Dea sedang
jalan-jalan di mal bersama Bram, suaminya ketika Dea melihat sepasang suami
isteri yang sangat mesra.
Dea mencolek
pinggang Bram.
“Mas..lihat deh
suami isteri yang sedang melihat-lihat toko elektronik itu. Mesra ya? Suaminya selalu mengenggam
isterinya dengan erat seolah-olah takut sang isteri terjatuh.”
Bram memandang ke
arah yang ditunjuk isterinya.
“Oh, namanya juga
suami isteri ya..pasti genggaman tangan dong.”
“Iya, memang
harusnya begitu itu seorang suami sama isterinya. Mesra. Gak kayak mas Bram
yang jarang menggenggam tanganku. Kalau jalan suka ninggalin aku di belakang.”
Dea cemberut.
Bram tertawa geli
melihat isterinya,
“Yeee...bilang
aja kamu iri. Pengen digenggam juga. Sini..sini kugandeng deh tangannya.” Bram
mengambil tangan kiri isterinya dan menggandengnya erat.
Dea menepis
tangan suaminya. “Ih, kalau aku cemberut baru deh mau gandeng. Itu namanya gak
tulus. Gak dari dasar hati yang terdalam.”
Bram tersenyum.
Dilepaskannya tangan isterinya lalu berjalan menghampiri pasangan suami isteri yang mesra itu.
“Ehem..maaf
pak..saya mau tanya sesuatu nih.” Kata Bram kepada sang suami.
“Oh..mau tanya
apa ya, pak?” Sang suami memandang Bram, heran.
“Bapak mesra amat
sama isterinya. Isteri saya sampai iri tuh. Dia minta digenggam tangannya
seperti bapak menggenggam tangan isteri bapak.” Bisik Bram di telinga si suami.
Mendengar
pertanyaan itu, sang suami segera melepaskan tangan isterinya lalu berbisik di
telinga Bram :
“Sebenarnya sih
bukan mesra, pak. Tapi saya takut isteri saya nyelonong sendirian ke toko-toko
yang ada di sini. Dan, kalau dia sudah jalan sendirian, bisa-bisa dia belanja
ini itu yang bikin kantong saya bolong. Nah, daripada dia shopping gila-gilaan
mendingan saya genggam tangannya dengan mesra biar saya bisa mengingatkannya
setiap saat. He he he..”
Bram mengangguk-angguk.
Tersenyum puas lalu mengucapkan terima kasih. Sambil masih tersenyum, Bram menghampiri
Dea yang sedang melihat-lihat perhiasan di sebuah toko emas.
“Mulai sekarang, mas
akan bersikap mesra kepadamu terutama kalau lagi di mal.” Ujar Bram kepada Dea
sambil menggandeng tangan isterinya.
“Wah, mas mau
niru bapak yang tadi itu ya? Ih, seneng deh!” Dea kegirangan sambil
menggelendot manja di bahu suaminya.
“Iya dong....biar
kamu nggak menghabiskan uangku.” Jawab Bram geli.
“Lho? Maksudnya
apa?” Dea bingung.
“Ya, kalau mas
selalu menggandeng tanganmu waktu kita di mal, kan setiap saat mas bisa narik
tanganmu kalau kamu sudah kepingin belanja yang mahal-mahal. Ini namanya
ekonomis binti romantis.”
“Huh! Dasar suami
pelit!” Dea manyun.
13 komentar:
Hahaha, LOL.
Ternyata digandeng ada maksudnya ya...
Gandengan bervisi ekonomis! Ada udang dibalik batu ... hehehe
jadi para pria kalau menggandeng wanitanya modus nih hihihi
hihihihi ...
berarti suamiku gak boleh baca ini, nanti ditirunya pulak
soale selama ini gak pernah digandeng klo pas lihat2 hihihii
wkwkwkwkwk.... buat pelajaran ne buat aku yang belum jadi suami
Permisi, cuman mau share aja nih. ada info lomba bikin artikel. Hadiahnya lumayan ada 2 buah printer laser jet dan voucher. Caranya tinggal like fanpage >> http://www.facebook.com/anugrahpratamacom. Dan ikuti Contest menulis artikelnya.
Terima kasih
bagus untuk ke duanya.LOL
ahahahahaa, betul juga tuh gan, bisa romntis, bisa ngirit juga, hehehe
romantis yang oportunis
hahhaha
ahahahahaha... ngakak aku mba... mba fanny bs z dech :D
capek dehh ternyata romantisnya berujung ekonomis wkwkwk tp sipp dehh luculucu :)
hahaha ketauaaan
Aku ngga mau digandeng ah kalau gini hehehe
boleh juga dipraktekkan buat yang cowok2....
cowok juga kadang pusing dengan isteri yang over belanja...
:P
Poskan Komentar