Pernah
berjumpa dengan orang yang pemarah? Saya sering banget ketemu orang-orang
pemarah. Dan, ketika mereka mulai marah-marah tanpa saya sadari saya sering
ikut ketularan amarah mereka. Saya jadi ikut marah-marah. Kemarahan memang mudah
menular. Mau bukti? Yuk, kita simak kisah Billy Martin dan Mickey Mantle di
bawah ini.
Suatu
kali Billy Martin, manajer baseball, mengadakan perjalanan untuk berburu dengan
Mickey Mantle. Mereka pergi ke peternakan teman Mickey yang bisa memberi izin
berburu di peternakannya. Akhirnya mereka tiba dan Mickey menyuruh Martin
menunggu di mobil sementara ia meminta izin pada sahabatnya.
Sahabatnya
pun memberi izin tetapi dengan satu permintaan. “Saya memiliki satu keledai peliharaan yang buta di kandang, saya tidak
tega melihatnya menderita. Maukah kau menembaknya untukku?” pinta
sahabatnya.
Mickey
pun menyetujui. Saat ia kembali ke mobil, ia berpura-pura marah, dan membanting
pintu sampai tertutup.
“Ada apa?” tanya Martin. Mickey menggeram, “Temanku tidak mengizinkan kita berburu di tanahnya. Aku kesal, dan aku
akan pergi ke kandangnya untuk menembak salah satu keledainya.”
Mickey
mengendarai mobil ke kandang seperti orang gila. Martin yang bersamanya pun
merasa ngeri dan berteriak, “Kita tak
dapat melakukan itu.”
“Coba
lihat saja,” jawab Mickey.
Tiba di kandang, Mickey melompat dari mobil dengan senapannya, berlari ke dalam
dan langsung menembak keledai tersebut. Tetapi saat meninggalkan kandang, ia
mendengar dua tembakan lagi. Ia berlari ke dalam mobil dan melihat bahwa Martin
telah mengeluarkan senapannya juga.
“Apa yang kau lakukan Martin?” teriaknya. “Kita
tunjukkan pada orang brengsek itu. Aku baru saja membunuh dua dari
sapi-sapinya!” Balas Martin dengan wajah penuh kemarahan.
Mickey
terkesima. Ia tak menyangka Martin akan tertular kemarahannya yang sebenarnya
hanya pura-pura saja. Celakanya, dua ekor sapi yang tak bersalah ikut menjadi
korban.
Demikianlah
‘virus’ kemarahan begitu mudah menyebar. Tidak perlu menunggu lama. Padahal kita
tahu sifat pemarah itu tidak baik.
Dr.Frank
Minith berkata bahwa kemarahan mengurangi limphocytes
dalam tubuh kita, yang menyebabkan menurunnya antibodi yang diperlukan untuk
memerangi penyakit-penyakit menular. Untuk itu sangatlah bijak, jika kita bersikap
tenang dalam menyikapi keadaan yang panas.
Lalu
bagaimana menghindari kemarahan?
Pertama,
kita harus memerhatikan keadaan yang sebenarnya dan informasi yang kita dapat
haruslah terbukti jelas.
Kedua,
jangan lekas gusar saat mendengar suatu perkataan atau keadaan yang membuat
kita marah. Dengan memiliki kesabaran, maka kita akan beruntung.
Ketiga,
selalu ingat bahwa orang yang pemarah akan dijauhi teman-temannya.
21 komentar:
dengan memiliki kesabaran,maka kita akan beruntung. setuju mbak
wah berarti kalau menghindari kemarahan otomatis kita bisa hidup sehat ya mbak
Sabar mahal lhooo :)
sebaiknya memang kita selalu mengcheck dan richeck situasi yang sebenarnya..baru bertindak...nice share post kawan :)
hmm, jadi teringat dulu punya bos pemarah banget... tapi saya nggak ketularan sifat pemarahnya. hehehe
bner jg yah,,:) marah menular, mungkin tdk hanya marah, kadang tingkah laku yg lain jg dapat menular, baik or buruk, herannya jika keburukan itu biasanya lbih cepat menular dari pd kebaikan,,huhuhu
agar tidak menular, kalau ada yang marah kita DIAM saja dan dengarkan.
betuuuullll..makanya kalau ada orang marah, sebaiknya kit menjauh saja, jangan ikutan marah.. :)
kemarahan atau amarah gue rasa adalah sifat yg sangat manusiawi, tetapi kelebihan manusia dg binatang/hewan adalah kemampuan dalam menahan segala macam rasa amarah yg timbul, men-translate-nya kembali sehingga amarah itu tidak menjurus kepada hal2 yg negatif dan dapat menimbulkan rasa amarah yg baru.
iya sifat pemarah itu benar2 ndak baik mba, efek buruknya banyak banget. ya harus tenang dulu mkn ya kalo dgrin org lg marah jgn lsg kebawa gt.
senior aku, namanya mba Ida, dia pernah ngomong begini mba: "kalo ada orang yang marah2 ke kamu, kamu ga boleh ikutan marah, karena klo kamu ikutan marah, berarti kamu berhasil didikte sama orang itu."^^
Emosi negative memang mudah menular mbak, tapi emosi positive juga toh. Itulah sebab kita diajarkan untuk berkumpul dengan orang baik :D
marah itu seperti ujian matematika. Belom dibaca soalnya aja udah keburu males. akibatnya, belom clear masalahnya udah marah-marah *eh nyambung ga ya hihhihi
saya bukan pemarah lho. cuma kadang kadang
syukur deh temen2 kerja aku malah pada gila2an, ketawa sana sini ga jelas, becanda. jadi ketularannya ya gila2an bukan marah..ngeri kalau ketularan marah, bisa menutup pandangan kita bahwa mereka adalah keluarga..
rupanya menular seperti penyakit ya
Eh waduh, ini benar juga, kalo lawan bicara saya marah2, saya bisa ketularan marah juga. :D
berarti harus tutup kuping ya kalau ada orang marah takut ketularan :)
sabar pangkal kaya heehee
mia nih, gampang meledak emosinya >.< harus melatih diri agar ga gampang meleduk kyk tabung gas elpiji :P
waduuuh.. kasian sapi-sapi..
Poskan Komentar