Terinspirasi dengan kisah cinta seorang kawan yang putus di tengah jalan karena perbedaan agama.
Baru saja aku memasuki gerbang kampus ketika mataku menangkap dua sosok tubuh yang berjalan beberapa meter di depanku. Rindy dan Aldo. Wahai, betapa mesranya! Tangan mereka saling menggenggam. Langkah mereka begitu lambat seolah mereka sedang menikmati udara pagi yang segar. Duh! Mengapa pula hati ini mesti merasa iri? Cemburukah aku? Pada siapa? Rindy? Atau, pada kebahagiaan mereka? Entah. Kugelengkan kepala, mencoba tabah. Oh, kuatkan aku Yesus…. Jangan biarkan aku dibelenggu perasaan ini. Aku yang membuat keputusan itu. Aku pula yang mesti menanggung akibatnya.

Perlahan, aku terus melangkah. Adegan mesra di depanku tak lagi kuperhatikan. Aku harus bisa melupakannya, tekadku sambil mengalihkan pandang ke sebelah kanan. Beberapa mahasiswa tampak sedang bersenda gurau di pelataran parkir yang luas. Hmm, berapa lama hari-hariku tak lagi seceria mereka ? Berapa lama aku berkubang dalam kolam kesepian?
“Tisha!” Aku menghentikan langkah dan menoleh. Yudo. Cowok itu tersenyum lembut. “Rajin banget sih kamu pagi-pagi sudah datang.”
“Kamu juga,” Ujarku balas tersenyum.
“Iya, kita sama-sama rajin.”
“Ge-ernya!” Aku tertawa sambil melanjutkan langkah. Yudo menjejeri langkahku.
“Tis, pagi cerah begini tapi tampangmu muram amat. Kayaknya aku nggak pernah ngeliat kamu gembira. Ada apa sih? Masih mikirin Aldo, ya?” tanyanya.
“Entahlah, “ Aku angkat bahu. “Aku sendiri bingung. Kenapa aku masih saja mengingatnya?”
“Itu tandanya kamu masih mencintai dia.” Kata Yudo.
“Maybe.” Aku berhenti di halaman gedung Fakultas Hukum. Duduk di bangku kayu yang terletak di depan ruang senat.
“Alangkah bahagianya lelaki yang dicintai oleh gadis selembut kamu. Seandainya aku dapat merebut cintamu dari Aldo,” Ucap Yudo sembari duduk di sampingku. “Apakah seluruh ruang di hatimu hanya untuk Aldo? Apakah untukku tak ada ruang yang tersisa?” Tanyanya lirih.
“Aku nggak tahu, Yud..”
“Aku sungguh-sungguh, Tis.”
“Sudahlah, Yud. Kita bersahabat saja dulu.” Elakku lalu bergegas bangkit memasuki gedung Fakultas Hukum.
**
Kuliah hari ini sama sekali tak dapat kuikuti dengan baik. Kata-kata Yudo terngiang di telingaku. Yudo yang baik dan penuh perhatian. Haruskah aku menerima cintanya? Haruskah dia menjadi tempat pelarianku? Oh, tidak…..Aku tidak mau bermain-main dengan perasaan orang lain. Aku tidak mau melukai hatinya. Yudo terlalu baik.
“Tis, jangan lupa nanti ada persekutuan.” Suara Yudo mengejutkan aku. Aku hanya mengangguk. Akh, Yudo….Cowok itu memang seorang Kristen yang sejati. Sikapnya, tingkah lakunya mencerminkan seorang yang taat pada agamanya.
Dalam setiap kegiatan agama Kristen di kampus dia tak pernah absen. Dia pula yang banyak membimbingku untuk lebih dekat pada Tuhan, terutama setelah hubunganku dengan Aldo berakhir. Yah, kadang aku berangan seandainya Aldo adalah Yudo. Tentu aku masih menikmati masa-masa indah bersamanya. Tapi, rupanya Tuhan menghendaki lain. Aldo bukan lelaki yang dipilihNya untuk mendampingiku. Ada jurang pemisah di antara kami.
Aldo seorang penganut agama Budha yang fanatik, sedangkan aku begitu meyakini agama Kristen. Tidak mungkin bagi kami untuk bersatu lebih lama lagi. Terlalu banyak resiko bila kami tetap ngotot menjalin hubungan kasih. Apalagi, masing-masing dari kami tak bersedia melepaskan kepercayaan yang kami anut untuk kemudian memeluk agama lain.
Maka, sebelum akar cinta melekat lebih dalam, aku memutuskan tali kasih itu. Kendati, aku masih sangat mencintainya. Dan, Aldo tampaknya mau mengerti. Kamipun berpisah baik-baik.
Tak lama setelah perpisahan itu, Aldo menemukan penggantiku. Rindy, mahasiswa kedokteran yang cantik itu berhasil digaetnya. Begitu mudah Aldo melupakanku, tapi mengapa aku tidak bisa melupakannya? Apakah benar cinta seorang wanita lebih abadi daripada cinta seorang pria? Atau, aku yang terlalu mencintainya?
“Tisha!” Ada yang menyentuh lenganku. Aku tergugu. Lamunanku buyar. Kulihat Yudo sudah berdiri di hadapanku.
“Melamun, heh?” Dia tersenyum. Aku ikut tersenyum lalu bangkit dari dudukku. Ternyata, kuliah sudah usai. Dosen Pengantar Sosiologi telah keluar dari ruangan.
“Ke kantin, yuk!” Ajak Yudo. “Persekutuannya masih 1 jam lagi,” Lanjutnya. Aku hanya manggut.
Di kantin, aku melihat Aldo dan Rindy. Akh, mengapa aku selalu merasa cemburu melihat mereka? Betapa sulit menepis cinta ini.
“Tisha, berapa lama kamu bertahan dengan keadaan ini?” Tanya Yudo. Dia ikut melihat ke arah Rindy dan Aldo.
“Aku nggak tahu,” Ujarku merunduk, memperhatikan isi gelasku.
“Kamu menyiksa dirimu sendiri, Tis.” Ujar Yudo. “Izinkanlah aku untuk memupus bayang Aldo dari hatimu. Aku ingin meniti hari bersamamu.” Lembut suara Yudo.
Aku diam. Bagaimana mungkin, Yud? Batinku pilu. Aku tidak mencintaimu. Aku tak pernah merasakan getaran aneh saat kita berduaan seperti ini. Tapi, dengan Aldo…Oh, apa yang mesti kulakukan, Yesus? Apakah cowok ini memang pilihanMu?
“Tisha, “ Yudo menggenggam tanganku. “Apakah aku nggak punya harapan untuk mengisi ruang di hatimu?”
“Aku…..,” Kutatap Yudo. Duh, ada pijar kasih di sana. Penuh kelembutan dan kemesraan. Akh, aku harus mengusir bayang Aldo dari hatiku. “Yud, percayakah kamu bahwa cinta akan tumbuh oleh kebersamaan? Oleh waktu yang cukup lama?” Tanyaku akhirnya. Yudo mengangguk.
“Kalau begitu, beri aku waktu untuk belajar mencintaimu. Barangkali esok atau lusa sedikit demi sedikit aku bisa mencintaimu.” Ujarku datar.
“Akh, Tisha….tentu saja aku akan sabar menantimu. Berapapun lama waktu itu, aku nggak akan keberatan. “ Mata Yudo berbinar bahagia. Genggamannya makin erat, sarat oleh cinta.
Dimuat di Harian Indonesia Minggu, 19 Pebruari 1995
23 komentar:
ehm pertamaxxx, sebelum keduluan mba Dhie ... hahahaha
waduh, topiknya agak berat dikit nih :)
ah... cinta lagi...
aku juga menanti siapapun yang belajar mencintai, hanya menanti saja... hasil reviunya, kekeke...
Itulah dahsyatnya sang cinta
kenapa setiap aq selesai membaca cerita mbak fanny, aq selalu kehabisan kata2 yak?!
wuik, pokoknya keren dech.....
Cinta itu rumit,
penantian lebih rumit.
Tidak punya cinta jauh lebih rumit.
Mencintai adalah sesuatu yang jauh dari rumit.
Cinta itu rumit,
penantian lebih rumit.
Tidak punya cinta jauh lebih rumit.
Mencintai adalah sesuatu yang jauh dari rumit.
fann, dhe juga pernah pacaran beda agama lho^^, padahal dah serius, tu terjadi 2x.
sekali ama cowo yang beragama kristen, dan satu lagi agama hindu T_T
hikz..
saat terpisahkan rasanya menyedihkan banget, ampe berpikir, kenapa ya mesti ada perbedaan agama, (pernah shock juga lho, ampe down, napa mesti jg ada agama)
kwakakakka
Saya termasuk orang yang setuju bahwa untuk membangun sebuah rumah tangga mesti satu keyakinan, kalau dalam satu rumah tangga kok punya 2 tujuan yang berbeda saya yakin-seyakinnya bahwa rumah tangga itu tidak akan bahagia. Ketika orang sudah berumah tangga makanan utamanya bukan semata-mata "cinta". Problem lain akan menyusul misalnya anak mau ikut siapa, pertanggjawaban kepada pendidikan agama anak bagaimana? Dll dll dll
tuh, senangnya gitu tuh mbae,kalo bikin cerita mestike apiknya... walah walah, sukses selalu ah Ndenk,hehe
tuh, senangnya gitu tuh mbae,kalo bikin cerita mestike apiknya... walah walah, sukses selalu ah Ndenk,hehe
semoga yudo benar2 membuktikan janjinya :)
klu nunggu terus g' dapet hasil...
cinta ooh cinta..
berjuta rasanya..
rumit rumit rumit
gw dulu pernah pacaran sama yg beda agama hampir 6thn hehe lama bnr yak!
tapi Tuhan itu baik, aku bisa juga keluar dr situasi itu dan menemukan my soulmate yg skrg jadi suamiku :D
mnrt gw..1 keluarga 2 perbedaan spt itu gak akan bisa abadi
belajarlah mencintai apa yg kita miliki, bukan miliki apa yg kita cintai... isn't it true???
*garuk2 kepala*
@Linda Belle : iya...makanya...jangan sampai jatuh cinta deh sama yg berbeda agama. bukannya gak boleh, tapi....kasihan anak2nya nanti.
@pipiet : kepalanya ketombean ya? he he he....
aw aw aw love love love melulu'
sebaiknya yg satu iman, jadi sejalan deh tu mengayuh bersama bahtera rumah tangga dlm satu perahu, dayung-dayung-dayung hehehe jadi inget sama lagu yg diajarin MR. HON guru bahasa ingrris jaman SMP row row row your boat.. gitu fan! tapi lupa dah lanjutane opo:p
Sebaiknya kalau menyangkut hal yang prinsip, gak usah diteruskan
untung cinta dq gak ada masalah
lho........
@Jonk: Bukan mbak tapi mas :)
duch....sampe lupa mau komen!
soal perbedaan agama sesuatu yang gak bisa ditawar
jangan beri aku waktu...
tapi beri aku uang aja deh ya
plissss
*muka memelas ... mode on*
sgala perbedaan ini..
membuatmu jauh dariku..
*nyanyi lagu punya Ari Lasso...*
Poskan Komentar