HATI MAMA (Bagian II)
Kisah sebelumnya : Fini tetap ingin ikut hiking meskipun mamanya tak mengijinkan. Bahkan, dia membohongi Karen, sahabatnya bahwa dia akan minta ijin ke mamanya. Secara Karen gak setuju dengan caranya pergi hiking tanpa pamit. Apakah rencana Fini akan berhasil?

Karen percaya banget dengan ucapanku. Dia turut merasa senang karena kepergianku ke gunung bakal disertai doa seorang ibu. Hi hi hi…Dia tidak tahu kalau aku membohonginya habis-habisan. Syal mama yang jarang dikenakannya kujadikan bukti bahwa mama telah memberi ijin. Padahal syal itu sudah lama menjadi milikku.
“Ibu yang baik memang begitu.” Komentar Karen sewaktu aku memperlihatkan syal warna biru itu. “Dia takut elo kedinginan.”
“Padahal, gue ‘kan bawa jaket.” kataku geli.
“Berapa lama elo di sana?” tanya Karen.
“Tergantung situasi.”
“Kok?”
“Kalau cuaca bagus, ya…kami akan lebih lama lagi.”
“Tapi, perbekalan lo mesti cukup.”
“Beres. Bekalku cukup untuk seminggu.”
“Sayang…gue nggak bisa ikut.” Keluh Karen.
“Lebih baik gitu.” Ujarku sambil tersenyum.
“Kenapa? Elo pikir, gue gak kuat?” Karen mendelik.
“Bukan…bukan itu maksud gue. “ Aku tergelak. “Cuma…cewek selembut elo nggak cocok disentuh angin gunung. Apalagi kedinginan di hutan lebat. Gue takut elo influenza.”
“Itu sama aja, elo nuduh gue lemah.” Karen cemberut.
“Iya deh, yang perkasa.” Aku terkikik.
“Kapan-kapan kalo ada acara hiking, gue ikut akh!” Ujar Karen lagi.
“Tapi…elo mesti minta ijin dulu lho!” Ledekku.
“Tentu. Malah gue gak usah menyembah dulu kayak lo. Mami gue ‘kan moderat.” Kali ini aku yang diledek.
“Udah akh, jangan ngeledek mulu. Jaga baik-baik opamu tuh. Jangan keluyuran ya? Kamu ‘kan cucu emasnya.”
“Hmm..coba opa gak sakit keras. Gue pasti udah ikut hiking ya.” Karen berkata lesu.
“Udah jangan nangis. Lain waktu kan bisa.” Hiburku setengah meledek.
Karen menarik ujung rambutku. “Sekali lagi elo ngeledek, gue bogem….” Dia mengepalkan tangan kanannya. Aku tertawa.
Tiga hari lagi. Aku menatap kalender dengan hati berdebar. Tiga hari lagi,mama akan kalang kabut mencariku dan Karen akan marah besar setelah tahu dirinya dikibulin. Seram juga sih mengingat akibat yang akan kutanggung nanti. Mama akan kecewa dan memarahiku. Karen akan memusuhiku dan mungkin tidak akan percaya lagi pada setiap ucapanku. Tetapi….masa bodoh dengan semua itu. Yang penting, aku bisa ikut hiking.
Hiking? Uf! Alangkah menyenangkan. Alam yang hijau, gemercik air sungai yang merdu, kicau burung yang bersahut-sahutan. Aih, membayangkannya saja sudah asik apalagi….
“Fin..”
“Eh, mama..” Aku menoleh kaget. Lamunanku buyar seketika.
“Melamun apa sih? Sambil ngeliat kalender lagi?” Mama bertanya sambil mengenakan sepatu putihnya.
“Ng…anu…ulang tahun Fini…”
“Jangan takut,” tukas mama. “Mama ingat kok hadiah yang kamu inginkan. Sebuah mini compo ‘kan?
Aku mengangguk. Akh, andai mama tahu..apa yang akan kulamunkan tadi…
“Mama tidak akan lupa, Fin. “ Mama menghampiriku. Dikecupnya pipiku lembut. “Nanti sore ada rapat penting di kantor. Mungkin, mama akan pulang agak malam. Kamu tidak usah menunggu mama. Kalau sudah lapar, makan saja dulu.”
Aku mengiyakan lalu mengantar mama hingga pintu pagar. Dengan perasaan tak menentu, kutatap sedan biru tua yang membawa mama ke kantor. Ah, mama yang baik, yang selalu memperhatikanku, tiga hari lagi mama akan melihat betapa bandelnya anakmu ini. Betapa tidak tahu budinya dia. Betapa….
Uh! Lekas-lekas aku tepis perasaan itu. Aku tidak boleh cengeng. Mama memang menyayangiku tapi dia cerewet. Aku mesti menunjukkan bahwa aku bukan anak kecil lagi. Rencana itu mesti ku jalani. Tidak boleh gagal hanya karena sebuah mini compo.
Berpikir begitu, aku masuk ke kamarku. Meraih pulpen dan merobek sehelai kertas dari buku tulis. Sebelum lupa, aku harus menyiapkan surat itu sekarang. Mama tentu tidak akan kuatir lagi setelah membaca surat ini. Ya, biar surat ini yang mewakiliku pamit pada mama.
Selesai menulis surat dan menyimpannya di laci meja, aku merasa gerah. Bulan Juni memang galak. Panas nggak ketulungan. Sambil mengipas punggungku dengan kertas koran, aku melangkah keluar. Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tengah.
Hhh, sepinya… Beginilah kalo hari libur sekolah tiba dan mama tak bisa cuti untuk mengajakku jalan-jalan. Untung, sebentar lagi aku ikut hiking yang diadakan Perkumpulan Pecinta Alam di sekolahku. Jadi, aku punya kegiatan mengisi hari libur meskipun harus ngumpet-ngumpet perginya.
Sambil terus mengipasi tubuhku, aku melirik lukisan alam danau toba yang menghias manis dinding ruang tengah. Lukisan papa, 7 tahun yang lalu. Yah, aku ingat betul bagaimana papa membuat lukisan itu.
Ketika itu kami sekeluarga sedang liburan di danau Toba. Melihat panorama danau toba yang cantik, papa tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk melukis. Padahal, kondisi tubuh papa masih lemah setelah sakit seminggu. Perjalanan kami ke danau toba itu pun dalam rangka memulihkan kesehatan papa. Walau pada mulanya, mama lebih suka beristirahat di Puncak, di villa tante Ning. Tapi papa yang memang asal Tapanuli menolak mentah-mentah. Beliau lebih suka kami berlibur ke danau Toba. Papa yang bertabiat keras dan sulit diatur, akhirnya menang setelah berdebat dengan mama. Aku pun ikut membela papa. Danau Toba..hmmm. ..gadis kecil mana yang tidak mendambakan pergi ke sana?
Namun, akibat kebandelan papa, penyakitnya kambuh lagi. Radang paru-parunya ngambek karena papa mulai suka begadang untuk menyelesaikan lukisan itu. Seminggu, setelah lukisannya selesai, papa pergi untuk selamanya.
Mamalah yang kemudian harus memenuhi segala kebutuhanku. Beliau mendidikku dengan kasih sayang yang teramat mengikat kebebasanku. Mungkin kecerewetannya ada kaitannya dengan kedudukannya sebagai seorang Direktris.
Udara makin gerah. Aku mengusap peluh yang menetes di pelipis. Panas begini, enaknya nyalain AC. Tapi…mama tidak mau memasang AC di ruang tengah. Karena jendela-jendela di ruang tengah besar-besar dan kalau siang dibiarkan terbuka lebar. Mama bilang, biarkan angin menerobos masuk ke dalam ruang tengah dan menjadi AC alam. Lebih sehat dan hemat listrik.
Huh! Panas begini, enaknya mengungsi ke kamarku yang ber AC dan terletak di loteng rumah. Tapi..sesampainya di loteng, aku malah masuk ke ruang kerja mama. Entah apa yang menarikku ke ruangan itu. Padahal di sana hanya ada sederet buku di dalam rak mungil dan meja tulis, lengkap dengan sofa putarnya yang empuk.
Iseng, aku membuka laci-laci meja tulis itu. Semuanya berisi berkas-berkas dan catatan-catatan yang tak kumengerti. Giliran laci paling bawah kubuka. Aha! Ada sebuah buku tebal berwarna biru muda. Buku apa gerangan? Coba kulihat. Wow! Sungguh temuan hebat. Diary! Haruskah aku membacanya? Pikirku bimbang.

Karen percaya banget dengan ucapanku. Dia turut merasa senang karena kepergianku ke gunung bakal disertai doa seorang ibu. Hi hi hi…Dia tidak tahu kalau aku membohonginya habis-habisan. Syal mama yang jarang dikenakannya kujadikan bukti bahwa mama telah memberi ijin. Padahal syal itu sudah lama menjadi milikku.
“Ibu yang baik memang begitu.” Komentar Karen sewaktu aku memperlihatkan syal warna biru itu. “Dia takut elo kedinginan.”
“Padahal, gue ‘kan bawa jaket.” kataku geli.
“Berapa lama elo di sana?” tanya Karen.
“Tergantung situasi.”
“Kok?”
“Kalau cuaca bagus, ya…kami akan lebih lama lagi.”
“Tapi, perbekalan lo mesti cukup.”
“Beres. Bekalku cukup untuk seminggu.”
“Sayang…gue nggak bisa ikut.” Keluh Karen.
“Lebih baik gitu.” Ujarku sambil tersenyum.
“Kenapa? Elo pikir, gue gak kuat?” Karen mendelik.
“Bukan…bukan itu maksud gue. “ Aku tergelak. “Cuma…cewek selembut elo nggak cocok disentuh angin gunung. Apalagi kedinginan di hutan lebat. Gue takut elo influenza.”
“Itu sama aja, elo nuduh gue lemah.” Karen cemberut.
“Iya deh, yang perkasa.” Aku terkikik.
“Kapan-kapan kalo ada acara hiking, gue ikut akh!” Ujar Karen lagi.
“Tapi…elo mesti minta ijin dulu lho!” Ledekku.
“Tentu. Malah gue gak usah menyembah dulu kayak lo. Mami gue ‘kan moderat.” Kali ini aku yang diledek.
“Udah akh, jangan ngeledek mulu. Jaga baik-baik opamu tuh. Jangan keluyuran ya? Kamu ‘kan cucu emasnya.”
“Hmm..coba opa gak sakit keras. Gue pasti udah ikut hiking ya.” Karen berkata lesu.
“Udah jangan nangis. Lain waktu kan bisa.” Hiburku setengah meledek.
Karen menarik ujung rambutku. “Sekali lagi elo ngeledek, gue bogem….” Dia mengepalkan tangan kanannya. Aku tertawa.
Tiga hari lagi. Aku menatap kalender dengan hati berdebar. Tiga hari lagi,mama akan kalang kabut mencariku dan Karen akan marah besar setelah tahu dirinya dikibulin. Seram juga sih mengingat akibat yang akan kutanggung nanti. Mama akan kecewa dan memarahiku. Karen akan memusuhiku dan mungkin tidak akan percaya lagi pada setiap ucapanku. Tetapi….masa bodoh dengan semua itu. Yang penting, aku bisa ikut hiking.
Hiking? Uf! Alangkah menyenangkan. Alam yang hijau, gemercik air sungai yang merdu, kicau burung yang bersahut-sahutan. Aih, membayangkannya saja sudah asik apalagi….
“Fin..”
“Eh, mama..” Aku menoleh kaget. Lamunanku buyar seketika.
“Melamun apa sih? Sambil ngeliat kalender lagi?” Mama bertanya sambil mengenakan sepatu putihnya.
“Ng…anu…ulang tahun Fini…”
“Jangan takut,” tukas mama. “Mama ingat kok hadiah yang kamu inginkan. Sebuah mini compo ‘kan?
Aku mengangguk. Akh, andai mama tahu..apa yang akan kulamunkan tadi…
“Mama tidak akan lupa, Fin. “ Mama menghampiriku. Dikecupnya pipiku lembut. “Nanti sore ada rapat penting di kantor. Mungkin, mama akan pulang agak malam. Kamu tidak usah menunggu mama. Kalau sudah lapar, makan saja dulu.”
Aku mengiyakan lalu mengantar mama hingga pintu pagar. Dengan perasaan tak menentu, kutatap sedan biru tua yang membawa mama ke kantor. Ah, mama yang baik, yang selalu memperhatikanku, tiga hari lagi mama akan melihat betapa bandelnya anakmu ini. Betapa tidak tahu budinya dia. Betapa….
Uh! Lekas-lekas aku tepis perasaan itu. Aku tidak boleh cengeng. Mama memang menyayangiku tapi dia cerewet. Aku mesti menunjukkan bahwa aku bukan anak kecil lagi. Rencana itu mesti ku jalani. Tidak boleh gagal hanya karena sebuah mini compo.
Berpikir begitu, aku masuk ke kamarku. Meraih pulpen dan merobek sehelai kertas dari buku tulis. Sebelum lupa, aku harus menyiapkan surat itu sekarang. Mama tentu tidak akan kuatir lagi setelah membaca surat ini. Ya, biar surat ini yang mewakiliku pamit pada mama.
Selesai menulis surat dan menyimpannya di laci meja, aku merasa gerah. Bulan Juni memang galak. Panas nggak ketulungan. Sambil mengipas punggungku dengan kertas koran, aku melangkah keluar. Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tengah.
Hhh, sepinya… Beginilah kalo hari libur sekolah tiba dan mama tak bisa cuti untuk mengajakku jalan-jalan. Untung, sebentar lagi aku ikut hiking yang diadakan Perkumpulan Pecinta Alam di sekolahku. Jadi, aku punya kegiatan mengisi hari libur meskipun harus ngumpet-ngumpet perginya.
Sambil terus mengipasi tubuhku, aku melirik lukisan alam danau toba yang menghias manis dinding ruang tengah. Lukisan papa, 7 tahun yang lalu. Yah, aku ingat betul bagaimana papa membuat lukisan itu.
Ketika itu kami sekeluarga sedang liburan di danau Toba. Melihat panorama danau toba yang cantik, papa tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk melukis. Padahal, kondisi tubuh papa masih lemah setelah sakit seminggu. Perjalanan kami ke danau toba itu pun dalam rangka memulihkan kesehatan papa. Walau pada mulanya, mama lebih suka beristirahat di Puncak, di villa tante Ning. Tapi papa yang memang asal Tapanuli menolak mentah-mentah. Beliau lebih suka kami berlibur ke danau Toba. Papa yang bertabiat keras dan sulit diatur, akhirnya menang setelah berdebat dengan mama. Aku pun ikut membela papa. Danau Toba..hmmm. ..gadis kecil mana yang tidak mendambakan pergi ke sana?
Namun, akibat kebandelan papa, penyakitnya kambuh lagi. Radang paru-parunya ngambek karena papa mulai suka begadang untuk menyelesaikan lukisan itu. Seminggu, setelah lukisannya selesai, papa pergi untuk selamanya.
Mamalah yang kemudian harus memenuhi segala kebutuhanku. Beliau mendidikku dengan kasih sayang yang teramat mengikat kebebasanku. Mungkin kecerewetannya ada kaitannya dengan kedudukannya sebagai seorang Direktris.
Udara makin gerah. Aku mengusap peluh yang menetes di pelipis. Panas begini, enaknya nyalain AC. Tapi…mama tidak mau memasang AC di ruang tengah. Karena jendela-jendela di ruang tengah besar-besar dan kalau siang dibiarkan terbuka lebar. Mama bilang, biarkan angin menerobos masuk ke dalam ruang tengah dan menjadi AC alam. Lebih sehat dan hemat listrik.
Huh! Panas begini, enaknya mengungsi ke kamarku yang ber AC dan terletak di loteng rumah. Tapi..sesampainya di loteng, aku malah masuk ke ruang kerja mama. Entah apa yang menarikku ke ruangan itu. Padahal di sana hanya ada sederet buku di dalam rak mungil dan meja tulis, lengkap dengan sofa putarnya yang empuk.
Iseng, aku membuka laci-laci meja tulis itu. Semuanya berisi berkas-berkas dan catatan-catatan yang tak kumengerti. Giliran laci paling bawah kubuka. Aha! Ada sebuah buku tebal berwarna biru muda. Buku apa gerangan? Coba kulihat. Wow! Sungguh temuan hebat. Diary! Haruskah aku membacanya? Pikirku bimbang.
Komentar
bersambung lagi
kudu sabar nih
Datang dan Berubah
udah dag-dig-dug aja, tapi ternyata masih bersambung.
lanjut lagi mbak..
ditungguin nih!!
Ada apa gerangan dalm diary teb. kunanti edisi selanjutnya...
apa yg bakal terjadi tuh??
adduuuhh...penasaran bgt..
mudah2an sich dibaca bukunya hehe
lanjutkaaaan!?