PERTEMUAN
Asal usul ide :
Terinspirasi dari berita-berita korupsi di media cetak.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 9 Juli 1995

Seorang pemuda berkemeja garis-garis biru dan putih tampak memasuki ruang pameran. Wajahnya yang mirip Jason Donovan segera saja mengingatkanku pada Aldi. Seseorang yang telah mencuri hatiku dan tak pernah dapat mengembalikannya lagi. Ah, entah mengapa hatiku bergetar aneh. Getar yang telah lama lenyap sejak perpisahanku dengan Aldi bertahun silam. Lima atau enam tahun. Entah, aku tak mau mengingatnya. Tidak akan….Tapi, sosok pemuda itu….
“Zit, aku mau beli pizza. Lapar nih!” Suara Dea menyentakku.
“Gih, tapi jangan lama-lama. Enggak enak jaga sendirian.”
“Beres, mau titip apa?”
“Donat deh. Satu aja yang rasa coklat. Minumnya Aqua, “ Jawabku sambil mengambil dompet dari dalam tas.
“Ongkos jalan, jangan lupa.” Ujar Dea ketika kusodorkan uang sepuluh ribuan.
“Dasar matre! Ongkos jalannya satu buah donat aja.” Omelku pura-pura marah. Dea nyengir lalu dengan gesit pergi ke area Bazar.
Setelah tubuh Dea tak kelihatan lagi, aku mengarahkan pandang ke pintu masuk. Ah, pemuda itu sudah tak ada. Kemana ya? Kucondongkan tubuh, menengok ke kiri. Hei, itu dia. Sedang melihat-lihat majalah kampus yang dipamerkan di sebelah standku. Hmm, sebentar lagi dia pasti melewati standku. Mendadak hatiku bergetar lagi. Wajah Aldi menari-nari di benakku.
“Kak Zita!” O….o….tahu-tahu pemuda itu sudah berdiri di hadapanku. Reflek, kusandarkan tubuhku ke kursi. Jantungku berdebar nggak karuan. Pemuda ini benar-benar mirip Aldi.
“Lupa ya? Saya Alvin.” Dia tersenyum manis. Senyum yang memesona mirip senyum Aldi.
“Astaga!” Aku menatap tak percaya. Bayang seorang remaja kelas satu SMP melintas di benak. “Alvin? Sudah sebesar ini kamu sekarang? Kakak sampai pangling.”
Alvin tertawa. “Itu namanya ada pertumbuhan, kak. Kakak kuliah di sini ya?” Tanyanya. Aku mengangguk.
“Wah, satu almamater dong!” kata Alvin girang seperti anak kecil mendapatkan permen. “Tapi baru hari ini kita ketemu ya.”
“Kalau nggak satu fakultas, kecil kemungkinannya untuk ketemu.”
“Memangnya, kak Zita ambil fak apa?”
“Teknik Sipil. Bulan depan aku ujian sidang. Doa’in ya?”
“Wauw, sebentar lagi sarjana nih!” Alvin tersenyum. Duh, senyum itu….Aku seperti melihat kembaran Aldi.
“Kamu sendiri ambil fak apa?” tanyaku sambil mengedikkan kepala. Berusaha mengusir wajah Aldi.
“Kedokteran. Baru semester satu.”
“Wah, mesti tahan banting tuh. Soalnya, lulusnya susah.”
“Iya, untung aku kost dengan kak Aldi. Jadi, ada yang ngedorong kalau aku malas.”
Aku terdiam mendengar penuturan Alvin. Jadi, Aldi kuliah di Jakarta juga. Fakultas apa? Apakah dia juga seperti aku yang sebentar lagi lulus?
“Kak, mau tahu kabar kak Al, nggak?” Tanya Alvin tiba-tiba. Aku tak menjawab. Tak tahu mesti bilang apa. Padahal, sungguh mati aku pengen banget tahu kabar Aldi. Sehatkah dia? Makin gemuk atau kurus? Apakah dia masih rajin mencukur kumisnya? Dulu, aku yang selalu mengingatkan dia kalau kumisnya sudah makin lebat. Soalnya, aku nggak suka pria berkumis. Kesannya jadi tambah tua.
“Kak Al berubah lho sejak ditinggal kak Zita. Dia sekarang betah di rumah. Kalau lagi nggak ada kerjaan, pasti ngegitar. Bikin lagu cengeng.”
“Dia kuliah dimana, Vin?” tanyaku sebelum Alvin melanjutkan ceritanya yang membuat hatiku perih bagai disayat silet.
“ATK. Lagi skripsi. Mestinya sih udah lulus tahun lalu. Tapi kak Al malas tuh. Mungkin karena nggak ada yang kasih semangat.” Sambil berkata begitu, Alvin menatapku penuh arti.
Ugh! Aku melengos. Paham arti ucapan dan tatapan Alvin. Dulu, ketika aku masih menjadi kekasih Aldi, akulah yang selalu menasihatinya agar giat belajar. Dan, Aldi selalu patuh. Nilai-nilainya melejit hampir menyamai nilai-nilaiku. Tapi kini….
“Kak Al masih mencintai kak Zita. Sudah lima tahun lebih pisah dengan kak Zita, tapi belum ada penggantinya. Padahal, yang naksir kak Al banyak lho.” Cerita Alvin bersemangat.
“Mungkin belum ada yang cocok, “ Tukasku.
“Seandainya kak Zita bisa difotocopy…,” Alvin berkata setengah guyon. Tapi bagiku ucapannya itu terasa sembilu yang menusuk-nusuk ulu hati. Kalau saja kamu tahu, Vin..betapa aku masih mencintai kakakmu. Betapa aku berusaha melupakannya, menepis bayang-bayang dirinya.
**
Langkah kakiku terhenti. Tertegun memandang seorang pemuda berkaos putih yang sedang berbicara dengan Meinar di stand majalah Fakultas Teknik. Aldi! Hatiku bergetar hebat. Akh, mengapa dia ada di sini? Mencariku? Pasti Alvin yang memberitahunya. Tidak! Kita tidak boleh bertemu, Al. Aku tidak mau melihat matamu yang berpijar duka. Aku tidak mau luka hatiku kembali menganga. Cepat, kubalikkan tubuh, meninggalkan ruang pameran. Aku tak peduli lagi kalau hari ini masih giliranku jaga stand. Yang ada di kepalaku saat ini adalah menyingkir sejauh-jauhnya dari Aldi. Akh, semoga Meinar tidak memberitahukan alamatku.
“Hei, kok udah pulang?” Tegur Tante Lien ketika membukakan pintu.
“Yang jaga udah kebanyakan, tante. Hari ini banyak yang nggak kuliah sih.” Dustaku sambil melangkah masuk.
“Kebetulan dong. Sate ayamnya masih hangat tuh.” Tante Lien tersenyum.
“Masih kenyang, tan…..Baru aja makan bakso di kampus.” Lagi-lagi aku berdusta. Entah berapa banyak dosaku hari ini.
“Ya sudah. Nanti saja kalau kamu udah lapar.”
Hhh, aku menghela nafas lega. Untung tante Lien nggak memaksaku melahap sate ayam kebanggaannya seperti yang sering dilakukannya terhadapku setiap kali dia berhasil membuat hidangan yang lezat. Kalau enggak, dia pasti curiga karena dalam sikon seperti ini selera makanku hilang sama sekali. Dan, kalau tante Lien sudah mencurigai ada ‘something wrong’ dalam diriku, seisi rumah besar ini pasti dibuat sibuk.
Yah, jelek-jelek gini aku keponakan tersayang lho. Apalagi tante Lien tidak dikaruniai seorang anakpun.
Maka, dengan diam-diam aku menyelinap ke kamar sebelum tante Lien menangkap wajah murungku. Di kamarku yang mungil, aku merebahkan tubuh di pembaringan. Kupejamkan mata, memutar kenangan masa lalu. Kenangan yang mendesak-desak ingin hadir, setelah sekian waktu kuendapkan jauh di dasar kalbu.
Kami satu sekolah, lain kelas. Aku duduk di kelas III F2. Aldi di III F1. Dia termasuk siswa yang ngetop di sekolah. Tampan, pintar main gitar dan suaranya…hmm, yahud deh. Hampir semua siswi di SMA itu tergila-gila padanya, termasuk aku. Namun aku lebih beruntung ketimbang yang lain. Karena aku suka membuat puisi.
Suatu hari, puisiku dimuat di sebuah majalah remaja. Aldi adalah orang kedua yang mengomentari puisiku setelah mama. Katanya, puisiku bagus. Tentu saja, aku bangga dipuji oleh cowok idolaku. Dan, sejak saat itu, Aldi kerap kali mengunjungiku. Kami berdiskusi banyak hal dari soal politik sampai ngegosipin para artis.
Keakraban kami pun menjelma menjadi benang-benang kasih yang indah. Bagai Romi dan Yuli, kami selalu bersama. Namun, kenyataan berbicara lain. Aldi Alfonso adalah putera bapak Alfonso Darmadi, seorang jaksa yang pernah menuntut papa dalam suatu kasus korupsi. Aku mengetahuinya ketika Aldi mengajakku ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk menyaksikan jalannya suatu persidangan kasus pidana. “Papaku yang jadi jaksa penuntutnya. “ Ujar Aldi bangga.
“Hebat! Siapa sih nama papamu?” Tanyaku, kagum.
“Alfonso Darmadi.”
Ups! Telingaku seperti disambar petir. Bayang-bayang seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang sedang menangis melintasi benakku. Gadis kecil yang tak rela melihat papanya dimasukkan ke penjara. Gadis kecil yang berubah menjadi pendiam, setelah papa tercinta meninggal di hotel prodeo karena bunuh diri. Yah, papa melakukan itu karena tak sanggup menahan malu dan sesal yang terus mendera batinnya.
Akh, seharusnya aku mencurigai nama belakang Aldi. Tapi, bukankah di dunia ini selalu ada satu nama yang dimiliki oleh lebih dari satu orang? Sungguh, tak pernah kusangka kalau Alfonso, nama yang sering disebut-sebut mama sebagai jaksa penuntut dalam kasus korupsi yang dituduhkan kepada papaku adalah……
“Kenapa Zit? Kok, wajahmu pucat begitu?” Aldi menggenggam jemariku.
“Ah, nggak apa-apa. Cuma nggak enak badan.” Sahutku gugup.
“Kalau gitu, kamu nggak usah ikut ke pengadilan deh. Kapan-kapan aja ya….” Aldi berkata lembut. Aku mengangguk. Dalam hati aku bersyukur karena tidak usah melihat wajah pak Alfonso.
Tapi bagaimana dengan Aldi? Apakah aku harus melanjutkan hubungan ini?
Pertanyaan itu bagai dengung nyamuk di telingaku. Sungguh amat menganggu.
Akhirnya, setelah perang batin berhari-hari, aku memutuskan jalinan kasih kami
dengan alasan klise : kita masih terlalu muda buat berpacaran…..
“Alasan yang dibuat-buat. Kenapa tidak dari dulu bilang begitu? Padahal kita sudah enam bulan lebih pacaran ….” Ujar Aldi menahan marah dan sedih.
Aku terdiam. Apa yang dikatakan Aldi benar. Aku memang hanya mencari-cari alamsan agar dapat berpisah dengannya. Aku takut kalau Aldi mengetahui siapa papaku. Apalagi kalau ia tahu siapa jaksa yang telah menuntut papa. Tentu, ia akan merasa malu berpacaran dengan seorang anak koruptor.
Selain itu, pak Alfonso pasti tidak menyetujui hubungan kami. Yah, orang tua mana yang sudi bermenantukan seorang anak koruptor? Koruptor yang pernah dituntutnya lagi. Ironis sekali memang. Namun itulah realita hidup yang tak bisa kuingkari. Realita yang harus kujalani, sepahit apapun. Realita yang memaksaku mengambil keputusan yang menyakitkan, tidak hanya bagi Aldi tapi juga bagiku.
Untuk melupakan Aldi, sekaligus menghindari dirinya yang mencoba menggapai cintaku lagi, aku hengkang ke Jakarta. Tinggal bersama tante Lien hingga saat ini.
**
Aku menghela nafas lega setelah mendengar cerita Meinar, sahabatku yang tahu hubunganku dengan Aldi.
“Terima kasih, Mei. Kamu memang sobatku yang paling baik.” Ujarku sambil mengenggam tangannya.
“Terus terang, aku sangat kaget ketika dia memperkenalkan diri. Enggak sangka kalau dia lebih kece dari yang kuduga selama ini. Ternyata, cerita-ceritamu tentang ketampanannya bukan bualan belaka. “ Kata Meinar.
“Dia minta alamatmu, Zit.” Lanjut Meinar lagi. “Tapi, aku bilang aku tidak begitu kenal kamu. Aku…..,”
“Mei….,” Aku menukas. “Berapa kali kamu ulangi cerita itu? Aku kan udah bilang terima kasih.”
“Tapi belum traktir aku kan?” Meinar tertawa. Aku mendelik.
“Dasar gembul!” Ujarku sewot.
Meinar nyengir. “Cuma guyon kok, Zit. Eh, besok kamu mesti jaga lho. Bantu aku bebenah, oke?”
“Oke.” Aku mengangguk meski hati kecilku lebih suka kalau besok aku tidak hadir. Tapi…besok adalah hari terakhir acara pameran majalah dan Bazar. So, aku mesti membantu teman-temanku sesama redaksi majalah Fakultas Teknik, untuk membenahi segala sesuatunya. Rasanya, enggak solider kalau aku berpangku tangan hanya karena takut ketemu Aldi. Jadi, kalau toh besok aku bertemu dengan Aldi…ya, apa boleh buat.
**
“Zita.”
Aku mengangkat wajah. Oh my God! Dugaanku kemarin bahwa Aldi akan datang lagi menjadi kenyataan. Dan, sungguh mati aku tidak siap menyambut kedatangannya. Aku tidak tahu harus bicara apa. Yang kutahu, kaki dan tanganku mendadak dingin. Jantungku berdebur hebat. Ingin rasanya aku berlari tapi tidak bisa. Sorot mata Aldi bagai memenjarakan aku dalam keresahan yang pekat. Tuhan, lihatlah ….ada bias cinta di mata itu, juga segores luka.
“Lama ya kita nggak ketemu. Apa kabarmu, Zita?” Aldi tersenyum lembut dan mesra.
“Baik, “ sahutku kaku lalu menunduk.
“Aku mencarimu kemarin.”
“Aku tahu….”
“Kamu berubah, Zit. Kamu tidak suka kan bertemu denganku?” Pertanyaan Aldi diwarnai kekecewaan.
“Siapa bilang?” Aku mengangkat wajah. Menatapnya sedih.
“Kepergianmu yang tanpa pesan, tanpa meninggalkan alamat. Dan, sekarang….sikapmu yang kaku, dingin….”
“Aldi, apa maksudmu? Kamu menemuiku hanya ingin mengajakku bertengkar?” Desisku pelan,takut terdengar orang-orang yang lalu lalang di depan stand. Untunglah, Dea, Meinar dan Sani sedang ke WC sehingga hanya aku sendiri yang ada di stand.
“Zit, lima tahun lebih aku selalu mencarimu. Berharap kita bersatu kembali. Tapi, nyatanya….akh, aku tak mengerti, Zit. Mengapa kamu seolah-olah membenciku? Menghindariku? Apa salahku, Zit? Katakan….aku….,”
“Tidak ada yang salah, Al. “ Tukasku dengan hati perih. “Aku hanya tidak mencintaimu, “ dustaku. “Waktu aku menerima cintamu dulu, itu lantaran aku tak mau mengecewakanmu. Karena itu, setelah beberapa bulan kita pacaran, aku memutuskan hubungan. Dan, agar kamu bisa melupakanku, diam-diam aku pergi ke Jakarta. “ Lanjutku penuh kebohongan yang tiba-tiba muncul di otakku.
“Jadi….,” Aldi tampak terkejut. Bibirnya bergerak-gerak, tak mampu meneruskan ucapannya.
“Maafkan aku, Al. Seharusnya hal ini kukatakan sejak dulu.” Aku berkata datar.
Aldi terdiam. Aku menatapnya dengan pilu. Ah, wajah itu bagai diselimuti awan kelabu, muram dan bertabur luka. Ingin rasanya kubelai pipi tirusnya dan mendekapnya penuh cinta. Tapi itu tak mungkin kulakukan. Aku harus melupakannya. Harus!
“Bagaimana mungkin, Zit?” Tiba-tiba Aldi berkata lirih. “Aku tahu betul betapa kamu mencintaiku. Aku dapat merasakannya….”
“Jangan percaya pada perasaanmu, Al. Kamu harus menerima kenyataan.” Ujarku sedih. “Aku hanya pura-pura mencintaimu. Aku….”
“Terima kasih untuk kejujuranmu meskipun aku ragu, apakah ucapanmu itu sungguh-sungguh keluar dari sanubarimu yang terdalam. “ Sergah Aldi. Ditatapnya aku dengan mata berbalur luka. “Suatu hari nanti, aku pasti kembali, Zit…Aku yakin, kamu menyembunyikan sesuatu. Walau bibirmu berkata tidak, tapi matamu tidak dapat mendustaiku. Dan, aku berjanji akan mencari tahu apa yang kamu sembunyikan itu.” Nada suara Aldi mengandung tekad yang membara.
Aku tertegun mendengarnya. Suatu hari nanti…., bisik hatiku. Setelah berhasil menemukan apa yang tersembunyi itu, mungkinkah kamu masih mencintaiku, Al….?
Terinspirasi dari berita-berita korupsi di media cetak.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 9 Juli 1995

Seorang pemuda berkemeja garis-garis biru dan putih tampak memasuki ruang pameran. Wajahnya yang mirip Jason Donovan segera saja mengingatkanku pada Aldi. Seseorang yang telah mencuri hatiku dan tak pernah dapat mengembalikannya lagi. Ah, entah mengapa hatiku bergetar aneh. Getar yang telah lama lenyap sejak perpisahanku dengan Aldi bertahun silam. Lima atau enam tahun. Entah, aku tak mau mengingatnya. Tidak akan….Tapi, sosok pemuda itu….
“Zit, aku mau beli pizza. Lapar nih!” Suara Dea menyentakku.
“Gih, tapi jangan lama-lama. Enggak enak jaga sendirian.”
“Beres, mau titip apa?”
“Donat deh. Satu aja yang rasa coklat. Minumnya Aqua, “ Jawabku sambil mengambil dompet dari dalam tas.
“Ongkos jalan, jangan lupa.” Ujar Dea ketika kusodorkan uang sepuluh ribuan.
“Dasar matre! Ongkos jalannya satu buah donat aja.” Omelku pura-pura marah. Dea nyengir lalu dengan gesit pergi ke area Bazar.
Setelah tubuh Dea tak kelihatan lagi, aku mengarahkan pandang ke pintu masuk. Ah, pemuda itu sudah tak ada. Kemana ya? Kucondongkan tubuh, menengok ke kiri. Hei, itu dia. Sedang melihat-lihat majalah kampus yang dipamerkan di sebelah standku. Hmm, sebentar lagi dia pasti melewati standku. Mendadak hatiku bergetar lagi. Wajah Aldi menari-nari di benakku.
“Kak Zita!” O….o….tahu-tahu pemuda itu sudah berdiri di hadapanku. Reflek, kusandarkan tubuhku ke kursi. Jantungku berdebar nggak karuan. Pemuda ini benar-benar mirip Aldi.
“Lupa ya? Saya Alvin.” Dia tersenyum manis. Senyum yang memesona mirip senyum Aldi.
“Astaga!” Aku menatap tak percaya. Bayang seorang remaja kelas satu SMP melintas di benak. “Alvin? Sudah sebesar ini kamu sekarang? Kakak sampai pangling.”
Alvin tertawa. “Itu namanya ada pertumbuhan, kak. Kakak kuliah di sini ya?” Tanyanya. Aku mengangguk.
“Wah, satu almamater dong!” kata Alvin girang seperti anak kecil mendapatkan permen. “Tapi baru hari ini kita ketemu ya.”
“Kalau nggak satu fakultas, kecil kemungkinannya untuk ketemu.”
“Memangnya, kak Zita ambil fak apa?”
“Teknik Sipil. Bulan depan aku ujian sidang. Doa’in ya?”
“Wauw, sebentar lagi sarjana nih!” Alvin tersenyum. Duh, senyum itu….Aku seperti melihat kembaran Aldi.
“Kamu sendiri ambil fak apa?” tanyaku sambil mengedikkan kepala. Berusaha mengusir wajah Aldi.
“Kedokteran. Baru semester satu.”
“Wah, mesti tahan banting tuh. Soalnya, lulusnya susah.”
“Iya, untung aku kost dengan kak Aldi. Jadi, ada yang ngedorong kalau aku malas.”
Aku terdiam mendengar penuturan Alvin. Jadi, Aldi kuliah di Jakarta juga. Fakultas apa? Apakah dia juga seperti aku yang sebentar lagi lulus?
“Kak, mau tahu kabar kak Al, nggak?” Tanya Alvin tiba-tiba. Aku tak menjawab. Tak tahu mesti bilang apa. Padahal, sungguh mati aku pengen banget tahu kabar Aldi. Sehatkah dia? Makin gemuk atau kurus? Apakah dia masih rajin mencukur kumisnya? Dulu, aku yang selalu mengingatkan dia kalau kumisnya sudah makin lebat. Soalnya, aku nggak suka pria berkumis. Kesannya jadi tambah tua.
“Kak Al berubah lho sejak ditinggal kak Zita. Dia sekarang betah di rumah. Kalau lagi nggak ada kerjaan, pasti ngegitar. Bikin lagu cengeng.”
“Dia kuliah dimana, Vin?” tanyaku sebelum Alvin melanjutkan ceritanya yang membuat hatiku perih bagai disayat silet.
“ATK. Lagi skripsi. Mestinya sih udah lulus tahun lalu. Tapi kak Al malas tuh. Mungkin karena nggak ada yang kasih semangat.” Sambil berkata begitu, Alvin menatapku penuh arti.
Ugh! Aku melengos. Paham arti ucapan dan tatapan Alvin. Dulu, ketika aku masih menjadi kekasih Aldi, akulah yang selalu menasihatinya agar giat belajar. Dan, Aldi selalu patuh. Nilai-nilainya melejit hampir menyamai nilai-nilaiku. Tapi kini….
“Kak Al masih mencintai kak Zita. Sudah lima tahun lebih pisah dengan kak Zita, tapi belum ada penggantinya. Padahal, yang naksir kak Al banyak lho.” Cerita Alvin bersemangat.
“Mungkin belum ada yang cocok, “ Tukasku.
“Seandainya kak Zita bisa difotocopy…,” Alvin berkata setengah guyon. Tapi bagiku ucapannya itu terasa sembilu yang menusuk-nusuk ulu hati. Kalau saja kamu tahu, Vin..betapa aku masih mencintai kakakmu. Betapa aku berusaha melupakannya, menepis bayang-bayang dirinya.
**
Langkah kakiku terhenti. Tertegun memandang seorang pemuda berkaos putih yang sedang berbicara dengan Meinar di stand majalah Fakultas Teknik. Aldi! Hatiku bergetar hebat. Akh, mengapa dia ada di sini? Mencariku? Pasti Alvin yang memberitahunya. Tidak! Kita tidak boleh bertemu, Al. Aku tidak mau melihat matamu yang berpijar duka. Aku tidak mau luka hatiku kembali menganga. Cepat, kubalikkan tubuh, meninggalkan ruang pameran. Aku tak peduli lagi kalau hari ini masih giliranku jaga stand. Yang ada di kepalaku saat ini adalah menyingkir sejauh-jauhnya dari Aldi. Akh, semoga Meinar tidak memberitahukan alamatku.
“Hei, kok udah pulang?” Tegur Tante Lien ketika membukakan pintu.
“Yang jaga udah kebanyakan, tante. Hari ini banyak yang nggak kuliah sih.” Dustaku sambil melangkah masuk.
“Kebetulan dong. Sate ayamnya masih hangat tuh.” Tante Lien tersenyum.
“Masih kenyang, tan…..Baru aja makan bakso di kampus.” Lagi-lagi aku berdusta. Entah berapa banyak dosaku hari ini.
“Ya sudah. Nanti saja kalau kamu udah lapar.”
Hhh, aku menghela nafas lega. Untung tante Lien nggak memaksaku melahap sate ayam kebanggaannya seperti yang sering dilakukannya terhadapku setiap kali dia berhasil membuat hidangan yang lezat. Kalau enggak, dia pasti curiga karena dalam sikon seperti ini selera makanku hilang sama sekali. Dan, kalau tante Lien sudah mencurigai ada ‘something wrong’ dalam diriku, seisi rumah besar ini pasti dibuat sibuk.
Yah, jelek-jelek gini aku keponakan tersayang lho. Apalagi tante Lien tidak dikaruniai seorang anakpun.
Maka, dengan diam-diam aku menyelinap ke kamar sebelum tante Lien menangkap wajah murungku. Di kamarku yang mungil, aku merebahkan tubuh di pembaringan. Kupejamkan mata, memutar kenangan masa lalu. Kenangan yang mendesak-desak ingin hadir, setelah sekian waktu kuendapkan jauh di dasar kalbu.
Kami satu sekolah, lain kelas. Aku duduk di kelas III F2. Aldi di III F1. Dia termasuk siswa yang ngetop di sekolah. Tampan, pintar main gitar dan suaranya…hmm, yahud deh. Hampir semua siswi di SMA itu tergila-gila padanya, termasuk aku. Namun aku lebih beruntung ketimbang yang lain. Karena aku suka membuat puisi.
Suatu hari, puisiku dimuat di sebuah majalah remaja. Aldi adalah orang kedua yang mengomentari puisiku setelah mama. Katanya, puisiku bagus. Tentu saja, aku bangga dipuji oleh cowok idolaku. Dan, sejak saat itu, Aldi kerap kali mengunjungiku. Kami berdiskusi banyak hal dari soal politik sampai ngegosipin para artis.
Keakraban kami pun menjelma menjadi benang-benang kasih yang indah. Bagai Romi dan Yuli, kami selalu bersama. Namun, kenyataan berbicara lain. Aldi Alfonso adalah putera bapak Alfonso Darmadi, seorang jaksa yang pernah menuntut papa dalam suatu kasus korupsi. Aku mengetahuinya ketika Aldi mengajakku ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk menyaksikan jalannya suatu persidangan kasus pidana. “Papaku yang jadi jaksa penuntutnya. “ Ujar Aldi bangga.
“Hebat! Siapa sih nama papamu?” Tanyaku, kagum.
“Alfonso Darmadi.”
Ups! Telingaku seperti disambar petir. Bayang-bayang seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang sedang menangis melintasi benakku. Gadis kecil yang tak rela melihat papanya dimasukkan ke penjara. Gadis kecil yang berubah menjadi pendiam, setelah papa tercinta meninggal di hotel prodeo karena bunuh diri. Yah, papa melakukan itu karena tak sanggup menahan malu dan sesal yang terus mendera batinnya.
Akh, seharusnya aku mencurigai nama belakang Aldi. Tapi, bukankah di dunia ini selalu ada satu nama yang dimiliki oleh lebih dari satu orang? Sungguh, tak pernah kusangka kalau Alfonso, nama yang sering disebut-sebut mama sebagai jaksa penuntut dalam kasus korupsi yang dituduhkan kepada papaku adalah……
“Kenapa Zit? Kok, wajahmu pucat begitu?” Aldi menggenggam jemariku.
“Ah, nggak apa-apa. Cuma nggak enak badan.” Sahutku gugup.
“Kalau gitu, kamu nggak usah ikut ke pengadilan deh. Kapan-kapan aja ya….” Aldi berkata lembut. Aku mengangguk. Dalam hati aku bersyukur karena tidak usah melihat wajah pak Alfonso.
Tapi bagaimana dengan Aldi? Apakah aku harus melanjutkan hubungan ini?
Pertanyaan itu bagai dengung nyamuk di telingaku. Sungguh amat menganggu.
Akhirnya, setelah perang batin berhari-hari, aku memutuskan jalinan kasih kami
dengan alasan klise : kita masih terlalu muda buat berpacaran…..
“Alasan yang dibuat-buat. Kenapa tidak dari dulu bilang begitu? Padahal kita sudah enam bulan lebih pacaran ….” Ujar Aldi menahan marah dan sedih.
Aku terdiam. Apa yang dikatakan Aldi benar. Aku memang hanya mencari-cari alamsan agar dapat berpisah dengannya. Aku takut kalau Aldi mengetahui siapa papaku. Apalagi kalau ia tahu siapa jaksa yang telah menuntut papa. Tentu, ia akan merasa malu berpacaran dengan seorang anak koruptor.
Selain itu, pak Alfonso pasti tidak menyetujui hubungan kami. Yah, orang tua mana yang sudi bermenantukan seorang anak koruptor? Koruptor yang pernah dituntutnya lagi. Ironis sekali memang. Namun itulah realita hidup yang tak bisa kuingkari. Realita yang harus kujalani, sepahit apapun. Realita yang memaksaku mengambil keputusan yang menyakitkan, tidak hanya bagi Aldi tapi juga bagiku.
Untuk melupakan Aldi, sekaligus menghindari dirinya yang mencoba menggapai cintaku lagi, aku hengkang ke Jakarta. Tinggal bersama tante Lien hingga saat ini.
**
Aku menghela nafas lega setelah mendengar cerita Meinar, sahabatku yang tahu hubunganku dengan Aldi.
“Terima kasih, Mei. Kamu memang sobatku yang paling baik.” Ujarku sambil mengenggam tangannya.
“Terus terang, aku sangat kaget ketika dia memperkenalkan diri. Enggak sangka kalau dia lebih kece dari yang kuduga selama ini. Ternyata, cerita-ceritamu tentang ketampanannya bukan bualan belaka. “ Kata Meinar.
“Dia minta alamatmu, Zit.” Lanjut Meinar lagi. “Tapi, aku bilang aku tidak begitu kenal kamu. Aku…..,”
“Mei….,” Aku menukas. “Berapa kali kamu ulangi cerita itu? Aku kan udah bilang terima kasih.”
“Tapi belum traktir aku kan?” Meinar tertawa. Aku mendelik.
“Dasar gembul!” Ujarku sewot.
Meinar nyengir. “Cuma guyon kok, Zit. Eh, besok kamu mesti jaga lho. Bantu aku bebenah, oke?”
“Oke.” Aku mengangguk meski hati kecilku lebih suka kalau besok aku tidak hadir. Tapi…besok adalah hari terakhir acara pameran majalah dan Bazar. So, aku mesti membantu teman-temanku sesama redaksi majalah Fakultas Teknik, untuk membenahi segala sesuatunya. Rasanya, enggak solider kalau aku berpangku tangan hanya karena takut ketemu Aldi. Jadi, kalau toh besok aku bertemu dengan Aldi…ya, apa boleh buat.
**
“Zita.”
Aku mengangkat wajah. Oh my God! Dugaanku kemarin bahwa Aldi akan datang lagi menjadi kenyataan. Dan, sungguh mati aku tidak siap menyambut kedatangannya. Aku tidak tahu harus bicara apa. Yang kutahu, kaki dan tanganku mendadak dingin. Jantungku berdebur hebat. Ingin rasanya aku berlari tapi tidak bisa. Sorot mata Aldi bagai memenjarakan aku dalam keresahan yang pekat. Tuhan, lihatlah ….ada bias cinta di mata itu, juga segores luka.
“Lama ya kita nggak ketemu. Apa kabarmu, Zita?” Aldi tersenyum lembut dan mesra.
“Baik, “ sahutku kaku lalu menunduk.
“Aku mencarimu kemarin.”
“Aku tahu….”
“Kamu berubah, Zit. Kamu tidak suka kan bertemu denganku?” Pertanyaan Aldi diwarnai kekecewaan.
“Siapa bilang?” Aku mengangkat wajah. Menatapnya sedih.
“Kepergianmu yang tanpa pesan, tanpa meninggalkan alamat. Dan, sekarang….sikapmu yang kaku, dingin….”
“Aldi, apa maksudmu? Kamu menemuiku hanya ingin mengajakku bertengkar?” Desisku pelan,takut terdengar orang-orang yang lalu lalang di depan stand. Untunglah, Dea, Meinar dan Sani sedang ke WC sehingga hanya aku sendiri yang ada di stand.
“Zit, lima tahun lebih aku selalu mencarimu. Berharap kita bersatu kembali. Tapi, nyatanya….akh, aku tak mengerti, Zit. Mengapa kamu seolah-olah membenciku? Menghindariku? Apa salahku, Zit? Katakan….aku….,”
“Tidak ada yang salah, Al. “ Tukasku dengan hati perih. “Aku hanya tidak mencintaimu, “ dustaku. “Waktu aku menerima cintamu dulu, itu lantaran aku tak mau mengecewakanmu. Karena itu, setelah beberapa bulan kita pacaran, aku memutuskan hubungan. Dan, agar kamu bisa melupakanku, diam-diam aku pergi ke Jakarta. “ Lanjutku penuh kebohongan yang tiba-tiba muncul di otakku.
“Jadi….,” Aldi tampak terkejut. Bibirnya bergerak-gerak, tak mampu meneruskan ucapannya.
“Maafkan aku, Al. Seharusnya hal ini kukatakan sejak dulu.” Aku berkata datar.
Aldi terdiam. Aku menatapnya dengan pilu. Ah, wajah itu bagai diselimuti awan kelabu, muram dan bertabur luka. Ingin rasanya kubelai pipi tirusnya dan mendekapnya penuh cinta. Tapi itu tak mungkin kulakukan. Aku harus melupakannya. Harus!
“Bagaimana mungkin, Zit?” Tiba-tiba Aldi berkata lirih. “Aku tahu betul betapa kamu mencintaiku. Aku dapat merasakannya….”
“Jangan percaya pada perasaanmu, Al. Kamu harus menerima kenyataan.” Ujarku sedih. “Aku hanya pura-pura mencintaimu. Aku….”
“Terima kasih untuk kejujuranmu meskipun aku ragu, apakah ucapanmu itu sungguh-sungguh keluar dari sanubarimu yang terdalam. “ Sergah Aldi. Ditatapnya aku dengan mata berbalur luka. “Suatu hari nanti, aku pasti kembali, Zit…Aku yakin, kamu menyembunyikan sesuatu. Walau bibirmu berkata tidak, tapi matamu tidak dapat mendustaiku. Dan, aku berjanji akan mencari tahu apa yang kamu sembunyikan itu.” Nada suara Aldi mengandung tekad yang membara.
Aku tertegun mendengarnya. Suatu hari nanti…., bisik hatiku. Setelah berhasil menemukan apa yang tersembunyi itu, mungkinkah kamu masih mencintaiku, Al….?
Komentar
wakakakaka...... dasar gombal.....
aku lagi kangen sama seseorang
udah lama gak tahu kabarnya
aku juga sayang banget sama dia
sama kaya di cerita ini
sebenernya kangen dan pengin tahu kabarnya
hahahahaha
Sedangkan kita kerja kan karena tugas, makanya saya nggak mau macam2 dan selalu saya tekankan kepada TSK bahwa saya juga sekedar melaksanakan tugas. Kita nggak mau cari2 atau mengada ada.
hiiiiiiiiiii
moga aja aldi tetep ama cintanya ke zita biarpun udah tau alesannya zita kenapa jauhin aldi
duh jadi keikut sedih nih
Mbak,crtnya menyentuh bgt,,agk2 mirip dg aku,,jd sedih ni mbak,,hikz..
ai.ai.ai
mba ini terinspirasikan kisah nyata, ketika mba fani lagi kuliah ? wah jangan-jangan, jangan-jangan nih ... heuheuheu
ya memang rumit siy, cinta yg rumit kepentok korupsi....