JUST THE WAY YOU ARE
Asal usul ide :
Aku pernah tinggal di gang sempit yang selokannya sering jadi WC umum bagi anak-anak balita. Letak rumah-rumah di gang sempit kan berdekatan banget tuh. Nah, aku sering terbangun mendengar jerit tangis bayi tetanggaku. Kadang, suka merasa malu tinggal di rumah yang lokasinya terletak di daerah kumuh. But, kalo aku ingat ‘masa-masa sukar’ itu, aku merasa bersyukur karena pernah mengalami kehidupan kayak gitu. Aku jadi selalu ‘eling’ dan gak merasa ‘jumawa’ ketika kesuksesan datang.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 21 Pebruari 1993

Ugh! Aku tersenak bangun oleh tangis bayi yang melengking tinggi. Kulirik weker di atas meja. Jam tujuh, masih pagi. Tidur lagi akh. Belum lima detik mataku terpejam, terdengar suara ribut-ribut diringi tangis bayi. Ampun! Inilah dukanya kalau tinggal di rumah yang letaknya berhimpitan dengan rumah tetangga. Berisik! Apalagi mbak Tuti yang tinggal di sebelah rumahku itu punya hobi berantem dengan suaminya. Sampai-sampai anaknya yang baru berusia beberapa bulan ikutan ribut. Cengeng! Ganggu orang tidur aja! Gerutuku dalam hati seraya bangkit dari tempat tidur.
Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar menuju halaman rumah yang super kecil. Hm, segar... Kuhiurup udara pagi sambil merentangkan tangan.
"Ma, e-eknya kok mencret?!" Seru seorang bocah sambil memandang selokan yang terletak di depan rumahku. Idih! Aku langsung tak bernafas. Pagi-pagi gini udah bikin polusi udara. Sebel! Dengan hati mangkel, aku masuk ke dalam rumah.
"Eh, sudah bangun." Tegur Hany, kakak sulungku.
"Banyak ayam jago sih, " kataku sambil membuat gerakan senam pagi.
"Sabar, Prim. Tinggal di 'gubuk derita' memang begini." Kak Hany memakai sepatunya "Tapi kalo dipikir-pikir, mbak Tuti dan bayinya berjasa Iho. Kalau enggak kamu bisa telat terus ke sekolah, " katanya lagi.
"Tul, Soalnya senyaring apapun wekerku bernyanyi nggak mampu membangunkan aku. " Ujarku geli.
"Tapi, kalau lagi libur begini, suara mereka mengganggu orang bobo," celetluk Eddy, adikku.
“Makanya, sekolah yang bener. Setelah lulus, kerja yang jujur. Kumpulin dokat banyak-banyak buat beli rumah mewah.” Erni, kakakku yang nomor dua muncul dari ruang tengah. “Yuk, kak Han…kita berangkat,” ajaknya pada kak Hany.
“Kerja yang rajin ya?” Ledekkku pada kak Hany dan kak Erni yang siap berangkat ke kantor. Mereka tersenyum mendengar ledekanku lalu melangkah keluar rumah. Ah, kakak-kakakku yang manis dan baik hati. Aku memerhatikan mereka, terharu. Mereka telah berkorban banyak untukku, Eddy dan mama. Sejak papa tiada, mereka berhenti kuliah untuk bekerja membiayai kami.
"Prima, cepat mandi! Hari ini giliranmu ke pasar!" Suara mama menyentakkan aku. Dengan malas, aku masuk ke kamar, ambil baju dan lain-lain, terus cibang cibung.
"Ini uangnya, Prim. Dan ini daftar belanjaan yang harus kamu beli.” Mama memberikan sejumlah uang dan sehelai kertas padaku, setelah aku siap ke pasar.
***
Sambil berjalan menuju pasar yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku, aku melamunkan teman-temanku. Ana, Mira dan Dina. Sedang apa ya mereka? Pasti masih bobo atau dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin juga lagi di luar negeri. Shopping, foto-foto dan…. akh, liburan mereka pasti menyenangkan. Kapan ya, aku bisa seperti mereka? Menikmati liburan kenaikan kelas dengan jalan-jalan sepuasnya. Tanpa mesti ke pasar yang becek, ramai dan baunya aneka ragam.
Ciiitt!!! Uf, aku melompat ke samping. Jantungku berdegup keras. Wajahku mungkin sudah seperti mayat saking pucatnya.
"Hati-hati, non! Kalau lagi jalan jangan mikirin do’i!" ujar si pengemudi mobil. Aku diam saja. Terlalu kaget untuk bicara.
**
Dengan semangat 66, aku berjalan masuk ke kelasku II Sos l. Hmm, alangkah senangnya kembali ke bangku sekolah, setelah liburan panjang yang amat membosankan. Alangkah kangennya aku pada Mira yang lembut, Dina yang jangkung, Ana yang ....
"Hai, Prim! " Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. Ana, si centil mungil tersenyum padaku. “Tambah putih aja kau.” Katanya sambil menggandeng tanganku, mengajak ke bangkunya.
“Gimana nggak putih, disekap terus sih.” Kataku sebal. “Kalau liburan ditambah satu hari lagi, aku bisa gila karena rekreasinya ke pasar melulu.”
“Sudah, jangan ngeluh. Nanti, kalau sudah bisa cari dokat, puasin deh dirimu keluyuran di seantero dunia.” Ana menepuk punggungku.
“Eh, Prima….makin jelek kok!” Seru Dina yang baru datang bersama Mira.
“Iya nih, ketularan kamu sih!” Ledekku membalas. Dina tertawa.
“Prim, Ana…di kelas kita ada murid baru lho!” Bisiknya lalu menengok ke pintu kelas. “Tuh, dia orangnya. Kece ya? Baby face. Mirip Tommy Page.”
Astaga! Itu ‘kan ….aku memandang murid baru itu, kaget.
“Hallo non….Ketemu lagi nih! Masih suka ngelamun?” Belum hilang rasa kagetku, Tommy Page Jakarta itu telah menghampiriku yang tentu saja terbengong-bengong.
“Wah, rupanya kamu kenal dia ya…?” Kata Ana pelan.
“Eh, kita belum kenalan. Aku, Deny. Kamu?” Cowok itu mengulurkan tangannya.
“Prima,” sahutku gugup tanpa membalas uluran tangannya.
“Prima, hmm…namamu unik. Seunik dan semenarik pemiliknya.” Puji Deny membuatku tersipu.
“Ehem, kita ke kantin yok! Haus nih!” Ana bangkit berdiri. Disambarnya tangan Mira dan Dina.
“Aku ikut, “ kataku cepat sambil menarik tangan Ana.
“Kamu di sini aja, ngobrol-ngobrol denganku.” Ujar Deny.
“Iya, ‘kan asik berdua aja.” Goda Dina kemudian bergegas mengajak Ana dan Mira berlalu.
Deny….Deny…ah, anak itu ramah dan simpatik. Lalu, seperti kisah dalam cerpen-cerpen remaja, aku jatuh cinta. Dan, cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Kamipun menjadi sepasang kekasih yang mesra.
Aku bahagia sekali. Hari-hari yang lewat terasa semarak dan penuh wangi bunga asmara. Dunia cinta memang indah. Dunia penuh rona. Ceria. Tapi….
“Prima, malam minggu besok aku mau ke rumahmu. Kenalan sama ortu dan saudara-saudaramu.” Kata-kata Deny inilah yang telah mengurangi kebahagiaanku. Keinginannya untuk datang ke rumahku dan berkenalan dengan mama dan saudara-saudaraku kerapkali mengusikku.
“Boleh ya, Prim? Tunggu aku jam tujuh malam.” Suara Deny menyentakkan aku.
“Jangan Deny. Mamaku…,” Aku menatapnya gugup.
“Melarang kita pacaran? Bosan, selalu itu alasanmu untuk mencegahku datang ke rumahmu!” Bentak Deny, kasar. “Jangan membohongiku, Prim. Aku tahu mamamu bukan orang tua yang kuno. Beliau pasti merestui hubungan kita.”
“Kau yakin?”
“Ya. Mira pernah cerita padaku tentang mamamu. Dia bilang mamamu baik dan pengertian. Jadi nggak mungkin melarang kita pacaran. Buktinya, hubunganmu dengan Martin..”
“Cukup, Den! Apa maksudmu mengorek masa laluku?” tukasku kesal.
“Aku nggak pernah berniat mengorek masa lalumu, tapi aku ingin tahu, mengapa kau begitu gigih melarangku datang ke rumahmu? Apakah hanya karena takut pada mamamu? Aku nggak percaya, Prim. Lalu mewawancarai Mira. Ternyata…ah, aku nggak ngerti. Apa maksudmu membohongi aku? Apakah aku salah apel ke rumah pacarku sendiri? “ Pertanyaan Deny membuatku diam. Tak tahu harus berkata apa.
“Kenapa diam? Ayo jawab! Apakah salah…..,”
“Jangan paksa aku, Den!” Sentakku lalu berlari meninggalkannya.
**
Aku memandang jam dinding dengan resah. Pukul tujuh kurang beberapa menit. Ah, apakah Deny akan datang? Semoga tidak, harapku resah. Semoga dia marah karena sikapku kemarin siang sehingga tidak jadi datang. Tapi…tapi…kalau dia datang…
“Gelisah amat Prim, “ Tegur kak Hany. Dinyalakannya televisi. “Nunggu pacar ya?” tanyanya sambil mengecilkan volume suara.
“Wuih, kak Prima punya pacar. Udah nggak patah lagi dong.” Goda Eddy.
“Siapa sih namanya? Kenalin dong!” Kak Erni ikutan meledek.
Aku diam saja. Masuk ke kamarku dengan perasaan galau. Tuhan, jangan biarkan ia datang. Jangan biarkan ia melihat keadaanku yang miskin ini. Cukup satu kali saja aku kecewa. Jangan lagi….
“Prima, “ kak Hany masuk ke kamarku. Aku menoleh seraya duduk di pembaringan. “Ada apa sih?” tanya kak Hany sambil menutup pintu.
“Deny mau datang, kak.” Jawabku pelan.
“Deny? Siapa? Pacarmu?”
Aku mengangguk. Kak Hany duduk di sampingku. “Kalau gitu, cepat ganti pakaianmu, “ katanya.
“Ah, enggak perlu! Aku nggak mengharapkan dia datang kok. “ Ujarku ketus.
“Lho, baru pacaran kok udah ribut?”
“Abis, dia bandel sih! Udah dilarang jangan ke rumah, eh masih….”
“Dilarang? Kakak jadi nggak ngerti nih.”
“Aku nggak mau dia ke rumah kak. Aku takut peristiwa itu terulang kembali.” Sahutku resah.
“Prima, enggak semua lelaki seperti Martin yang hanya melihat kekayaan. Kalau Deny benar-benar mencintaimu, dia nggak akan peduli dengan rumah kita. Mau jelek kek, mewah kek….”
“Tapi, kak…”
“Prima, pacarmu datang!”
Ups! Aku segera berdiri. Kutatap kak Hany dengan bingung.
“Kak, bilang aja Prima lagi tidur,” kataku memohon.
“Prima….Prima…kalau mau ngibul yang pintar dong. Si Erni udah teriak-teriak gitu. Pasti Deny tahu kamu nggak tidur.”
“Aduh, jadi gimana dong?” Aku duduk di kursi, tak berdaya.
“Ganti baju dan temui dia. Toh, dia sudah tahu rumah kita seperti apa. “ Suara kak Hany tegas. Aku termangu. Mengetuk-ngetuk meja belajar dengan jari-jari tangan.
“Tunggu apa lagi non? Hadapilah dengan senyum.” Kak Hany meraih daguku dengan sayang.
Perlahan, aku berjalan ke ruang tamu. Sengaja kupasang tampang sekecut mungkin.
“Hei, kamu kenapa Prim? Habis minum cuka ya? Kok, cemberut gitu?” Tegur Deny sambil tersenyum mesra. Cowok itu duduk dengan santainya di sofa panjang yang modelnya sudah ketinggalan jaman. Lusuh dan pudar warnanya.
“Aku suka rumahmu, Prim. Kecil mungil tapi rapi dan bersih. “ Katanya lalu menyeruput teh manis yang dihidangkan kak Erni.
“Jangan menghina. Rumah jelek begini…”
“Biar jelek, asal dijaga kebersihannya pasti terasa nyaman,” Tukas Deny. Diperhatikannya aku dengan seksama. “Ini bukan merayu, Prim..Hari ini kamu tampak memesona dengan jins belel dan kaos hitam bersulam bunga. Serasi dengan kulitmu yang putih bersih. “ Ujarnya membuat pipiku panas seketika. Padahal, aku sengaja memakai jins dan kaos ini. Biar jelek, biar nggak menarik dan Deny cepat-cepat angkat kaki. Eh……
“Duduklah, Prim. Kenapa berdiri terus? Kamu sudah cukup tinggi kok.” Goda Deny. Aku mendengus sebal sembari duduk berhadapan dengannya.
“Kita ngobrol-ngobrol di sini aja ya? Nggak usah nonton. “ Kata Deny lagi.
“Kamu suka rumah ini, Den?” Tanyaku masih nggak percaya dengan sikapnya. Deny mengangguk.
“Berapa kali aku harus bilang, nona? “ Tanyanya. Aku tersenyum.
“Kalau gitu, maafkan aku ya?” Ujarku lirih.
“Maaf?” Deny menatapku tak mengerti.
“Ya, aku telah berprasangka yang tidak-tidak terhadapmu. Aku nggak mengijinkan kamu ke rumahku, sebab aku takut kamu seperti Martin yang meninggalkanku setelah melihat keadaanku. Apalagi kamu anak orang kaya. Aku malu…”
“Prima…, “ Deny tersenyum lembut. “Aku menyayangimu sebagaimana kamu adanya. Just the way you are, Prim. Enggak peduli kamu kaya atau miskin.”
“Oooo, I love you…just the way you are….!” Teriak seseorang dari ruang dalam.
“Brengsek!” Aku mengomel dengan wajah memanas.
“Siapa, Prim?” Tanya Deny.
“Eddy, adikku yang suka nguping!” Jawabku setengah berteriak.
“Siapa yang nguping? Kedengaran sendiri kok!” Seru Eddy jahil.
Aku tersenyum kecut. “Inilah akibatnya kalau rumah terlalu kecil, “ kataku pelan. Deny tertawa.
“Kalau gitu, ngomongnya bisik-bisik aja.” Ujarnya lebih pelan dari suaraku. “Lebih mesra lagi…,” Dia mengedipkan mata. Aku mendelik gemas, tapi tak mampu berbuat apa-apa sebab telinga Eddy pasti masih tegak, siap mencuri dengar percakapan kami.
Aku pernah tinggal di gang sempit yang selokannya sering jadi WC umum bagi anak-anak balita. Letak rumah-rumah di gang sempit kan berdekatan banget tuh. Nah, aku sering terbangun mendengar jerit tangis bayi tetanggaku. Kadang, suka merasa malu tinggal di rumah yang lokasinya terletak di daerah kumuh. But, kalo aku ingat ‘masa-masa sukar’ itu, aku merasa bersyukur karena pernah mengalami kehidupan kayak gitu. Aku jadi selalu ‘eling’ dan gak merasa ‘jumawa’ ketika kesuksesan datang.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 21 Pebruari 1993

Ugh! Aku tersenak bangun oleh tangis bayi yang melengking tinggi. Kulirik weker di atas meja. Jam tujuh, masih pagi. Tidur lagi akh. Belum lima detik mataku terpejam, terdengar suara ribut-ribut diringi tangis bayi. Ampun! Inilah dukanya kalau tinggal di rumah yang letaknya berhimpitan dengan rumah tetangga. Berisik! Apalagi mbak Tuti yang tinggal di sebelah rumahku itu punya hobi berantem dengan suaminya. Sampai-sampai anaknya yang baru berusia beberapa bulan ikutan ribut. Cengeng! Ganggu orang tidur aja! Gerutuku dalam hati seraya bangkit dari tempat tidur.
Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar menuju halaman rumah yang super kecil. Hm, segar... Kuhiurup udara pagi sambil merentangkan tangan.
"Ma, e-eknya kok mencret?!" Seru seorang bocah sambil memandang selokan yang terletak di depan rumahku. Idih! Aku langsung tak bernafas. Pagi-pagi gini udah bikin polusi udara. Sebel! Dengan hati mangkel, aku masuk ke dalam rumah.
"Eh, sudah bangun." Tegur Hany, kakak sulungku.
"Banyak ayam jago sih, " kataku sambil membuat gerakan senam pagi.
"Sabar, Prim. Tinggal di 'gubuk derita' memang begini." Kak Hany memakai sepatunya "Tapi kalo dipikir-pikir, mbak Tuti dan bayinya berjasa Iho. Kalau enggak kamu bisa telat terus ke sekolah, " katanya lagi.
"Tul, Soalnya senyaring apapun wekerku bernyanyi nggak mampu membangunkan aku. " Ujarku geli.
"Tapi, kalau lagi libur begini, suara mereka mengganggu orang bobo," celetluk Eddy, adikku.
“Makanya, sekolah yang bener. Setelah lulus, kerja yang jujur. Kumpulin dokat banyak-banyak buat beli rumah mewah.” Erni, kakakku yang nomor dua muncul dari ruang tengah. “Yuk, kak Han…kita berangkat,” ajaknya pada kak Hany.
“Kerja yang rajin ya?” Ledekkku pada kak Hany dan kak Erni yang siap berangkat ke kantor. Mereka tersenyum mendengar ledekanku lalu melangkah keluar rumah. Ah, kakak-kakakku yang manis dan baik hati. Aku memerhatikan mereka, terharu. Mereka telah berkorban banyak untukku, Eddy dan mama. Sejak papa tiada, mereka berhenti kuliah untuk bekerja membiayai kami.
"Prima, cepat mandi! Hari ini giliranmu ke pasar!" Suara mama menyentakkan aku. Dengan malas, aku masuk ke kamar, ambil baju dan lain-lain, terus cibang cibung.
"Ini uangnya, Prim. Dan ini daftar belanjaan yang harus kamu beli.” Mama memberikan sejumlah uang dan sehelai kertas padaku, setelah aku siap ke pasar.
***
Sambil berjalan menuju pasar yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku, aku melamunkan teman-temanku. Ana, Mira dan Dina. Sedang apa ya mereka? Pasti masih bobo atau dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin juga lagi di luar negeri. Shopping, foto-foto dan…. akh, liburan mereka pasti menyenangkan. Kapan ya, aku bisa seperti mereka? Menikmati liburan kenaikan kelas dengan jalan-jalan sepuasnya. Tanpa mesti ke pasar yang becek, ramai dan baunya aneka ragam.
Ciiitt!!! Uf, aku melompat ke samping. Jantungku berdegup keras. Wajahku mungkin sudah seperti mayat saking pucatnya.
"Hati-hati, non! Kalau lagi jalan jangan mikirin do’i!" ujar si pengemudi mobil. Aku diam saja. Terlalu kaget untuk bicara.
**
Dengan semangat 66, aku berjalan masuk ke kelasku II Sos l. Hmm, alangkah senangnya kembali ke bangku sekolah, setelah liburan panjang yang amat membosankan. Alangkah kangennya aku pada Mira yang lembut, Dina yang jangkung, Ana yang ....
"Hai, Prim! " Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. Ana, si centil mungil tersenyum padaku. “Tambah putih aja kau.” Katanya sambil menggandeng tanganku, mengajak ke bangkunya.
“Gimana nggak putih, disekap terus sih.” Kataku sebal. “Kalau liburan ditambah satu hari lagi, aku bisa gila karena rekreasinya ke pasar melulu.”
“Sudah, jangan ngeluh. Nanti, kalau sudah bisa cari dokat, puasin deh dirimu keluyuran di seantero dunia.” Ana menepuk punggungku.
“Eh, Prima….makin jelek kok!” Seru Dina yang baru datang bersama Mira.
“Iya nih, ketularan kamu sih!” Ledekku membalas. Dina tertawa.
“Prim, Ana…di kelas kita ada murid baru lho!” Bisiknya lalu menengok ke pintu kelas. “Tuh, dia orangnya. Kece ya? Baby face. Mirip Tommy Page.”
Astaga! Itu ‘kan ….aku memandang murid baru itu, kaget.
“Hallo non….Ketemu lagi nih! Masih suka ngelamun?” Belum hilang rasa kagetku, Tommy Page Jakarta itu telah menghampiriku yang tentu saja terbengong-bengong.
“Wah, rupanya kamu kenal dia ya…?” Kata Ana pelan.
“Eh, kita belum kenalan. Aku, Deny. Kamu?” Cowok itu mengulurkan tangannya.
“Prima,” sahutku gugup tanpa membalas uluran tangannya.
“Prima, hmm…namamu unik. Seunik dan semenarik pemiliknya.” Puji Deny membuatku tersipu.
“Ehem, kita ke kantin yok! Haus nih!” Ana bangkit berdiri. Disambarnya tangan Mira dan Dina.
“Aku ikut, “ kataku cepat sambil menarik tangan Ana.
“Kamu di sini aja, ngobrol-ngobrol denganku.” Ujar Deny.
“Iya, ‘kan asik berdua aja.” Goda Dina kemudian bergegas mengajak Ana dan Mira berlalu.
Deny….Deny…ah, anak itu ramah dan simpatik. Lalu, seperti kisah dalam cerpen-cerpen remaja, aku jatuh cinta. Dan, cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Kamipun menjadi sepasang kekasih yang mesra.
Aku bahagia sekali. Hari-hari yang lewat terasa semarak dan penuh wangi bunga asmara. Dunia cinta memang indah. Dunia penuh rona. Ceria. Tapi….
“Prima, malam minggu besok aku mau ke rumahmu. Kenalan sama ortu dan saudara-saudaramu.” Kata-kata Deny inilah yang telah mengurangi kebahagiaanku. Keinginannya untuk datang ke rumahku dan berkenalan dengan mama dan saudara-saudaraku kerapkali mengusikku.
“Boleh ya, Prim? Tunggu aku jam tujuh malam.” Suara Deny menyentakkan aku.
“Jangan Deny. Mamaku…,” Aku menatapnya gugup.
“Melarang kita pacaran? Bosan, selalu itu alasanmu untuk mencegahku datang ke rumahmu!” Bentak Deny, kasar. “Jangan membohongiku, Prim. Aku tahu mamamu bukan orang tua yang kuno. Beliau pasti merestui hubungan kita.”
“Kau yakin?”
“Ya. Mira pernah cerita padaku tentang mamamu. Dia bilang mamamu baik dan pengertian. Jadi nggak mungkin melarang kita pacaran. Buktinya, hubunganmu dengan Martin..”
“Cukup, Den! Apa maksudmu mengorek masa laluku?” tukasku kesal.
“Aku nggak pernah berniat mengorek masa lalumu, tapi aku ingin tahu, mengapa kau begitu gigih melarangku datang ke rumahmu? Apakah hanya karena takut pada mamamu? Aku nggak percaya, Prim. Lalu mewawancarai Mira. Ternyata…ah, aku nggak ngerti. Apa maksudmu membohongi aku? Apakah aku salah apel ke rumah pacarku sendiri? “ Pertanyaan Deny membuatku diam. Tak tahu harus berkata apa.
“Kenapa diam? Ayo jawab! Apakah salah…..,”
“Jangan paksa aku, Den!” Sentakku lalu berlari meninggalkannya.
**
Aku memandang jam dinding dengan resah. Pukul tujuh kurang beberapa menit. Ah, apakah Deny akan datang? Semoga tidak, harapku resah. Semoga dia marah karena sikapku kemarin siang sehingga tidak jadi datang. Tapi…tapi…kalau dia datang…
“Gelisah amat Prim, “ Tegur kak Hany. Dinyalakannya televisi. “Nunggu pacar ya?” tanyanya sambil mengecilkan volume suara.
“Wuih, kak Prima punya pacar. Udah nggak patah lagi dong.” Goda Eddy.
“Siapa sih namanya? Kenalin dong!” Kak Erni ikutan meledek.
Aku diam saja. Masuk ke kamarku dengan perasaan galau. Tuhan, jangan biarkan ia datang. Jangan biarkan ia melihat keadaanku yang miskin ini. Cukup satu kali saja aku kecewa. Jangan lagi….
“Prima, “ kak Hany masuk ke kamarku. Aku menoleh seraya duduk di pembaringan. “Ada apa sih?” tanya kak Hany sambil menutup pintu.
“Deny mau datang, kak.” Jawabku pelan.
“Deny? Siapa? Pacarmu?”
Aku mengangguk. Kak Hany duduk di sampingku. “Kalau gitu, cepat ganti pakaianmu, “ katanya.
“Ah, enggak perlu! Aku nggak mengharapkan dia datang kok. “ Ujarku ketus.
“Lho, baru pacaran kok udah ribut?”
“Abis, dia bandel sih! Udah dilarang jangan ke rumah, eh masih….”
“Dilarang? Kakak jadi nggak ngerti nih.”
“Aku nggak mau dia ke rumah kak. Aku takut peristiwa itu terulang kembali.” Sahutku resah.
“Prima, enggak semua lelaki seperti Martin yang hanya melihat kekayaan. Kalau Deny benar-benar mencintaimu, dia nggak akan peduli dengan rumah kita. Mau jelek kek, mewah kek….”
“Tapi, kak…”
“Prima, pacarmu datang!”
Ups! Aku segera berdiri. Kutatap kak Hany dengan bingung.
“Kak, bilang aja Prima lagi tidur,” kataku memohon.
“Prima….Prima…kalau mau ngibul yang pintar dong. Si Erni udah teriak-teriak gitu. Pasti Deny tahu kamu nggak tidur.”
“Aduh, jadi gimana dong?” Aku duduk di kursi, tak berdaya.
“Ganti baju dan temui dia. Toh, dia sudah tahu rumah kita seperti apa. “ Suara kak Hany tegas. Aku termangu. Mengetuk-ngetuk meja belajar dengan jari-jari tangan.
“Tunggu apa lagi non? Hadapilah dengan senyum.” Kak Hany meraih daguku dengan sayang.
Perlahan, aku berjalan ke ruang tamu. Sengaja kupasang tampang sekecut mungkin.
“Hei, kamu kenapa Prim? Habis minum cuka ya? Kok, cemberut gitu?” Tegur Deny sambil tersenyum mesra. Cowok itu duduk dengan santainya di sofa panjang yang modelnya sudah ketinggalan jaman. Lusuh dan pudar warnanya.
“Aku suka rumahmu, Prim. Kecil mungil tapi rapi dan bersih. “ Katanya lalu menyeruput teh manis yang dihidangkan kak Erni.
“Jangan menghina. Rumah jelek begini…”
“Biar jelek, asal dijaga kebersihannya pasti terasa nyaman,” Tukas Deny. Diperhatikannya aku dengan seksama. “Ini bukan merayu, Prim..Hari ini kamu tampak memesona dengan jins belel dan kaos hitam bersulam bunga. Serasi dengan kulitmu yang putih bersih. “ Ujarnya membuat pipiku panas seketika. Padahal, aku sengaja memakai jins dan kaos ini. Biar jelek, biar nggak menarik dan Deny cepat-cepat angkat kaki. Eh……
“Duduklah, Prim. Kenapa berdiri terus? Kamu sudah cukup tinggi kok.” Goda Deny. Aku mendengus sebal sembari duduk berhadapan dengannya.
“Kita ngobrol-ngobrol di sini aja ya? Nggak usah nonton. “ Kata Deny lagi.
“Kamu suka rumah ini, Den?” Tanyaku masih nggak percaya dengan sikapnya. Deny mengangguk.
“Berapa kali aku harus bilang, nona? “ Tanyanya. Aku tersenyum.
“Kalau gitu, maafkan aku ya?” Ujarku lirih.
“Maaf?” Deny menatapku tak mengerti.
“Ya, aku telah berprasangka yang tidak-tidak terhadapmu. Aku nggak mengijinkan kamu ke rumahku, sebab aku takut kamu seperti Martin yang meninggalkanku setelah melihat keadaanku. Apalagi kamu anak orang kaya. Aku malu…”
“Prima…, “ Deny tersenyum lembut. “Aku menyayangimu sebagaimana kamu adanya. Just the way you are, Prim. Enggak peduli kamu kaya atau miskin.”
“Oooo, I love you…just the way you are….!” Teriak seseorang dari ruang dalam.
“Brengsek!” Aku mengomel dengan wajah memanas.
“Siapa, Prim?” Tanya Deny.
“Eddy, adikku yang suka nguping!” Jawabku setengah berteriak.
“Siapa yang nguping? Kedengaran sendiri kok!” Seru Eddy jahil.
Aku tersenyum kecut. “Inilah akibatnya kalau rumah terlalu kecil, “ kataku pelan. Deny tertawa.
“Kalau gitu, ngomongnya bisik-bisik aja.” Ujarnya lebih pelan dari suaraku. “Lebih mesra lagi…,” Dia mengedipkan mata. Aku mendelik gemas, tapi tak mampu berbuat apa-apa sebab telinga Eddy pasti masih tegak, siap mencuri dengar percakapan kami.
Komentar
komen dulu ah
hihi
5 perkara sebelum 5 perkara mbak
salah satunya itu
"lapang sebelum sempit" atau sebaliknya
kalu ada orang rese, pasti langsing ku jitang nguping mulu
baru baca dikit,aqu lagi jadi panitia un
sampe ada tommy page juga di situ... hihihih..
*yg diatas url-nya salah :p*
panasnya matahari membakar telapak kaki siang itu disebuah terminal yg tak rapi..kok malah nyanyi huahahaha
Wah taun 93 bener2 masih ABG tuh :D
"yg lg diperbaiki orangnya mb'jadi agak lama¡¿"
Btw mbak,stock cerpennya berapa gudang sih?
he-he-he
rumah sempit tapi kalau keluarga harmonis seh gak papa mbak.....
aq juga suka mencuri denger kakakku pacaran loh dari dalam kamarku, abisnya kamarku pas dibelakang ruangtamu, hihihihihi
semua bisa jadi inspirasi certia yang bagus-bagus...
mengalami masa sukar, bisa membuat kita lebih mensyukuri kenikmatan yang ada....
eh tapi bener juga kalau rumahnya berdekatan kayak gitu, gak usah beli weker :P