HATI MAMA (Bagian III)

Kisah sebelumnya : Tekad Fini semakin bulat untuk ikut hiking tanpa ijin mama. Tapi...suatu hari dia memasuki kamar kerja mamanya dan menemukan sebuah diary. Apakah isi diary itu? Rahasia apa yang terdapat di dalamnya?


Akh, bodo deh! Baca aja! Mumpung mama lagi pergi. Pingin tahu juga nih rahasia mama. Boleh ‘kan?

Tidak ada yang istimewa. Halaman-halaman pertama hanya berisi kisah ketika aku masih SMP dan suka duka mama menjadi wanita karir. Tapi…di halaman tengah, aku sempat terhenyak.

16 Oktober

Betapa sulitnya menjaga seorang anak gadis yang tengah mekar-mekarnya. Tanpa setahuku, Fini menjalin tali kasih dengan seorang teman prianya yang ..ampun! Gaya dan penampilannya mirip penyanyi metal. Kurus kering,tinggi, rambut awul-awulan dan bibirnya seperti kereta api. Merokok teruusss….

Heran! Bagaimana mungkin, Fini-ku yang manis itu bisa kecantol dengan pemuda urakan begitu. Oh, aku mesti memutuskan hubungan mereka. Fini-ku yang mungil masih terlalu hijau untuk mengenal cinta.

Ah, rupanya mama selalu menulis kejadian tentang diriku. Ya, aku ingat. Rino (cowok yang kata mama ‘urakan’) adalah cowok pertama dalam hidupku. Wah, aku cinta mati sama dia. Aku suka dengan gayanya yang ugal-ugalan dan kadang agak sableng. Bagiku, cowok tipe begitulah yang jantan. Rino memang terkenal jago berantem. Sayang, mama tidak mengijinkan kami pacaran. Tepatnya lagi melarang mati-matian. Salah satu catatan di buku ini menunjukkan betapa mama amat membenci Rino.

20 Oktober

Aku tak dapat menahan perasaanku ketika malam ini Rino datang untuk ke dua kalinya ke rumah. Anak itu sama sekali tidak tahu sopan santun. Di rumahku dia berani membuang puntung rokok seenaknya. Waktu aku sengaja keluar melewati ruang tamu tempat dia dan Fini duduk, sama sekali tak ada sepatah kata dari mulutnya untuk menegurku. Kurang ajaaar!! Dianggap apa aku ini?

“Fin!” Seruku kesal ketika aku masuk kembali ke dalam dan tetap tidak mendapat teguran dari Rino. “Sudah pukul 8, ayo pergi tidur!”

Lucu memang perintahku. Tapi aku benar-benar keki hingga tak peduli lagi pada tatapan Fini yang aku yakin menyimpan sejuta tanya.
“Mama mimpi ya? Fini ‘kan biasanya tidur jam 10.” Fini memandangku, bingung.

“Sudah! Pokoknya malam ini kamu harus tidur lebih awal.” Aku malah kesal dengan pertanyaan Fini.
“Mama kenapa sih? Kok….,”
“Puntung rokok itu!” Aku memotong dengan emosi yang makin sulit dikendalikan. “Mama tidak suka ruangan ini dijadikan tempat sampah!”

Tampaknya Fini mengerti maksudku. Dioa membisiki Rino. Selanjutnya, Rino memungut puntung rokoknya dan dengan tenang pamit padaku, tanpa sepatah kata minta maaf. Tentu saja, aku cuma mendengus sambil membuang muka.

Malam ini setelah Rino pulang, aku dan Fini ribut besar. Anak itu membela Rino. Huh! Makin hari dia makin sulit diatur.

Aku tersenyum geli membaca catatan yang ditulis dengan huruf agak semrawut (menandakan emosi mama yang bergolak). Peristiwa itu sudah lewat setahun, tapi membaca catatan ini, mau tak mau memori yang telah lama aku kubur itu terbayang lagi.

Bagaimana tampang mama saat itu? Bagaimana tampanku? Ah, sama-sama merah menahan marah. Lucu dan tak mungkin sirna dari benakku, karena semua ucapan mama tentang Rino benar 100 persen.

Semua nasihat mama padaku tentang hubunganku dengan Rino tidak meleset. Sebulan sesudah kejadian itu, Rino beralih pada gadis lain. Oh…malunya. Padahal aku pernah ngotot membelanya di hadpaan mama. Namun mama sungguh berhati emas. Beliau tidak merasa menang meskipun terbukti ucapannya benar. Bahkan, di saat-saat aku merasa patah karena ulah Rino, mamalah yang menghiburku.

Masih dengan perasaan haru akan kasih mama, aku membalik lembaran berikutnya. Membacanya sekilas, tidak ada yang menarik. Tiba di halaman bertahun 1996, aku berhenti membalik.

7 Januari
Fajar tahun 1996 masih hangat tapi Fini sudah bikin pusing. Dia minta ijin ke diskotik. Sampai pulang pagi pula. Aku bengon sesaat. Lalu menolak memberinya ijin. Fini ngambek.
“Sekali ini, ma.” Rengeknya. Aku tetap tidak mengijinkan Fini. Fini makin merengek. Akhirnya aku tidak tega dan mengijinkannya pergi, tapi dengan syarat : tidak pulang pagi. Fini setuju.

Malam ini pun aku tidak bisa tidur, cemas memikirkan Fini yang mungkin masih asik berjingkrak-jingkrak. Lebih cemas lagi, setelah pukul dua Fini belum pulang.

8 Januari
Pukul tiga, Fini kembali. Wajahnya nampak letih namun menyimpan rasa puas. Tanpa ba bi bu lagi, aku memarahinya. Fini – seperti biasa – membela diri. Katanya, dia dipaksa teman-temannya berajojing sampai pagi. Aku tak mau tahu alasannya. Dia sudah melanggar janjinya dan itu berarti hukuman akan menyambutnya. Dua minggu, Fini tidak boleh ke luar rumah, kecuali ke sekolah. Ning, kakakku yang belum menikah dan paling anti terhadap gadis-gadis binal, kuminta untuk mengantar jemput Fini.


Kembali aku tersenyum setelah membaca catatan itu. Mama memang lihai. Dia tahu aku paling tidak bisa diam di rumah, meski hanya dua minggu. Tapi aku tidak jera. Tanpa setahu mama, aku sering pergi ke diskotik. Caranya : aku pura-pura nginap di rumah Karen dengan alasan ingin belajar buat ulangan. Mama setuju saja. Beliau kenal Karen dan sangat menyukai sahabatku itu.

Jadi..tidak ada halangan untukku. Padahal sih, aku menginap di rumah Dewi, si Ratu Disko. Dan untuk kenakalan yang satu ini, Karen cukup murah hati padaku. Dia tidak pernah mengadu pada mama, meskipun akibat ulahku ini,dia terpaksa berdusta bila mama tanya macam-macam tentang diriku selama satu hari menginap di rumahnya.

Hmm…tiba-tiba, aku ingin tahu isi hati mama tentang permintaan ijinku untuk ikut hiking. Aku ingin tahu mengapa mama tidak mengijinkan aku. Cepat-cepat, aku mencari halaman terakhir. Nah, ini dia ketemu.

1 Juni
Hiking? Oh, Tuhan….lagi-lagi Fini membuat kepalaku pecah. Tidak tahukah dia kalau belum lama ini 6 orang anak STM Pembangunan telah tersesat di gunung Salak dan ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa? Akh, dengan terpaksa aku tidak memberinya ijin. Yah, aku tidak mau kehilangan dia. Aku sangat mencintainya.

4 Juni
Sia-sia! Apa artinya kau membanting tulang hingga mencapai puncak karir sebagai Direktris yang disegani? Apa artinya perjuanganku selama ini? Apa artinya pengorbananku? Aku menjanda sekian tahun dan berjuang sendiri untuk membiayai hidup Fini, untuk membahagiakannya. Dan…menolak semua lelaki yang ingin menggantikan almarhum suamiku demi Fini. Tetapi…anak itu malah mengecewakan aku.

Karen, sahabatnya memberitahukan aku mengenai rencana Fini. Aku terkejut. Sedih dan kecewa. Fini, mengapa kamu tidak mau mengerti betapa aku sangat menyayangimu? Kamu membohongi mama, membohongi Karen,hanya untuk satu keinginan yang tak dapat kupenuhi. Akh, kian hari…kamu semakin sulit diatur, nak. Dan…aku senantiasa dihantui kecemasan….

Aku letih, Fini…. Permata hatiku….berhentilah membuatku sedih…..

Aku merasakan mataku memanas. Mama….oh, ternyata begitu banyak hal yang belum kuketahui tentang dirimu. Ternyata begitu besar cinta dan perhatianmu untukku. Selama ini aku telah salah mengartikan segala laranganmu. Aku merasa dikekang. Padahal maksudmu baik. Oh, betapa kejamnya aku. Entah berapa kali aku menyakiti hatimu, mama. Membuatmu sedih dan kecewa. Kini aku mengerti ma…Aku menyesal…

Perlahan, aku menutup diary itu. Maafkan aku…ma….Bisikku pelan. Dan, tiba-tiba aku tak bersemangat lagi untuk ikut hiking. Aku akan membatalkannya demi mama. Demi cintaku padanya.

TAMAT

Komentar

SI JEPIT mengatakan…
keduaxxx juga
btw nama panggilan mbak fanni fini ya
bunga raya mengatakan…
jadikan ku yang kedua,tapi ku tetap bahagia,karena ku bisa menyapa mbak fany yang sahaja.
mimis aku mimis istimewa
sang cerpenis memang jago bercerita
Anonim mengatakan…
berarti henny yg ketiga..
hehehe..
terharu henny jadinya,,yang kayak gitu tuh,,bikin sadar kalo kasih ibu sebenarnya terbentuk pada larangan-larangannya.
Kabasaran Soultan mengatakan…
JAdi ingat :
KAsih ibi sepanjang jalan
Kasih anak sepenggalahan

Nice posting
Anonim mengatakan…
eh, salah..sekarang yg kelima y?
hehehe
Anonim mengatakan…
ah,,salah lagi..yg ketujuh bukan?
:p
Anonim mengatakan…
terharu mbacanya yang walapun dugaan hasil akhirnya sesuai.
mayaozk mengatakan…
beruntungnya yang masih memiliki seorang ibu, jgn sekali2 menyakiti hatinya, bahagiakan dia semampu kamu, buat ia selalu tersenyum dan bahagia, sehingga tdk akan ada penyesalan nanti..
rampadan mengatakan…
Aku juga gak pernah mengerti gimana cara fikir orang tuaku. Mungkin karena mereka tidak mau terus terang pada kami. Coba kalau semua saling terus terang.
Pipit Pito mengatakan…
akhirnya, endingnya ktauan setelah berlama-lama pnasaran
buwel mengatakan…
waduuuh udah yang seri ketiga ya.....
No comment dulu ya...
mau baca yang pertama dulu...barangkali nyampe..hehehe
not nine mengatakan…
wah seru juga yah ceritanya,..sayang belum baca edisi 1 n 2 nya sih,..hehehehehehe,..
biz bru bisa ol lagi,..tapi seru walaup[un baca cma seri 3 nya,..hehehehhe
Robi mengatakan…
hiks... mengharukan skali mbak...!?

yah, mungkin memang bener kata orang-orang... semua orang tua slalu memberikan yang terbaek buat anaknya, meskipun mungkin bagi si anak kurang bisa dimengerti!?
dian mengatakan…
adduuuhhh jadi sedihh..
aku jadi bisa merenungkan semua kesalahaku ke mama..T_T

ditunggu cerita lainnya :)
ceritatugu mengatakan…
anak yang baik tidak akan terlambat mengerti hati seorang ibu
Dunia Polar mengatakan…
huhh...no komen deh, yg jlas bgs bangett...

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR