WO AI NI, PEN…..
Asal usul ide :
Ketika masih SMP, ada 2 orang guru yang gak pernah becus memanggil nama saya. Fanny jadi Panni. Saya sebel banget karena nama keren saya (emang keren ya nama gue? He he he…) jadi jelek ketika diucapkan mereka. Tapi saya mencoba maklum karena sang guru fisika adalah orang Sunda. Biasanya, orang Sunda (gak semuanya sih) suka salah mengucapkan huruf F. Sedangkan sang guru geografi memang cadel dari sononya. And….karena mereka guru, saya gak bisa ngomelin deh.
Lucunya, ketika sang guru fisika menyuruh kami membuka buku Fisika, maka yang terucap adalah : “Coba buka buku Pisika kalian!”
Sedangkan, sang guru georgrafi akan berkata seperti ini : “Dalam pelajaran geograpi…..”.
Duuuh, mestinya mereka mengajar pelajaran sejarah dan matematika aja ya. Kan gak ada huruf ‘F’ nya.
Pernah dimuat di Majalah Media Kawasan edisi Maret 2008

Ugh! Dengan gemas, aku mendelete SMS yang baru saja kuterima dari Ello, Staf Marketing yang sudah dua bulan ini mencoba mencuri hatiku. Dasar cowok gendeng! Sudah ditolak masih saja nekad ngirim SMS full of rayuan gombal pulau kelapa. Jijay Bajaj Bajuri deh. Tuh cowok over pede sekali. Mentang-mentang ganteng, pintar dan tajir. Dia pikir, dengan nilai 9 yang menggalungi lehernya itu, aku bakal terpesona. Huh! Enggak ngaruh tuh. Soalnya, biarpun sebagai cowok dia nyaris perfect, but He is not the right guy for me! Iya, gimana mau jadi cowokku kalau ngucapin namaku aja gak becus. VENUS jadi PENUS.
Well, meskipun lahir dan besar di Jakarta tapi lidah Ello tetap saja kampungan. Setiap huruf F dan V yang diucapkannya pasti berubah jadi P.
Akh, aku masih ingat betul ledekan teman-temanku ketika Ello jadi supporterku dalam pertandingan bulutangkis antar Departemen yang diadakan kantorku dalam rangka HUT kemerdekaan RI. Waktu itu, aku ikut bertanding mewakili Departemen Finance. Dan, Ello dengan bersemangat meneriakiku.
“Hidup, Pen……!! ”

Teriakan Ello tertutup oleh suara cowok-cowok jahil dari Departemen Marketing dengan :
“N…S!” (maaf, huruf U pada namaku diganti dengan huruf I).
Keterlaluan banget deh! Dasar cowok-cowok piktor! Pikirannya ‘kotor’ melulu sih! And, semuanya ini gara-gara lidah cadel Ello. Ugh, rasanya aku ingin menyikat lidahnya pakai sikat dari duri landak (kalo ada).
***
Langit hitam pekat diiringi orkes kilat membuat jantungku kerap melompat. Sebentar lagi bumi pasti diguyur hujan lebat. Tapi, taxi-taxi yang biasa berseliweran di depan gedung kantorku seperti enggan lewat. Duh, mana kakiku sudah pegal karena kelamaan berdiri. Leherku juga rasanya sudah sepanjang leher jerapah saking seringnya dijulurkan ke arah jalan raya. Oh, God….help me please! Aku nggak bawa payung nih! Masa mesti basah kuyup di pinggir jalan? Kalau nggak ada taxi, ojek juga boleh deh. Asal jangan naik bus aja. Soalnya, bus yang lewat selalu miring lantaran over load. Mana bisa dijejali satu penumpang lagi? Kalau toh bisa, aku nggak punya nyali ‘nyemplung’ ke lautan manusia yang bak ikan sarden dalam kaleng berjalan. Selain ogah kecopetan, aku juga nggak sudi tubuhku dicolak-colek tangan-tangan yang suka cari kesempatan dalam kesempitan. So….what should I do? Aku menunduk, memejamkan mata. Maksudnya, mau berdoa dengan khusyuk ketika sebuah sedan berhenti di depanku. Aku membuka mata. Mengangkat kepala dan…
“Pen, belum pulang? Enggak ada taxi ya? Ikut aku aja…” Seraut wajah tampan muncul dari jendela mobil yang terbuka. Oh, Nooo! Kenapa mesti dia yang dikirim Tuhan untuk menolongku? Kenapa bukan tukang ojek? Rasanya, aku lebih suka meluk pinggang tukang ojek meski harus mencium bau keringat ketimbang nebeng Ello. Gengsi dong! Sudah sebel sama orangnya masa mau numpang mobilnya? Tapiiii..dalam sikon kayak gini apakah gengsi harus dipertahankan? Coba lihat langit yang semakin kelam. Hujan yang mulai menetes dan tampaknya bakal deras. Jalanan yang kian lenggang. Oom-oom senang yang mungkin akan menghentikan mobilnya, mengira diriku ‘mbak-mbak kantoran’ yang bisa di ‘ajak’. Belum lagi, preman jalanan yang akan menodongku atau…mem… Hiiiiih! Aku menggigil tiba-tiba.
“Pen…kamu kenapa?” Ello menatapku cemas. “Ayo cepetan masuk! Sudah mulai hujan tuh!”
Maunya sih bilang ‘no, thanks’ but….rasa takut yang menyergap mendorong bibirku berucap : “Oh..iya..ya..,” Sambil berkata begitu, aku bergegas membuka pintu mobil dan duduk di samping Ello yang ..idih, menatapku dengan sorot gimana gitu. Cemas, sayang, rindu, mesra campur baur kayak gado-gado. Aku pun melengos. Memeluk bahuku erat-erat. Uf! Aku menggigil lagi. Padahal aku sudah berada di tempat yang aman tapi ….kenapa aku merasa kedinginan begini? Tak sadar, kuraba dahiku. Panas! Tubuhku juga mendadak meriang. Oh, great! Masa, baru kelamaan berdiri di pinggir jalan sudah sakit? Payah banget! Atau, jangan-jangan karena semalam aku begadang nyiapin bahan presentasi. Terus, tadi siang telat makan gara-gara dapat tugas dadakan dari Presdir yang harus diselesaikan ASAP. Ditambah ‘bonus’ lembur sampai lupa order taxi by phone. Huh, seandainya mobilku nggak masuk bengkel tentu aku nggak akan menderita seperti ini…
“Kenapa ? Kedinginan ya? Aku matikan AC nya deh…” kata Ello penuh
perhatian. Aku menggeleng.
“Gak usah dimatikan. Nanti pengap. Kalo boleh, dikecilkan saja.” Ujarku
sambil menggigit bibir. Brrr….rasanya tubuhku semakin kedinginan. Gawat! Aku benar-benar jatuh sakit nih. Kakiku yang dibalut stocking dan tertutup sepatu model semi boot terasa bagai disiram air es.
Beberapa jeda berlalu. AC mobil telah dikecilkan tapi…aku masih merasa berada di kutub Utara.
“Masih kedinginan? Pakai jaketku saja, ya?” Tiba-tiba Ello menghentikan mobilnya. Mengambil jaketnya yang terletak di jok belakang dan menyampirkannya ke bahuku dengan lembut. Lalu…lalu…oh, mama mia! Dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Semula aku ingin sekali menepis tangan itu sambil menghardik pemiliknya tapi….aku terlalu kedinginan dan…hei, kenapa perasaanku jadi hangat begini? Aku merasa seperti seorang puteri cantik yang dijaga, dilindungi dan didekap oleh seorang pangeran perkasa. Celakanya, aku merasa ingin menangis. Terharu. Tersentuh. Terjerat dalam rasa tak kasat mata. Selama ini aku selalu menampiknya. Selalu cuek dan jutek padanya tapi…dia tidak pernah marah. Even, dia begitu care padaku. Akh, mendadak aku dilanda sejuta sesal atas sikapku yang tak bersahabat.
***
Dengan hati berbunga-bunga, aku membalas SMS mesra Ello. Kami sudah janjian akan pergi nonton nanti malam. Umm, I can hardly wait! Aku tersenyum membayangkan indahnya acara kencan kami.
“Cieee…yang lagi kasmaran! Dapat SMS nih yee! Dari siapa tuuuh?” Celetuk Aida, Staff HRD yang duduk di sampingku sambil mencoba ngintip layar ponselku. Aku tersentak. Baru menyadari kalau beberapa pasang mata sedang memandangku. Astaga! Tubuhku ada di ruang meeting tapi pikiranku kemana-mana. Ello sih pake SMS segala. Ntar siang kan juga lunch bareng.
“Siapa lagi kalo bukan Ello. Iya ‘kan, PEN?” Dino, Unit Head Legal meniru logat bicara Ello. Seisi ruangan sontak tertawa riuh. Sebel! Mentang-mentang oom Presdir dan wakilnya belum datang jadi bisa bebas ngeledekin aku.
Yah, sejak aku ‘jadian’ sama Ello, tiap hari ada aja yang jahil menggoda
kami. Soalnya, mereka tahu aku pernah benci banget sama Ello. Tapi sekarang
….. jadi BENAR-BENAR CINTA! Why?
Well, sebab aku tahu, ketika Tuhan mengirimkan seorang kekasih, Dia tidak memberikan kekasih yang sempurna karena aku pun tak sempurna. Justru dalam ketidaksempurnaan itu, kami bisa saling mengisi dan melengkapi. Lagipula, masa hanya gara-gara Ello tidak becus mengucapkan namaku, aku jadi menutup mata atas ketulusan cintanya? Biarin deh dipanggil PENUS, asal mesra. Hmm, rasanya pernyataan cinta Ello masih terngiang di telingaku : Wo ai ni, Pen….
Ketika masih SMP, ada 2 orang guru yang gak pernah becus memanggil nama saya. Fanny jadi Panni. Saya sebel banget karena nama keren saya (emang keren ya nama gue? He he he…) jadi jelek ketika diucapkan mereka. Tapi saya mencoba maklum karena sang guru fisika adalah orang Sunda. Biasanya, orang Sunda (gak semuanya sih) suka salah mengucapkan huruf F. Sedangkan sang guru geografi memang cadel dari sononya. And….karena mereka guru, saya gak bisa ngomelin deh.
Lucunya, ketika sang guru fisika menyuruh kami membuka buku Fisika, maka yang terucap adalah : “Coba buka buku Pisika kalian!”
Sedangkan, sang guru georgrafi akan berkata seperti ini : “Dalam pelajaran geograpi…..”.
Duuuh, mestinya mereka mengajar pelajaran sejarah dan matematika aja ya. Kan gak ada huruf ‘F’ nya.
Pernah dimuat di Majalah Media Kawasan edisi Maret 2008

Ugh! Dengan gemas, aku mendelete SMS yang baru saja kuterima dari Ello, Staf Marketing yang sudah dua bulan ini mencoba mencuri hatiku. Dasar cowok gendeng! Sudah ditolak masih saja nekad ngirim SMS full of rayuan gombal pulau kelapa. Jijay Bajaj Bajuri deh. Tuh cowok over pede sekali. Mentang-mentang ganteng, pintar dan tajir. Dia pikir, dengan nilai 9 yang menggalungi lehernya itu, aku bakal terpesona. Huh! Enggak ngaruh tuh. Soalnya, biarpun sebagai cowok dia nyaris perfect, but He is not the right guy for me! Iya, gimana mau jadi cowokku kalau ngucapin namaku aja gak becus. VENUS jadi PENUS.
Well, meskipun lahir dan besar di Jakarta tapi lidah Ello tetap saja kampungan. Setiap huruf F dan V yang diucapkannya pasti berubah jadi P.
Akh, aku masih ingat betul ledekan teman-temanku ketika Ello jadi supporterku dalam pertandingan bulutangkis antar Departemen yang diadakan kantorku dalam rangka HUT kemerdekaan RI. Waktu itu, aku ikut bertanding mewakili Departemen Finance. Dan, Ello dengan bersemangat meneriakiku.
“Hidup, Pen……!! ”

Teriakan Ello tertutup oleh suara cowok-cowok jahil dari Departemen Marketing dengan :
“N…S!” (maaf, huruf U pada namaku diganti dengan huruf I).
Keterlaluan banget deh! Dasar cowok-cowok piktor! Pikirannya ‘kotor’ melulu sih! And, semuanya ini gara-gara lidah cadel Ello. Ugh, rasanya aku ingin menyikat lidahnya pakai sikat dari duri landak (kalo ada).
***
Langit hitam pekat diiringi orkes kilat membuat jantungku kerap melompat. Sebentar lagi bumi pasti diguyur hujan lebat. Tapi, taxi-taxi yang biasa berseliweran di depan gedung kantorku seperti enggan lewat. Duh, mana kakiku sudah pegal karena kelamaan berdiri. Leherku juga rasanya sudah sepanjang leher jerapah saking seringnya dijulurkan ke arah jalan raya. Oh, God….help me please! Aku nggak bawa payung nih! Masa mesti basah kuyup di pinggir jalan? Kalau nggak ada taxi, ojek juga boleh deh. Asal jangan naik bus aja. Soalnya, bus yang lewat selalu miring lantaran over load. Mana bisa dijejali satu penumpang lagi? Kalau toh bisa, aku nggak punya nyali ‘nyemplung’ ke lautan manusia yang bak ikan sarden dalam kaleng berjalan. Selain ogah kecopetan, aku juga nggak sudi tubuhku dicolak-colek tangan-tangan yang suka cari kesempatan dalam kesempitan. So….what should I do? Aku menunduk, memejamkan mata. Maksudnya, mau berdoa dengan khusyuk ketika sebuah sedan berhenti di depanku. Aku membuka mata. Mengangkat kepala dan…
“Pen, belum pulang? Enggak ada taxi ya? Ikut aku aja…” Seraut wajah tampan muncul dari jendela mobil yang terbuka. Oh, Nooo! Kenapa mesti dia yang dikirim Tuhan untuk menolongku? Kenapa bukan tukang ojek? Rasanya, aku lebih suka meluk pinggang tukang ojek meski harus mencium bau keringat ketimbang nebeng Ello. Gengsi dong! Sudah sebel sama orangnya masa mau numpang mobilnya? Tapiiii..dalam sikon kayak gini apakah gengsi harus dipertahankan? Coba lihat langit yang semakin kelam. Hujan yang mulai menetes dan tampaknya bakal deras. Jalanan yang kian lenggang. Oom-oom senang yang mungkin akan menghentikan mobilnya, mengira diriku ‘mbak-mbak kantoran’ yang bisa di ‘ajak’. Belum lagi, preman jalanan yang akan menodongku atau…mem… Hiiiiih! Aku menggigil tiba-tiba.
“Pen…kamu kenapa?” Ello menatapku cemas. “Ayo cepetan masuk! Sudah mulai hujan tuh!”
Maunya sih bilang ‘no, thanks’ but….rasa takut yang menyergap mendorong bibirku berucap : “Oh..iya..ya..,” Sambil berkata begitu, aku bergegas membuka pintu mobil dan duduk di samping Ello yang ..idih, menatapku dengan sorot gimana gitu. Cemas, sayang, rindu, mesra campur baur kayak gado-gado. Aku pun melengos. Memeluk bahuku erat-erat. Uf! Aku menggigil lagi. Padahal aku sudah berada di tempat yang aman tapi ….kenapa aku merasa kedinginan begini? Tak sadar, kuraba dahiku. Panas! Tubuhku juga mendadak meriang. Oh, great! Masa, baru kelamaan berdiri di pinggir jalan sudah sakit? Payah banget! Atau, jangan-jangan karena semalam aku begadang nyiapin bahan presentasi. Terus, tadi siang telat makan gara-gara dapat tugas dadakan dari Presdir yang harus diselesaikan ASAP. Ditambah ‘bonus’ lembur sampai lupa order taxi by phone. Huh, seandainya mobilku nggak masuk bengkel tentu aku nggak akan menderita seperti ini…
“Kenapa ? Kedinginan ya? Aku matikan AC nya deh…” kata Ello penuh
perhatian. Aku menggeleng.
“Gak usah dimatikan. Nanti pengap. Kalo boleh, dikecilkan saja.” Ujarku
sambil menggigit bibir. Brrr….rasanya tubuhku semakin kedinginan. Gawat! Aku benar-benar jatuh sakit nih. Kakiku yang dibalut stocking dan tertutup sepatu model semi boot terasa bagai disiram air es.
Beberapa jeda berlalu. AC mobil telah dikecilkan tapi…aku masih merasa berada di kutub Utara.
“Masih kedinginan? Pakai jaketku saja, ya?” Tiba-tiba Ello menghentikan mobilnya. Mengambil jaketnya yang terletak di jok belakang dan menyampirkannya ke bahuku dengan lembut. Lalu…lalu…oh, mama mia! Dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Semula aku ingin sekali menepis tangan itu sambil menghardik pemiliknya tapi….aku terlalu kedinginan dan…hei, kenapa perasaanku jadi hangat begini? Aku merasa seperti seorang puteri cantik yang dijaga, dilindungi dan didekap oleh seorang pangeran perkasa. Celakanya, aku merasa ingin menangis. Terharu. Tersentuh. Terjerat dalam rasa tak kasat mata. Selama ini aku selalu menampiknya. Selalu cuek dan jutek padanya tapi…dia tidak pernah marah. Even, dia begitu care padaku. Akh, mendadak aku dilanda sejuta sesal atas sikapku yang tak bersahabat.
***
Dengan hati berbunga-bunga, aku membalas SMS mesra Ello. Kami sudah janjian akan pergi nonton nanti malam. Umm, I can hardly wait! Aku tersenyum membayangkan indahnya acara kencan kami.
“Cieee…yang lagi kasmaran! Dapat SMS nih yee! Dari siapa tuuuh?” Celetuk Aida, Staff HRD yang duduk di sampingku sambil mencoba ngintip layar ponselku. Aku tersentak. Baru menyadari kalau beberapa pasang mata sedang memandangku. Astaga! Tubuhku ada di ruang meeting tapi pikiranku kemana-mana. Ello sih pake SMS segala. Ntar siang kan juga lunch bareng.
“Siapa lagi kalo bukan Ello. Iya ‘kan, PEN?” Dino, Unit Head Legal meniru logat bicara Ello. Seisi ruangan sontak tertawa riuh. Sebel! Mentang-mentang oom Presdir dan wakilnya belum datang jadi bisa bebas ngeledekin aku.
Yah, sejak aku ‘jadian’ sama Ello, tiap hari ada aja yang jahil menggoda
kami. Soalnya, mereka tahu aku pernah benci banget sama Ello. Tapi sekarang
….. jadi BENAR-BENAR CINTA! Why?
Well, sebab aku tahu, ketika Tuhan mengirimkan seorang kekasih, Dia tidak memberikan kekasih yang sempurna karena aku pun tak sempurna. Justru dalam ketidaksempurnaan itu, kami bisa saling mengisi dan melengkapi. Lagipula, masa hanya gara-gara Ello tidak becus mengucapkan namaku, aku jadi menutup mata atas ketulusan cintanya? Biarin deh dipanggil PENUS, asal mesra. Hmm, rasanya pernyataan cinta Ello masih terngiang di telingaku : Wo ai ni, Pen….
Komentar
soale susah masuk top 10 di sini...
ehhh...maap teh lom baca...aku baca dulu ya....hehehe...
dah maju jaman sekarang ya...
kalo jaman doeloe kan cuma ai lap yu
aku tresno karo kowe mehehehe....
Kalo pepatah jawa tuh "gething nyandhing"...artinya dalam basa sanskerta biasanya orang yang benci pasti bersandingan ...kononnn katanyaaaa
btw mbak,,henny ga bakal panggil nama mbak pake "P" kok. :D
Pan, pan... Lu emang punny! :P
pan..pan...
bisa juga tuh bikin cerita!!
Itu gurunya apa orang sunda?
Orang sunda bilang: siapa bilang orang sunda nggak bisa bilang F, itu pitnah....
orang Bali juga banyak yang gak bisa bilang F atau V, nggak bisa panggil T trus jadi TH (udah terkenal kalo ini logat bali ya??) trus gak bisa bilang X jadi bilangnya EK
Gak tahu ya..
pengaruh apa..
Btw, memang kayaknya cara bicara seseorang sangat terpengaruh dengan daerahnya. Masing masing punya ciri khas sendiri
^^ dimana-mana benci itu udah pasti mutlak jadi cinta....
^^ hohohooo...
^^ Maka na rinie takut membenci seseorang, soal na ya gini.. takut na jadi bener bener cinta,..
^^ huhuhuu
Kl guru sd aku dl manggil aku ayu (kn nama aku yolistiayu),biar lbh gampang gt ktnya..dosen b. Jepang aku jg sukanya manggil "ayu san",,emg sesusah itu yah manggil yolis?!
keren mbak blognya
didaerahku saja penyebutan E kadang jadi O.... "Mau Kemana..?? Mau Komana..? xixixixixixixixixi
gak ada yang cocok dalam hubungan manusia yang ada adalah rasa saling menyocokkan perbedaan yang ada.
dalam bercinta tidak harus mencari sosok sempurna tapi lebih mencari sosok yang istimewa
sedeeeeppp
no body perfect! Ckckck tema yg bikin teringat akan kekurangan2 kita yg kita lupakan
dari benci jadi cinta..
wkkwkwkwk
jangan.. benci bilang cinta..^^
hodoh-hodoh emang aneh yak, bilang EF eh malah bilang EP. hehehehehe tapi kaadang lucu juga loh.....
jadi semangat nih mengejar cinta.....