Rabu, 20 Juni 2012

KEMARAHAN YANG MENULAR


Pernah berjumpa dengan orang yang pemarah? Saya sering banget ketemu orang-orang pemarah. Dan, ketika mereka mulai marah-marah tanpa saya sadari saya sering ikut ketularan amarah mereka. Saya jadi ikut marah-marah. Kemarahan memang mudah menular. Mau bukti? Yuk, kita simak kisah Billy Martin dan Mickey Mantle di bawah ini.

Suatu kali Billy Martin, manajer baseball, mengadakan perjalanan untuk berburu dengan Mickey Mantle. Mereka pergi ke peternakan teman Mickey yang bisa memberi izin berburu di peternakannya. Akhirnya mereka tiba dan Mickey menyuruh Martin menunggu di mobil sementara ia meminta izin pada sahabatnya.

Sahabatnya pun memberi izin tetapi dengan satu permintaan. “Saya memiliki satu keledai peliharaan yang buta di kandang, saya tidak tega melihatnya menderita. Maukah kau menembaknya untukku?” pinta sahabatnya.

Mickey pun menyetujui. Saat ia kembali ke mobil, ia berpura-pura marah, dan membanting pintu sampai tertutup.

Ada apa?” tanya Martin. Mickey menggeram, “Temanku tidak mengizinkan kita berburu di tanahnya. Aku kesal, dan aku akan pergi ke kandangnya untuk menembak salah satu keledainya.”

Mickey mengendarai mobil ke kandang seperti orang gila. Martin yang bersamanya pun merasa ngeri dan berteriak, “Kita tak dapat melakukan itu.”

“Coba  lihat saja,” jawab Mickey. Tiba di kandang, Mickey melompat dari mobil dengan senapannya, berlari ke dalam dan langsung menembak keledai tersebut. Tetapi saat meninggalkan kandang, ia mendengar dua tembakan lagi. Ia berlari ke dalam mobil dan melihat bahwa Martin telah mengeluarkan senapannya juga.

“Apa yang kau lakukan Martin?” teriaknya. “Kita tunjukkan pada orang brengsek itu. Aku baru saja membunuh dua dari sapi-sapinya!” Balas Martin dengan wajah penuh kemarahan.

Mickey terkesima. Ia tak menyangka Martin akan tertular kemarahannya yang sebenarnya hanya pura-pura saja. Celakanya, dua ekor sapi yang tak bersalah ikut menjadi korban.

Demikianlah ‘virus’ kemarahan begitu mudah menyebar. Tidak perlu menunggu lama. Padahal kita tahu sifat pemarah itu tidak baik.

Dr.Frank Minith berkata bahwa kemarahan mengurangi limphocytes dalam tubuh kita, yang menyebabkan menurunnya antibodi yang diperlukan untuk memerangi penyakit-penyakit menular. Untuk itu sangatlah bijak, jika kita bersikap tenang dalam menyikapi keadaan yang panas.
     
Lalu bagaimana menghindari kemarahan?

Pertama, kita harus memerhatikan keadaan yang sebenarnya dan informasi yang kita dapat haruslah terbukti jelas.

Kedua, jangan lekas gusar saat mendengar suatu perkataan atau keadaan yang membuat kita marah. Dengan memiliki kesabaran, maka kita akan beruntung.

Ketiga, selalu ingat bahwa orang yang pemarah akan dijauhi teman-temannya.

21 komentar:

uli mengatakan...

dengan memiliki kesabaran,maka kita akan beruntung. setuju mbak

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

wah berarti kalau menghindari kemarahan otomatis kita bisa hidup sehat ya mbak

Dessy Semangat Truzz mengatakan...

Sabar mahal lhooo :)

BlogS of Hariyanto mengatakan...

sebaiknya memang kita selalu mengcheck dan richeck situasi yang sebenarnya..baru bertindak...nice share post kawan :)

Meutia Halida Khairani mengatakan...

hmm, jadi teringat dulu punya bos pemarah banget... tapi saya nggak ketularan sifat pemarahnya. hehehe

ammie mengatakan...

bner jg yah,,:) marah menular, mungkin tdk hanya marah, kadang tingkah laku yg lain jg dapat menular, baik or buruk, herannya jika keburukan itu biasanya lbih cepat menular dari pd kebaikan,,huhuhu

Rika Willy mengatakan...

agar tidak menular, kalau ada yang marah kita DIAM saja dan dengarkan.

rabest mengatakan...

betuuuullll..makanya kalau ada orang marah, sebaiknya kit menjauh saja, jangan ikutan marah.. :)

Bung Penho mengatakan...

kemarahan atau amarah gue rasa adalah sifat yg sangat manusiawi, tetapi kelebihan manusia dg binatang/hewan adalah kemampuan dalam menahan segala macam rasa amarah yg timbul, men-translate-nya kembali sehingga amarah itu tidak menjurus kepada hal2 yg negatif dan dapat menimbulkan rasa amarah yg baru.

nita mengatakan...

iya sifat pemarah itu benar2 ndak baik mba, efek buruknya banyak banget. ya harus tenang dulu mkn ya kalo dgrin org lg marah jgn lsg kebawa gt.

ayie kasturi mengatakan...

senior aku, namanya mba Ida, dia pernah ngomong begini mba: "kalo ada orang yang marah2 ke kamu, kamu ga boleh ikutan marah, karena klo kamu ikutan marah, berarti kamu berhasil didikte sama orang itu."^^

RIAN Ra-kun mengatakan...

Emosi negative memang mudah menular mbak, tapi emosi positive juga toh. Itulah sebab kita diajarkan untuk berkumpul dengan orang baik :D

@yankmira mengatakan...

marah itu seperti ujian matematika. Belom dibaca soalnya aja udah keburu males. akibatnya, belom clear masalahnya udah marah-marah *eh nyambung ga ya hihhihi

Muhammad A Vip mengatakan...

saya bukan pemarah lho. cuma kadang kadang

Poerwanto Sigit mengatakan...

syukur deh temen2 kerja aku malah pada gila2an, ketawa sana sini ga jelas, becanda. jadi ketularannya ya gila2an bukan marah..ngeri kalau ketularan marah, bisa menutup pandangan kita bahwa mereka adalah keluarga..

joe mengatakan...

rupanya menular seperti penyakit ya

Asop mengatakan...

Eh waduh, ini benar juga, kalo lawan bicara saya marah2, saya bisa ketularan marah juga. :D

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

berarti harus tutup kuping ya kalau ada orang marah takut ketularan :)

Annesya mengatakan...

sabar pangkal kaya heehee

Miawruu mengatakan...

mia nih, gampang meledak emosinya >.< harus melatih diri agar ga gampang meleduk kyk tabung gas elpiji :P

rinz mengatakan...

waduuuh.. kasian sapi-sapi..