PERJALANAN DI LEMBAH BUAH
Dua orang pemuda yang berprofesi sebagai pengumpul kayu bakar sedang melepas lelah di sebuah hutan ketika mereka melihat ada sebuah lembah yang sangat indah, tak jauh dari tempat mereka duduk berisitirahat.
“Bagaimana kalau kita berjalan melalui lembah itu? Kita kan belum pernah lewat sana.” Kata salah seorang pemuda.
“Baiklah, siapa tahu dari lembah itu ada jalan pintas yang lebih dekat untuk tiba di rumah.” Jawab temannya.
Keduanya pun mulai menuruni lembah dengan rasa dahaga dan lapar sambil memanggul kayu bakar di atas bahu.
Setibanya di lembah, mereka sangat kaget karena melihat begitu banyak buah-buahan yang ranum di lembah itu. Ada apel, jeruk, semangka, salak, mangga, nanas, sirsak, pisang dan beberapa buah-buahan lainnya yang tak mereka ketahui namanya. Semuanya sudah masak dan siap dipetik.
Tanpa berpikir panjang, mereka segera meletakkan kayu bakar mereka ke tanah dan mulai memetik buah-buahan itu dengan sangat cepat. Begitu asiknya mereka memetik buah-buahan itu sampai lupa hari telah menjelang sore dan perut mereka sangat kelaparan. Tiba-tiba, ada seorang kakek yang menegur mereka :
“Mengapa kalian begitu tergesa-gesa seperti ada yang mengejar? Siapapun yang lewat di lembah ini boleh mengambil dan memakan buah-buahan yang ada disini. Semuanya gratis. Berhentilah dulu sejenak. Cicipi buah pisang ini. Rasanya sangat manis. Atau..coba rasakan buah mangga yang disitu.” Si kakek menunjuk ke arah pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
Kedua pemuda itu pun tersentak sadar bahwa mereka terlalu sibuk memetik buah sehingga lupa menikmati lezatnya buah-buahan itu padahal mereka sangat lapar.
Begitu pula dengan kehidupan kita. Banyak sekali keindahan anugerah Tuhan yang tidak kita nikmati dengan tenang karena begitu sibuk berpacu dengan waktu mengejar ini dan itu. Kita menganggap berbincang-bincang atau rekreasi dengan anggota keluarga sebagai pemborosan waktu.
Keindahan dan keajaiban alam tidak membuat kita merenung sejenak tentang kasih dan kuasa Tuhan. Kita tidak menikmati hangatnya sinar mentari pagi dan merdunya rinai hujan di kala senja. Padahal, semuanya disediakan gratis oleh Sang Khalik.
Mengapa tidak memperlambat ritme hidup kamu dan mulai nikmati semua keindahan dari apa yang Tuhan karuniakan di dalam hidup ini?
“Bagaimana kalau kita berjalan melalui lembah itu? Kita kan belum pernah lewat sana.” Kata salah seorang pemuda.
“Baiklah, siapa tahu dari lembah itu ada jalan pintas yang lebih dekat untuk tiba di rumah.” Jawab temannya.
Keduanya pun mulai menuruni lembah dengan rasa dahaga dan lapar sambil memanggul kayu bakar di atas bahu.
Setibanya di lembah, mereka sangat kaget karena melihat begitu banyak buah-buahan yang ranum di lembah itu. Ada apel, jeruk, semangka, salak, mangga, nanas, sirsak, pisang dan beberapa buah-buahan lainnya yang tak mereka ketahui namanya. Semuanya sudah masak dan siap dipetik.
Tanpa berpikir panjang, mereka segera meletakkan kayu bakar mereka ke tanah dan mulai memetik buah-buahan itu dengan sangat cepat. Begitu asiknya mereka memetik buah-buahan itu sampai lupa hari telah menjelang sore dan perut mereka sangat kelaparan. Tiba-tiba, ada seorang kakek yang menegur mereka :
“Mengapa kalian begitu tergesa-gesa seperti ada yang mengejar? Siapapun yang lewat di lembah ini boleh mengambil dan memakan buah-buahan yang ada disini. Semuanya gratis. Berhentilah dulu sejenak. Cicipi buah pisang ini. Rasanya sangat manis. Atau..coba rasakan buah mangga yang disitu.” Si kakek menunjuk ke arah pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
Kedua pemuda itu pun tersentak sadar bahwa mereka terlalu sibuk memetik buah sehingga lupa menikmati lezatnya buah-buahan itu padahal mereka sangat lapar.
Begitu pula dengan kehidupan kita. Banyak sekali keindahan anugerah Tuhan yang tidak kita nikmati dengan tenang karena begitu sibuk berpacu dengan waktu mengejar ini dan itu. Kita menganggap berbincang-bincang atau rekreasi dengan anggota keluarga sebagai pemborosan waktu.
Keindahan dan keajaiban alam tidak membuat kita merenung sejenak tentang kasih dan kuasa Tuhan. Kita tidak menikmati hangatnya sinar mentari pagi dan merdunya rinai hujan di kala senja. Padahal, semuanya disediakan gratis oleh Sang Khalik.
Mengapa tidak memperlambat ritme hidup kamu dan mulai nikmati semua keindahan dari apa yang Tuhan karuniakan di dalam hidup ini?
Komentar
lapar secentong nasi, lapar secentong berlian, lapar segunung berlian, lapar satu pulau berlian....
yang didapat: 1 X 2 M tanah kuburan
Puas itu adanya di hati, maka bersihkanlah selalu hati kita (setuju nggak?)
Pmaaf yah mbak Fanny aku kebanyakan komentar pagi ini hehehe...
:p
merenung lagi disini, diingetin lagi atas kekhilafan. thx mba.. :)
serakah dan silau melihat yang lebih baik
Seperti pepatah
dikasih hati minta ampela, babat, otak, paru goreng, rendang, gulai tunjang masih nambah krupuk lagi
he..he
@Om Sugeng.
Aku setuju bngt dng pendapatnya.
Sebuah renungan yg bagus.
@itik bali :
Jam segini koq ngeblog, lg gak ada pelajaran ya???
[manggut2 kayak orang ngerti]
[kepala merunduk semakin dalam]
[zzz...zzz...zzz...]
[mata terbuka, kaget!]
[baca lagi dari depan]
[baru komeng:]
Hmmm... bahan renungan yang sepantasnya...
haduh! bagus sekali renunganya mbak.. thx
Mirip dgn kasus jual pulau di negara kita ini...
tp kalo bekerja keras demi kebahagian orang lain(keluarga) sehingga lupa menikmati atau cukup melihat mereka bahagia...
kayaknya pernah baca dimana ya? o disini(de ja vu)0
Selamat sore mb'Fanny
Kenapa kita tidak menikmati tiap hembusan nafas kita ya mbak?
klo aku yg ada di lemabah itu..
aku sih ga mau makan buah2an itu..
karena itu bukan milikku..
makanan yg bukan milik kita kan ga berkah..
tp emang kebanyakan orang pasti bakal seperti orang ada di dalam cerita itu..
duuh.jadi sedih T_T
Jadi diingatkan nih rasanya, apalagi beberapa hari ini aku pulang telat terus karena sibuk dg pekerjaan kantor shg aku tak bisa menikmati kebersamaanku dg keluarga..
saatnya bersyukur ...
daku sama kek JONK, mulanya kiranya humor..
tp sesuatu renungan^^