Senin, 07 Mei 2012

MENGUCAP SYUKUR UNTUK DURI-DURI KEHIDUPAN

Ami baru saja menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan. Keuangan cukup, kesehatan baik, pekerjaan suami diberkati, para sahabat memedulikannya. Tetapi pada bulan ketiga kehamilannya, ia mengalami kecelakaan sehingga harus kehilangan janin yang ada dalam kandungannya. Seolah tidak cukup, perusahaan tempat suaminya bekerja terancam bangkrut. Saudaranya yang setiap tahun datang mengunjunginya, di hari ucapan syukur kali ini tidak bisa datang.

Salah seorang teman Ami menganjurkan agar ia mengucap syukur atas semua kejadian yang ia alami, karena itu akan mendewasakannya. “Mengucap syukur? Apa yang harus disyukuri? Aku mengalami banyak hal buruk,” gumamnya dalam hati.

Pagi itu Ami mendatangi toko bunga. “Aku pesan sebuah karangan bunga,” katanya.

“Untuk hari ucapan syukur?” tanya penjaga toko.

“Tidak. Rasanya tidak ada yang perlu disyukuri, beberapa bulan belakangan ini aku mengalami banyak kejadian menyesakkan,” jawab Ami.

“O, mungkin kau mencoba karangan bunga spesial? Salah seorang pelanggan kami sangat menyukainya karena karangan bunga ini bercerita banyak mengenai jalan hidupnya,” kata penjaga toko menawarkan.

Sementara mereka berbincang, seorang wanita bernama Barbara masuk. “Aku mau mengambil pesananku, apakah sudah selesai?”

 “Tentu, aku sudah menyiapkannya. Mau dimasukkan ke dalam kotak atau tidak?” kata penjaga toko.

“Tidak, terima kasih,” jawab Barbara. Penjaga toko pun mengambil karangan bunga pesanan Barbara. Karangan bunga yang lain dari yang lain, hanya rangkaian cabang-cabang mawar beserta durinya, dan tak satu pun kelihatan bunga di sana. Ami menatap heran.

Penjaga toko menjelaskan kepada Ami, “Tiga tahun yang lalu Barbara datang ke toko ini dengan perasaan seperti yang kau alami saat ini. Ia tidak ada alasan untuk mengucap syukur. Ayahnya meninggal, anaknya terjerat narkoba, usaha keluarga gagal, dan ia sendiri harus menjalani operasi besar. Aku pun pernah punya pengalaman yang sama. Aku kehilangan suami dan anakku, tidak ada keluarga yang dekat, hutangku menumpuk dan untuk pertama kalinya aku menjalani hidup seorang diri, “tutur penjaga toko.

“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Ami.

“Aku belajar mengucap syukur bukan hanya untuk ‘bunga-bunga’, melainkan juga untuk ‘duri-duri’ dalam hidupku, karena itu penting untuk mendewasakanku.” Jawab si penjaga toko.



11 komentar:

pengisah mengatakan...

kesulitan yang da memang harus disukuri juga yeah mbak karna hanya sekedar mengingatkan bukan siksa dari tuhan

zachflazz mengatakan...

membayangkan penderitaan barbara. kasihan ya...

uci cigrey mengatakan...

:'(
kadang susah kalo lagi kena duri mba :( tapi harus bisa ttp bersyukur..
lebih susah lagi pas lagi kena bunga

nita mengatakan...

pagi mba fanny, makasih yo renungannya.

ke2nai mengatakan...

bener juga ya, hrs bersyukur utk semua yg dialami :)

Della mengatakan...

Aduh.. semoga kita bisa selalu bersyukur untuk semua bunga dan duri dalam hidup kita ya, Mbak..
Terutama aku yang sering lupa. Makasih ud mengingatkan :)

Bung Penho mengatakan...

Mengucap syukurlah dalam berbagai hal, karena itulah yang Tuhan mau buat elo, me and anyone, everyone! hehehee... great story!

Dihas Enrico mengatakan...

karena hidup ini kompleks..
ada suka dan duka...
:)

Indra Kusuma mengatakan...

Renungan yang menyentuh hati. Trims ya Mba.

Sukse selalu
Salam
Ejawantah's Blog

lilis mengatakan...

Sellau beryukur bagaimanapun keadaannya karena semua itu bermanfaat buat kita.. Terimakasih tulisannya sangat menginspirasi

nuel mengatakan...

luar biasa tuh orang... ^^