Ami
baru saja menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan. Keuangan cukup,
kesehatan baik, pekerjaan suami diberkati, para sahabat memedulikannya. Tetapi
pada bulan ketiga kehamilannya, ia mengalami kecelakaan sehingga harus
kehilangan janin yang ada dalam kandungannya. Seolah tidak cukup, perusahaan
tempat suaminya bekerja terancam bangkrut. Saudaranya yang setiap tahun datang
mengunjunginya, di hari ucapan syukur kali ini tidak bisa datang.
Salah
seorang teman Ami menganjurkan agar ia mengucap syukur atas semua kejadian yang
ia alami, karena itu akan mendewasakannya. “Mengucap
syukur? Apa yang harus disyukuri? Aku mengalami banyak hal buruk,” gumamnya
dalam hati.
Pagi
itu Ami mendatangi toko bunga. “Aku pesan
sebuah karangan bunga,” katanya.
“Untuk hari ucapan syukur?” tanya penjaga toko.
“Tidak. Rasanya tidak ada yang perlu
disyukuri, beberapa bulan belakangan ini aku mengalami banyak kejadian
menyesakkan,” jawab Ami.
“O, mungkin kau mencoba karangan bunga
spesial? Salah seorang pelanggan kami sangat menyukainya karena karangan bunga
ini bercerita banyak mengenai jalan hidupnya,” kata penjaga toko menawarkan.
Sementara
mereka berbincang, seorang wanita bernama Barbara masuk. “Aku mau mengambil pesananku, apakah sudah selesai?”
“Tentu, aku sudah menyiapkannya. Mau
dimasukkan ke dalam kotak atau tidak?” kata
penjaga toko.
“Tidak, terima kasih,” jawab Barbara. Penjaga toko pun mengambil karangan
bunga pesanan Barbara. Karangan bunga yang lain dari yang lain, hanya rangkaian
cabang-cabang mawar beserta durinya, dan tak satu pun kelihatan bunga di sana. Ami menatap heran.
Penjaga
toko menjelaskan kepada Ami, “Tiga tahun
yang lalu Barbara datang ke toko ini dengan perasaan seperti yang kau alami
saat ini. Ia tidak ada alasan untuk mengucap syukur. Ayahnya meninggal, anaknya
terjerat narkoba, usaha keluarga gagal, dan ia sendiri harus menjalani operasi
besar. Aku pun pernah punya pengalaman yang sama. Aku kehilangan suami dan
anakku, tidak ada keluarga yang dekat, hutangku menumpuk dan untuk pertama
kalinya aku menjalani hidup seorang diri, “tutur penjaga toko.
“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Ami.
“Aku belajar mengucap syukur bukan hanya
untuk ‘bunga-bunga’, melainkan juga untuk ‘duri-duri’ dalam hidupku, karena itu
penting untuk mendewasakanku.” Jawab
si penjaga toko.
11 komentar:
kesulitan yang da memang harus disukuri juga yeah mbak karna hanya sekedar mengingatkan bukan siksa dari tuhan
membayangkan penderitaan barbara. kasihan ya...
:'(
kadang susah kalo lagi kena duri mba :( tapi harus bisa ttp bersyukur..
lebih susah lagi pas lagi kena bunga
pagi mba fanny, makasih yo renungannya.
bener juga ya, hrs bersyukur utk semua yg dialami :)
Aduh.. semoga kita bisa selalu bersyukur untuk semua bunga dan duri dalam hidup kita ya, Mbak..
Terutama aku yang sering lupa. Makasih ud mengingatkan :)
Mengucap syukurlah dalam berbagai hal, karena itulah yang Tuhan mau buat elo, me and anyone, everyone! hehehee... great story!
karena hidup ini kompleks..
ada suka dan duka...
:)
Renungan yang menyentuh hati. Trims ya Mba.
Sukse selalu
Salam
Ejawantah's Blog
Sellau beryukur bagaimanapun keadaannya karena semua itu bermanfaat buat kita.. Terimakasih tulisannya sangat menginspirasi
luar biasa tuh orang... ^^
Poskan Komentar