Minggu, 15 Maret 2009

FAJAR TELAH MEREKAH

Asal usul ide :
Suatu ketika pernah terlintas di benakku, gimana rasanya kalo salah satu bagian tubuh kita cacat? Apakah orang-orang terdekat kita bisa menerima kita apa adanya? Masih sayang sama kita? Note : cerpen ini dibuat dengan gaya bahasa yang cenderung lembut. Sungguh diluar kebiasaan saya yang suka 'ngasal' kalau menulis

Pipi tirus itu telah basah. Aliran bening menyapu bedak yang memolesnya. Timm melihat pemandangan itu dengan hati galau. Kecewa dan rasa tak percaya menghimpitnya. Betapa tidak, Tina gadis yang selama ini begitu dipujanya kini menjadi seorang gadis lumpuh. Gadis yang lemah, tak berdaya. Yang tak mungkin lagi diajak menelusuri gunung-gunung tinggi. Tina yang energik, yang lincah dan pemberani seperti lenyap. Yang ada hanyalah seorang gadis cacat!



Akh! Timm tak tahu harus berbuat apa. Ia begitu kecewa, sangat kecewa. Ia tak mengerti, mengapa kecelakaan itu harus merenggutkan sepasang kaki Tina? Mengapa bukan kaki Rini yang lebih suka naik mobil daripada jalan kaki ke manapun ia pergi? Atau kaki Sisi yang anti naik gunung? Mengapa harus Tina?

"Timm... " Suara lirih Tina menyentakkan Timm. Timm menatap mata bening Tina tanpa menjawab.

"Kamu kecewa dengan keadaan saya?" tanya Tina hampir tak terdengar.

"Saya tidak tahu," jawab Timm, lesu.

"Saya tahu apa yang tersimpan di hatimu, Timm. Saya mengerti perasaanmu, " ujar Tina masih dengan suara lirih. Timm diam. Mengarahkan pandang ke luar. Memperhatikan kembang sepatu yang tertanam rapi di halaman rumah Tina.

"Saya rasa, " kata Tina lagi, "kita harus berpisah. Saya tidak mungkin kembali seperti dulu. Dan... saya tidak cocok untuk seorang Timm yang raja gunung. " Meski hati kecilnya masih mencintai Timm, tapi Tina memaksakan diri untuk mengucapkan kata-kata itu. Gadis itu berusaha kukuh, berusaha untuk tidak menangis lagi. Ia tak ingin menjadi gadis cengeng hanya karena sebuah keputusan yang diucapkannya sendiri. Kendati tadi ia telah menunjukkan kecengengannya, yang timbul karena rasa iba pada dirinya.

Timm terhenyak mendengar ucapan Tina. Tak pernah disangkanya kalau Tina bisa mengambil keputusan itu. Sepertinya, ia tahu apa yang berkecamuk di benak Timm.
Ah, keresahan bagai menyerbu Timm. Dia masih mencintai Tina tapi... rasanya ia tak dapat membayangkan akan seperti apa hubungan mereka nanti? Ada jarak yang memisahkan mereka, Yah. bagaimana mungkin Tina yang lumpuh, dapat meniti hari bersamanya, seorang pemuda yang selalu ingin bergerak?

"Tina, saya tidak ingin melukai hatimu, " ujar Timm kemudian.

"Siapa yang terluka, Timm? Kita berpisah baik-baik bukan?" Nada suara Tina, tenang. Padahal dalam hati seribu jarum rnenghunjamnya.

"Jangan ucapkan kalimat itu lagi, Tina. " Timm menukas. "Saya kemari bukan untuk disuguhi kepahitan. Tapi saya ingin melihatmu, menikmati senyummu dan... "

"Apa lagi yang kau lihat pada diriku, Timm? Kakiku yang cacat ini? Oh, kau tak usah menghiburku, Timm. Saya tahu apa yang kau rasakan. Kamu kecewa 'kan? “ sergah Tina.
"Tina, kau jangan berprasangka begitu."

"Saya melihat kenyataannya, Timm. Saya merasakan tatapanmu yang memendam sejuta kecewa. "

"Akh, sudahlah Tina. Lebih baik kita bicara soal lain saja.” Timm kehabisan kata.

"Saya tak mau bicara soal, apapun kecuali hubungan kita!" Tina bersikeras pada keinginannya. Seperti Timm, iapun kecewa. Kecewa pada sikap Timm. Bayangannya selama ini sinar. Timm tidak merengkuhnya, tidak menghiburnya. Dia hanya memandangi Tina dengan sinar mata kecewa. Ah, jadi Timm hanya mencintai fisiknya. Mencintai kakinya. Padahal dia ingin Timm menerima dirinya seperti dulu. Tapi ini... oh, Tina melihat ada yang lain dalam tatapan Timm. Keceriaannya, kehangatannya bagai menguap entah kemana. Barangkali itulah yang mendesak air matanya untuk keluar. Rasa sedih dan kecewa.

"Tina, saya tidak ingin bertengkar. Pikiranmu sedang kalut dan tampaknya kehadiran saya akan menambah kacau suasana. Saya permisi dulu." Timm bangkit dari duduknya. Menatap Tina sejenak lalu melangkah gontai.
***

Malam telah larut. Sebentar lagi hari akan berganti. Timm menggolekkan tubuhnya menghadap dinding. Sepanjang malam ia tak dapat memejamkan matanya. Kata-kata dan sikap Tina tadi sore telah menimbulkan kecamuk yang mengusir rasa kantuk. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Tina mendadak ingin memutuskan hubungan? Mungkinkah karena sikapku sendiri? batinnya.

Memang, sejak kecelakaan lalu lintas yang dialami Tina, baru hari inilah Timm datang menjenguk. Karena kecelakaan itu terjadi di Palembang dan Timm sengaja tidak diberitahu. Tina tak ingin mengganggu konsentrasi Timm yang tengah menghadapi Ujian akhir. Hingga ujian usai dan Tina kembali ke Jakarta, barulah kabar kecelakaan itu diberitahu.

Dan, Timm yang mengira Tina tidak mengalami cedera datang dengan hati diliputi kerinduan. Tetapi... betapa terkejutnya ia menyaksikan siapa yang duduk di kursi roda. Selaksa kecewa seketika menyerbunya, membuatnya lupa bagaimana seharusnya sikap seorang kekasih melihat musibah yang dialami gadisnya. Timm hanya memandangi Tina dengan kecewa. Rasa egonya telah membekukan bibirnya., Ya, ia merasa Tina tak akan lagi bisa menemaninya, bercanda dengannya seperti dulu. Apalagi bersamanya mendaki gunung.

Betapa egoisnya aku, bisik hati Timm penuh sesal. Semestinya, aku tidak menunjukkan kekecewaanku. Ah, pantas Tina menginginkan hubungan itu putus. Seharusnya aku menghibur dan memberi kecupan atau merengkuhnya. Ia butuh perhatianku.

Lama, Timm merenungi sikapnya. Tidak, aku tidak mau memutuskan tali kasih itu hanya karena kelumpuhannya. Tina adalah Tina. Seperti apapun keadaannya, dia tetap gadisku. Kekasihku. Berpikir begitu, Timm meraih tangkai telpon yang terletak di meja kecil bersebelahan dengan peraduannya. Lalu ditekannya tombol angka.

"Hallo... " terdengar suara Tina yang mengantuk.

"Hallo, Tina. Ini Timm. "

"Timm, ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Saya cuma ingin mengucapkan kalau saya tetap mencintaimu apapun yang terjadi. "

“Timm…..”
“Tidur yang nyenyak Tina. Besok pagi saya akan datang. "

"Ini sudah pagi, Timm. "

"O, iya, kalau begitu selamat pagi, Tina manis. "
'Timm... "

Tapi, Timm sudah meletakkan tangkai telpon. Ada senyum tersungging di bibirnya. Diluar sana Fajar telah merekah. Seperti cinta Timm pada Tina...

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Indonesia Minggu, 23 Mei 1993

17 komentar:

SENDAL JEPIT mengatakan...

hiks-hiks mengharukan sekali, jadi pgn nangis ni.

suryaden mengatakan...

ya, jadilah pemilik cinta yang tulus...go..go..go..

Penny mengatakan...

ketulusan Cinta itu adalah nugerah terindah dari Nya untuk makhluk Nya.
tapi kenapa hanya sedikit aja yg mampu merasakannya?

Dodi Maul mengatakan...

@mbak penny
kok bisa bilang hanya sedikit aja sh?
cinta kn mampu drasain m smua orang

Erik15398 mengatakan...

Hemm cinta yang tulus, cinta yang didambakan setiap orang

Ifoel mengatakan...

dengan cinta, semua dapat merasakan betapa berartinya hidup ini... ngga percaya? silahkan deh hidup dngan tnpa cinta.. :-)

riosisemut mengatakan...

Hmmm...sebuah kisah yg begitu mengharukan.
Emang ketulusan cinta adalah dambaan setiap manusia.

Pipit mengatakan...

saya belum menemukan cinta yg tulus itu..
(nangis ingus)

J O N K mengatakan...

lagi,lagi ... cerita yang membuat saya merinding.

Lho koq bisa sih mba buat cerita yang kayak beginih ?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

@jonk : gak tahu nih, Jonk. Kebanyakan baca novel dan ngayal kali ya..he hehe...

quinie mengatakan...

mbaaaa... ajarin sayah nulis kaya dikauuuu

Dhe mengatakan...

ga pengen nangis...
kabur dulu^^

dhie mengatakan...

barusan dibisikin tetangga sebelah, katanya cerpen ini gambaran tentang unconditional love

Fauzan mengatakan...

waduh...panjang banget postingannya...
saya baca di rumah aja mbak ya...
saya mau lebih menghayati saat membacanya...

:)

kayaknya sih menarik...

:)

keep blogging!

vie_three mengatakan...

ihiks-ihiks..... uwaaaahhhhh...... *mengusap ingus yg keluar*
eh berarti si timm gak tidur semalaman ya mbak.... timm-timm kamu ntu untung ajah cepet sadar.....

Nyante Aza Lae mengatakan...

terharu dq mbak
(*wlo gak baca), ikutan komen2 pendahulu
kkkkkk

attayaya mengatakan...

kenapa cinta harus merekah seperti fajar?