KACANG LUPA KULITNYA
Seorang pemuda yang buta sejak lahir sangat membenci dirinya. Ia merasa sebagai orang paling malang sedunia. Bukan dirinya sendiri yang ia benci tapi orang-orang yang ada di sekitarnya juga ia benci kecuali…..kekasihnya.
Kekasihnya adalah seorang gadis yang sangat baik dan selalu setia menemani dan menghiburnya.
“Aku janji akan menikah denganmu jika aku bisa melihat nanti,” kata pemuda itu suatu hari.
“Kamu pasti bisa melihat, sayang…..” Sang kekasih membelai rambut pemuda itu.
Beberapa waktu kemudian, ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya kepada pemuda itu. Tentu saja sang pemuda sangat gembira dan tanpa menunda lagi, matanya segera dioperasi. Sang pemuda pun bisa melihat dengan mata barunya
“Nah, kamu sudah bisa melihat. Apakah kita akan segera menikah?” Tanya sang kekasih mengingatkan akan janji pemuda itu. Sang pemuda menoleh dan memerhatikan wajah seorang gadis cantik yang duduk di hadapannya. Oh, tidaaaak! Hati sang pemuda menjerit. Gadis cantik yang selama ini menjadi kekasihnya ternyata….seorang gadis buta.
“Mana mungkin aku menikah denganmu? Kamu ‘kan buta.” Ujar sang pemuda sambil meninggalkan gadis itu.
Seminggu berlalu, sang pemuda sedang asyik memandangi wajah tampannya di cermin ketika pembantunya menyerahkan sepucuk surat untuknya.
“Sayangku, jagalah mata saya baik-baik.”
Ternyata surat itu dari sang kekasih yang telah mendonorkan matanya kepada pemuda itu.
Kisah di atas adalah satu dari sekian banyak kisah yang pernah diceritakan oleh ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.
Melalui kisah ini, ibu saya ingin mengajarkan agar saya tidak lupa untuk selalu mengingat setiap kebaikan yang pernah saya terima. Karena seringkali kita lupa untuk berterima kasih pada orang yang telah menolong kita. Seperti pepatah bilang : Lupa kacang akan kulitnya.
Namun hari ini - saat saya teringat kisah ini - saya mendapatkan satu pemahaman lain.
Tak sedikit orang di dunia ini yang ketika status atau keadaannya berubah menjadi lebih baik, maka pikiran dan sikap hidupnya pun berubah. Mereka lupa akan kehidupan lamanya yang serba susah. Lalu bagaimana Tuhan sudah mengangkat dan memberkatinya hingga menjadi seperti sekarang ini. Lupa bersyukur dan berterima kasih atas pertolongan dan kebaikan Tuhan.
Pemahaman seperti ini membuat saya segera mengerem lidah saya sebelum :
- mengeluh atas makanan yang rasanya kurang enak (bayangkan : pengemis di depan rumah yang tidak punya apa-apa untuk dimakan) ;
- berkata-kata kasar dan tidak sopan (bayangkan : seseorang yang bisu sejak lahir);
- marah-marah karena genteng bocor, rumah kurang besar (bayangkan : para gelandangan yang tidur di emperan toko);
- mengeluh atas klien yang menyebalkan, pekerjaaan yang sulit (bayangkan : ada berapa banyak orang yang menganggur);
- mengeluh harus menyetir begitu jauhnya (bayangkan : orang yang tidak punya kendaraan pribadi dan kemana-mana harus naik kendaraan umum yang penuh sesak dan banyak copet);
- memarahi orang yang berbuat salah (ingat : tidak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah melakukan kesalahan).
Bagaimanapun kondisi hidup ini, saya tahu bahwa hidup ini adalah anugerah terindah dari Tuhan. Maka, saya ingin menjalani setiap keadaan dengan ucapan syukur dan terima kasih.
Seperti kata David McCarthy : Orang yang tidak ingat untuk bersyukur adalah dia yang tertidur di dalam hidupnya.
.
Kekasihnya adalah seorang gadis yang sangat baik dan selalu setia menemani dan menghiburnya.
“Aku janji akan menikah denganmu jika aku bisa melihat nanti,” kata pemuda itu suatu hari.
“Kamu pasti bisa melihat, sayang…..” Sang kekasih membelai rambut pemuda itu.
Beberapa waktu kemudian, ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya kepada pemuda itu. Tentu saja sang pemuda sangat gembira dan tanpa menunda lagi, matanya segera dioperasi. Sang pemuda pun bisa melihat dengan mata barunya
“Nah, kamu sudah bisa melihat. Apakah kita akan segera menikah?” Tanya sang kekasih mengingatkan akan janji pemuda itu. Sang pemuda menoleh dan memerhatikan wajah seorang gadis cantik yang duduk di hadapannya. Oh, tidaaaak! Hati sang pemuda menjerit. Gadis cantik yang selama ini menjadi kekasihnya ternyata….seorang gadis buta.
“Mana mungkin aku menikah denganmu? Kamu ‘kan buta.” Ujar sang pemuda sambil meninggalkan gadis itu.
Seminggu berlalu, sang pemuda sedang asyik memandangi wajah tampannya di cermin ketika pembantunya menyerahkan sepucuk surat untuknya.
“Sayangku, jagalah mata saya baik-baik.”
Ternyata surat itu dari sang kekasih yang telah mendonorkan matanya kepada pemuda itu.
Kisah di atas adalah satu dari sekian banyak kisah yang pernah diceritakan oleh ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.
Melalui kisah ini, ibu saya ingin mengajarkan agar saya tidak lupa untuk selalu mengingat setiap kebaikan yang pernah saya terima. Karena seringkali kita lupa untuk berterima kasih pada orang yang telah menolong kita. Seperti pepatah bilang : Lupa kacang akan kulitnya.
Namun hari ini - saat saya teringat kisah ini - saya mendapatkan satu pemahaman lain.
Tak sedikit orang di dunia ini yang ketika status atau keadaannya berubah menjadi lebih baik, maka pikiran dan sikap hidupnya pun berubah. Mereka lupa akan kehidupan lamanya yang serba susah. Lalu bagaimana Tuhan sudah mengangkat dan memberkatinya hingga menjadi seperti sekarang ini. Lupa bersyukur dan berterima kasih atas pertolongan dan kebaikan Tuhan.
Pemahaman seperti ini membuat saya segera mengerem lidah saya sebelum :
- mengeluh atas makanan yang rasanya kurang enak (bayangkan : pengemis di depan rumah yang tidak punya apa-apa untuk dimakan) ;
- berkata-kata kasar dan tidak sopan (bayangkan : seseorang yang bisu sejak lahir);
- marah-marah karena genteng bocor, rumah kurang besar (bayangkan : para gelandangan yang tidur di emperan toko);
- mengeluh atas klien yang menyebalkan, pekerjaaan yang sulit (bayangkan : ada berapa banyak orang yang menganggur);
- mengeluh harus menyetir begitu jauhnya (bayangkan : orang yang tidak punya kendaraan pribadi dan kemana-mana harus naik kendaraan umum yang penuh sesak dan banyak copet);
- memarahi orang yang berbuat salah (ingat : tidak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah melakukan kesalahan).
Bagaimanapun kondisi hidup ini, saya tahu bahwa hidup ini adalah anugerah terindah dari Tuhan. Maka, saya ingin menjalani setiap keadaan dengan ucapan syukur dan terima kasih.
Seperti kata David McCarthy : Orang yang tidak ingat untuk bersyukur adalah dia yang tertidur di dalam hidupnya.
.
Komentar
maap...banyak banget hehehe
btw fan, kalo aku sih bukan kacang lupa kulitnya tapi emang aku gak doyan kulitnya jadi tak buang aja hehehe nih..nih..nih wat fanny aja, kacangnya utkku:p
Banyak cara sebenarnya agar tak lupa bersyukur:
- Mengingat masa masa sulit kita
- Melihat kehidupan orang lain yg lebih sulit.
- Menggunakan anggota tubuh kita di jalan kebaikan.
- tidak menyia nyiakan makan
dll
woogh.. nice post.refleksi hidup yang kereeen.
Itulah manusia, nga pernah puas dengan apa yang dia punya. slalu ingin yang lebih dan lebih.
sibuta karna terlalu senang. tidak mengingat kebaikan sang wanita tsbt. dan menolak wanita itu karna buta jg swt. padahal dengan mengingat kebaikan dan janji dia saja itu sudah cukup menjadi alasan untuk dia lebih mencintainya.
pelajaran yg dapat kita ambil dari artikel ini. agar senantiasa kita melihat ke bawah. masih banyak orang yg lebih susah looh. kita harus bersyukur dengan apa yang kita dpat. sehingga kita tidak sombong dan lupa diri..
tapi klo sbgai motivasi berkembang. harus dan wajib melihat ke atas. jgn puas diri. inga inga masih ada langit di atas langit...
so.. musti seimbang melihat ke atas dan kebawah..
tapi jgn sampe jereng yah matanya wakakkakakakakkakaa
memang banyak sekarang yang seperti itu....
kagak lama lagi akan banyak juga kok yang bermunculan,.....so skarang mereka gi susun janji2 mereka ntar....???
iyakan....
kenapa? sifat dasar manusia yang rakus
dikasi 1 mau 2. dikasi 2 mau tiga, dst
dikasi 1, dia lupa dulu tidak punya apa2
dikasi 2, dia lupa dulu hanya punya 1
dikasi 3, dia lupa dulu hanya punya 2
ketika manusia sudah menjadi berkecukupan dan lupa siapa dirinya sebelumnya yang tidak punya (atau kekurangan), maka sifat rakus/tamaknya yang sangat menonjol. rakus untuk menambah kebutuhan hidupnya yang lain.
ketika manusia jatuh ke keadaan menjadi kekurangan, maka sifat sombongnya menjadi muncul.
"dulu aku direktur PT X, aku mengatur seluruh orang"
dan kata-kata seperti ini sering digembar-gomborkan.
itu dulu... untuk apa disombongkan. sekarang dia jadi narapidana dan seluruh hartanya disita negara untuk membayar ganti rugi negara karena dia menyogok pejabat negara.
ah manusia, semakin hari semakin sifat buruknya yang nampak.
dunia sudah mau kiamat...
syukur...kata yg simple namun kompleks untuk tergurat dihati kita..
Yup !
Dan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan insan yang ikhlas.