KABUT TELAH BERLALU

Asal usul ide :
Gw sering mendengar kisah cinta yg gatot (gagal total) karena ortu gak setuju. Tapi, gimana kalo sudah terlanjur halim..eh, hamil? Cerpen yg dibuat saat masih ABG.

Dimuat sbg cerber di Harian Indonesia Minggu tgl 15 Maret 1997

Matahari telah terbenam dan segala-galanya terbalut oleh rona senja. Sandra menutup catatan Sosiologinya ketika sebuah tangan mungil menarik-narik daster batiknya.



“Tante Can…mamm…”

Sekilas Sandra tersenyum. Pelahan, ia bangkit dari duduknya. Dibelainya rambut gadis kecil itu.

“Mau makan ya? Udah cuci tangan belum?” Tanyanya sambil menggendong tubuh mungil itu.
“He he he….” Kepala cantik itu menggeleng lucu.
“Hmm, anak nakal. Ayo, cuci tangan dulu!” Dengan gemas Sandra mencium pipi mulus itu. Kemudian, dengan setengah berlari ia menuju ke ruang makan. Gadis kecil dalam gendongannya tergelak-gelak. Mata bulatnya kadang-kadang menjadi sipit ketika tertawa.

“Sandra, turunkan anak itu!” Suara mama membentak ketika kaki Sandra baru saja menginjak lantai ruang makan.

Sandra terpaku. Selalu, pikirnya. Selalu saja mama mengucapkan kata-kata itu. Tak bolehkah anak semanis ini menikmati kehangatan sebuah keluarga? Tidak patutkan gadis sebatang kara ini mengecap sepercik kasih sayang? Ah, kapan sikapmu berubah, ma?

“Tante, akut….” Tubuh mungil dalam dekapannya berkata lirih. Kepalanya disandarkan ke bahu Sandra. Lembut, Sandra mengecup pipinya. Anak manis, jangan takut ya… bisiknya sedih.

“Sandra, kamu sudah tuli ya?!” Kembali suara mama menggelegar.

“Belum,” Mata Sandra menatap mama, tajam. Lalu, cepat-cepat ditinggalkannya ruang makan, masuk ke dapur.

Di dapur Bik Nem memandang Sandra dengan sedih. Wanita parobaya itu sudah hafal adat nyonyanya. Termasuk kebiasaan Sandra tahun-tahun belakangan ini. Putri bungsu majikannya itu sudah lama tidak makan bersama dengan mamanya. Hubungan mereka telah lama merenggang. Semuanya gara-gara gadis kecil itu.

“Bik, nasinya mana?” Sandra meletakkan tubuh mungil itu di kursi.

“Oh…eh…ya, non..” Suara Bik Nem terbata. Lamunannya buyar. Cepat-cepat, dikeluarkannya 2 piring nasi dari dalam lemari. Sandra meraih piring berisi nasi tim dan mulai menyuapi gadis kecil itu.

“Makan yang banyak, ya. Supaya cepat besar.” Katanya lembut.

Bik Nem hanya dapat menggelengkan kepala. Terharu. Sandra memang berbeda dengan gadis-gadis lain. Meski anak bungsu tapi tak ada istilah manja dalam kamus hidupnya. Sederhana, lembut dan penuh kasih terhadap sesamanya. Sudah ayu, pikir Bik Nem. Baik hati lagi.

“Ada apa, bik? Kok, lihatin saya terus?” tanya Sandra yang merasa sepasang mata bik Nem sedang memandangnya.

“Ah, tidak ada apa-apa.” Sahut bik Nem tergagap.
“Non, si Riri biar bibik yang urus ya?” Pintanya. “Jadi, non tidak kena marah terus.”

“Akh, cuek aja, bik! Anggap aja yang lagi marah itu robot rusak.”Ujar Sandra sambil melap mulut Riri yang belepotan.

“Non, jangan gitu akh. “ Bik Nem mengibaskan tangannya. “Gitu-gitu ‘kan ibu kandung non sendiri.”

“Iya, saya tahu tapi…akh sudahlah kalau diomongin panjang lebar juga bibik tidak akan ngerti. “

“Tapi, non….”

“Bik, “ Potong Sandra mulai jengkel. “Ini urusan saya dengan mama. Bibik tidak usah ikut campur!”

Bik Nem yang ditegur begitu menjadi kaget. Wajahnya pucat seketika. Baru kali ini Sandra membentaknya. Biasanya, gadis itu selalu ramah dan sabar.

Melihat wajah Bik Nem, kejengkelan Sandra mereda. Disentuhnya lengan bik Nem, lembut. “Maaf, saya terlalu emosi tadi,” ucapnya menyesal.

Bik Nem mengangguk. Meski ia tak tahu apa arti emosi. Hatinya merasa lega melihat kemarahan Sandra sudah surut.

“Ayo, bik….Mangan…” Kata Sandra menyentakkan bik Nem dari kebisuannya. Diraihnya piring berisi nasi goreng dan mulai melahapnya. Bik Nem tersenyum mengiyakan dan melanjutkan pekerjaannya.
**
Sandra menggolekkan tubuhnya menghadap ke dinding. Matanya terpejam namun pikirannya menerawang jauh ke masa silam.

Dalam benaknya, terbayang dirinya yang berseragam putih abu-abu tengah berdiri terpaku di ambang pintu ruang tamu. Di lantai marmer yang mengkilat, kakaknya Ratih duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu. Matanya merah. Bahunya berguncang-guncang. Sementara, di sebuah sofa yang empuk dan mahal, mama duduk dengan wibawa seorang wanita ningrat. Matanya lurus menatap Ratih, dingin.

Sandra merasakan bulu romanya berdiri menyaksikan wajah angkuh mama. Jantungnya berdebar. Tampaknya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Perasaan Sandra mendadak tak enak.

“Sandra, kenapa berdiri di situ?” Tanya mama ketika menyadari kehadirannya. “Ada yang aneh?”

Sesaat Sandra tersentak kaget. Lalu, buru-buru melangkah ke ruang dalam. Sedu sedan Ratih masih terdengar ketika ia masuk ke kamarnya untuk menukar seragam sekolahnya dengan daster. Kemudian terdengar suara ribut-ribut.

“Pokoknya, mama tidak setuju!”

“Tapi ma….saya….su..su…dah ham….”

“Apa? Kamu hamiiil ??!! ” Pekik mama marah.

Sandra merasa jantungnya berdebar semakin kencang. Hatinya menciut mendengar suara mama yang melengking seperti hendak memecahkan gendang telinganya. Dengan penuh rasa ingin tahu, dia keluar dari kamar dan bersembunyi di balik rak besar yang memisahkan ruang tamu dengan ruang tengah.

“I..iii ya..ma, sudah…sudah ..tiga bulan.” Ratih berkata gagap diantara isaknya.

Ratih hamil? Tiga bulan? Dalam hati Sandra bertanya-tanya tak percaya. Ratih yang lembut, penurut dan pendiam. Yang….akh, mana mungkin dia bisa melakukan perbuatan itu. Sandra menggelengkan kepalanya berkali-kali. Rasanya seperti mendengar kisah fantasi dari negeri kahyangan. Mustahil! Tidak mungkin!

“Ratih, “ Suara mama agak lunak. “Kamu tidak sedang bersandiwara ‘kan?”

“Tidak, ma….”

“Jadi, kamu…benar-benar hamil. “ Mama berkata lirih. “Tak kusangka, anak sepatuh kamu dapat mendatangkan aib bagi keluarga ini.” Mama memandang Ratih, sedih.

“Maafkan, Ratih ma…. Ratih….”

“Jangan merengek begitu!” Tukas mama ketus. Suaranya kembali dingin. “Kamu pikir mama sudi memaafkan perbuatanmu?”

“Ma….,”

“Tidak! Tak seorangpun dari anak-anakku boleh mengotori kehormatan Raden Ayu Hartati, pengusaha wanita yang berhasil dan terpandang.” Sergah mama cepat. Keangkuhan mewarnai raut wajahnya. Matanya berkilat marah.

“Ma, beri saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini.”

“Tidak perlu! Sekali ternoda tetap ternoda. “ Mama menukas. “Lagipula, dengan apa kamu bisa memperbaiki kehormatanmu yang sudah cacat itu? Yang perlu kamu lakukan adalah mengungsi ke rumah Bude mu di Yogya.”

Seperti mendengar bom atom meledak, Sandra merasa sesuatu yang tajam menusuk ulu hatinya ketika mendengar ucapan mama. Ratih diusir dari rumah ini. Oh, itu tidak boleh terjadi. Betapa pun besarnya kesalahan Ratih, dia harus tetap tinggal di sini.

Sungguh, Sandra tak dapat membayangkan bila tidak ada Ratih. Siapa yang akan menolongnya membuat pe-er? Yang selalu bersedia menemaninya shopping atau berenang di pantai? Tidak ada! Rani terlalu sibuk dengan latihan kemponya. Sedang mama….akh, sama saja! Sibuk dengan urusan bisnis. Hanya Ratihlah yang paling mengerti dirinya. Ratih yang ayu dan selalu melindunginya. Oh, mengingat hal itu, Sandara tidak dapat menguasai perasaannya.

“Kak Ratih tidak boleh pergi!” Serunya seraya berlari memeluk Ratih.

“Sandra!” Mama menegur.

“Mama jahat!” Ucap Sandra dengan linangan air mata membasahi pipinya. Rasa takutnya pada mama lenyap seketika. “Kak Ratih memang salah, tapi tidak adakah maaf untuknya?”

“Sandra, tahu apa kamu? Mulai berani melawan mama, ya?”

“Saya tahu semuanya, ma.” Ujar Sandra berani.

“Huh! Kamu lihat, Ratih.” Mama mendengus. “Adikmu sudah pintar bicara. Pasti kamu yang mengajarinya.”

“Mama, jangan salahkan kak Ratih. Saya bicara begitu karena saya mendengar semua percakapan mama dengan kak Ratih.”

“Oh, bagus! Jadi, kamu mencuri dengar percakapan orang dewasa ya?” Sinis suara mama. “Apa kamu tidak tahu perbuatan itu sangat tidak sopan?”

“Tahu! Aku sangat tahu, ma! “ Sandra mengangguk tegas.

“Sandra!” Melengking suara mama menahan geram. “Sejak kapan kamu berani bersikap kurang ajar begitu? Hmm, semua ini gara-gara kamu, Ratih. “

“Kak Ratih tidak salah, ma….” Sandra melepaskan Ratih dari pelukannya. Dihampirinya mama sambil memandang mama tajam.

“Diam!” Bentak mama. “Sebelum Sandra benar-benar rusak karena ajaranmu, kamu harus pergi dari rumah ini, Ratih!”

“Ma….!” Sandra memeluk lengan mama. “Sandra mohon ma…jangan usir kak Ratih. “

“Besok pagi-pagi sekali, kamu akan diantar pak Atmo ke Yogya.” Kata mama sambil menepis tangan Sandra dari lengannya. Lalu berdiri tegak dan melangkah masuk ke ruang dalam.

Dengan hati tersayat, Sandra memandang tubuh kurus mama sampai hilang dari pandangannya. Ah, seandainya papa masih ada, gumamnya tanpa kata. Tentu masih ada maaf untuk kak Ratih.

“Kak Ratih…..,” Sandra mengalihkan pandang. Dihampirinya Ratih yang masih bersimpuh di lantai marmer yang dingin.

“Jangan sedih Sandra. Mungkin ini sudah suratan hidup kakak. “Ratih meraih tubuh Sandra ke dalam pelukannya.

“Kak, siapa lelaki itu?” tanya Sandra. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia belum tahu siapa lelaki yang telah menghamili kakaknya.

“Jangan salahkan dia, San. Kak Ratih juga salah. Tidak dapat mengendalikan godaan setan.”

“Tidak, Sandra tidak akan menyalahkan dia.” Sandra menggeleng. “Cuma ingin tahu saja.”

Ratih tersenyum. “Dia seorang pengarang yang sedang naik daun. Karyanya banyak digemari oleh remaja seusiamu. Bahkan, mahasiswi seperti kakak juga sering membaca cerpennya.” Katanya.

“Namanya, kak? Jangan bertele-tele, ah!” Sandra berkata tak sabar.

“Deni. Nama samarannya Guntur.”

“Guntur?” Mata bagus Sandara membelalak. “Dia…dia…kan yang menang…”
“Ya, dia pemenang lomba mengarang cerpen di majalah BELIA.”
“Aduh, kenalin dong kak! Wah, pasti orangnya ganteng ya?”
“Tidak mungkin, San…” Wajah Ratih mendadak murung. “Mama tidak mengijinkan dia kemari.”
“Sandra.”

Uf! Sandra tersentak dari lamunannya. Kepala Rani nongol dari balik pintu. Gadis itu tersenyum.

“Anakmu, San….” Katanya. “Mesti cepat-cepat disingkirkan kalau tidak… bisa sakit jiwa dia.”

“Huh, ngomong seenaknya aja.” Cibir Sandra kesal sambil bangkit dari tidur ayamnya.

“Dia ketakutan sekali waktu mama membentaknya.” Rani melapor.

“Apa?” Cepat, Sandra memakai selopnya. “Kenapa mama membentaknya?” Tanyanya seraya meraih handel pintu. Didorongnya tubuh Rani pelan agar menyingkir.

“Riri tidak sengaja menjatuhkan vas bunga kesayangan mama.” Rani mencegah Sandra yang ingin keluar.

“Mama juga memukulnya?” Tanya Sandra cemas.

Rani menggeleng. “Tidak! Cuma dimaki-maki saja.”

“Sekarang dimana Riri? “ Dengan agak kasar, Sandra menepis lengan Rani yang menghalangi jalannya.

“Di kamar bik Nem. Lagi nangis.”

Tanpa membuang waktu, Sandra langsung melesat ke kamar bik Nem.

Di kamar bik Nem, Sandra memeluk erat-erat tubuh kecil Riri yang masih gemetar ketakutan. Dibelai dan diciuminya pipi Riri dengan sayang.

“Cup..anak manis. Jangan nangis dong. Kan ada tante San.”

“Yang…alak…Lili..akut…” Riri mendekap Sandra. Sandra lebih mengetatkan pelukannya. Ia ingin memberi ketentraman pada bocah cilik itu.

“Jangan takut sayang…” Bisik Sandra lembut.

Dipeluk dan dihibur dengan kata-kata manis, akhirnya Riri berhenti menangis. Gadis kecil itu tertidur dalam pelukan Sandra. Hati-hati, Sandra membawa Riri ke kamar tidurnya.

Bik Nem yang sejak tadi diam, menghapus air matanya yang bergulir di pipi. Wanita bertubuh tipis itu terharu melihat betapa sayangnya Sandra pada Riri.
**
Sudah beberapa hari ini Riri tidak nafsu makan. Badannya susut satu kilo. Wajahnya pucat dan lesu. Sandra berulang kali membujuknya agar mau makan, tapi selalu dimuntahkan lagi. Donat kesukaannya pun hanya dimakan sedikit. Sandra menjadi cemas. Namun ia tak tahu harus berbuat apa. Membawa ke dokter percuma saja. Kemarin dulu, dokter anak-anak yang memeriksa Riri mengatakan bahwa anak itu tidak sakit. Hanya tidak nafsu makan dan itu kerap terjadi pada anak-anak seusia Riri yang kadang-kadang suka rewel.

Ugh! Kesal juga Sandra karenanya. Tapi, walau bagaimana pun ia harus bisa mengembalikan nafsu makan Riri. Kalau tidak Riri bisa jatuh sakit.

“San, lebih baik Riri dititipkan ke panti asuhan.” Sedang asyik-asyiknya mencari cara agar Riri mau makan lagi, Rani nyelonong masuk ke kamar.

“Ssst…” Sandra menempelkan telunjuknya ke bibir. “Riri sedang tidur. Jangan berisik.” Desisnya.

“Kasihan, Riri….” Rani duduk di sisi ranjang. Dibelainya lengan Riri.

“Ya, kasihan sekali.” Sandra mendesah.

“Sayang, aku tidak bisa sabar menghadapi anak kecil.” Ujar Rani hampir tak terdengar. “Sebenarnya aku pun sayang pada Riri, tapi aku selalu saja tega memarahinya bila ia nakal. Aku tidak bisa bersikap lembut seperti kamu, San.”

“Tidak heran kalau Riri tidak suka sama aku.” Lanjut Rani lagi. “Padahal, di saat-saat seperti ini aku ingin bersamamu merawat Riri.”

Sandra diam saja. Dia merasa kata-kata Rani memberinya kekuatan untuk tetap mengasuh Riri, apapun yang terjadi. Padahal, beberapa jam yang lalu hati kecilnya merasa sudah tidak sanggup lagi mengatasi kerewelan Riri. Tapi kini, ia tak sendiri. Ternyata, Rani yang tomboy itu menyayangi Riri juga.
“Kak Rani harus berusaha untuk sabar terhadap Riri.” Kata Sandra kemudian. “Anak kecil tidak suka dibentak.”

Rani mengangguk-angguk. “Akan kucoba,” Katanya sambil mengecup pipi Riri.
**
Pagi ini ketika bangun tidur, Sandra merasa sesuatu yang hangat mengaliri relung-relung hatinya. Diliriknya Rani yang masih lelap dengan tangan kiri memeluk tubuh Riri. Terima kasih, Bapa. Telah Kau ketuk hati kak Rani untuk memberikan cinta pada Riri, doanya terharu.

Perlahan, Sandra menyelimuti tubuh jangkung Rani. Rani menggeliat. Dikuceknya mata sambil menguap panjang.

“Masih ngantuk, ya?” goda Sandra. “Tidur lagi, gih!”

Rani tersenyum. “Tidak. Aku ingin jadi tante yang rajin bangun pagi. “ Katanya dengan suara pelan, takut Riri terbangun.

“Kalau begitu, kita harus bersatu nih buat membujuk Riri agar dia mau makan, oke?”
“Oke.”
**

Riri sudah montok lagi. Berkat kesabaran Sandra dan Rani, nafsu makan anak itu pulih seperti dulu. Tubuhnya pun semakin berisi. Sandra dan Rani gembira sekali melihat perkembangannya. Semakin hari, Riri semakin menggemaskan. Lincah dan lucu.

Sore ini, Sandra dan Rani sedang bermain kucing-kucingan dengan Riri di halaman rumah.

“Ayo, Ri…kejar!” Seru Rani menunjuk ke arah Sandra yang menandak-nandak menggoda Riri. Riri menjerit riang. Kaki mungilnya berlari-lari lucu mengejar Sandra. Kadang kala dia terjatuh di atas rerumputan tapi tidak menangis sama sekali. Malah dia terkekeh-kekeh lalu meneruskan larinya. Di depannya Sandra berhenti berlari. Hap! Riri memeluk pinggang Sandra. Sandra tertawa. Diangkatnya tubuh Riri dan diletakkan ke pundak kiri.

“Wah, Riri naik apa tuh?’ Rani tertawa menghampiri mereka.

Riri tertawa riang. Ditariknya rambut Sandra. Bertiga mereka tertawa bahagia.

Di ruang tamu, mama melihat kelakuan mereka dengan hati teriris. Kini, Rani pun ikut-ikutan mengasuh Riri. Dia tidak lagi mematuhi perintahku. Pikirnya sedih. Dan, bocah itu…akh, makin hari dia makin serupa dengan Ratih. Tak sadar, mata wanita itu membasuh air mata yang jatuh ke pipinya. Ingatannya berkelana ke masa 3 tahun lalu.

Enam bulan setelah diusir dari rumah, Ratih melahirkan putrinya di rumah Bude nya. Tapi, dia tidak diberi kesempatan melihat anaknya. Beberapa detik setelah bayinya lahir, Tuhan memanggilnya dari dunia yang fana. Tak terkatakan, betapa sedihnya Sandra ditinggalkan Ratih yang sangat disayanginya. Berhari-hari, gadis itu tenggelam dalam duka. Lalu, suatu hari dengan mata yang masih bengkak, Sandra menyatakan niatnya ingin membawa bayi Ratih - yang ia beri nama Riri – ke rumah.

“Tidak.” Waktu itu mama menolak permintaan Sandra.

“Ma, apa mama tega membiarkan anak tak berdosa ini hidup terlantar, tanpa kasih seorang ibu?” Sandra menatap mama sedih.

Tega? Akh, sesungguhnya mama tidak tega. Tetapi, entah mengapa setiap melihat bayi itu, dia merasa diingatkan kalau anak itu tidak seluruhnya berdarah biru. Melainkan bercampur dari darah seorang pemuda miskin yang kedudukannya jauh dibawah. Tidak! Dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Dalam alam pikirannya yang sempit, dia menginginkan putri-putrinya menikah dengan pemuda yang sederajat dengan kedudukannya. Dan, menghasilkan keturunan yang seratus persen dari keluarga terpandang.

Namun bagaimana pun kerasnya dia melarang Sandra merawat Riri, Sandra tetap melaksanakan niatnya. Dengan telaten dan sabar, dia mengasuh Riri. Sedang mama tak mampu berbuat apa-apa. Sandra adalah puteri kesayangannya. Gadis itu bisa nekad bila terus dilarang. Lagi pula, jauh dalam lubuk hati mama tersimpan sepercik kasih pada Riri.

Apalagi, seminggu setelah Riri lahir, Deni, kekasih Ratih meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Padahal, pemuda itu sedang dalam perjalanan ingin membawa Riri untuk diasuhnya.

Sekarang, mama sudah tidak sanggup lagi bertahan dengan keangkuhannya. Toh, Riri adalah cucunya. Ada darahnya mengalir di tubuh anak itu. Akh, mengapa kesadaran selalu datang terlambat? Lihatlah, Riri yang lucu itu. Dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Dengan pikiran seperti itu, mama melangkah keluar. Sandra dan Rani berhenti tertawa. Riri diturunkan dari pundak Sandra. Mereka tertegun menatap mama dengan hati penuh tanya.

“Riri,” Tiba-tiba mama berkata pelan seraya berjalan mendekati mereka. Riri menyembunyikan wajahnya di balik gaun Sandra.

Mama tersenyum. Wanita yang rambutnya mulai ditumbuhi uban satu dua itu berjongkok.

“Riri sayang….kemari anak manis.” Ujarnya. Riri menampakkan sebagian wajahnya. Dia menatap mama, heran.

“Riri…” Mama berkata lagi. Dikembangkannya kedua lengannya. Riri masih menatapnya. Ada pancaran rasa takut dari wajah mungil itu.

“Jangan takut, sayang…..” Mama berucap lembut. Riri memandang ragu. Lalu, seperti ada kekuatan gaib, dia menghambur ke pelukan mama. Mama menangis terharu. Diciuminya pipi Riri penuh kerinduan. Riri gelagapan menerima ciuman bertubi-tubi itu.

“Ri, ayo cium Eyang!” Seru Rani yang lebih dulu sadar dengan apa yang telah terjadi.

Riri menurut. Cup! Bibir mungilnya mengecup pipi mama. Mama tertawa di sela tangisnya. Sandra dan Rani berpandangan. Tersenyum bahagia. Akh, kabut itu telah berlalu kini…..

Komentar

Dunia Polar mengatakan…
huh pagi-pagi uda dpt sarapan cerpen yg kyk gni,hiks..hiks...
terharuuu.......
SMART PHISIC'S mengatakan…
waduh cerpennya panjang banget??? aku beli aja ya???????
Ferfau mengatakan…
wwuuuiihhh mbak... apa kbr?
udh lama gag kesini, aku byk ketinggalan neh..
abiz,sibuk kuliah seh, tugas byk... huuhuhuhu

aku bc dulu ya postingan ini....
permisi...
zujoe mengatakan…
hamil 3 bulan ya teh... hamil di luar dugaan?

btw cerpennya dah terbit juga ya teh? pernah nggak yang belum terbit di terbitkan di blog duluan?

sekalian nanya dah berapa yang terbit ya cerpennya teteh?
nietha mengatakan…
komen dulu ah.. baru baca..
Ivan Rahmadiawan mengatakan…
Untung dah sarapan jadi kuat nieh pelototin nieh cerpen... Abz panjang benerr ce !!! Izin baca ya? Ivan belagu! Xixixi
Ajeng mengatakan…
Terharu mbak bacanya..
Mbak usul,gimana kalo ceprnnya diberupakan PDF saja. Biar bisa kita download gitu lalu dibaca sambil tiduran..hihihi
brown sugar mengatakan…
Akhirnyaaaaa...si daredepillll dikalahkan oleh guardian angels....
Kerenn kerennnn lagi lagi kerennn mbakkkkk...

Teplok...tepllok....netes dehhh air mataku
Susy Ella mengatakan…
horeee happy ending...

mm tapi kenapa yaa tiba2 mama-nya berubah??? kenapa mbak??? apakah karena ubannya mulai banyak heheheh
Anonim mengatakan…
hiks...
no comment (sambil ngelap ingus)
Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan…
Cerpen bagus mbak,..... aku copy yah buat anak saya.
Kabasaran Soultan mengatakan…
Ternyata hamil adalah salah satu kiat jitu ntuk nundukin kerasnya hati ortu ya ?.

Nice story fanny
ceritatugu mengatakan…
wah ini cerita pasti ada dalam kehidupan sehari-hari,buat ortu yang berdarah biru,putih dan hijau, kita dimata Tuhan kan sama
Unknown mengatakan…
Mbak Fanny, ceritanya bagus banget
aku terharu banget
mungkin jadi pelajaran buat aku ya
hati2 dalam bergaul

mbak udah bisa comment kok
mungkin tadi masih error
buwel mengatakan…
seperti biasa kalo cerpen nggak ada matinya deh...hehheehe

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR