SENANDUNG HATI KARINA
Asal usul ide :
Pernah ngeliat cowok yang n’dut banget. Padahal, facenya lumayan. Jadi mikir, kalo saja tuh cowok gak segendut itu, pasti deh cakep and banyak cewek yg naksir.
“Karina!”
Karina menoleh. Dahinya mengernyit, memandangi pemuda itu. “Siapa ya?” tanyanya setengah bergumam.

“Lupa? Cowok tergendut di kelas II C SMP MERDEKA.” Pemuda tampan itu tersenyum simpatik.
“Ooo…,” Samar-samar ingatan Karina melayang pada sosok tubuh tambun dengan keringat yang membasahi pelipis. “Yo….nas! Kamu pasti Yonas ‘kan? Yah….aku nggak mungkin lupa pada alismu yang tebal dan hitam itu.” Karina tersenyum. Senang banget berhasil mengenali pemuda itu.
“Bohong. Buktinya, kamu nggak kenal aku tadi.” Yonas tertawa. Karina ikut tertawa.
“Tadi kan aku belum perhatiin dengan seksama.” Katanya. “Kamu berubah sekali sih. Diet ketat ya?”
“Begitulah. Sejak aku patah hati karena gadis yang kucintai membenciku lantaran tubuhku yang kelas berat. Aku…..”
“Berarti aku berjasa ya sudah membantumu ngurusin body.” Tukas Karina bergurau, mencoba menekan rasa tak enak di hatinya.
“Itu kan dari sudut pandangmu.” Ujar Yonas. Karina terdiam.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” Tanya Yonas mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku. “Lama nggak jumpa, kamu masih seperti dulu. Cantik, tomboy tapi…,” Yonas tak melanjutkan ucapannya. Dia tersenyum-senyum penuh arti.
“Apa?” Karina menatapnya, ingin tahu.
“Agak tinggi, dewasa dan..pokoknya lebih gede deh.”
“Iya dong, itu namanya ada pertumbuhan. Kamu ada-ada aja. Kirain ada yang aneh pada diriku.”
Yonas tertawa. “Sama siapa kemari?” Tanyanya sambil memandangi meja Karina yang hanya ada semangkuk bakmi ayam plus juice melon.
“Nggak bisa lihat ya, ada berapa mangkuk di mejaku.”
“Itu kan cuma basa-basi, Rin. Eh, aku duduk di sini ya. Boleh kan?” Yonas menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Karina.
“Kenapa gak boleh? Kebetulan, aku lagi sendiri.” Sahut Karina.
“Dalam arti yang lain, apakah kamu masih sendiri juga?” Pertanyaan Yonas mulai menyerempet.
“Kamu mau makan apa, Yon?” Karina mengalihkan pembicaraan.
Cepat dan tanggap. Yonas tersenyum tipis. Kamu masih kayak dulu. Pintar berkelit, pikirnya. Tapi, aku nggak akan menyerah. Aku nggak boleh gagal lagi. Tekad Yonas mantap.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Rin.”
“Pertanyaan yang mana?” Karina pura-pura bodoh. Diseruputnya juice favoritnya. Yonas geleng-geleng kepala.
“Sudahlah, kalau kamu nggak mau menjawabnya. Lain waktu toh masih ada.” Ujarnya sembari membaca daftar menu.
Setelah pesanan Yonas ditaruh di atas meja, Karina mulai melontarkan rasa ingin tahunya yang sejak tadi dipendam.
“Lama ya kita nggak ketemu.” Katanya kaku. Yonas mengangguk.
“Hampir enam tahun sejak kamu pindah ke Jakarta.” Pemuda itu mengaduk es kelapanya.
“Enam tahun…hmm, berarti ada banyak hal yang belum kuketahui tentang dirimu sekarang.”
“Misalnya?” Yonas mengangkat gelasnya. Menyeruput es kelapanya.
“Apa kerjamu sekarang? Kuliah….atau…”
“Bisnis kecil-kecilan plus kuliah.”
“Bisnis apa?”
“Nerusin usaha papa. Toko sepatu.”
“Lalu kuliahmu…”
“Aku ambil sore. Fak Ekonomi, jurusan manajemen.” Tukas Yonas. “Kamu? Kuliah juga?”
“Teknik Sipil.”
“Wow!” Yonas membelalakkan matanya. “Jadi primadona dong. Fak Teknik kan langka ceweknya. Gimana? Udah ada yang nyantol?”
Mulai deh. Batin Karina gemas. Digigitnya pipet lalu berkata. “Maumu, gimana?”
“Oh, aku selalu berharap kamu masih sendiri.”
“Harapan yang sia-sia.”
“Aduh, remuk deh hatiku.” Yonas memegangi dadanya. Pura-pura bergurau. Padahal hatinya sudah kebat kebit nggak keruan. “Siapa sih cowok yang berbahagia itu?” tanyanya.
“Adi, “ sahut Karina kalem.
“Ayah dan Ibu? Lelucon nggak lucu tapi bikin hati deg-degan.” Yonas menghela nafas lega.
***
Udara malam ini panas sekali. Karina berbaring gelisah di tempat tidurnya. Tubuh gadis itu bolak balik. Kiri kanan sambil mendekap boneka pandanya. Ah, pertemuan yang tak pernah diduganya dengan Yonas telah mengacaukan pikirannya. Apalagi bila ingat betapa berubahnya Yonas sekarang. Tampan, atletis dan …..o…o…dia masih mencintai..ugh! Karina membelalakan matanya. Mengapa hatiku jadi berdebar begini setiap kali membayangi wajahnya? Bahkan, sejak pulang dari restoran tadi siang, otaknya mulai berkhayal tentang adanya kemungkinan mereka menyatukan hati.
Yah, bukankah Yonas sendiri telah memberikan lampu hijau dari ucapan-ucapannya. Apalagi, cowok itu tampak begitu ngotot ingin mengantarnya pulang setelah mereka selesai makan, kendati dia menolaknya. Itu kan merupakan tanda-tanda….Jadi….
Enggak mungkin! Pekik hati Karina. Itu nggak boleh terjadi. Apa nanti kata Rindy, Perdita, Anne dan teman-teman lainnya yang dulu sekelas dengannya dan tahu betul bagaimana sinisnya sikap dia terhadap Yonas. Betapa benci dan sebalnya dia pada….
“Sapi tambun! Nggak tahu diri! Ngaca dulu dong!” Makinya ketika Perdita mengatakan kalau Yonas naksir dirinya.
“Karina, kasar amat sih!” Tegur Perdita waktu itu. “Kalau Yonas dengar, dia bisa sakit hati. Nanti kamu dibanting lho.”
“Iya, kalau nggak suka ya udah. Tapi jangan ngatain gitu.” Ujar Rindy. “Dia kan manusia juga, punya perasaan dan hati. Jadi, dia punya hak untuk mencintai siapa saja.”
Namun semua ucapan sahabat-sahabatnya tak diacuhkannya. Karina tetap menunjukkan kebenciannya pada si gendut Yonas. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Yonas mendapat balasan yang menyakitkan hati.
“Amit-amit jabang bayi!” Ujarnya suatu hari tatkala Yonas ingin mengantarnya pulang dari pesta ultah Gaby. Kemudian dengan muka angker, dia meninggalkan Yonas yang menunduk sedih.
“Keterlaluan kamu, Rin,” Tegur Anne yang mendengar ucapannya. “Kasihan Yonas. Dia kan bermaksud baik.”
“Sadis!” Timpal Perdita. “Lebih kejam ketimbang teroris.”
“Jangan suka ngomong amit-amit, ntar jadi beneran lho sama dia.” Celetuk Rindy. “Benci sih benci tapi….”
Stop! Karina menutup telinganya yang seolah mendengar kembali komentar teman-temannya enam tahun yang lalu. Enggak! Aku nggak boleh mencintainya. Aku malu….
**
Yonas membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Karina yang sedang asyik dengan diktatnya, mengangkat kepala. Yonas! Hatinya mulai berdentam riuh. Sepercik rasa gembira mengalir di relung kalbu. Pun rasa galau yang mengusik malam-malamnya.
“Mau apa kemari?!” Serunya seraya turun ke halaman, membuka pintu pagar. Yonas keluar dari mobilnya, tersenyum manis.
“Ngapel.” Jawabnya sambil melangkah masuk.
“Terlalu sore. “ Karina melirik jam tangannya.
“Habis kangen berat sih.” Yonas duduk di kursi rotan yang terletak di teras rumah. “Nonton yuk.” Ajaknya.
“Ogah.” Karina melipat tangan di dada.
“Ini yang kelima kali kamu menolak. Tega amir deh.”
“Besok ada test.”
“Besok kan minggu. “ Yonas tertawa.
“Maksudku Senin. Kamu ajak nonton cewekmu aja.”
“Lho, memangnya cewekku siapa? Kamu kan?”
“Siapa yang bilang?” Karina menunduk. Jengah.
“Yonas.” Sahut Yonas lembut. Diraihnya jemari Karina dan menggenggamnya erat. “Enam tahun bukan waktu yang singkat, Rin. Apakah penantian dan kesabaranku selama ini masih nggak cukup?”
Karina terdiam. Keraguan menyerbunya. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Menerimanya? Memalukan! Aku yang dulu begitu membencinya, kini menjadi kekasihnya?
“Kok diam? Kamu nggak mau jadi pacarku karena takut aku jadi gendut lagi kayak dulu?” Tebak Yonas, asal.
“Bukan itu….,” Kilah Karina cepat.
“So….?” Mata Yonas menuntut jawaban.
“Beri aku waktu, Yon…”
“Oke, tapi ingat…aku nggak akan pernah menyerah, Rin….” Yonas bangkit berdiri.
Kita lihat saja nanti. Batin Karina sambil memikirkan sebuah rencana.
***
Dengan kecewa, Yonas keluar dari rumah itu. Haruskah aku gagal lagi, Tuhan? Bisik hatinya perih. Sudah seminggu ini Karina tak berhasil kutemui. Dia pasti sengaja menghindariku. Yonas membuka pintu mobilnya dan menghempaskan pantatnya di jok mobil. Akan sia-siakah usahaku selama ini? Dia mengusap wajahnya, lesu.
“Yon, kamu mau kuliah dimana?” Tiba-tiba dia teringat pertanyaan Raymond, sahabatnya sejak SMP. Waktu itu mereka baru saja lulus SMA.
“Jakarta.” Jawabnya mantap.
“Mau kuliah atau nyari Karina?” Ledek Raymond.
“Kalau emang jodoh, pasti bisa ketemu….” Katanya mengabaikan ledekan Raymond.
“Dia pasti kaget kalau ngeliat tampangmu sekarang, Yon. Dia pasti nyesel udah nampik cintamu.”
“Moga-moga dia belum ada yang punya ya.” Harap Yonas. Raymond tertawa. “Kalau aku jadi kamu…hmm, sorry deh ngemis cinta cewek sok macam dia. Kayak enggak ada cewek lain aja.”
“Love is blind, Ray. Lagian, tujuanku utamaku ke Jakarta untuk membantu papa yang ingin buka toko sepatu di sana. Di samping itu, tentu aja buat menaklukkan hati Karina.”
Tapi nyatanya….Karina begitu sulit tergapai, keluh Yonas memutus lamunannya.
**
Perdita, Anne dan Rindy menyimak semua cerita Karina dengan antusias. Mereka tak menyangka kalau Yonas ada di Jakarta dan masih mengejar-ngejar Karina.
“Bukan main. Cinta mati tuh namanya.” Kata Anne setelah cerita Karina usai. “Jarang lho, ketemu cowok macam dia.”
“Udah terima aja. Apalagi dia sekarang seganteng bintang film.” Ujar Rindy.
“Huh, emangnya kamu pernah ketemu dia?” Celetuk Perdita.
“Kira-kira aja, Ta.” Rindy tertawa. “Kalau dengar cerita Karina, pasti deh si Yonas sudah menjelma jadi pangeran ganteng.”
“Kamunya suka enggak, Rin?” Tanya Anne. Karina diam. Menekuk-nekukkan jari jemarinya, galau.
“Jujur aja deh. Sama teman sendiri masa malu.” Desak Perdita.
“Atau….kamu malu lantaran dulu pernah membencinya? Padahal…sekarang cinta berat, iya kan?” Tebak Rindy.
“Kok, tahu sih?” Karina bertanya lugu. Rindy terkikik.
“Siapa dulu dong? Rindy…..,”
“Dukun canggih.” Sambung Anne. Rindy melotot. Anne tertawa.
“Kalau gitu, no problem,” Ucap Perdita. “Yang sudah lalu, ya sudah. Waktu itu kan kamu masih SMP. Masih kecil jadi segala tindakan dan ucapan….”
“Dapat dimaafkan.” Tambah Anne. “And, buang aja tuh rasa malu. Yang penting, kamu happy. Oke?”
Karina tersenyum. Dia tak menduga akan mendapat dukungan seperti ini. Mereka juga tidak mengejekku, pikirnya terharu.
“Hmm, senyum tanda setuju nih.” Anne tersenyum menggoda.
“Tapi jangan lupa, ajak dia ke rumahku Rin….Pingin lihat kayak apa sih dia sampai kamu jatuh cinta.” Perdita penasaran.
“Asal ati-ati aja, Rin. Si Tata ini ada bakat ngegaet cowok orang.” Goda Rindy sembari ambil langkah seribu sebelum dicubit Perdita.
**
Angin senja bertiup semilir menyanyikan lagu cinta. Karina dan Yonas berjalan menyusuri tepi pantai. Tangan mereka saling berpegangan mesra.
“Rin, akhirnya tekadku menguruskan badan dan meraih cintamu menjadi kenyataan.” Bisik Yonas bahagia.
“Kapan kamu memulai program dietmu, Yon?” Karina memandang Yonas, lembut.
“Sejak naik kelas 3 SMP. Sayang, waktu itu kamu sudah ke Jakarta. Kalau nggak kamu bisa melihat betapa gigihnya usahaku buat ngedapetin hatimu.”
“Sudahlah, yang penting sekarang ini aku…”
“Jadi kekasihku yang tercinta.” Sergah Yonas merengkuh bahu Karina. Karina tersenyum. Ada senandung di hatinya tentang cinta sejati.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 7 Oktober 1990
Pernah ngeliat cowok yang n’dut banget. Padahal, facenya lumayan. Jadi mikir, kalo saja tuh cowok gak segendut itu, pasti deh cakep and banyak cewek yg naksir.
“Karina!”
Karina menoleh. Dahinya mengernyit, memandangi pemuda itu. “Siapa ya?” tanyanya setengah bergumam.

“Lupa? Cowok tergendut di kelas II C SMP MERDEKA.” Pemuda tampan itu tersenyum simpatik.
“Ooo…,” Samar-samar ingatan Karina melayang pada sosok tubuh tambun dengan keringat yang membasahi pelipis. “Yo….nas! Kamu pasti Yonas ‘kan? Yah….aku nggak mungkin lupa pada alismu yang tebal dan hitam itu.” Karina tersenyum. Senang banget berhasil mengenali pemuda itu.
“Bohong. Buktinya, kamu nggak kenal aku tadi.” Yonas tertawa. Karina ikut tertawa.
“Tadi kan aku belum perhatiin dengan seksama.” Katanya. “Kamu berubah sekali sih. Diet ketat ya?”
“Begitulah. Sejak aku patah hati karena gadis yang kucintai membenciku lantaran tubuhku yang kelas berat. Aku…..”
“Berarti aku berjasa ya sudah membantumu ngurusin body.” Tukas Karina bergurau, mencoba menekan rasa tak enak di hatinya.
“Itu kan dari sudut pandangmu.” Ujar Yonas. Karina terdiam.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” Tanya Yonas mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku. “Lama nggak jumpa, kamu masih seperti dulu. Cantik, tomboy tapi…,” Yonas tak melanjutkan ucapannya. Dia tersenyum-senyum penuh arti.
“Apa?” Karina menatapnya, ingin tahu.
“Agak tinggi, dewasa dan..pokoknya lebih gede deh.”
“Iya dong, itu namanya ada pertumbuhan. Kamu ada-ada aja. Kirain ada yang aneh pada diriku.”
Yonas tertawa. “Sama siapa kemari?” Tanyanya sambil memandangi meja Karina yang hanya ada semangkuk bakmi ayam plus juice melon.
“Nggak bisa lihat ya, ada berapa mangkuk di mejaku.”
“Itu kan cuma basa-basi, Rin. Eh, aku duduk di sini ya. Boleh kan?” Yonas menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Karina.
“Kenapa gak boleh? Kebetulan, aku lagi sendiri.” Sahut Karina.
“Dalam arti yang lain, apakah kamu masih sendiri juga?” Pertanyaan Yonas mulai menyerempet.
“Kamu mau makan apa, Yon?” Karina mengalihkan pembicaraan.
Cepat dan tanggap. Yonas tersenyum tipis. Kamu masih kayak dulu. Pintar berkelit, pikirnya. Tapi, aku nggak akan menyerah. Aku nggak boleh gagal lagi. Tekad Yonas mantap.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Rin.”
“Pertanyaan yang mana?” Karina pura-pura bodoh. Diseruputnya juice favoritnya. Yonas geleng-geleng kepala.
“Sudahlah, kalau kamu nggak mau menjawabnya. Lain waktu toh masih ada.” Ujarnya sembari membaca daftar menu.
Setelah pesanan Yonas ditaruh di atas meja, Karina mulai melontarkan rasa ingin tahunya yang sejak tadi dipendam.
“Lama ya kita nggak ketemu.” Katanya kaku. Yonas mengangguk.
“Hampir enam tahun sejak kamu pindah ke Jakarta.” Pemuda itu mengaduk es kelapanya.
“Enam tahun…hmm, berarti ada banyak hal yang belum kuketahui tentang dirimu sekarang.”
“Misalnya?” Yonas mengangkat gelasnya. Menyeruput es kelapanya.
“Apa kerjamu sekarang? Kuliah….atau…”
“Bisnis kecil-kecilan plus kuliah.”
“Bisnis apa?”
“Nerusin usaha papa. Toko sepatu.”
“Lalu kuliahmu…”
“Aku ambil sore. Fak Ekonomi, jurusan manajemen.” Tukas Yonas. “Kamu? Kuliah juga?”
“Teknik Sipil.”
“Wow!” Yonas membelalakkan matanya. “Jadi primadona dong. Fak Teknik kan langka ceweknya. Gimana? Udah ada yang nyantol?”
Mulai deh. Batin Karina gemas. Digigitnya pipet lalu berkata. “Maumu, gimana?”
“Oh, aku selalu berharap kamu masih sendiri.”
“Harapan yang sia-sia.”
“Aduh, remuk deh hatiku.” Yonas memegangi dadanya. Pura-pura bergurau. Padahal hatinya sudah kebat kebit nggak keruan. “Siapa sih cowok yang berbahagia itu?” tanyanya.
“Adi, “ sahut Karina kalem.
“Ayah dan Ibu? Lelucon nggak lucu tapi bikin hati deg-degan.” Yonas menghela nafas lega.
***
Udara malam ini panas sekali. Karina berbaring gelisah di tempat tidurnya. Tubuh gadis itu bolak balik. Kiri kanan sambil mendekap boneka pandanya. Ah, pertemuan yang tak pernah diduganya dengan Yonas telah mengacaukan pikirannya. Apalagi bila ingat betapa berubahnya Yonas sekarang. Tampan, atletis dan …..o…o…dia masih mencintai..ugh! Karina membelalakan matanya. Mengapa hatiku jadi berdebar begini setiap kali membayangi wajahnya? Bahkan, sejak pulang dari restoran tadi siang, otaknya mulai berkhayal tentang adanya kemungkinan mereka menyatukan hati.
Yah, bukankah Yonas sendiri telah memberikan lampu hijau dari ucapan-ucapannya. Apalagi, cowok itu tampak begitu ngotot ingin mengantarnya pulang setelah mereka selesai makan, kendati dia menolaknya. Itu kan merupakan tanda-tanda….Jadi….
Enggak mungkin! Pekik hati Karina. Itu nggak boleh terjadi. Apa nanti kata Rindy, Perdita, Anne dan teman-teman lainnya yang dulu sekelas dengannya dan tahu betul bagaimana sinisnya sikap dia terhadap Yonas. Betapa benci dan sebalnya dia pada….
“Sapi tambun! Nggak tahu diri! Ngaca dulu dong!” Makinya ketika Perdita mengatakan kalau Yonas naksir dirinya.
“Karina, kasar amat sih!” Tegur Perdita waktu itu. “Kalau Yonas dengar, dia bisa sakit hati. Nanti kamu dibanting lho.”
“Iya, kalau nggak suka ya udah. Tapi jangan ngatain gitu.” Ujar Rindy. “Dia kan manusia juga, punya perasaan dan hati. Jadi, dia punya hak untuk mencintai siapa saja.”
Namun semua ucapan sahabat-sahabatnya tak diacuhkannya. Karina tetap menunjukkan kebenciannya pada si gendut Yonas. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Yonas mendapat balasan yang menyakitkan hati.
“Amit-amit jabang bayi!” Ujarnya suatu hari tatkala Yonas ingin mengantarnya pulang dari pesta ultah Gaby. Kemudian dengan muka angker, dia meninggalkan Yonas yang menunduk sedih.
“Keterlaluan kamu, Rin,” Tegur Anne yang mendengar ucapannya. “Kasihan Yonas. Dia kan bermaksud baik.”
“Sadis!” Timpal Perdita. “Lebih kejam ketimbang teroris.”
“Jangan suka ngomong amit-amit, ntar jadi beneran lho sama dia.” Celetuk Rindy. “Benci sih benci tapi….”
Stop! Karina menutup telinganya yang seolah mendengar kembali komentar teman-temannya enam tahun yang lalu. Enggak! Aku nggak boleh mencintainya. Aku malu….
**
Yonas membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Karina yang sedang asyik dengan diktatnya, mengangkat kepala. Yonas! Hatinya mulai berdentam riuh. Sepercik rasa gembira mengalir di relung kalbu. Pun rasa galau yang mengusik malam-malamnya.
“Mau apa kemari?!” Serunya seraya turun ke halaman, membuka pintu pagar. Yonas keluar dari mobilnya, tersenyum manis.
“Ngapel.” Jawabnya sambil melangkah masuk.
“Terlalu sore. “ Karina melirik jam tangannya.
“Habis kangen berat sih.” Yonas duduk di kursi rotan yang terletak di teras rumah. “Nonton yuk.” Ajaknya.
“Ogah.” Karina melipat tangan di dada.
“Ini yang kelima kali kamu menolak. Tega amir deh.”
“Besok ada test.”
“Besok kan minggu. “ Yonas tertawa.
“Maksudku Senin. Kamu ajak nonton cewekmu aja.”
“Lho, memangnya cewekku siapa? Kamu kan?”
“Siapa yang bilang?” Karina menunduk. Jengah.
“Yonas.” Sahut Yonas lembut. Diraihnya jemari Karina dan menggenggamnya erat. “Enam tahun bukan waktu yang singkat, Rin. Apakah penantian dan kesabaranku selama ini masih nggak cukup?”
Karina terdiam. Keraguan menyerbunya. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Menerimanya? Memalukan! Aku yang dulu begitu membencinya, kini menjadi kekasihnya?
“Kok diam? Kamu nggak mau jadi pacarku karena takut aku jadi gendut lagi kayak dulu?” Tebak Yonas, asal.
“Bukan itu….,” Kilah Karina cepat.
“So….?” Mata Yonas menuntut jawaban.
“Beri aku waktu, Yon…”
“Oke, tapi ingat…aku nggak akan pernah menyerah, Rin….” Yonas bangkit berdiri.
Kita lihat saja nanti. Batin Karina sambil memikirkan sebuah rencana.
***
Dengan kecewa, Yonas keluar dari rumah itu. Haruskah aku gagal lagi, Tuhan? Bisik hatinya perih. Sudah seminggu ini Karina tak berhasil kutemui. Dia pasti sengaja menghindariku. Yonas membuka pintu mobilnya dan menghempaskan pantatnya di jok mobil. Akan sia-siakah usahaku selama ini? Dia mengusap wajahnya, lesu.
“Yon, kamu mau kuliah dimana?” Tiba-tiba dia teringat pertanyaan Raymond, sahabatnya sejak SMP. Waktu itu mereka baru saja lulus SMA.
“Jakarta.” Jawabnya mantap.
“Mau kuliah atau nyari Karina?” Ledek Raymond.
“Kalau emang jodoh, pasti bisa ketemu….” Katanya mengabaikan ledekan Raymond.
“Dia pasti kaget kalau ngeliat tampangmu sekarang, Yon. Dia pasti nyesel udah nampik cintamu.”
“Moga-moga dia belum ada yang punya ya.” Harap Yonas. Raymond tertawa. “Kalau aku jadi kamu…hmm, sorry deh ngemis cinta cewek sok macam dia. Kayak enggak ada cewek lain aja.”
“Love is blind, Ray. Lagian, tujuanku utamaku ke Jakarta untuk membantu papa yang ingin buka toko sepatu di sana. Di samping itu, tentu aja buat menaklukkan hati Karina.”
Tapi nyatanya….Karina begitu sulit tergapai, keluh Yonas memutus lamunannya.
**
Perdita, Anne dan Rindy menyimak semua cerita Karina dengan antusias. Mereka tak menyangka kalau Yonas ada di Jakarta dan masih mengejar-ngejar Karina.
“Bukan main. Cinta mati tuh namanya.” Kata Anne setelah cerita Karina usai. “Jarang lho, ketemu cowok macam dia.”
“Udah terima aja. Apalagi dia sekarang seganteng bintang film.” Ujar Rindy.
“Huh, emangnya kamu pernah ketemu dia?” Celetuk Perdita.
“Kira-kira aja, Ta.” Rindy tertawa. “Kalau dengar cerita Karina, pasti deh si Yonas sudah menjelma jadi pangeran ganteng.”
“Kamunya suka enggak, Rin?” Tanya Anne. Karina diam. Menekuk-nekukkan jari jemarinya, galau.
“Jujur aja deh. Sama teman sendiri masa malu.” Desak Perdita.
“Atau….kamu malu lantaran dulu pernah membencinya? Padahal…sekarang cinta berat, iya kan?” Tebak Rindy.
“Kok, tahu sih?” Karina bertanya lugu. Rindy terkikik.
“Siapa dulu dong? Rindy…..,”
“Dukun canggih.” Sambung Anne. Rindy melotot. Anne tertawa.
“Kalau gitu, no problem,” Ucap Perdita. “Yang sudah lalu, ya sudah. Waktu itu kan kamu masih SMP. Masih kecil jadi segala tindakan dan ucapan….”
“Dapat dimaafkan.” Tambah Anne. “And, buang aja tuh rasa malu. Yang penting, kamu happy. Oke?”
Karina tersenyum. Dia tak menduga akan mendapat dukungan seperti ini. Mereka juga tidak mengejekku, pikirnya terharu.
“Hmm, senyum tanda setuju nih.” Anne tersenyum menggoda.
“Tapi jangan lupa, ajak dia ke rumahku Rin….Pingin lihat kayak apa sih dia sampai kamu jatuh cinta.” Perdita penasaran.
“Asal ati-ati aja, Rin. Si Tata ini ada bakat ngegaet cowok orang.” Goda Rindy sembari ambil langkah seribu sebelum dicubit Perdita.
**
Angin senja bertiup semilir menyanyikan lagu cinta. Karina dan Yonas berjalan menyusuri tepi pantai. Tangan mereka saling berpegangan mesra.
“Rin, akhirnya tekadku menguruskan badan dan meraih cintamu menjadi kenyataan.” Bisik Yonas bahagia.
“Kapan kamu memulai program dietmu, Yon?” Karina memandang Yonas, lembut.
“Sejak naik kelas 3 SMP. Sayang, waktu itu kamu sudah ke Jakarta. Kalau nggak kamu bisa melihat betapa gigihnya usahaku buat ngedapetin hatimu.”
“Sudahlah, yang penting sekarang ini aku…”
“Jadi kekasihku yang tercinta.” Sergah Yonas merengkuh bahu Karina. Karina tersenyum. Ada senandung di hatinya tentang cinta sejati.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 7 Oktober 1990
Komentar
simple tapi ada maksudya... V,y
Emang susah mengubah paradigma orang tentang "kurus itu cantik".
out of topic ni mba,
pernah kepikiran buat bikin buku kumpulan cerpen ato sudah ada tapi saya ga tau mba...????
Salam kenal ya...
repos blog lama? kok aku pernah baca
apa aku lagi tulalit
Aku suka baca-baca cerpennya, mbak.
Cinta sejati memang manis ya...
@Reni : blm ada penerbit yg mau nerbitin cerpen saya nih.
@casual cutie : blm pernah buat novel nih. cerber sih ada tapi byk yg blm selesai.
yang namanya perkataan ntu adalah senjata tuk ngalahin diri sendiri suatu hari ntar..
so jagalah perkataan agar ga nyakitin orang lain dan ngalahin kita..
kkwwkwkwkk...
asal komen ne si dhe :">
sekarang Yonas udah ganteng kok jadi mau tuh....
dulu ndut gak mau...setelah atletis jadi mauuu...hehehhe