sifatnya yang periang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pendiam. Sejalan dengan perubahan itu, satu demi satu kawan-kawannya mulai menjauhi. Mereka tidak pernah mengerti dengan peralihan sikapnya, karena setiap kali ditanya dia hanya tersenyum. Tanpa satu pun jawaban keluar dari mulutnya.

Akhirnya, mereka bosan dan membiarkannya sendiri dengan dunianya yang sepi. Sampai dia naik ke kelas dua dan masuk jurusan IPA, dia tetap berkubang dalam kesendiriannya. Bercanda dengan sunyi, dengan wajah murung yang seolah tanpa ekspresi.

Untuk membuang rasa sepinya, dia belajar sangat tekun. Tidak heran, kalau dia menjadi siswi terpandai di seluruh kelas dua jurusan IPA. Sekaligus, siswi yang paling pendiam dan memberi kesan angkuh.

“Selamat siang pak!” tiba-tiba lamunannya terhenti. Ratu memandang kawan-kawannya yang berhamburan keluar kelas. Ternyata pelajaran telah usai. Pak Mardi bahkan sudah lebih dulu keluar.

Tergesa, Ratu membereskan buku-bukunya, memasukkan ke dalam tas. Lalu bangkit berdiri melangkah keluar.

**

Ratu mendekap buku rapornya di dada. Lambat-lambat dia melangkah menuju halaman sekolah, Di bangku kayu, di sudut halaman dia duduk. Sendiri seperti hari-hari yang lalu.

“Rara!”
Ratu mendengar panggilan itu tapi tetap diam. Anna tersenyum menghampirinya.

“Kok belum pulang?” tanyanya ramah.
Tidak ada jawaban.

“Besok sudah liburan, Kamu mau kemana Ra?” Anna duduk di sampingnya.

Kembali tidak ada jawaban. Sepi. Hanya gemerisik dedaunan yang terdengar.

“Aku mau ke Yogya, ke rumah Oma. Ikut yuk?” dengan lembut Anna menyentuh lengan Ratu. Kali ini Ratu menggeleng tapi tetap tak bersuara.

Anna menghela nafas, Anak aneh, pikirnya. Semakin hari dia semakin mirip dengan boneka hidup. Ya, Anna memang tidak tahu kalau ucapannya tempo hari telah membuat Ratu kian merasa dikucilkan. Dia merasa semua kawannya telah benar-benar membencinya. Sehingga, dia makin tenggelam dalam kesendiriannya. Sunyi, tanpa teman.

**

“Ma,” Ratu mengulurkan rapornya begitu sampai di rumah. Mama menerima buku bersampul plastik biru tua itu.

“Bagus, pertahankan prestasimu Ra,” ujar Mama tersenyum puas setelah membaca nilai-nilainya.

Ratu hanya tersenyum tipis. Dicopotnya sepatu dan kaus kaki lalu mengenakan sandal jepitnya.

“Ratu juara lagi ya?” Ratna, kakaknya muncul di ambang pintu ruang tengah. Mama mengangguk. Ratna menyambar rapor Ratu dari tangan mama.

“Wuih! Hebat kamu Ra! Rangking satu lagi ck…ck…ck,” puji Ratna dengan mata melotot pada nilai-nilai yang tertera di buku itu. “Selamat ya,” dengan hangat dia menyalami Ratu.

“Terima kasih,” ucap Ratu singkat.
“Ra, besok kakak mau tour ke Bali. Ikut yok?” ajak Ratna kemudian.

“Nggak ah.”
“Lho kenapa?” Ratna menggelengkan kepalanya, “Mama pasti kasih deh. Kamu kan sudah belajar giat tahun ini. Ya kan, Ma?” tanya Ratna pada mama.

Mama mengangguk, “Iya Ra, mama memberi ijin kok,” katanya menegaskan.

“Tapi, saya lebih suka tinggal di rumah.”
“Aduh, masa libur panjang begini mau diam di rumah terus!” Ratna tertawa. Ratu diam saja. Untuk orang seperti aku,memang lebih enak mendekam di rumah. Lain, kalau aku secantik kak Ratna. Ke mana pun tidak ada yang mengejek. Bahkan, dipuji dan dikagumi.

“Ratu, bagaimana kalau kamu berlibur di rumah nenek?” usul mama memecah kebisuan Ratu.

Berlibur di rumah nenek? Ya, usul yang bagus. Bukankah sudah lama sekali aku tidak bertemu nenek. Ah, tiba-tiba Ratu merasa rindu pada seraut wajah penuh keriput.

“Ya ma,” Ratu mengangguk, “saya mau ke rumah nenek. Sudah rindu nih,” katanya dengan mata berseri-seri.

“Gila!” Ratna geleng-geleng kepala, “diajak ke Bali ogah, tapi ke rumah nenek… Hmm, memang ada apa sih di sana? Paling juga pohon belimbing sama ayam kampung. Petok.. petok..” dengan kocak Ratna meniru suara ayam betina.

“Hush kamu!” Mama tertawa mengibaskan tangan. Ratu tersenyum geli.

Komentar

lilliperry mengatakan…
lanjut...
emang ada apaan di rumah nenek..?
hehehe

btw.. komen pertama ya..
(atur tempat duduk dulu..) :)
SMART PHISIC'S mengatakan…
boleh gak pesen novelnya????
ellysuryani mengatakan…
Pagi mbak Fanny, cerpen yang indah, seperti biasa.
Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan…
kalau saya sih mbak,... lebih mementingkan inner beauty..
SI JEPIT mengatakan…
jiaaahhh kok minder sih, mbak fanni cantik kok palagi diliatin dari monas trus liatnya pake sedotan tmbah cuantikkkk....
wkakakaka kaburrr..............
Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan…
oggix koq error yah mbak???
Dinoe mengatakan…
indah memang cerpennya..tiap alurnya saling bertautan...oh ya ditunggu nih episode keduanya..salam persahabatan..
aws_NGOFA_tidore mengatakan…
Q pengen ngajak Ratu ke Tidore ntar klo liburan.....boleh kan Fan???
Ivan Rahmadiawan mengatakan…
Mbk, numpang nimburng yah! Xixixi
jd inget nenek ku! Tp skrg dah tiada. Dia sering bgt ksh wejangan ke aku. Bawel tp brmanfaat..
ceritatugu mengatakan…
nenek ratu pasti tinggal di desa,udaranya seger,sejuk jauh dari polusi
Anonim mengatakan…
*sebenernya udah emosi*
ditunda dulu komennya, ditunggu kelanjutannya mbak.
EEL'S mengatakan…
Tidak hanya ayam petok-petok.., tapi jangkrik kriik kriiik ... dan sapi moooooeee... moooe... kalau di rumah nenek..
Ibnu Mas'ud mengatakan…
lanjutannya mana mbak????
Unknown mengatakan…
Keren mbak..
Tapi emang seusia aku sering minder juga kok mbak
aku sering ngerasa gak pe de banget
apalagi masalah urusan sama cowo..
zujoe mengatakan…
waaahhhh... kayaknya karyanya teh fanny banyak yang tentang ratu dan kerajaan ya..???

teh fanny, napa shout box na? kayakna error nih...
Dunia Polar mengatakan…
emang enak bgt y klo ke rmh ne2k pa lg rmhx jauh dr kramaian kota,huh...pengennn...
Ferfau mengatakan…
dibilang cantik sama oma emg bikin pede ya....
sayangnya aku gag pernah dibilang cantik, tapi di bilang cakep... hahahaha...
Yolizz mengatakan…
siang mbak...

duh,, laper2 gini melahap cerpennya mbak fanny dulu ah,,

ditunggu lanjutannya...
3 mengatakan…
komeng dulu achh...
bacanya ntar aja , di copy dulu ;)
nietha mengatakan…
komen di bagian kedua aja deh
suwung mengatakan…
dah diterbitin belom sih kumpulan cerpen dirimu mbak?
Unknown mengatakan…
@suwung : belum. ada yg mo terbitin gak?
busritoha.blogspot.com mengatakan…
Assalamualaikum

Percaya diri penting.Tapi bukan berarti sombong. Jika tidakk percaya diri akibatnya hanya bengong sendiri.

Jangan Ragu, tiap perempuan pasti cantik. Tidak ada ceritanya perempuan ganteng. Tetap semangat dan sukses.
Salam kenal

Wassalamualaikum.
reni mengatakan…
Ditunggu nih ceritanya di rumah si nenek...
J O N K mengatakan…
wadoh ratu misterius banget neh, pendiam sekali. dia belum pingin punya pasangan kali ya

eh nunggu yang kedua aja deh :D
buwel mengatakan…
di cerpen ini ada kata 'dada' di tulis berapa kali hayoo...hehehheehehhe...nggak tahu di seri ke 2 nya.....

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR