MARI MENGASAH 'PAHAT'
Suatu hari, Rina bertemu dengan Dita, teman SMA nya. yang kini telah menjadi seorang Notaris. Rina sangat kagum pada keberhasilan Dita dan berkata :
“Wah, hebat kamu! Udah gak jadi kuli orang lagi. Gak kayak saya nih! Masih jadi karyawan yang gajinya ngepas. Pas buat makan, pas buat beli bensin.” Ujar Rina sambil menepuk-nepuk bahu Dita.
“Keliatannya enak. Kamu kan gak tahu perjuangannya kayak apa? Yang kamu liat hasilnya, bukan prosesnya.” Kata Dita sambil tersenyum.
“Nah, makanya bagi-bagi dong resep suksesnya.” Rina mengedipkan mata.
Dita menghela nafas. Merenung sejenak. Harus mulai dari mana ya? Batinnya. Saya merasa belum berhasil banget. Usaha yang saya lakoni masih tergolong muda usianya. Saya baru saja melangkah ke anak tangga ke dua. Belum ke tiga, ke empat dan seterusnya. Padahal, masih ada berpuluh-puluh tangga kesuksesan yang harus saya daki. Tapi, baiklah….saya akan bagikan resepnya.
“Saya ini seperti seorang pematung, “ Kata Dita. “Seorang pematung baru bisa membuat patung yang bagus setelah mengalami kegagalan berulang kali. Dia harus belajar dan berlatih hingga puluhan tahun agar bisa menghasilkan patung yang indah. Dan, dia tidak berhenti mengamati objek, mencermati tekstur serta menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan pikirannya. Bukan alat-alat canggih yang ia butuhkan untuk menjadi pematung handal, tapi latihan, jiwa seni dan semangat untuk menekuni yang harus ia asah dalam jiwanya. Itulah ‘pahat’ yang harus ia bawa kemanapun ia pergi. Hingga lambat laun ia akan menjadi pematung hebat.”
“Duuuh, pake perumpamaan segala! Langsung aja deh!” Rina tertawa geli mendengar uraian Dita.
“Oke...intinya begini,” Dita ikut tertawa. “Saya memulai semuanya dari nol. Kamu kan tahu, berapa bulan aku nganggur setelah lulus kuliah? 9 bulan! Sudah waktu melahirkan tuh! Padahal, saya lulus dengan predikat Terpuji. Kamu juga tahu, ketika akhirnya saya mendapatkan pekerjaan, saya terpaksa harus berhenti karena saya lulus tes untuk bisa kuliah di Program Spesialis Notariat Fak Hukum UI. Boss saya waktu itu tidak mengijinkan saya pulang lebih awal karena harus kuliah jam 4 sore.”
“Iya, saya tahu itu.” Tukas Rina.
“Tapi kamu gak tahu betapa banyaknya cucuran keringat di tubuh saya saat pergi dan pulang kuliah naik bis atau Kereta api yang selalu penuh sesak. Betapa saya harus memelototi diktat-diktat kuliah saya di bus yang pengap karena terlalu banyak materi yang harus dikuasai dan saya belum tuntas mempelajarinya di rumah. Kadang, di kereta api yang penuh pencopetnya. Berbaur pula dengan para pedagang asongan yang hilir mudik. Betapa saya sering menangis saking kesalnya dengan mata kuliah yang susahnya minta ampun. Menghafal akte-akte yang panjangnya segambreng. Betapa saya harus menunda masa pacaran saya karena malam minggu saya dilalui dengan belajar dan belajar. Apalagi kalo sedang musim ujian yang biasanya jatuh menjelang natal. Waaaah, sibuknya!” celoteh Dita panjang lebar.
Gadis berkacamata minus itu berhenti sejeda. Meneguk ice lemon tea kegemarannya.
“Kamu juga gak tahu, setelah lulus dari Program Spesialis Notariat, saya harus magang/bekerja di kantor notaris dengan gaji yang amat minim. Mana dapat boss yang pelit bukan main. Belum lagi, teman-teman sekantor yang jealous sama saya. Karena mereka bukan sarjana dan selalu merasa takut posisi uenak mereka tergeser sama karyawan baru yang bergelar SH dan CN. Kamu gak tahu juga, betapa saya berusaha sabar menghadapi tekanan dari teman-teman sekantor. Tetap tersenyum meskipun dijudesin. Tetap menolong meskipun ditindas. Sampai akhirnya masa magang itu berakhir dan mereka bisa menerima saya sebagai teman sekerja. Bukan sebagai saingan. “ lanjut Dita dengan mata menerawang, mengenang masa lalunya.
“Kamu juga gak tahu, setelah keluar dari kantor notaris, saya harus jungkir balik mengurus segala persyaratan untuk buka kantor sendiri. Menghadapi birokrasi yang membelit yang ujung-ujungnya minta duit. Padahal saya benci korupsi. Dan….yaaa…saya memang tidak pernah meladeni permintaan mereka. Sampai akhirnya SK pengangkatan saya keluar tanpa harus KKN.”
“Setelah mendapatkan SK pengangkatan, saya juga harus berjuang mencari modal. Sebab saya bukan anak orang kaya. Hingga hari ini saya juga masih berjuang mengembangkan usaha saya. Saya terus menerus belajar dan bertumbuh. Seperti seorang pematung, saya terus mengasah ‘pahat’ saya.” Ujar Dita.
Rina mengangguk-angguk, paham.
“Ternyata untuk bisa sukses,kita harus berani bayar harga yang tinggi.” Kata Rina. “Pantes, saya masih begini-gini aja dari dulu. Soalnya, nggak ada harga yang saya bayar sih.”
“So, kenapa tidak memulainya dari sekarang?” tantang Dita.
Note : Teman-teman tercinta, apa pendapat kalian setelah membaca kisah diatas? Sudahkan kalian mengasah “PAHAT” yang kalian miliki?
“Wah, hebat kamu! Udah gak jadi kuli orang lagi. Gak kayak saya nih! Masih jadi karyawan yang gajinya ngepas. Pas buat makan, pas buat beli bensin.” Ujar Rina sambil menepuk-nepuk bahu Dita.
“Keliatannya enak. Kamu kan gak tahu perjuangannya kayak apa? Yang kamu liat hasilnya, bukan prosesnya.” Kata Dita sambil tersenyum.
“Nah, makanya bagi-bagi dong resep suksesnya.” Rina mengedipkan mata.
Dita menghela nafas. Merenung sejenak. Harus mulai dari mana ya? Batinnya. Saya merasa belum berhasil banget. Usaha yang saya lakoni masih tergolong muda usianya. Saya baru saja melangkah ke anak tangga ke dua. Belum ke tiga, ke empat dan seterusnya. Padahal, masih ada berpuluh-puluh tangga kesuksesan yang harus saya daki. Tapi, baiklah….saya akan bagikan resepnya.
“Saya ini seperti seorang pematung, “ Kata Dita. “Seorang pematung baru bisa membuat patung yang bagus setelah mengalami kegagalan berulang kali. Dia harus belajar dan berlatih hingga puluhan tahun agar bisa menghasilkan patung yang indah. Dan, dia tidak berhenti mengamati objek, mencermati tekstur serta menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan pikirannya. Bukan alat-alat canggih yang ia butuhkan untuk menjadi pematung handal, tapi latihan, jiwa seni dan semangat untuk menekuni yang harus ia asah dalam jiwanya. Itulah ‘pahat’ yang harus ia bawa kemanapun ia pergi. Hingga lambat laun ia akan menjadi pematung hebat.”
“Duuuh, pake perumpamaan segala! Langsung aja deh!” Rina tertawa geli mendengar uraian Dita.
“Oke...intinya begini,” Dita ikut tertawa. “Saya memulai semuanya dari nol. Kamu kan tahu, berapa bulan aku nganggur setelah lulus kuliah? 9 bulan! Sudah waktu melahirkan tuh! Padahal, saya lulus dengan predikat Terpuji. Kamu juga tahu, ketika akhirnya saya mendapatkan pekerjaan, saya terpaksa harus berhenti karena saya lulus tes untuk bisa kuliah di Program Spesialis Notariat Fak Hukum UI. Boss saya waktu itu tidak mengijinkan saya pulang lebih awal karena harus kuliah jam 4 sore.”
“Iya, saya tahu itu.” Tukas Rina.
“Tapi kamu gak tahu betapa banyaknya cucuran keringat di tubuh saya saat pergi dan pulang kuliah naik bis atau Kereta api yang selalu penuh sesak. Betapa saya harus memelototi diktat-diktat kuliah saya di bus yang pengap karena terlalu banyak materi yang harus dikuasai dan saya belum tuntas mempelajarinya di rumah. Kadang, di kereta api yang penuh pencopetnya. Berbaur pula dengan para pedagang asongan yang hilir mudik. Betapa saya sering menangis saking kesalnya dengan mata kuliah yang susahnya minta ampun. Menghafal akte-akte yang panjangnya segambreng. Betapa saya harus menunda masa pacaran saya karena malam minggu saya dilalui dengan belajar dan belajar. Apalagi kalo sedang musim ujian yang biasanya jatuh menjelang natal. Waaaah, sibuknya!” celoteh Dita panjang lebar.
Gadis berkacamata minus itu berhenti sejeda. Meneguk ice lemon tea kegemarannya.
“Kamu juga gak tahu, setelah lulus dari Program Spesialis Notariat, saya harus magang/bekerja di kantor notaris dengan gaji yang amat minim. Mana dapat boss yang pelit bukan main. Belum lagi, teman-teman sekantor yang jealous sama saya. Karena mereka bukan sarjana dan selalu merasa takut posisi uenak mereka tergeser sama karyawan baru yang bergelar SH dan CN. Kamu gak tahu juga, betapa saya berusaha sabar menghadapi tekanan dari teman-teman sekantor. Tetap tersenyum meskipun dijudesin. Tetap menolong meskipun ditindas. Sampai akhirnya masa magang itu berakhir dan mereka bisa menerima saya sebagai teman sekerja. Bukan sebagai saingan. “ lanjut Dita dengan mata menerawang, mengenang masa lalunya.
“Kamu juga gak tahu, setelah keluar dari kantor notaris, saya harus jungkir balik mengurus segala persyaratan untuk buka kantor sendiri. Menghadapi birokrasi yang membelit yang ujung-ujungnya minta duit. Padahal saya benci korupsi. Dan….yaaa…saya memang tidak pernah meladeni permintaan mereka. Sampai akhirnya SK pengangkatan saya keluar tanpa harus KKN.”
“Setelah mendapatkan SK pengangkatan, saya juga harus berjuang mencari modal. Sebab saya bukan anak orang kaya. Hingga hari ini saya juga masih berjuang mengembangkan usaha saya. Saya terus menerus belajar dan bertumbuh. Seperti seorang pematung, saya terus mengasah ‘pahat’ saya.” Ujar Dita.
Rina mengangguk-angguk, paham.
“Ternyata untuk bisa sukses,kita harus berani bayar harga yang tinggi.” Kata Rina. “Pantes, saya masih begini-gini aja dari dulu. Soalnya, nggak ada harga yang saya bayar sih.”
“So, kenapa tidak memulainya dari sekarang?” tantang Dita.
Note : Teman-teman tercinta, apa pendapat kalian setelah membaca kisah diatas? Sudahkan kalian mengasah “PAHAT” yang kalian miliki?
Komentar
yeps, comfort zone kadang memang memabukan yah, tapi jadinya pahatan itu ga indah ^^
nyip!
Yang ingin sukses harus punya senjata siap pakai yang selalu tajam terasah seperti cerita tsb.
Apalagi untuk yang masih pemula, harus mulai dari sekarang.
Meminjam peribahasa asing yang secara tidak sengaja saya temukan di sebuah bengkel milik seorang pemuda, "STRIKE WHEN THE IRON IS HOT"
ya.. saya hanya belajar dari pengalaman2 ketika saya jatuh.. ketika dikatain orang bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda..
duh.. malah saya mah ga sukses2..tertundanya lama bangetttt!! (atau mungkin pahat saya belum terasah baik)
ntahlah...
tp cerita di atas.. lumayan membuatku kembali terinspirasi untuk memikirkan beranjak ke tangga kedua dan memulai petualangan mencair pekerjaan baru ^^
heheheh..
sekali lg tq ya sobit ^_^
aku mo mahat pintu kayu kemalasan diriku.
aku mo mbongkar peti kayu kejenuhan
lho kamu tho yang minjem.
balikin dong
Carlie chaplin dan Michael Jackson aja di zaman jayanya terus berlatih dan berlatih setiap hari...ya SETIAP HARI agar dapat tampil maksimal disetiap penampilannya.
Pengalaman ngeblogku, "hanya" untuk mendapat template 3 kolom, baru kesampaian setelah puluhan blog aku buat. Aku pun masih kepingin dengan layout para blogger yang aku singgahi...blogku beum ada apa2nya, masih perlu diasah neh "pahat" ngeblognya....
Pahat apapun, baik akademis, karier, atau apapun itu perlu terus di asah, hingga napas gak ada lagi...!!!
Ada untung ada rugi
mau beruntung asah gergaji
Kali deres dekat warakas
mau sukses kerja keras
Tulisannya sangat inspiratif .. memberikan pencerahan
Hidup pencerahan
“Ternyata untuk bisa sukses,kita harus berani bayar harga yang tinggi.” Kata Rina. “Pantes, saya masih begini-gini aja dari dulu. Soalnya, nggak ada harga yang saya bayar sih.”
wuih, saatnya pergi berperang :D
hihihihi jorok
padahal aku dah ada komen disini