PARA PUTERI BERAKSI (bagian I)
Note : Fiuuuh! Di antara kesibukan bikin akta, akhirnya nongol juga ide kelanjutan kisah Dongeng dari Negeri Bloggerize.
Hari yang ditentukan telah tiba. Para puteri yang akan mengikuti sayembara memasuki balairung istana dengan langkah anggun tapi hati dag dig dug bagai beduk yang dipukul.
Gaun mereka yang indah dengan warna warni ceria sungguh bagai pelangi yang melengkung cantik di langit biru.
Semua pria yang ada di balairung memandang mereka dengan mulut ternganga lebar (untung para lalat sudah diusir). Kagum akan kecantikan para puteri yang ruarrrr binasa…eh..biasa…. Bahkan, pria yang mengaku ‘amphibi a.k.a gay’ juga terpesona pada keelokan mereka.
Para puteri yang merasa sedang dipandangi dengan kagum oleh kaum adam, mengangkat kepala mereka dengan anggun. Tak lupa menebar senyum semanis lolipop. Terkadang mata mereka mengedip-ngedip genit membuat jantung para pria melompat kodok. Teot..tet dung! Teot..tet dung!
Tapi tidak demikian dengan para pangeran yang sudah duduk manis kursi kebesaran masing-masing. Mereka seolah tak peduli kalau di seberang mereka ada sekumpulan mahluk elok yang sebentar lagi akan berlomba memperebutkan hati mereka.
Pangeran Black id asik mengorek lubang telinganya - yang sudah tiga bulan tidak dibersihkan - dengan ujung kelingking kirinya. Ratu Maya OZK yang melihat kelakuannya sampai melotot gemas. Tapi apa daya tempat duduk mereka berjauhan. “Awas! Begitu acara ini usai, mami akan menjewer kupingmu!” Gerutu hati Ratu Maya OZK.
Pangeran Ivan berkali-kali membuang ingusnya yang bak cendol itu dengan tisu. Tampaknya dia sedang flu berat (tapi bukan flu babi lho!). Ujung hidungnya sampai merah bagai hidung Rudolph, si rusa kutub miliknya pak Sinterklas. Alih-alih memerhatikan para puteri, dia malah sibuk mencegah aliran kental dari hidungnya nyasar ke jalur yang salah. Entah berapa helai tisu yang melayang masuk ke tempat sampah di samping kursinya. Suara bersinnya yang seberisik bajaj emoh distarter kadang menggema di seantero balairung. HUATTTCHIIIII!!!
Sementara, Pangeran Rampadan sibuk mengigiti kukunya yang sudah panjang tapi malas dipotong. Sesekali, dia melirik ke dayang Henny yang duduk di samping Ratu Maya OZK. Yang dilirik pun balas melirik penuh arti. Duuh, Ratu Maya OZK jadi gregetan melihat para puteranya yang tampil ancur-ancuran. Tangannya sudah gatal banget. Pengen mengambil sebuah penggaris kayu yang super tebal buat memukuli pantat anak-anaknya.
Tapi kelakuan minus para pangeran itu tidak membuat ilfil para puteri. Mereka berlomba-lomba mencari perhatian. Entah berupa kedipan mata, senyuman menggoda, suara batuk-batuk disengaja, ketawa cekikikan, even…siulan kecil mengundang. Balairung yang megah menjadi ramai kayak pasar malam dilanda kebakaran. Apalagi suara para tamu lainnya yang asik ngobrol, ngegosip sambil menebak-nebak kira-kira siapa yang akan memenangi sayembara ini, semakin meramaikan suasana.
‘”PERHATIAN! PERHATIAN!” Suara Buwel , sang asisten Menteri Penerangan membungkam keramaian itu. Serentak semua kepala memandang si Buwel. Semua bibir langsung cep.
“GOOD MORNING, LADIES AND GENTLEMAN!” Ujar Buwel dengan suaranya yang serak-serak becek. “Kita akan memulai sayembara ini. Untuk itu para puteri yang sudah mendapatkan nomor harap bersiap-siap maju ke depan. “ Buwel memandang ke arah para puteri. Wajah mereka langsung aja menjadi tegang seperti karet gelang yang ditarik kencang.
“Oke, saya akan memperjelas rule sayembara ini. Para puteri akan maju sesuai dengan nomor urutnya. Masing-masing akan menunjukkan bakat dan kepandaiannya.” Jelas Buwel lagi.
“Semua peserta sudah siap?” Tanya Buwel sambil mengedip genit ke Puteri Yolizz.
“SIAAPPP!!!” Para Puteri menjawab mantap.
“Oce deeeeh…” Buwel tersenyum lalu meniup peluitnya. PRIIIITTT!!! PRIIITTTT!!! PRIIITTTT!!! Weleh, weleh….Buwel lupa tuh. Mestinya cukup sekali niup peluitnya.
Lihat aja, semua orang yang ada di balairung langsung menutup telinganya.
Untunglah, si Buwel nyadar juga ketika dilihatnya Jonk si Kepala Pengawal melotot galak ke arahnya.
“Puteri dengan nomor urut 1, silakan maju ke depan!” Teriak Buwel buru-buru sambil mengalihkan tatapannya dari pelototan Jonk.
Puteri Fanda dari negeri KUTU BUKU SELALU melangkah dengan dagu terangkat anggun. Di tangan kanannya ada sebuah buku.
“Para hadirin yang terhormat, saya akan membacakan hasil resume saya atas sebuah buku yang patut dibeli dan dibaca oleh kalian semua. Buku ini berjudul : CINTAKU DI UJUNG TANDUK. Karya FANNY FREDLINA, seorang penulis muda yang punya 5 blog dan...
Bla ..bla..bla…blo..blo..blo…
Astaga! Puteri Fanda membacakan resume buku itu dengan suara yang mendayu-dayu. Semua orang di balairung mulai terkantuk-kantuk. Pangeran Ivan yang sedang flu berat malah langsung tertidur. Suara dengkurnya menyelingi suara Puteri Fanda. Kerrr..fiuuurr…krrruuu….ssserrrr….fiuurr.r….
Pangeran Black id menguap lebar. Sementara mata pangeran Rampadan on off terus kayak lampu neon rusak. Dia berusaha mengusir rasa kantuknya tapi..gagal melulu.
Ratu Maya OZK berkali-kali menepuk pipinya sendiri supaya tidak jatuh tertidur.
Raja Taufik Asmara sibuk mencabut jenggotnya helai demi helai. Dan …setiap kali sehelai jenggot berhasil tercabut, suara jerit kesakitan menggema. Auccch!! Aucch!!!
Dengan begitu dia berhasil menjaga kelopak matanya untuk tetap terbuka lebar.
Wah, kalo begini caranya Puteri Fanda menunjukkan kebolehannya meresume buku, gimana mau memenangi sayembara ini? Jadi, siapa dong yang akan jadi pemenangnya?
Sabarrrrrrr…..Kan masih ada puteri lainnya yang akan menunjukkan bakatnya. Sekarang, bu Cerpenis mau istirahat dulu. Belum makan siang nih!
Hari yang ditentukan telah tiba. Para puteri yang akan mengikuti sayembara memasuki balairung istana dengan langkah anggun tapi hati dag dig dug bagai beduk yang dipukul.
Gaun mereka yang indah dengan warna warni ceria sungguh bagai pelangi yang melengkung cantik di langit biru.
Semua pria yang ada di balairung memandang mereka dengan mulut ternganga lebar (untung para lalat sudah diusir). Kagum akan kecantikan para puteri yang ruarrrr binasa…eh..biasa…. Bahkan, pria yang mengaku ‘amphibi a.k.a gay’ juga terpesona pada keelokan mereka.
Para puteri yang merasa sedang dipandangi dengan kagum oleh kaum adam, mengangkat kepala mereka dengan anggun. Tak lupa menebar senyum semanis lolipop. Terkadang mata mereka mengedip-ngedip genit membuat jantung para pria melompat kodok. Teot..tet dung! Teot..tet dung!
Tapi tidak demikian dengan para pangeran yang sudah duduk manis kursi kebesaran masing-masing. Mereka seolah tak peduli kalau di seberang mereka ada sekumpulan mahluk elok yang sebentar lagi akan berlomba memperebutkan hati mereka.
Pangeran Black id asik mengorek lubang telinganya - yang sudah tiga bulan tidak dibersihkan - dengan ujung kelingking kirinya. Ratu Maya OZK yang melihat kelakuannya sampai melotot gemas. Tapi apa daya tempat duduk mereka berjauhan. “Awas! Begitu acara ini usai, mami akan menjewer kupingmu!” Gerutu hati Ratu Maya OZK.
Pangeran Ivan berkali-kali membuang ingusnya yang bak cendol itu dengan tisu. Tampaknya dia sedang flu berat (tapi bukan flu babi lho!). Ujung hidungnya sampai merah bagai hidung Rudolph, si rusa kutub miliknya pak Sinterklas. Alih-alih memerhatikan para puteri, dia malah sibuk mencegah aliran kental dari hidungnya nyasar ke jalur yang salah. Entah berapa helai tisu yang melayang masuk ke tempat sampah di samping kursinya. Suara bersinnya yang seberisik bajaj emoh distarter kadang menggema di seantero balairung. HUATTTCHIIIII!!!
Sementara, Pangeran Rampadan sibuk mengigiti kukunya yang sudah panjang tapi malas dipotong. Sesekali, dia melirik ke dayang Henny yang duduk di samping Ratu Maya OZK. Yang dilirik pun balas melirik penuh arti. Duuh, Ratu Maya OZK jadi gregetan melihat para puteranya yang tampil ancur-ancuran. Tangannya sudah gatal banget. Pengen mengambil sebuah penggaris kayu yang super tebal buat memukuli pantat anak-anaknya.
Tapi kelakuan minus para pangeran itu tidak membuat ilfil para puteri. Mereka berlomba-lomba mencari perhatian. Entah berupa kedipan mata, senyuman menggoda, suara batuk-batuk disengaja, ketawa cekikikan, even…siulan kecil mengundang. Balairung yang megah menjadi ramai kayak pasar malam dilanda kebakaran. Apalagi suara para tamu lainnya yang asik ngobrol, ngegosip sambil menebak-nebak kira-kira siapa yang akan memenangi sayembara ini, semakin meramaikan suasana.
‘”PERHATIAN! PERHATIAN!” Suara Buwel , sang asisten Menteri Penerangan membungkam keramaian itu. Serentak semua kepala memandang si Buwel. Semua bibir langsung cep.
“GOOD MORNING, LADIES AND GENTLEMAN!” Ujar Buwel dengan suaranya yang serak-serak becek. “Kita akan memulai sayembara ini. Untuk itu para puteri yang sudah mendapatkan nomor harap bersiap-siap maju ke depan. “ Buwel memandang ke arah para puteri. Wajah mereka langsung aja menjadi tegang seperti karet gelang yang ditarik kencang.
“Oke, saya akan memperjelas rule sayembara ini. Para puteri akan maju sesuai dengan nomor urutnya. Masing-masing akan menunjukkan bakat dan kepandaiannya.” Jelas Buwel lagi.
“Semua peserta sudah siap?” Tanya Buwel sambil mengedip genit ke Puteri Yolizz.
“SIAAPPP!!!” Para Puteri menjawab mantap.
“Oce deeeeh…” Buwel tersenyum lalu meniup peluitnya. PRIIIITTT!!! PRIIITTTT!!! PRIIITTTT!!! Weleh, weleh….Buwel lupa tuh. Mestinya cukup sekali niup peluitnya.
Lihat aja, semua orang yang ada di balairung langsung menutup telinganya.
Untunglah, si Buwel nyadar juga ketika dilihatnya Jonk si Kepala Pengawal melotot galak ke arahnya.
“Puteri dengan nomor urut 1, silakan maju ke depan!” Teriak Buwel buru-buru sambil mengalihkan tatapannya dari pelototan Jonk.
Puteri Fanda dari negeri KUTU BUKU SELALU melangkah dengan dagu terangkat anggun. Di tangan kanannya ada sebuah buku.
“Para hadirin yang terhormat, saya akan membacakan hasil resume saya atas sebuah buku yang patut dibeli dan dibaca oleh kalian semua. Buku ini berjudul : CINTAKU DI UJUNG TANDUK. Karya FANNY FREDLINA, seorang penulis muda yang punya 5 blog dan...
Bla ..bla..bla…blo..blo..blo…
Astaga! Puteri Fanda membacakan resume buku itu dengan suara yang mendayu-dayu. Semua orang di balairung mulai terkantuk-kantuk. Pangeran Ivan yang sedang flu berat malah langsung tertidur. Suara dengkurnya menyelingi suara Puteri Fanda. Kerrr..fiuuurr…krrruuu….ssserrrr….fiuurr.r….
Pangeran Black id menguap lebar. Sementara mata pangeran Rampadan on off terus kayak lampu neon rusak. Dia berusaha mengusir rasa kantuknya tapi..gagal melulu.
Ratu Maya OZK berkali-kali menepuk pipinya sendiri supaya tidak jatuh tertidur.
Raja Taufik Asmara sibuk mencabut jenggotnya helai demi helai. Dan …setiap kali sehelai jenggot berhasil tercabut, suara jerit kesakitan menggema. Auccch!! Aucch!!!
Dengan begitu dia berhasil menjaga kelopak matanya untuk tetap terbuka lebar.
Wah, kalo begini caranya Puteri Fanda menunjukkan kebolehannya meresume buku, gimana mau memenangi sayembara ini? Jadi, siapa dong yang akan jadi pemenangnya?
Sabarrrrrrr…..Kan masih ada puteri lainnya yang akan menunjukkan bakatnya. Sekarang, bu Cerpenis mau istirahat dulu. Belum makan siang nih!
Komentar
eh si ivan tuch jorok ich, ingusnya masak keluar terus......
jiaaaaaaaaaa ngakak abis mbak. tambah seru nih...heheheh lanjuuuuutttt lanjuuuuutttt
wkwkwkwk...
l
a
m
a
g
a
k
u
n
j
u
n
g
nih...pa kabarnya?
Cepetan ya part-2nya, jd pengen tahu aksi para sainganku nih..
lucu bgt! Masa pangerannya gak ada yang keren? Tp gpp dah, yg penting ganteng! Hehehe
makanya jgn komen aneh ke mbak fanny, tau rasakan.xixixii...
jd pnasaran nih gmn crita slnjutnya...
Pangerannya jorok2 ah..
Telinganya kotor
kukunya item
ingusan lagi..
pengin tahu kelanjutannya
ayo mbak..jangan lama2 makan siangnya
cepetannnn
oya tukang riasnya nggak nongol? dipecat ya hohoho...tuing tuing...
Kirain mbak Fanny dah gak akan melanjutkan Dongeng dari Negeri Bloggerize.
Ditunggu lanjutannya mbak...
menpen nya siapa ya mbak....kemarin keknya menpennya ga ada deh....hehehehehhe
Ditunggu lanjutannya mbak...
Ditunggu lanjutannya mbak...
jadi pengen dengerin Mbak Fanda bacain resensi di dunia nyata nih :D
ayoo...ditunggu kelanjutannya :D
link-nya kupasang di t4ku ya mbak..
biar gak ketinggalan ceritanya.. :D
ditunggu lagi mbak kelanjutannya :)